
Hari ini tidak ada yang di kerjakan Achazia jadi pria itu bisa langsung mengantarkan Ashana untuk pulang. Sedari tadi Ashana hanya diam saja. Achazia sudah menanyakan mau membeli apa tapi wanita itu tetap diam saja. Selama perjalanan menuju parkiran banyak yang Achazia tanyakan tapi Ashana hanya diam saja.
"Kau kenapa?" Tanya Achazia saat sudah berada di dalam mobil.
Ashana menggeleng. Ia memakai sabuk pengamannya.
"Kalau kau ada butuh aku, kau bisa langsung mengatakannya. Atau aku menyakitimu?"
Ashana kembali menggeleng. Ia lebih memilih menatap jendela mobil.
'Bagaimana aku bisa tahu kalau dia hanya diam saja?' Batin Achazia yang bingung. Pria itu pun menjalankan mobilnya.
"Achazia." Panggil Ashana saat mobil sudah melaju.
"Ya?" Respon Achazia.
"Jika ada yang mencintaimu dan penampilan wanita itu melebihi aku, apakah kau akan meninggalkanku?"
Ckiiiit!!
Achazia mendadak langsung menepikan mobilnya. Ia menatap Ashana yang terkejut karena tiba-tiba Achazia menepikan mobilnya.
"Kau kenapa?"
Achazia langsung melepas sabuk pengamannya. Ia memajukan tubuhnya ke arah Ashana, membuat Ashana mundur dan berakhir bersandar di pintu.
"Ka-kau kenapa?"
"Kau yang kenapa. Kenapa kau mengatakan itu?" Ucap Achazia tajam. Terdengar suara giginya yang bergemulutuk karena marah.
"Apa kau pikir kau setidak penting itu sampai aku harus meninggalkanmu?" Ucap Achazia yang membuat Ashana menunduk. Ashana tidak bisa menjawab.
"Apa kau pikir perasaanku hanya main-main?"
Ashana masih diam.
"Apa kau pikir, aku mencintaimu itu bohong?" Ashana masih tetap diam.
"JAWAB!!"
Ashana terkejut. Tubuhnya langsung bergetar saat mendengar Achazia berteriak. Semarah itukah? Achazia tidak pernah seperti ini.
Achazia mengangkat dagu Ashana dengan satu jarinya. Ia menatap setiap inci dari wajah itu.
"Kau di anugerahi mulut. Aku harap kau bisa menggunakannya." Ucap Achazia tajam.
'Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?' Pekik Ashana di dalam hati.
"Maafkan aku." Ucap Ashana lirih.
Achazia menyunggingkan sayu sudut bibirnya. "Maaf? Hanya maaf?"
"Aku tahu aku salah." Kini Ashana memberanikan diri menatap Achazia. Ia menatap manik mata yang sedang marah itu.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?"
Ashana mengangguk. "Maafkan aku. Aku tidak akan lagi-----"
Achazia kembali lagi duduk seperti biasa. Pria itu langsung memakai sabuk pengamannya lalu menjalankan kembali mobilnya.
"Achazia?" Panggil Ashana. Tapi Achazia hanya diam saja. Apakah dia belum memaafkannya?
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Tolong maafkan aku." Achazia tetap diam. Tidak menjawab sepatah kata pun.
"Kau marah?" Bodoh, Ashana bodoh. Tentu saja Achazia marah.
'Ya Tuhan, aku harus bagaimana?' Ashana jadi bingung sendiri. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Bagaimana ini? Kalau tahu akan seperti ini Ashana lebih memilih untuk tidak mengatakannya.
"Achazia ku mohon kau jangan marah." Ucap Ashana yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk membujuk Achazia.
"Kau mau aku belikan apa?"
Ashana tersenyum. Walau pun Achazia tidak bilang kalau pria itu memaafkannya, tapi setidaknya dia bicara.
Achazia memarkirkan mobilnya. Ashana menoleh ke jendela. Ternyata Achazia akan membeli pizza.
Ashana menatap Achazia yang melepas sabuk pengamannya lalu keluar tanpa bicara sepatah kata pun. Tidak bertanya rasa apa atau mau yang lain tidak. Sama sekali tidak. Ini membuat Ashana berpikir keras bagaimana caranya membujuk Achazia.
Tidak lama, Achazia sudah kembali dengan tiga kotak pizza. Yang membuat Ashana menatap Achazia tak percaya. Satu kotak saja cukup kenapa harus tiga?
"Kau beli tiga? Untuk siapa saja?"
"Untuk Bapakmu, Ibumu dan Adikmu."
'Apa? Jadi aku tidak di belikan?' Gumam Ashana kesal di dalam hati. Sabar Ashana, mungkin dia seperti ini karena kau juga.
"Oh, begitu ya." Ucap Ashana. Setelah Achazia menaruh tiga kotak pizza itu di kursi belakang, pria itu melakukan mobilnya menuju rumah Ashana.
"Kau tidak ada sesuatu yang mau di obrolkan?" Ucap Ashana berbasa-basi. Ia menatap Achazia sambil tersenyum.
"Tidak ada."
Senyum Ashana berubah. Ia menekuk wajahnya. Bibirnya yang maju beberapa senti membuatnya menjadi semakin menggemaskan. Ia sedang berpikir bagaimana caranya agar Achazia luluh dan tidak dingin seperti ini lagi.
Selama perjalanan Ashana tidak bisa menemukan ide yang bagus. Sampai mobil sudah berada di depan rumahnya pun ide itu belum muncul.
"Sudah sampai."
Ashana panik. Ia tidak mau Achazia seperti ini sampai besok. Sebelum Achazia melepaskan sabuk pengamannya, Ashana lebih dulu memeluk tubuh Achazia. Membuat pria itu tidak jadi melepaskan sabuk pengamannya.
"Achazia maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku." Ucap Ashana sambil membenamkan wajahnya di dada Achazia.
"Lepaskan aku."
Ashana menggeleng. "Tidak mau. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau memaafkan ku."
"Iya, aku memaafkan mu." Ucap Achazia yang langsung membuat Ashana mendongak menatap Achazia. Senyum Ashana mengembang lebar membuat Achazia tidak bisa menahan senyum nya untuk ikut mengembang.
"Akhirnya kau memaafkan ku." Ashana melepaskan pelukannya, tapi sayang kedua tangannya di tahan oleh Achazia.
Achazia menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Kenapa? Kau mau melepaskannya? Pakah karena aku sudah memaafkan mu?" Ucap Achazia.
"Ti-tidak. Aku hanya takut kau menjadi sesak."
"Kata siapa?" Achazia menarik Ashana kembali ke pelukannya. Ia mendekap nya erat. Seakan tidak mau lepas. Tidak mau Ashana jauh darinya.
"Kita akan seperti ini saja?" Tanya Ashana karena sudah hampir lima belas menit Achazia memeluknya seperti ini.
"Menurutmu?"
"Kita tidak mau keluar?"
Achazia menatap keluar. Ia lupa kalau ia sudah sampai di depan rumah Ashana. Ia melepaskan pelukannya. Sebelum Ashana menjauh, Achazia menyempatkan mencium pipi Ashana sekilas membuat Ashana langsung memerah karena perbuatan pria itu.
"Ayo turun." Ajak Achazia. Ia membuka sabuk pengamannya lalu turun yang di ikuti Ashana. Ashana memilih untuk membawakan tiga kotak pizza itu. Setelah mengambilnya dari kursi belakang, mereka berjalan masuk.
"Ashana," Achazia menggenggam tangan Ashana. Membuat wanita itu menoleh.
"Aku tidak bisa ikut. Lain kali aku akan mampir." Ucap Achazia yang teringat sesuatu. Ada acara makan malam keluarga yang di lakukan setiap bulan.
"Apa itu?"
"Aku akan memberitahukannya padamu. Salam kan saja pada Bapak dan Ibumu." Ucap Achazia buru-buru.
"Tapi kau tidak-----"
Cup!
"Aku mencintaimu." Setelah mengecup kening Ashana, Achazia pergi lalu masuk ke dalam mobil.
Ashana menatap kepergian mobil Achazia dengan senyum yang terukir. "Aku juga mencintaimu."
*****