
Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Ashana jadi lebih memperhatikan ucapannya karena Achazia akan langsung melakukannya jika permintaannya terdengar ke telinga pria itu walau pun Ashana hanya bercanda.
Andini juga sangat terkejut saat Ashana menceritakan bagaimana gilanya Achazia. Setelah terkejutnya hilang, Andini bilang, "Wajar, Achazia pengusaha muda yang kaya raya. Dia bakal memanjakan wanita yang di cintainya. Di tambah itu adalah cinta pertamanya." Gara-gara ucapan Andini, Ashana jadi baper sampai lebih dari seminggu. Setiap mengingat kata-kata Andini yang itu membuat wajahnya langsung memerah. Seperti sekarang ini. Tiba-tiba ia mengingat ucapan Andini dan wajah wanita itu langsung memerah malu. Membuat Achazia yang duduk di sampingnya menoleh.
"Kenapa wajahmu? Apa yang kau pikirkan?" Ucap Achazia.
Ashana menggeleng. Ia langsung menutupinya dengan tawanya. "Tidak ada."
Achazia yang tidak terlalu curiga kembali mengerjakan tugas nya. Jam kantor sudah berakhir setengah jam yang lalu. Tapi ada sesuatu yang masih harus Achazia kerjakan. Karena tidak mau kenapa-napa, Achazia menyuruh Ashana untuk menunggu. Walau pun Arkan sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Ashana, Achazia tetap menolak karena ia tidak percaya satu pun pria jika itu menyangkut tentang Ashana.
"Apakah pekerjaanmu masih banyak?" Ucap Ashana yang mulai bosan.
"Lumayan. Kau bosan?" Balik tanya Achazia dan Ashana mengangguk.
Achazia terkekeh. "Aku bisa menghilangkan bosan mu itu."
"Bagaimana?"
"Kemari."
Ashana tanpa merasa curiga berjalan mendekat ke arah Achazia. Setelah Ashana berdiri di hadapannya, Achazia langsung menarik tangan wanita itu agar lebih mendekat.
"Apa yang bisa menghilangkan rasa bosanku?" Tanya Ashana lagi.
"Pegang kepalaku."
Walau pun bingung dan tidak mengerti, Ashana tetap memegang kepala Achazia dengan kedua tangannya. "Lalu?"
"Pijat kepalaku."
Ashana melebarkan kedua matanya. Ia langsung menarik kedua tangannya yang memegang kepala Achazia lalu melihatnya di bawah dada. "Tidak mau!" Ashana kira Achazia serius. Ternyata pria itu hanya ingin ia memijatnya.
Achazia terkekeh melihat respon Ashana. "Kau tidak merasa kasihan padaku? Lihatlah, aku sangat kelelahan. Bahkan kepalaku sangat pusing. Aku sudah memikirkan mu, di tambah aku memikirkan pekerjaan ini. Bantu aku untuk meringankannya."
Ashana yang merasa prihatin walau sedikit langsung memijat kepala Achazia dengan perasaan yaaaaaang kurang ikhlas. Tapi itu terasa sangat enak untuk Achazia.
"Bagus, ini adalah latihan sebelum menjadi istriku."
"Memangnya menjadi istrimu harus pintar memijat dulu?"
"Iya. Karena dia harus memijat setiap kali aku meminta untuk di pijat. Aku tidak mau tubuhku di sentuh oleh selain istriku."
"Kalau begitu menikah saja dengan tukang pijat."
"Kalau kau adalah tukang pijat nya, aku akan langsung melamar tukang pijat itu."
Ashana refleks menjambak rambut Achazia membuat pria itu mengaduh.
"Kau apakan kepalaku?!" Achazia menyingkirkan tangan Ashana di kepalanya. Ia menatap Ashana yang kini malah menatapnya dengan dagu terangkat.
"Jadi kau mendoakan ku menjadi tukang pijat?" Ucap Ashana yang malah membuat Achazia tersenyum.
"Jadi kau bersedia menjadi istriku?"
Ashana yang awalnya ngambek jadi salting sendiri karena ucapan Achazia. Ia langsung berjalan ke sofa dan duduk di sana.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku ingin segera pulang." Ashana beralasan.
Achazia yang menyukai jika Ashana seperti itu malah tambah mengganggu wanita itu. "Kenapa? Ada yang terjadi padamu sampai wajahmu memerah seperti itu?"
Ashana yang panik langsung mengalihkan tatapannya. Ia memegang kedua pipinya lalu kembali menatap Achazia. "Kau ini! Sejak kapan kau pintar mengganggu? Bukankah dulu kau adalah pria yang kaku?!"
"Kata siapa aku adalah pria yang kaku? Kau hanya belum mengenalku."
"Kau ini..."
Ashana gelagapan sendiri. "Kan itu dulu. Saat kau masih atasan ku."
"Memang sekarang aku bukan atasan mu?"
"Bukan begitu. Bagaimana ya mengatakannya, ah! Kau ini memusingkan saja!"
Achazia tertawa melihat Ashana yang terlihat sangat kesal. Ia menghampiri Ashana lalu merapikan rambut wanita itu yang acak-acakan yang di acak tangannya sendiri karena Achazia yang sangat membuatnya kesal.
"Kau sangat menggemaskan. Bagaimana aku tidak bertambah mencintaimu?"
"Cukup! Sudah cukup!" Ashana menutup kedua telinganya. Jika terus mendengar ucapan manis Achazia, telinganya akan meledak. Ya, ia tidak tahan.
"Kenapa? Ada apa denganmu?"
"Kau yang membuatku seperti ini." Ashana menatap Achazia tajam.
"Apa yang aku lakukan?" Achazia berlaga seperti manusia yang tidak tahu apa-apa.
"Kau yang membuatku seperti ini." Lirih Ashana. Entah sejak kapan ia sangat mencintai pria yang berdiri di hadapannya ini.
"Aku? Apa yang aku lakukan?"
"Sudah! Kau ini menyebalkan sekali! Kau tahu tidak sih kalau aku ini sangat mencintaimu! Mendengar mu berkata manis membuat telingaku tidak tahan dan itu akan berlanjut ke jantungku yang menjadi tidak tenang!" Kesal Ashana. Ia menatap Achazia dengan mata nyalang. Beberapa detik kemudian, Ashana sadar dengan apa yang ia ucapkan. Refleks, wanita itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Achazia tersenyum miring. "Apa yang kau katakan tadi? Aku tida terlalu mendengarkannya. Aku ingin kau mengulanginya." Goda pria itu.
"A-apa? Aku mengatakan apa? A-aku tidak mengatakan apa-apa." Ucap Ashana yang terlanjur malu dengan apa yang ia katakan sendiri.
"Apanya yang tidak mengatakan apa-apa? Kau dari tadi bicara terus sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk menyela."
"Ah, sudahlah aku pulang saja." Ashana berbalik tapi pintu langsung di tahan oleh Achazia saat Ashana baru akan keluar.
"Kau sudah bersedia untuk menemaniku. Jadi jangan coba-coba untuk kabur."
Walaupun dengan perasaan jengkel, Ashana berbalik sambil menganggukkan kepalanya lucu. Membuat Achazia tidak tahan dan langsung mencubit pipi wanita itu. Membuat Ashana mengaduh kesakitan.
"Kau apa-apaan?!" Pekik Ashana.
"Lebih pilih aku cibut aku cium?"
Ashana langsung bungkam. Pilihan macam apa itu? Ia lebih memilih untuk tidak memilih saja.
"Sama sekali tidak ada yang menguntungkan ku." Ucap Ashana.
"Jika menguntungkan mu, buat pilihan sendiri saja. Ini adalah pilihan yang aku berikan untuk mu. Dan pastinya akan menguntungkan ku."
"Terserah kau saja." Ashana yang awalnya akan keluar malah kembali duduk di sofa. Percuma saja, Achazia tidak akan mengizinkannya keluar.
"Aku akan mengerjakannya di sisimu saja." Achazia mengambil laptopnya lalu duduk di sebelah Ashana.
Ashana menghela napas. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa. Ia memilih untuk diam saja.
"Maukah kau membantuku?"
Baru saja Ashana akan diam saja, tapi Achazia malah bersuara. Membuat Ashana menatap Achazia. "Apa?"
"Bantu aku untuk terus merasakan ini. Merasakan kebahagiaan karena kehadiranmu yang sangat berarti."
"Cukup! Sudah cukup!"
*****