
Hari yang cerah, harus di mulai dengan senyum yang indah. Walau pun hidup tidak selamanya mudah, Ashana bersyukur masih bisa tersenyum dengan natural. Tidak di buat-buat apalagi pura-pura. Seperti hari biasanya ia akan mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik.
"Pagi," Sapa Ashana saat melewati satpam yang menjaga. Satpam itu tersenyum membalas sapaan Ashana. Ashana sudah bilang pada Achazia untuk tidak menjemputnya karena ia harus pergi ke pasar dulu untuk memberikan jas hujan bapaknya yang ketinggalan. Sekarang adalah musim hujan. Takut kalau tiba-tiba hujan dan bapaknya tidak bisa pulang. Awalnya Achazia tidak menyetujuinya tapi Ashana memohon ini adalah pertama dan terakhir Ashana meminta Achazia untuk tidak menjemput. Tetap tidak mempan. Setelah mengeluarkan beribu alasannya baru Achazia mau menyetujuinya.
Ashana masuk ke dalam lift dengan para karyawan lainnya. Ashana tersenyum pada orang yang ia kenal, atau pun orang yang menyapanya.
Anya yang kebetulan satu lift dengan Ashana tidak berhenti mencibir melihat Ashana yang terus tersenyum ke arah karyawan lain. Ia berjalan mendekat lalu kini berdiri tepat di samping Ashana.
"Kau ingin mendapatkan hati para karyawan agar merestui mu dengan Pak Achazia?" Bisik Anya.
Ashana berdecak. Ia tahu ini siapa. Kenapa sih, harinya harus di mulai dengan bertemu orang yang suka nyinyir macam Anya?
"Aku minta maaf sebelumnya. Dari dulu juga aku seperti ini. Jadi tidak alasan untukku menjadi seperti ini."
"Kau ini sudah merasa cantik hah? Setidaknya sadar kalau kau tidak pantas untuk Pak Achazia."
"Aku memang tidak pantas untuknya. Tapi dia pantas untukku." Ucap Ashana. Ia menatap tajam Anya yang juga menatap tajam ke arahnya.
Lift terbuka, mengalihkan tatapan Ashana. Ia langsung keluar dari lift mendahului karyawan lain. Suasana hatinya sedang baik, jadi ia tidak mau di rusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
"Pagi, Ashana."
Ashana menatap Andini yang sudah ada di mejanya. Ia tersenyum membalas sapaan Andini lalu duduk di kursi miliknya.
"Tumben tidak bersama dengan Pak Presdir?" Goda Andini.
"Hari ini aku tidak berangkat bersamanya. Aku harus ke pasar terlebih dahulu untuk menemui bapakku."
"Dan Achazia mengiyakan semudah itu?"
"Tidak, aku harus mengeluarkan semua alasan agar dia bersedia untuk tidak menjemput ku."
"Kau harusnya bersyukur, bisa di antar jemput."
"Memangnya kau tidak di antar jemput?"
"Oleh siapa?"
"Abercio?" Ashana menaik turunkan alisnya menggoda Andini.
"Abercio apanya? Memangnya dia siapa?" Andini langsung memfokuskan diri menatap komputer.
"Andin, itu Abercio!"
Andini langsung mendongakkan kepalanya Ia mencari keberadaan Abercio. Tidak menemukan Abercio, Andini menatap Ashana. "Dimana?"
Ashana tersenyum. "Kau mencarinya?"
"Untuk apa aku mencarinya?" Andini yang baru sadar akan kebodohannya langsung menyangkal.
Ashana menunjuk wajah Andini. "Baru saja kau mencarinya. Wajahmu tidak bisa berbohong Andini."
Andini menghela napas. "Aku tidak bisa menyukai jenis buaya seperti dia."
"Tapi kau menyukainya."
"Tidak tahu. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku."
"Kau menyukainya Andini. Mau seberapa kali pun kau menyangkalnya, kau akan tetap menyukainya."
"Tapi aku tidak mau Ashana."
"Apa yang membuat mu tidak mau?"
"Mungkin saja jika denganmu Abercio akan berhenti?"
Andini terkekeh. "Tidak ada jaminan yang bisa membuatnya tidak melakukan itu. Mau bagaimana pun Abercio berjuang, aku akan tetap dengan pendirianku."
"Walau pun kau mencintainya?"
Andini mengangguk. "Walau pun aku mencintainya."
"Kau tidak akan menyesal?"
"Untuk apa aku menyesal?" Andini menatap Ashana.
Ashana tersenyum. Ia menyentuh bahu Andini. "Andin, kau berhasil membuatku sadar. Membuatku bahagia. Tapi kau lupa menyadarkan dirimu. Kau lupa membuat dirimu sendiri bahagia. Kau lebih memilih untuk tidak mencoba daripada gagal nantinya."
"Maksudmu?"
"Aku yakin Abercio benar-benar mencintaimu?"
"Apa yang membuatmu yakin?"
"Semuanya. Kau tahu? Tidak pernah ada satu wanita pun yang pria itu dekati. Kecuali jika wanita itu mendekatinya lebih dulu. Ya, memang ada sih, dia yang mendekatinya lebih dulu. Tapi disitu wanita yang di dekati Abercio akan langsung mau dengan Abercio. Berbeda dengan dirimu. Walau pun Abercio tahu, kau tidak mau dengannya, ia tetap mengejarmu, merubah dirinya menjadi lebih baik agar kau suka padanya. Coba kau pikir lagi. Jika dia seorang buaya, kenapa dia tidak menyerah saja dan mencari wanita lain?"
Andini terdiam. Ia mencerna kata-kata Ashana. Benar juga, otaknya hampir akan berpindah mendukung hatinya, tapi Andini langsung menggelengkan kepalanya. Menghilangkan pikirannya yang baru saja akan menyetujui kalau Abercio benar-benar mencintainya.
"Tidak Ashana, jika dia sudah sering melakukannya di masa lalu, tidak ada yang tahu kalau dia akan melakukannya lagi di masa depan."
"Bagaimna kalau dia sudah bertekad untuk berubah menjadi lebih baik?"
"Perubahan butuh proses yang panjang. Tidak akan secepat itu."
"Ya, memang perubahan butuh proses yang panjang. Dan dia juga butuh alasan dan semangat untuk nya berubah menjadi lebih baik. Alasan dan semangat itu ada pada dirimu, Andini."
"Kenapa jadi kau mendukung Abercio?" Andini memicingkan matanya menatap Ashana.
Ashana yang walaupun panik tapi masih bisa mengontrol diri hanya tersenyum. "Kau sudah meyakinkan ku pada Achazia. Anggap saja ini adalah balasan untukmu karena telah melakukan itu. Aku akan meyakinkan dirimu kalau Abercio tidak seperti apa yang kau pikirkan."
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot." Andini mengatakannya dengan tawa yang sesekali keluar.
"Tidak, ini tidak merepotkan ku." Ucap Ashana.
"Keputusan ada di tanganmu. Aku hanya tidak ingin kau salah jalan dan malah membuatmu tidak bahagia. Aku ingin kau bahagia Andini." Ucap Ashana lagi ketika Andini malah diam tidak menjawab ucapannya.
Ashana mulai mengerjakan pekerjaannya. Apakah di antara kalian ada yang penasaran dengan apa yang Ashana kerjakan? Ashana bekerja di bagian pemasaran. Pekerjaannya adalah menganalisis terhadap tren yang ada untuk menganalis perkembangan. Yang nantinya akan ia laporkan kepada manager pemasaran. Andini juga sama dengannya. Keduanya berada di tim pemasaran. Makanya mereka rubik nya berdampingan. Begitu juga dengan Anya.
"Ashana, aku mau tanya." Ucap Andini yang membuat Ashana menghentikan pekerjaannya.
"Tren sekarang banyak sekali orang yang memilih makanan luar dari pada makanan negara kita sendiri. Bagus kah kalau perusahaan kita mengikuti tren ini? Aku kira jangan. Bagusnya kalau kita membuat makanan daerah kita, walaupun tidak ada peluang, tapi setidaknya kita mengurangi banyak pesaing. Dan ini akan menjadi tren kalau kita bisa menarik banyak orang."
Ashana menganggukkan kepalanya berkali-kali. Mereka tidak hanya mengurus soal makanan, tapi juga pakaian, transportasi, properti dan banyak lagi.
"Minggu depan setelah jam makan siang akan ada rapat bersama manager pemasaran. Bagaimana kalau kau mengutarakan idemu ini?"
Andini mengangguk. "Kau bantu aku."
"Ini kan idemu."
Andini berdecak. "Kalau presentasi seperti ini, sepertinya kau lebih jago."
"Baiklah, kita akan membicarakannya lagi nanti."
*****