
Andini menaruh handuk yang di pakai untuk melilit rambut ke atas kursi. DIa menatap layar ponsel yang tiba-tiba menyala. Andini langsung mengambilnya.
Sebenarnya Andini sudah menjalin hubungan dengan Abercio. Tidak begitu lama, tapi tidak sebentar juga. Ia sudah menjalin hubungan ini selama tiga minggu. Ia ingin menceritakannya pada Ashana, tapi entah kenapa ia malu untuk menceritakannya. Mungkin kalau sudah siap, ia akan menceritakannya.
"Ada apa?" Abercio menghubunginya dengan panggilan video. Ia bisa melihat Abercio yang sedang berdiri dengan latar belakang kolam renang.
"Tunggu, tunggu. Itu bukan rumahmu. Kau dimana?" Tanya Andini. Ia sering melakukan panggilan video dengan Abercio, tapi tempat ini terlihat asing.
Abercio tersenyum kecil. Ia mengarahkan kamera belakang. Membuat Andini tambah mengerutkan keningnya. "Kau dimana?"
"Aku bersama yang lain."
"Iya, aku tahu. Tapi kau dimana sekarang?"
"Kau mengkhawatirkan ku ya?" Goda Abercio membuat Andini memutar kedua bola matanya.
"Kau ini. Iya, aku mengkhawatirkan mu."
Senyum Abercio langsung merekah. Andini hanya mengatakan itu tapi hatinya sudah sangat senang. "Ini adalah rumah yang kami beli saat zaman SMA. Biasanya kami pakai untuk berkumpul bersama. Tapi kami jadi jarang berkumpul sekarang, dan kami sekarang sedang berkumpul sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing."
"Oh, begitu. Lalu untuk apa kau meneleponku?"
"Aku merindukanmu. Salah aku menelepon mu?"
Andini menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Kenapa rasanya dirindukan oleh orang yang di cintai seindah ini?
"Hei!"
Abercio sedikit terlonjak saat ada tangan yang memukul bahunya pelan. Ia menoleh dan menemukan Abqari dengan tubuh basah kuyup. "Kau sudah berenangnya?"
"Yang lain juga sudah."
"Mana yang lain?"
"sedang ganti baju."
"Kau tidak ganti baju?"
"Nanti sajalah. Hei Andini! Sejak kapan panggilan video kalian berjalan?" Abqari menatap Abercio.
Tidak, Andini tidak suka jika ia sedang melakukan panggilan ada orang yang mendengarkan. Ia merasa tidak bebas. "Ah, Abercio. Aku mengantuk. Aku pamit tidur dulu."
"Andini, aku baru saja----"
Tut.
Abercio menatap layar ponselnya tak percaya sedangkan Abqari hanya tertawa. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Kita telepon Alice saja."
Setelah menunggu beberapa detik, panggilan pun tersambung. Di layar ponsel terpampang wajah datar Alice.
"Hey, sayang. Mau sampai kapan kau bersikap dingin padaku? Kau harusnya beruntung----"
"Aku malah lebih memilih untuk tidak bertemu denganmu. Kenapa sih kau selalu menggangguku?" Ucap Alice.
Abercio yang tahu kalau Alice tidak menyukai Abqari hanya tertawa. "Kenapa kau mengangkat panggilannya? Harusnya kau diamkan saja." Ucap Abercio.
"Biasanya juga seperti itu. Tapi aku mencari seseorang. Aku tahu kalau kakakku bersama kalian. Aku sudah meneleponnya berkali-kali tapi dia tidak mengangkatnya. Berikan ponselmu pada kakakku." Ucap Alice.
"Jarang-jarang kau mengangkat panggilan ku. Lalu untuk apa aku memberikannya pada orang lain?" Goda Abqari.
"Kau ini!"
Abqari hanya tertawa melihat wajah kesal Alice. Sedangkan Abercio yang berada di sebelahnya sudah tidak di anggap.
"Jangan seperti itu. Jika kakaknya tahu, habis kau."
"Achazia saja merestui ku."
"Terserah kau saja lah."
"Kakak!!" Teriak Alice saat melihat Achazia yang berjalan mendekat.
Abqari menoleh ke belakang dan menemukan Achazia dan Adrian yang sedang berjalan mendekat.
"Alice?" Achazia menatap layar ponsel Abqari dengan dahi mengerut.
"Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?" Alice memasang wajah cemberut.
"Tadi aku berenang sebentar. Sekarang kau bisa meneleponku."
Alice tersenyum. Tanpa pikir panjang ia langsung mematikan sambungan telepon. Tak lama setelah itu suara dering ponsel Achazia berbunyi.
"Ah, padahal aku baru saja senang." Ucap Abqari kesal karena Alice yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kau ini. Lihat aku. Aku akan menelepon Ailee dan beralasan kalau Achazia ingin bicara padanya. Pasti dia akan mengangkatnya." Setelah mengetikkan pesan beberapa kata, ia menelepon Ailee. Benar saja, Ailee langsung menjawabnya.
"Dimana Tuan Achazia?" Tanya Ailee yang kini sudah berada di kontrakan miliknya.
"Ah, Ailee. Iya, aku menyuruh Adrian untuk menelepon mu. Tapi aku sedang menelepon Alice. Tunggu aku sebentar. Jangan dimatikan."
"Baik Tuan."
Adrian tersenyum penuh kemenangan. "Kau dengar apa katanya?"
"Ya,"
"Jadi kau tidak boleh mematikan panggilan video sebelum----eh, apa ini?!"
Abercio dan Abqari langsung tertawa saat Ailee menjeda panggilan video itu. Ternyata kepintaran Ailee tidak bisa diremehkan.
"Lihat? Bahkan Ailee tidak mau menatap wajahmu walaupun hanya sekedar menunggu." Ucap Abqari.
"Lalu apa bedanya denganmu? Kau pikir Alice mau mengangkat panggilan videomu?" Balas Adrian.
Abqari mengangkat kedua bahunya. "Setidaknya dia tidak menjeda nya walaupun Achazia tidak ada." Ucap Abqari.
"Ah, kalian berdua sama saja." Ucap Abercio sombong. Di antara mereka berempat, hanya Achazia dan Abercio yang memiliki hubungan baik.
Achazia menghampiri yang lain saat panggilannya sudah selesai. "Kau tidak menelepon Ailee?"
"Lihat." Adrian menunjukkan layar ponselnya yang langsung membuat Achazia tertawa. Ailee memang tidak mematikan panggilan videonya, tapi gadis itu menjeda nya.
"Kau bilang saja padanya kalau aku tidak jadi mengatakan apapun."
"Lalu aku bagaimana?"
Achazia mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak peduli. Lebih baik aku menghubungi Ashana." Ucap Achazia. Ia langsung menelepon Ashana tanpa memperdulikan Adrian yang menatapnya kesal.
"Hai."
Ashana menatap Achazia yang tersenyum sangat lebar di layar ponsel. Rambut pria itu basah. "Kau baru selesai mandi?"
"Tidak, aku baru selesai berenang."
"Tunggu, kau dimana? Ini bukan apartemenmu." Ucap Ashana yang baru sadar dengan keadaan sekitar.
"Memang bukan apartemenku."
"Lalu kau dimana?"
Achazia mengaktifkan kamera belakang. Ia memperlihatkan Abercio, Adrian dan Abqari.
"Kau berada di salah satu rumah mereka?"
Achazia menggeleng. "Tidak,"
"Lalu kau dimana?"
"Aku berada di rumah yang dulu pernah kami buat bersama saat zaman SMA. Hanya sekadar untuk tempat berkumpul."
Ashana tersenyum. "Wow! Boleh aku melihatnya?" Ucap wanita itu antusias.
Achazia mengangguk. "Tentu saja." Pria itu menunjukkan rumah itu pada Ashana. Sedangkan di sisi lain, Abercio Adrian dan Abqari terlihat kesal.
Abercio yang kesal karena Andini menutup panggilan teleponnya secara tiba-tiba dan dengan alasan yang tidak masuk akal. Adrian kesal karena Ailee benar-benar tidak mau menatap wajahnya. Dan Abqari yang kesal karena Alice mengangkat panggilannya hanya untuk menjadi perantara dirinya dengan sang kakak.
"Bagaimana kalau kita kacaukan Achazia?" Saran Abqari.
"Kita adalah sahabat sejati. Kalau panggilan video kita bertiga tidak berjalan dengan baik, Achazia pun harus seperti itu." Ucap Abqari yang di setujui Adrian dan Abercio. Mereka bertiga berjalan menghampiri Achazia.
Adrian merangkul Achazia. "Ah, Achazia. Bukankah kau bilang ada pekerjaanmu yang tidak bisa di tunda dan harus di kerjakan sekarang." Ucap Adrian.
Abercio mengangguk. "Iya, bukankah tadi kau bilang begitu?"
"Kau mempunyai pekerjaan yang tidak bisa di tunda?" Ucap Ashana.
Achazia yang bingung langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Ah, kau ini. Padahal kau baru saja bilang." Kini Abqari yang mengeluarkan suara.
"Kapan?"
"Yasudah kalau begitu kau kerjakan dulu saja. Nanti kita lanjut lagi." Ucap Ashana yang tidak tega karena Achazia harusnya mengerjakan pekerjaan, bukan meneleponnya. Nanti kalau di tunda, mungkin akan lebih banyak.
"Tidak, Ashana. Mereka hanya menga----"
Tut.
Abercio, Abqari dan Adrian langsung berlari menjauh kemudian tertawa.
"Kita adalah sahabat sejati! Panggilan kami bertiga tidak berjalan dengan baik, kau juga harus begitu!" Teriak Adrian dari jauh. Mereka sudah berlari agar tidak terjangkau oleh Achazia.
"Sialan! Kemari kalian!" Achazia langsung berlari mengejar mereka dan jadilah adegan kejar-kejaran.
*****