
"Maafkan aku,"
Ashana sudah tahu pasti Achazia akan mengucapkan itu. Tapi ia langsung mengatur mimik wajahnya agar terlihat biasa saja.
"Untuk apa?"
Untuk kejadian tadi."
"Tadi kapan?"
Achazia menatap Ashana. Ia yakin Ashana tidak mungkin lupa. Entah apa tujuan wanita itu Achazia tidak tahu. Wanita itu terlalu rumit untuk di tebak. Jadi ia memilih untuk mengikuti alurnya saja.
"Saat aku memeluk Ariana." Achazia menunduk. Ia tahu ia salah.
"Kau yang memeluk Ariana?" Ucap Ashana dengan intonasi yang sedikit naik.
Achazia mengernyit. Bukankah Ashana melihat sendiri, lalu kenapa dia bersikap seakan-akan baru tahu tentang hal ini?
Achazia mengangguk. "Iya,"
"Bukan dia yang memelukmu?"
Achazia mengerti sekarang. Pria itu langsung menggeleng. "Tidak, tidak. Aku tidak memeluknya. Dia yang memelukku."
Ashana tersenyum kecil. Benar kata Andini. Achazia tidak mungkin seperti itu. "Bisa kau jelaskan kenapa dia tiba-tiba memelukmu?"
Achazia tersenyum lebar saat Ashana memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Ia akan menjelaskan sedetail mungkin agar bisa membawa kepercayaan Ashana kembali. Padahal tanpa di jelaskan pun Ashana sudah percaya. Ia hanya ingin mendengar penjelasan dari Achazia.
"Aku sedang bekerja.Benar-benar sedang bekerja. Tadinya aku akan menelepon mu. Menyuruhmu untuk segera makan siang. Tapi tiba-tiba dia masuk. Kau tahu tidak? Ariana itu," Achazia menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. Ia benar-benar minta maaf karena tidak memberitahukannya lebih awal.
"Ariana itu apa?" Ucap Ashana yang menunggu kelanjutan ucapan Achazia.
"Ariana adalah sepupuku."
Ashana terlihat sedikit terkejut. Ia terlihat mengerutkan keningnya. Tapi beberapa detik kemudian raut wajahnya kembali seperti semula. "Pantas saja." Respon Ashana.
"Maksudmu?"
"Ya, dia artis. Pantas kalau mempunyai sepupu sepertimu. Pasti semua sepupumu sukses. Kalian sangat hebat." Puji Ashana.
Achazia tidak menghiraukan perkataan Ashana. "Alice sangat tidak suka kalau Ariana sudah mendekatiku. Dia bahkan pernah mengatakan padaku kalau Ariana menyukaiku. Aku percaya karena memang sangat terlihat dengan apa yang dia lakukan padaku. Jika Ariana sedang mencari perhatianku dan disana ada Alice, maka dia tidak akan membiarkannya." Ucap Achazia yang di akhiri dengan kekehan.
Ashana tidak aneh dengan Alice. Dengan respon Alice yang seperti itu adalah bentuk penolakannya pada Ariana. "Lalu saat di ruangan mu? Jelaskan padaku agar aku tidak salah paham."
"Saat aku sedang fokus bekerja, dia tiba-tiba datang. Saat aku tanya mengapa dia datang, dia memberikan kotak makanan. Aku tanya itu, dan katanya ia sengaja memasak itu untukku makan siang. Dia sangat berusaha untuk itu. Aku tidak mau, tapi aku tidak menjawabnya. Aku hanya diam saja tapi dia tetap menunggu disana. Bahkan mendesak ku untuk memakan makanan yang di buatkan nya sebelum dia pergi."
Ashana hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil mendengar penjelasan Achazia.
"Lalu setelah itu aku katakan padanya, kalau aku tidak membutuhkannya. Aku tidak memintanya untuk datang sambil membawakan makan siang. Lalu alasan apa yang harus membuatku memakannya? Aku katakan begitu. Dan setelah itu, dia menangis."
"Lalu?"
"Lalu aku bangkit berdiri. Aku tahu dia adalah seorang artis. Jadi jika hanya berakting sambil mengeluarkan air mata itu terlalu mudah baginya. Tadinya aku akan pergi meninggalkannya, tapi tanpa aku duga, dia malah menahan tanganku lalu memelukku tiba-tiba. Baru saat aku akan melepaskannya, kau datang dan melihat semuanya. Disitu pas sekali aku memegang bahunya, jadi terlihat seperti sedang memeluk. Dan setelah itu, kau tahu apa yang terjadi." Ucap Achazia. "Tapi kenapa kau tiba-tiba datang? Apa ada sesuatu yang mau kau katakan?" Lanjut Achazia.
Ashana baru teringat sesuatu. Karena kecewa Achazia yang seperti itu membuatnya lupa tentang siapa yang memberi tahunya kalau Ariana sedang memeluk Achazia.
"Achazia, sebenarnya..." Ashana menahan ucapannya. Ia harus mengatakan ini.
"Sebenarnya aku mendapat pesan dari nomor yang tidak aku ketahui. Dia mengatakan kalau semua ini baru di mulai. Lalu di saat itu aku tidak percaya, aku menyangka kalau orang lain sedang salah kirim. Tapi setelah itu dia mengerikan pesan lagi kalau dia tidak salah kirim. Dan setelah itu, saat aku sedang makan di kantin dengan Andini, orang itu mengirimkan fotomu dengan Ariana yang membuatku langsung berjalan menghampirimu."
Achazia melebarkan kedua matanya. Tidak mungkin di ruangannya ada penyadap. Bagaimana bisa orang itu mengirimkannya pada Ashana? "Bisa aku lihat foto dan nomornya?"
Ashana mengangguk. Ia menyerahkan ponselnya setelah membuka roomchat dengan orang asing tersebut.
Setelah mengirimkan nomor itu ke nomornya untuk di lacak, ia mencari foto yang di maksud Ashana. "Dimana?"
"Itu, kamu buka saja roomchat nya."
"Tidak ada Ashana."
"Tidak ada?" Ashana langsung mengambil alih ponselnya dari tangan Achazia. Ia langsung melebarkan matanya saat tidak menemukan foto itu.
"Saat itu masih ada." Ucap Ashana yakin kalau fotonya masih ada. Tapi mau bagaimana pun ia memeriksa, foto itu tetap tidak ada.
"Saat kapan?"
"Saat aku di kantin. Sebelum aku menghampirimu." Ashana menaruh ponselnya di atas meja. Ia memijit pangkal hidungnya. Kenapa ini sangat membingungkan?
"Sekitar jam berapa?"
"Aku tidak tahu. Memang kenapa?"
Achazia menggeleng. Ia tidak mau membuat Ashana khawatir. "Kau tenang saja. Itu hanya bercandaan." Ucapnya tapi ia akan menyelidiki orang itu sampai ketemu. Berani-beraninya orang itu menaruh penyadap dan mengirim pesan yang membuat Ashana ketakutan.
Ashana menggeleng. "Tidak, Achazia. Itu bukan bercandaan. Kalau memang bercandaan, kenapa targetnya bisa aku dan Andini?"
"Andini juga mendapatkan pesan itu?"
Ashana mengangguk. "Iya, Andini baru memberitahukannya tadi."
Achazia bangkit berdiri. Ia berjalan memutari meja menghampiri Ashana. Berhubung hanya ada dua kursi, pria itu menarik kursi yang tadi ia pakai duduk lalu menaruhnya di sebelah Ashana dan ia pun duduk. "Kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Achazia langsung menarik Ashana ke dalam pelukannya.
Ashana yang mendapat pelukan mendadak dari Achazia bergeming. Ia khawatir, ia sangat takut. Tapi usapan tangan Achazia di punggungnya membuat perasaan hatinya sedikit membaik.
"Terima kasih. Aku tidak akan mengkhawatirkan apapun selagi kau ada di samping ku." Ucap Ashana sambil membalas pelukan Achazia.
Mereka berdua melepaskan pelukannya saat Ashana melihat pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan. Achazia kembali ke tempatnya. Setelah makanan di hidangkan mereka langsung menyantapnya.
Tanpa Ashana sadari, Achazia sebenarnya tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Dan Andini pun terkena. Ini pasti bukan hanya iseng, tapi memang sudah di rencanakan. Ia butuh bantuan teman-temannya.
"Achazia," Ashana menyentuh lengan Achazia sampai pria itu menatapnya.
"Kenapa? Apa makanan nya tidak enak?"
"Kenapa kau melamun?"
Achazia hanya tersenyum. Ia balik menyentuh tangan Ashana. "Bukan melamun. Aku menunggu kau menyuapiku."
Ashana berdecak. Menyesal ia menegur Achazia tadi.
*****