
Ashana menyentuh kepalanya saat kesadarannya sudah kembali. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Dahinya mengerut saat tidak mengenali tempat ia sekarang.
"Aku dimana?" Ashana turun dari atas ranjang. Ia berjalan keluar kamar. Saat melihat suasana rumah ia baru tahu kalau ini adalah mansion keluarga Comman.
"Achazia? Dimana dia?" Ashana baru ingat kalau Achazia tidak ada di sampingnya. Jangan bilang kalau Achazia meninggalkannya.
"Permisi," Ashana mencegat seorang pelayan yang baru lewat.
"Ada apa nyonya?" Tanya pelayan itu.
"Apakah kau tahu dimana Achazia?"
"Oh, tuan Achazia sekarang sedang ada di kolam renang." Ucap pelayan itu.
Ashana menghembuskan napas lega karena Achazia tidak meninggalkannya. "Terima kasih."
"Sama-sama nyonya." Lalu pelayan itu pergi meninggalkan Ashana.
"Aku harus menghampirinya." Ucap Ashana. Saat ia baru mengambil beberapa langkah, ia teringat sesuatu. Ashana menepuk dahinya. "Bodoh!" Umpat nya kesal.
Saat ada pelayan rumah yang lewat di hadapannya, Ashana kembali mencegat. "Permisi."
"Ada apa nyonya?"
"Aku ingin pergi ke kolam renang. Tapi aku tidak tahu tempatnya dimana. Bisakah kau menunjukkannya untukku?" Ucap Ashana.
"Dengan senang hati. Mari nyonya ikuti saya."
Ashana mengikuti langkah pelayan itu. Ternyata kolam renang tidak terlalu jauh dari kamar Achazia. Disana Ashana bisa melihat Achazia yang sedang berenang.
"Apa nyonya butuh sesuatu lagi?" Tanya pelayan itu sebelum pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Ashana menggeleng. "Tidak, Terima kasih telah memberitahuku." Setelah menunduk pelayan itu pergi.
Ashana berjalan menghampiri Achazia yang masih sibuk sendiri. Sampai kakinya berhenti di sisi kolam renang. "Achazia!" Panggil Ashana yang membuat Achazia menoleh. Pria itu berenang mrnghampiri Ashana yang berjongkok di pinggir kolam.
"Tidurmu nyenyak?" Tanya Achazia.
Ashana mengangguk dengan senyuman yang terukir. "Iya."
"Baguslah. Setidaknya tidurmu nyenyak." Ucap Achazia yang memang jarang bisa tidur nyenyak. Semenjak kejadian itu, mimpi itu selalu mengganggunya.
Ashana mengerti. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap lembut rambut Achazia yang basah. "Aku mengerti."
"YA AMPUN KAK LUMBA-LUMBANYA LUCU SEKALI!!!"
Ashana dan Achazia menoleh ke arah sumber suara. Alice datang sambil berlari menghampiri mereka.
"Lumba-lumbanya lucu sekali. Apakah aku boleh menyentuhnya?" Ucap Alice yang sebenarnya sedang meledek mereka berdua karena tadi Ashana mengusap rambut Achazia.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Achazia ketus.
"Mau apa katamu? Permisi ini rumahku!" Ucap Alice.
Achazia tidak menghiraukan Alice. Pria itu naik ke atas kemudian mengambil handuk untuk mengelap rambutnya.
"Kau ingin pulang kapan Ashana?" Tanya Achazia pada Ashana.
"Mm.. sekarang boleh?"
Achazia mengangguk. "Tunggu aku." Pria itu masuk untuk berganti baju. Meninggalkan Ashana dengan Alice berdua.
"Hey, kak," Alice merangkul bahu Ashana membuat Ashana menatapnya. "Apa?"
"Kakak yakin tidak akan jatuh cinta pada kakakku itu? Dia sangat tampan loh. Lihat tubuhnya, dia mempunyai roti sobek di tubuhnya. Yakin kakak tidak akan menyesal suatu hari nanti?" Ucap Alice.
Ashana berdecak. Pikirannya jadi ke mana-mana. Ia menatap Alice. "Alice, dengar. Kami tidak di takdirkan untuk bersama." Ucap Ashana dengan penekanan di setiap katanya.
"Kata siapa? Memang kakak Tuhan yang bisa menakdirkan dua orang untuk bisa bersama?" Ucap Alice yang membuat Ashana terdiam.
"Tapi bagi keluargamu kasta itu penting."
"Itu pemikiran orang-orang kuno. Helloooww.. Kak Ashana, aku tidak kuno. Sudahlah jangan dipikirkan nanti kalian akan bagaimana ke depannya. Nikmati saja sekarang." Ucap Alice.
"Oh iya, dan----"
"Ashana ayo kita pulang."
Ashana menatap Achazia yang berjalan ke arahnya. Wanita itu mengangguk. "Ayo." Ia menatap Alice. "Al, aku pulang dulu. Sampai jumpa nanti." Pamit Ashana.
"Ya, sampai jumpa." Balas Alice kemudian keduanya pergi untuk pulang.
Alice berdecak. "Aku harus bagaimana agar Kak Ashana tidak memperdulikan kasta? Kak Achazia harus menikah dengan Kak Ashana. Tidak boleh dengan yang lain. Kapan lagi kakakku itu bisa mempunyai istri seperti bidadari." Setelah puas bicara sendirian, Alice akhirnya masuk ke dalam karena lelah.
*****
"Kau lapar?" Tanya Achazia saat di perjalanan pulang. Karena Ashana belum makan saat berada di mansion keluarganya.
"Iya," Jawab Ashana.
"Mau makan apa?"
"Apa saja tapi jangan yang mahal-mahal." Ucap Ashana.
Achazia mengernyit. "Memang kenapa kalau yang mahal?" Tanya pria itu.
Ashana berdecak. Ia menatap Achazia. "Karena aku tidak bisa membayarnya."
Achazia terkekeh. "Siapa yang bilang kalau kau yang akan bayar?"
"Kalau bukan aku yang bayar makananku sendiri. Lalu siapa? Kau yang akan bayar?"
"Iya,"
"Hah?!" Ashana melebarkan kedua matanya. "Tidak, tidak! Aku tidak mau berhutang padamu! Lagipula aku masih bisa membeli makananku sendiri!" Ucapnya menolak.
"Aku yang menawarkan ku makan, jadi aku yang akan membelikannya."
"Achazia aku sudah bilang kalau aku tidak mau berhutang padamu."
"Aku tidak suka penolakan Ashana. Dan kau tahu itu."
Ashana cemberut. Ia melipat kedua tangannya lalu melempar tubuhnya ke kursi. "Dasar orang kaya. Selalu seperti itu." Ucap nya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Achazia.
"Sudahlah, di apartemen juga kau makan dengan uangku. Walaupun kadang kau yang memasaknya." Ucap Achazia.
"Tapi itu kan-----ah sudahlah, aku malas berdebat denganmu." Ashana memilih menatap jalanan lewat kaca. Padahal pemandangan disampingnya lebih mempesona.
Setelah sampai di tempat yang di inginkan, Achazia menatap Ashana yang sama sekali tidak menatapnya. "Mau dibelikan apa?"
"Terserah." Jawab Ashana ketus.
"Oke, aku bakal belikan apa saja, suka atau tidak kau harus memakannya." Ucap Achazia kemudian turun dari mobil. Membuat Ashana melebarkan kedua matanya.
"Heh, Achazia!" Panggil Ashana tapi percuma. Wanita itu membuka jendela mobil kemudian menyembulkan kepalanya keluar. "ACHAZIA AKU MAU LOBSTER!! TERSERAH MAU DI APAKAN YANG PENTING AKU MAU LOBSTER!!!" Teriak Ashana yang hanya di balas jari berbentuk o oleh Achazia.
Ashana berdecak. Kini ia sudah menjadi perhatian orang-orang di parkiran itu. Ia kembali memasukkan kepalanya malu. "Kenapa dia semenyebalkan itu? Padahal yang aku kenal dia itu kejam. Kenapa tidak kejam saja? Aku lebih tahan dia yang kejam daripada menyebalkan." Gerutu Ashana kesal.
Sambil menunggu Achazia datang, Ashana melihat-lihat isi mobil cowok itu. Semua yang ada di mobil ia obrak-abrik. Tangannya terlalu gatal sekarang. "Apa ini?" Ashana mengambil sesuatu yang menurutnya aneh. Wanita itu memperhatikan benda itu. Ternyata gelang. Ashana kembali menaruhnya ke tempat semula. Tidak terlalu penting. Saat melihat Achazia berjalan menuju kesini, Ashana langsung merapikan isi mobil.
"Aku sudah membelikan apa yang kau minta." Ucap Achazia sambil menutup pintu mobil.
Ashana tersenyum senang. Wanita itu memasang sabuk pengaman sebelum Achazia membawa mobilnya untuk pulang.
*****