
Ashana menatap Achazia kesal saat tahu kalau Achazia membawa apa. Iya, ia memang meminta lobster. Tapi lobster yang sudah di masak, sudah matang, bukan yang masih bisa berenang!
"Kau sendiri yang meminta lobster." Ucap Achazia tak mau kalah.
"Aku meminta lobster yang sudah matang. Kau menyuruhku memakan dia?" Ashana menunjuk lobster yang kini berada di akuarium.
Achazia mengangkat kedua bahunya. "Kau bilang terserah lobsternya yang mana saja."
"Iya, tapi tidak yang mentah juga! Masih hidup lagi!" Kesal Ashana. Achazia yang sekarang benar-benar menyebalkan.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja." Ucap Ashana yang sudah kelewat kesal dengan kelakuan Achazia.
"Ashana tunggu!"
Ashana memberhentikan langkahnya. Wanita itu menghela napas kemudian berbalik. "Apa?"
"Kau menginginkan ini?" Achazia memperlihatkan bungkusan lain.
Ashana memicingkan kedua matanya. "Apa itu?"
"Buka sendiri."
Ashana kembali duduk di kursi. Wanita itu membuka bungkusan makanan yang isinya tidak tahu apa. Dan ternyata... "LOBSTER!!" Pekik Ashana senang. Wanita itu sampai menutup mulut saking bahagianya.
Achazia terkekeh. Padahal hanya perkara lobster tapi Ashana bisa sebahagia itu. "Sudah, sekarang kau makan. Aku tadi hanya ingin membuatmu kesal. Lucu saja saat melihat ekspresimu ketika kesal."
Ashana menatap Achazia tajam. Pria ini benar-benar jahat. Padahal Ashana sudah marah besar tadi. Tapi ya sudahlah, endingnya di belikan lobster matang juga.
"Kau mau kemana?" Tanya Ashana saat melihat Achazia bangkit berdiri.
"Ada urusan yang harus aku kerjakan." Ucap Achazia.
Ashana menghela napas. Wanita itu berjalan menghampiri Achazia. Ia menekan pundak Achazia sampai pria itu duduk kembali di tempatnya. "Dengarkan aku. Mengurus perusahaan itu butuh seorang direktur. Dan direktur itu adalah kamu. Kamu juga butuh tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai direktur. Dan tenaga itu berasal dari makan. Jadi kamu harus makan." Ashana terus mengoceh dengan tangan yang akan mulai menyuapi Achazia. Wanita itu menatap Achazia.
"Buka mulutmu," Ashana sudah menyodorkan sesendok nasi dengan lauknya.
Achazia menurut. Pria itu membuka mulutnya. Bahkan Achazia sampai mengunyah sambil tersenyum. "Kalau begini setiap hari saja kau suapi aku." Ucap Achazia setelah suapan pertamanya habis.
Ashana menyuapkan suapan yang kedua. "Kau pikir aku mau?" Kesal wanita itu.
"Begini saja. Karena mommy akan membantu kita untuk bersama, bagaimana kalau kau bekerja di rumahku? Aku akan membayar besar gajimu." Ucap Achazia.
"Lalu Ailee bagaimana?"
"Kalian bisa bekerja berdua di apartemen ku. Lagipula kasihan Ailee jika harus mengurus apartemen sendirian."
Ashana tampak berpikir. Achazia berani bayar mahal. Ia sangat butuh uang untuk kehidupan keluarganya. Lagipula, pekerjaannya tidak terlalu berat.
"Baiklah, aku setuju."
Achazia tersenyum puas. "Bagus. Kau telah mengambil keputusan yang benar."
Setelah selesai menyiapkan bayi besar, Ashana menaruh piring kotor itu di meja. "Silahkan pergi."
"Kau mengusirku?" Kesal Achazia.
"Kau sendiri yang mau pergi kan? Katanya ada urusan yang belum di selesaikan." Ucap Ashana mengingatkan Achazia.
Achazia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Sebenarnya itu hanya alasannya agar Ashana mau menyuapi nya. Dan benar saja, Ashana mau.
"Oh.. itu. Aku berpikir kembali kalau nanti saja diselesaikannya kalau sudah ada di kantor." Ucap Achazia.
Ashana mengangkat kedua bahunya tidak peduli membuat Achazia menghembuskan napas lega karena wanita itu tidak curiga. Ia malah melanjutkan memakan lobsternya yang belum selesai.
"Ashana,"
"Apa kau bisa menemaniku lagi malam ini?"
Ashana menatap Achazia. Wanita itu tidak mengerti Achazia membicarakan apa. "Maksudmu?"
"Aku ingin kau tidur bersamaku agar mimpi itu tidak datang lagi."
Ashana terkejut. Bukannya bagaimana, tapi ia perempuan dan Achazia pria. Apa kata orang nanti jika tahu mereka sekamar sebelum menikah?
"Kau tidak akan melakukan apapun kan?"
Achazia mengerutkan dahinya. "Melakukan apa?" Tanyanya tak mengerti. "Aku hanya ingin memelukmu agar mimpi itu tidak menggangguku lagi." Lanjut Achazia.
Ashana tampak ragu. Wanita itu ingin menolaknya, tapi ia merasa kasihan pada Achazia. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana penderitaan Achazia saat mimpi itu datang. Dengan ragu Ashana mengangguk. Membuat Achazia tersenyum senang.
"Aku tunggu di kamar," Ucap Achazia lalu pergi berlalu meninggalkan Ashana.
"Dia bicara mudah sekali." Gumam Ashana saat Achazia sudah berlalu masuk.
Setelah menyelesaikan makannya dan membereskan semua, Ashana masuk ke dalam kamar Achazia. Disana, pria itu sudah siap sambil memainkan ponsel.
"Achazia.." Panggil Ashana saat sudah berada di pinggir kasur.
Achazia mendongak. Pria itu tersenyum kemudian menggeser tubuhnya agar Ashana bisa tidur di sampingnya.
Ashana berjalan mendekat dengan perasaan gugup. Wanita itu duduk di sisi kasur. Aneh sekali hubungan mereka. Hanya sebatas pelayan dan majikan tapi tidur seranjang.
"Ayo, ini sudah malam. Aku besok ke kantor." Achazia merentangkan kedua tangannya. Menunggu Ashana untuk masuk ke dalam sana.
Ashana menurut. Ia masuk ke dalam pelukan Achazia. Ashana tidak bisa bohong. Entah kenapa ia juga menginginkan pelukan ini. Pelukan yang hangat yang bisa mengantarkannya tidur dengan nyenyak.
"Have a good sleep, my queen."
Ashana tersentak saat Achazia membisikkan itu tepat di sebelah telinganya. Wanita itu mendongak, tapi Achazia sudah memejamkan kedua matanya.
*****
Ashana membuka matanya perlahan. Wanita itu melirik jam. Jam setengah enam. Ia harus bangun. Saat akan bangun, ia merasa ada tangan yang melingkar di tubuhnya. Ashana menoleh dan ternyata Achazia.
"Kau memelukku terlalu kencang," Ucap Ashana dengan suara khas bangun tidur. Ia mencoba melonggarkan pelukannya tapi tidak bisa.
Ashana menghembuskan napasnya. Ia menatap wajah Achazia yang tampan. Tidak, ini tidak tampan. Tapi sangat tampan.
"Apakah aku boleh menyentuhmu?" Gumam Ashana pelan. Ia mengangkat tangannya mencoba untuk menyentuh wajah Achazia.
"Kau sangat tampan," Gumam Ashana saat tangannya sampai di pipi pria itu. Tangannya kembali pindah ke hidungnya. Lalu pindah ke dahi, membenarkan rambut yang menutupi wajah Achazia. Sampai tangannya berhenti di bibir pria itu. "Kenapa aku bisa terjebak di labirin yang kau buat Achazia?"
"Kau tidak terjebak. Kau sudah menemukan jalan keluarnya, tapi kau memilih untuk tetap di dalam."
Ashana terperanjat saat tangannya yang bebas menyentuh bibir Achazia di tahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Achazia. Pria itu perlahan membuka matanya. Membuat Ashana ingin menghilang saat itu juga.
"Ka-kau sudah bangun?"
"Menurutmu?" Balik tanya Achazia. Tangannya masih menggenggam tangan Ashana.
"A-Achazia, kau bilang kau mau ke kantor? Ke-kenapa tidak bersiap?" Tanya Ashana gugup. Ia mencoba melepaskan tangannya tapi cengkeraman nya terlalu kuat.
"Kenapa wajahmu memerah?"
'Oh, tidak.' Ashana memalingkan wajahnya malu. Yang malah membuat Achazia gemas melihatnya.
Achazia menyentuh dagu Ashana lalu menariknya untuk melihat ke arahnya. "Kenapa menghadap kesana? Aku ingin melihat wajahmu."
*****