Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
BELANJA


Besok adalah hari dimana Ashana akan pergi berlibur. Ia senang saat semalam Alice dan Ailee meneleponnya kalau mereka juga di akan ikut liburan. Ashana yang sangat senang mendengarnya buru-buru menelepon Achazia untuk memastikan. Dan benar, Achazia mengajak Alice dan Ailee karena mungkin Ashana butuh teman perempuan.


Ashana sedang menyiapkan apa saja yang akan ia bawa. Ini sudah memasuki hari libur. Ia berpikir untuk jangan terlalu membawa banyak barang. Tapi ia juga bingung dengan apa yang akan dia bawa.


"Ashana,"


Ashana menoleh saat Ibu memanggilnya. Kini Ibu sudah berdiri sambil bersender di pintu.


"Iya?"


"Ada Achazia di depan."


Ashana mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian bangkit. Ia berjalan keluar kemudian Ibu kembali pergi ke dapur.


"Achazia," Panggil Ashana pada Achazia yang sedang memainkan ponselnya di ruang tamu.


Achazia mendongak kemudian tersenyum. Ashana hanya menggunakan baju rumah dengan rambut yang di ikat asal. Tapi itu malah membuat kecantikannya bertambah.


"Kau sudah siap?"


Ashana mengerutkan keningnya. "Siap kemana?"


"Aku akan mengajakmu berbelanja."


"Untuk apa?"


Achazia menghembuskan napasnya. "Untuk liburan."


"Tapi aku sudah menyiapkannya."


Achazia menggeleng. "Bukan, bukan itu."


"Lalu?"


"Aku punya rencana lain."


Ashana mengerutkan keningnya. Kenapa Achazia selalu membuatnya bingung? Ia berjalan mendekat lalu duduk di sebelah Achazia.


"Apa? Apa yang kau rencanakan?"


Achazia mencolek ujung hidung Ashana. "Rahasia. Makanya ayo ikut aku."


Ashana menghela napas. Baiklah kalau itu mau Achazia. Nanti juga ia akan tahu sendiri. "Aku siap-siap dulu." Ashana kembali masuk ke kamarnya. Setelah siap, ia keluar dari kamar.


"Ayo,"


Setelah berpamitan dengan Ibu, mereka berdua pergi. Ternyata Achazia mengajaknya ke supermarket. Ashana yang bingung hanya diam saja. Seperti apa yang dia pikirkan di awal, ia akan tahu dengan sendirinya.


"Ayo," Keduanya pun keluar dari mobil. Achazia mengajak Ashana untuk masuk. Setelah mengambil keranjang, ia menggandeng Ashana lalu berjalan bersama.


Ashana terkekeh melihat Achazia. Membuat Achazia menatapnya. "Kenapa?"


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Kenapa kau tidak menyuruh orang saja untuk membelinya? Kenapa pula kau harus turun tangan sendiri?"


"Karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Aku tidak punya alasan. Jadi aku menjadikan ini semua dengan alasan. Lagipula kau pasti akan menolak jika aku mengajakmu tanpa alasan yang jelas. Di tambah kau sedang membereskan barang-barang." Ucap Achazia yang di benarkan Ashana.


"Lalu sekarang kau akan membeli apa?"


Achazia menatap Ashana. "Menurutmu apa saja yang di butuhkan untuk membuat barbeque?"


"Kau tidak tahu?"


"Kau kan sudah tahu aku tidak pernah turun tangan sendiri."


Ashana menghela napas. "Baiklah, Tuan muda. Lain kali gunakan kaki dan tangan sendiri jika membutuhkan sesuatu." Sindir Ashana karena Achazia ini selalu menyuruh orang untuk segala yang dia butuhkan. Tidak aneh sih, kan dia punya banyak uang.


Achazia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum gemas karena melihat ekspresi lucu Ashana.


"Oh iya, omong-omong kita akan mengadakan barbeque di sana?" Tanya Achazia sambil mendorong keranjang yang sudah ia ambil alih dari Achazia.


"Memangnya boleh mengadakan barbeque di hotel?"


Achazia mencubit hidung Ashana. Kenapa wanitanya segemas ini? "Siapa bilang aku akan memesan hotel? Aku akan memesan vila dekat pantai. Aku pikir lebih bagus seperti itu. Melihat bagaimana dirimu dengan Alice. Mungkin kalian lebih menyukai vila dengan pemandangan alam langsung. Benarkan kataku?"


Ashana mengangguk. Pemikiran Achazia benar juga. Sebenarnya ia ingin bilang kalau lebih bagus memesan vila. Tapi sepertinya Achazia mengerti dan tidak membuatnya bicara sendiri.


Satu persatu bahan-bahan dan alat yang mereka butuhkan sudah di temukan. Ashana menatap belanjaannya. Ia meneliti apakah masih ada yang kurang. Ia teringat sesuatu. "Achazia, masih ada yang kurang."


"Apa itu?"


"Cola. Kita harus beli cola."


Achazia menganggukkan kepalanya. Cola adalah kesukaannya.


Mereka berdua berjalan menuju tempat yang menyediakan cola. Setelah mengambil dengan secukupnya, Ashana mendorong keranjang, tapi langsung di tahan oleh Achazia.


"Ada apa?" Ashana menatap Achazia.


"Kurang banyak." Achazia mengambil alih keranjang lalu memasukkan beberapa cola lagi.


Ashana melebarkan kedua matanya. "Achazia, ini terlalu banyak!"


"Tidak apa." Tidak, ini tidak banyak. Kan mereka liburan bukan berempat saja. Lagipula Achazia juga tidak akan mau jika liburan bersama dengan tiga orang wanita. Sangat tidak menyenangkan.


"Kau yakin ini akan habis?"


Achazia mengangguk sambil tersenyum lebar. "Ya, aku yakin."


"Ya sudah, kalau tidak habis aku akan menyalahkanmu."


"Baiklah. Tapi jika ini semua habis, kau harus memberikanku sesuatu."


"Memberikan apa? Kau punya banyak uang. Tinggal kau beli saja dengan uangmu Tidak perlu memintaku untuk membelikannya."


"Tidak, ini tidak bisa di beli."


"Lalu?"


Achazia mengedipkan sebelah matanya. "Nanti saja." Lalu ia berjalan mendahului Ashana sambil mendorong keranjang.


Ashana berjalan menyusul Achazia menuju kasir. Kasirnya tidak terlalu jauh karena di sini tersedia beberapa kasir di setiap tempat. Jadi mereka tidak perlu berkeliling mencari letak kasir.


Setelah selesai membayar, mereka memutuskan untuk pulang. Tidak, tidak mereka. Lebih tepatnya hanya Ashana. Karena ia mengaku sudah lelah dan harus beristirahat untuk perjalanan besok. Padahal Achazia sangat bersemangat sekali. Bahkan waktu 3 jam bukan waktu yang lama baginya saat berada supermarket.


"Ini aku yang simpan atau kau saja?" Tanya Ashana saat mobil Achazia sebentar lagi akan sampai ke rumahnya. Maksud Ashana adalah barang-barang yang barusan mereka beli.


"Aku saja. Aku takut kau malah kesusahan nantinya."


Ashana hanya mengangguk saja karena yang di katakan Achazia benar juga. Tapi ia juga tidak masalah kalau harus membawa itu.


"Aku ke dalam." Ucap Ashana setelah mobil Achazia berhenti tepat di depan rumahnya.


Achazia tersenyum. Ia mengecup kening Ashana lumayan lama. "Sampai jumpa besok."


Ashana mengangguk. Ia kemudian membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Ashana memperhatikan mobil Achazia yang pergi. Setelah mobil itu hilang dari pandangannya, Ashana baru masuk ke dalam rumah.


"Ibu, aku pulang." Ashana membuka pintu lalu melempar tubuhnya ke atas sofa. Ia melirik rumahnya yang terlibat sepi. "Dimana Ibu? Ibu!!!"


"Ibu di dapur."


Ashana berjalan menyusul ke dapur. Ia melihat Ibunya sedang memasak untuk makan malam. "Dimana Andri?"


"Andri di kamar. Kau istirahat saja. Nanti kalau sudah siap Ibu panggilkan."


Ashana mengangguk. Entah kenapa ia merasa sangat lelah hari ini. Mungkin karena ia habis membereskan barang-barang lalu di ajak Achazia untuk pergi berbelanja. Ashana pergi ke kamar dengan langkah gontai. Bahkan ia sempat bersender di daun pintu beberapa detik lalu melanjutkan langkah masuk ke dalam kamar. Ia menatap kasurnya beberapa detik sebelum melempar tubuhnya kesana.


*****