
Ashana melambaikan tangannya saat melihat Alice yang berjalan mendekat. Ia langsung membuka pintu mobil tapi tangannya langsung di tahan oleh Achazia. Ashana menatap Achazia. "Kenapa?"
Achazia menggeleng. "Tidak apa. Alice akan kemari. Kau tidak perlu keluar."
Ashana mengangguk. "Baiklah," Ia menoleh kembali pada Ailce dan gadis itu sekarang sedang membuka pintu mobil.
Alice masuk ke dalam mobil. Ia langsung melongok kan kepalanya ke depan. "Hai Kak Ashana!"
Ashana tersenyum membalasnya. Ia menoleh menatap Alice. "Kau mau duduk di depan?" Tawar Ashana.
Alice menggeleng. "Tidak perlu. Aku duduk di belakang saja. Lagipula ada Ailee." Ia menatap Ailee yang sedari tadi diam saja. "Hai Ailee.." Sapa Alice di sertai senyum.
Ailee baala tersenyum. Sebenarnya ia sudah menolak untuk ikut. Tapi Achazia memaksanya. Ia mengatakan kalau ini adalah hadiahnya untuk Ailee karena telah merawat apartemen nya dengan baik. Dan Achazia berharap kalau Ailee mau menerimanya. Ailee yang tidak enak kalau menolaknya jadi menerimanya. Lagipula ada Ashana, jadi ia tidak terlalu bosan. Ia juga lumayan dekat dengan Alice walaupun kadang ia segan.
"Kapan kita berangkat?"
"Sekarang." Achazia langsung menancap gas menuju bandara. Pasti teman-temannya sudah menunggu di sana. Andini dengan Abercio dan Adrian dengan Abqari. Hanya saja Achazia meminta Abqari dan Adrian untuk tidak muncul dulu saat menaiki pesawat karena ia takut nanti Alice dan Ailee jadi menolak untuk ikut.
Sesampainya di bandara, mobil Achazia langsung di sambut dengan Arkan yang sudah berdiri menunggu. Ia tersenyum saat Achazia keluar dari dalam mobil.
"Kau urus semuanya."
Arkan mengangguk. "Baik, Tuan."
Setelah mengatakan itu, Achazia menyuruh ke tiga orang yang berada di dalam mobilnya untuk keluar.
"Arkan akan mengurus semuanya?" Tanya Ashana dan Achazia mengangguk.
Ashana menoleh ke belakang. Tepat dimana Alice dan Ailee berdiri. "Ayo,"
"Tidak, kalian berdua duluan saja. Kami akan mengekor dari belakang. Kami tidak akan mengganggu kalian berdua."
Ashana tersenyum. "Kenapa seperti itu?"
"Sudahlah, lagipula kami ingin berdua." Ucap Ailee. Ia makin menggenggam tangan Alice mendukung Alice agar Ashana berduaan dengan Achazia.
"Terserah kalian."
Alice dan Ailee tertawa saat Ashana berbalik dan kembali menggandeng tangan Achazia.
Mereka berempat naik ke atas pesawat. Alice terlihat sangat senang. Ia menoleh pada Ailee. "Kau tidak punya pacar?" Tanya Alice yang membuat Ailee terkejut.
Ailee terkekeh. "Memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya saja ini akan terlihat seru kalau kau bersama kekasihmu. Ya, aku juga sama."
"Kau punya kekasih?"
Alice tertawa. "Memangnya siapa yang mau menjadi kekasihku? Hidupku terlalu monoton, Ailee. Mungkin mendengar namaku saja para pria akan langsung mundur karena takut. Kadang aku bertanya, kenapa aku harus di lahirkan di keluarga Comman? Keluarga yang sangat kolot."
Ailee langsung menyenggol lengan Alice. "Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu."
Alice terkekeh. "Tenang saja. Lagipula aku juga senang. Ada Kak Achazia juga Mommy Tapi kadang aku juga kesal. Ya begitulah. Ayo."
Mereka berdua pun mempercepat langkahnya. Ailee sudah di beritahu oleh Achazia dimana kamarnya. Tapi ia tidak tahu dimana letaknya. Jadi ia memilih bertanya pada Alice.
"Oh, kamarmu bersebelahan dengan kamarku." Ucap Alice.
Ailee melebarkan kedua matanya dengan senyum yang mengembang. "Benarkah?"
Alice mengangguk. "Benar, ayo!"
Mereka berdua pun berjalan menuju kamar masing-masing. Setelah menemukan kamarnya, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
Ailee merogoh saku celana saat mendengar notifikasi pesan. Ternyata dari kakaknya.
Kak Achazia
Alice, keluar dulu. Kita makan dulu.
Kak Ailee juga kan kak?
Achazia
Ya, Ailee juga*.
Ailee
Baiklah Kak.
Alice keluar kamar, ia mengetuk pintu kamar Ailee sampai Ailee keluar.
"Ada apa?"
"Kakak menyuruh kita makan dulu."
Ailee mengangguk. "Baiklah."
Alice yang sudah hafal dimana jalannya membuat Ailee tidak kesusahan. Ia hanya perlu mengebor Alice dan sampailah mereka di tempat makan.
Ailee dan Alice langsung melebarkan kedua matanya saat melihat Abqari dan Adrian sedang duduk manis bergabung bersama dengan Achazia, Ashana, Abercio juga Andini. Eh tunggu, kapan Abercio dan Andini ada disini?
"Kau?! Bagaimana kau bisa ada disini?!" Teriak Alice kesal pada Abqari.
Abqari hanya tersenyum. "Kakakmu yang mengajakku."
Alice menatap Achazia. "Kakak...." Rengek Alice.
"Apa?" Ucap Achazia polos. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kau ajak dia kesini?"
"Mereka yang ingin ikut."
"Kenapa kau mau ikut?!" Alice kembali menatap Abqari.
Abqari mengangkat kedua bahunya. Ia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan ketus Alice. "Ya karena aku ingin ikut. Memangnya kenapa?"
Alice berdecak. Saat ia ingin berbalik, suara Achazia menghentikannya.
"Jika kau mau pulang, mungkin liburan kali ini kau akan diam di rumah karena Daddy pasti akan menyuruhmu untuk belajar karena akan memasuki semester baru."
Alice berdecak. Ia berjalan memdekat, tapi langkahnya kembali terhenti. Karena apa? Karena kursi yang tersisa hanya tinggal dia. Di samping Abqari atau di samping Adrian. Di samping Adrian pun percuma karena ia akan tetap bertatapan dengan Abqari karena posisi mereka yang berhadapan. Alice berdecak lalu memilih untuk duduk di sebelah Adrian.
"Kenapa kau memilih duduk di sini?" Goda Adrian.
"Diam atau aku tusuk!" Alice menunjukkan garpunya yang membuat Adrian langsung meneguk saliva. Adik Achazia ini sangat menyeramkan.
Ailee yang masih terdiam membuat semua orang menatapnya.
"Ailee, kenapa kau diam saja?" Ucap Ashana.
Ailee menyunggingkan senyumnya. "Sepertinya aku tidak lapar." Tidak, itu hanya alasan.
"Ailee, makan dulu. Aku tidak menerima penolakan." Ucap Achazia.
Ailee meneguk saliva nya. Achazia sudah terlalu baik padanya. Jadi ia tidak bisa menolak kalau Achazia yang menyuruh.
Ailee duduk di sebelah Abqari yang berhadapan dengan Adrian. Ailee bisa melihat kalau Adrian sedari tadi sudah senyum-senyum tidak jelas. Tapi ia mencoba untuk mengabaikannya.
Andini dan Ashana yang sudah tahu rencana mereka untuk berlibur bersama hanya diam karena mereka merasa canggung. Di tambah Andini yang belum mengenal Alice dan Ailee.
Ashana sudah di beritahu Achazia semalam kalau mereka juga akan ikut. Jadi itu alasan mengapa Achazia membeli banyak soda. Dan Ashana marah karena kenapa Achazia tidak memberitahunya dulu. Ashana langsung menelpon Andini untuk memastikan. Andini bilang iya dan itu membuat Ashana sangat senang. Selang beberapa menit kemudian, Achazia kembali menelpon dan mengatakan kalau Ashana harus memberikan hadiah padanya. Ashana menolak karena Achazia berbuat curang. Tapi Achazia tetap pada pendiriannya, meminta Ashana untuk memberikannya hadiah. Ashana tetap tidak mau dan Achazia tetap memaksa. Perbincangan itu berlangsung lama sampai mereka lelah sendiri.
Ashana menatap Achazia yang sedang menatapnya. Ia menatap bibir Achazia yang bergerak tanpa mengeluarkan suara. "Aku tagih hadiahmu."
*****