Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MEMBERITAHU SEBENARNYA


Ashana menatap kamar Achazia dengan tatapan takjub. Kamarnya sangat indah. Bahkan ini lebih indah dari kamar-kamar yang ia lihat di google.


"Dulu kau disini?" Tanya Ashana masih melihat-lihat kamar Achazia. Oh iya, Achazia sudah menurunkan Ashana saat sampai di dalam kamarnya.


Achazia mengangguk. "Sekarang pun masih kamarku." Ucap pria itu.


"Tapi kau lebih memilih tinggal di apartemen?"


"Ya."


"Mengapa?"


"Karena lebih dekat dengan kantor. Lagipula apa bedanya rumah dengan apartemen? Keduanya sama-sama sepi."


Senyum Ashana luntur. Ia jadi teringat saat Adrian menceritakan tentang Achazia. Kalau keluarga Achazia ini---ah, sudahlah.


"Kau menyukai kamarku?" Tanya Achazia.


Ashana mengangguk antusias. "Iya. Kamarku sangat indah."


"Kau bisa memilikinya."


"Hah?" Ashana menatap Achazia dengan kedua mata yang melotot besar.


"Apa? Aku salah bicara?" Tanya Achazia melihat respon Ashana yang menurutnya aneh.


Ashana menggelengkan kepalanya. Wanita itu terkekeh dengan tangan yang di kibaskan. "Tidak, tidak." 'Mudah sekali dia bicara kalau aku bisa memiliki kamarnya? Apakah semua orang kaya sering berbicara sesukanya?' Ucap Ashana di dalam hati.


"Ashana," Achazia berjalan menghampiri Ashana dan berhenti hanya beberapa langkah di depan gadis itu.


"Apa?" Tanya Ashana sambil tersenyum.


Achazia menghembuskan napasnya. "Kalau aku benar-benar mencintaimu bagaimana?" Tanya pria itu membuat senyum Ashana luntur.


Ashana memaksakan senyumnya kembali. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Aku tidak yakin Ashana. Kau wanita yang berbeda. Entah kenapa aku---"


Achazia mengepalkan kedua tangannya. Entah kenapa ia merasa nyaman dan tenang saat Ashana berada di sampingnya. Ia merasakan hal yang berbeda jika Ashana berada di sampingnya. Achazia tidak bodoh. Ia mengerti apa ini.


"Achazia, mungkin kamu merasakan ini hanya karena kita tinggal bersama. Kita baru dia minggu tinggal bersama. Mungkin jika semua ini sudah selesai dan kau bisa kembali ke kehidupanmu dulu. Dan aku juga. Lagipula aku merasa jika keluargamu tidak akan bisa menerimaku. Dan aku yakin kau juga tidak bisa apa-apa karena---"


"Apa katamu?" Achazia berjalan lebih dekat. Bahkan kini pria itu mencengkeram tangan Ashana.


"Ap-apa?"


"Kau bilang aku tidak bisa apa-apa? Kau meragukanku?"


Ashana gelagapan. "Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya tidak yakin kalau kita bisa bersama."


Achazia tersenyum miring. "Jika aku bisa memperjuangkan mu apakah kamu mau mencoba untuk mencintaiku?" Ucap pria itu.


"Kau bisa mendapatkan yang lebih pantas daripada aku. Aku hanya wanita biasa. Banyak wanita luar biasa disana yang bisa menjadi pasanganmu."


"Aku bosan dengan yang luar biasa. Aku ingin yang biasa." Ucap Achazia.


Ashana mengalihkan tatapannya. Wanita itu tidak mau bertatapan dengan Achazia yang bisa membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


"Achazia aku---"


"Apakah kau mencintaiku?" Achazia memaksa Ashana untuk menatapnya.


Ashana tidak bisa menjawabnya. Ia juga tidak tahu mengapa ia tidak bisa menjawab tidak. Padahal sudah jelas kalau dirinya tidak mencintainya. Wanita itu hanya bisa menunduk. Tanpa sadar air matanya menetes. "Achazia ku mohon jangan seperti ini." Ucapnya lirih dengan air mata yang terus menerus keluar.


"Aku... aku tidak bisa." Ucap Ashana yang tidak bisa menahan isakannya.


Achazia menarik Ashana ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Ashana erat. Membuat Ashana tambah menangis.


"Jangan menangis." Bisik Achazia tepat di samping telinga Ashana.


Achazia mengusap punggung Ashana. Menenangkan gadis yang kini ada di dalam dekapannya. Lima belas menit Achazia dan Ashana seperti itu, sampai Achazia merasakan tubuh Ashana melemas. Pria itu langsung menahan tubuh Ashana agar tidak jatuh. Saat di lihat, Achazia terkekeh.


"Di saat seperti ini pun kau masih bisa tidur." Gumam Achazia sambil menaruh Ashana di atas kasur. Pria itu membenarkan posisi Ashana agar terlihat nyaman. Ia menyelimuti Ashana sebelum mengecup kening gadis itu.


"Percaya padaku." Ucap Achazia sebelum meninggalkan Ashana di kamarnya.


*****


"Tertidur?"


Achazia mengangguk. Pria itu masih sibuk memakan salad yang di buat oleh Adriyana.


"Ceritakan pada mommy bagaimana Ashana bisa menangis seperti itu."


Apakah Achazia harus menceritakan sejujurnya pada Adriyana? Kalau semua ini hanya sandiwara.


"Mommy," Panggil Achazia dengan raut wajah serius.


"Ya?"


"Sebenarnya aku... tidak benar-benar menjalin hubungan dengan Ashana." Achazia menaruh sendok yang ia pegang. Ia menatap Adriyana.


Adriyana mengernyit bingung. "Maksudnya?"


"Aku... dan Ashana hanya ber pura-pura. Aku hanya ingin agar mommy tidak menjodohkan ku lagi. Hanya itu." Ucap Achazia jujur.


Adriyana menghela napas. Wanita itu memijat kepalanya yang tiba-tiba pening. Kenapa anaknya ini sangat senang mencari masalah? "Achazia, kenapa kau bisa sebodoh ini?"


"Aku melakukan ini hanya agar mommy tidak menjodoh-jodohkanku lagi." Ucap Achazia membela diri.


"Mommy menjodohkanmu juga untuk diri kamu juga Achazia. Coba mommy tanya, berapa umurmu sekarang?"


"24 tahun."


"Kamu sudah waktunya untuk menikah. Kau tahu kan tradisi keluarga Comman, untuk yang pria harus sudah menikah sebelum umur 23 tahun? Lihat sekarang berapa umurmu."


Achazia mendengus. Keluarganya ini kenapa sih? Apa-apa selalu berpatok pada tradisi. Padahal banyak pria di luar sana yang seumurannya belum menikah. Bahkan banyak yang lebih tua.


"Lalu bagaimana dengan Ashana?" Tanya Adriyana khawatir. Ia takut Ashana malah jatuh cinta pada Achazia.


"Ashana juga tidak masalah."


"Bukankah kalian sudah tinggal bersama kurang lebih selama dua minggu? Dan kau sekarang mengakui kalau kalian hanya berpura-pura? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian berdua." Ucap Adriyana yang bertambah pusing.


"Tapi mommy... aku mencintai Ashana."


"APA?!"


Achazia mengangguk. Dia kembali mengulang ucapannya. "Aku mencintai Ashana."


Adriyana berteriak histeris. Membuat Achazia takut melihat mommy nya itu. Wanita itu berlari lalu memeluk Achazia. "Kenapa kau tidak bilang ini dari tadi? Kalau kau mencintai Ashana mommy akan membantumu!" Ucap Adriyana senang. Ia kira Achazia tidak mencintai Ashana. Tapi ternyata perkiraannya salah.


Achazia terkekeh melihat kelakuan Adriyana. Pria itu balik memeluk Adriyana.


"Lalu bagaimana dengan Ashana? Apakah dia mencintaimu?" Tanya Adriyana saat sudah melepaskan pelukannya.


Achazia menghembuskan napasnya. "Aku sudah menanyakan itu pada Ashana. Tapi sepertinya dia belum tahu. Lebih tepatnya dia tidak tahu harus menjawab apa." Jawab pria itu dengan suara lesu.


Adriyana mengusap pundak anak sulungnya itu. Ia tersenyum. "Tenang saja. Ada mommy. Kalau kau mencintainya, mommy akan bersedia membantumu. Walaupun harus berdebat dengan keluarga sekalipun." Ucap Adriyana yang membuat Achazia tersenyum lebar kemudian kembali memeluk Adriyana.


"Terima kasih mom."


"Kamu anakku. Aku tidak bisa mengorbankan kebahagiaan anakku hanya demi tradisi keluargaku. Tidak, tidak. Aku tidak sekuno itu." Ucap Adriyana yang malah mengundang tawa di antara mereka berdua.


*****