
Setelah meminta maaf, hubungan Achazia dan Ashana menjadi membaik. Kadang Achazia suka memberi perhatian tiba-tiba, membuat Ashana malu dan pastinya membuat para karyawan iri karena Ashana mendapatkan perhatian dari presdir cuek mereka itu. Sudah sering Ashana bilang kalau jangan terlalu terbuka. Walaupun Achazia bicara iya, tapi pria itu tidak benar-benar melakukannya.
"Aku mau makan yang aneh. Intinya yang aneh." Ucap Ashana saat Achazia menanyakan apa yang ingin wanita itu makan saat jam makan siang.
Achazia mengernyit. "Apa yang aneh?"
"Ya intinya yang aneh!" Ashana melipat kedua tangannya. Entah kenapa mood nya jadi buruk karena perkataan karyawan yang selalu mengatakan kalau ia tidak pantas bersanding dengan Achazia. Siapa lagi kalau bukan Anya? Wanita yang pernah mengatakan kalau ia tidak pantas bersanding dengan Achazia tempo lalu.
Achazia yang mengerti kalau Ashana sedang tidak baik-baik saja berjalan menghampiri wanita itu. Ia duduk di sebelah Ashana.
"Mau makan yang aneh hm?" Achazia menyibak rambut Ashana yang menutupi wajah cantiknya.
Ashana mengangguk tanpa menatap Achazia. Entah kenapa ia jadi ingin marah ke semua orang. Sebenarnya ia tidak tega, tapi salahkan di Anya sialan itu yang telah membuatnya begini!
Achazia bangkit berdiri. Ia berjalan menuju jendela besar lalu berdiri membelakangi Ashana. Ia terlihat sedang menelpon seseorang yang tidak Ashana tahu itu siapa.
Setelah selesai dengan urusan telepon, Achazia kembali menghampiri Ashana. Ia duduk di sebelah Ashana.
"Aku sudah memesankannya."
Ashana hanya diam saja. Sebenarnya ia ingin menceritakan semuanya pada Achazia. Tapi ia tidak mau membuat karyawan itu di pecat hanya karena ia yang mengadukan ini. Tapi jujur, Ashana sudah gatal ingin mengadukan ini semua.
"Ada yang mau kau katakan?" Tanya Achazia. Pria itu menggenggam tangan Ashana.
Ashana menggeleng. "Tidak ada."
"Kalau ada sesuatu yang mau kau katakan, katakan saja. Aku pasti akan mendengarkannya."
Ashana mengangguk sebagai jawaban. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia menoleh menatap Achazia. "Achazia aku lapar."
"Sebentar." Bunyi notifikasi dari ponsel Achazia mengalihkan perhatian pria itu. Setelah melihat apa notifikasinya, ia tersenyum.
"Ayo makan."
Ashana mengeryit saat Achazia malah mengajaknya keluar. Bukan bagaimana, biasanya Achazia akan memesan makanan dan makanan itu akan datang ke ruangannya. Tapi Ashana hanya diam saja tidak berniat untuk menanyakannya.
Kebingungan Ashana bertambah saat Achazia malah mengajaknya keluar kantor. Ia tidak bisa menahan lagi untuk tidak bertanya. "Kita mau kemana?"
"Makan." Ucap Achazia.
"Iya, tapi bukannya biasanya kau selalu memesan makanan lalu makanannya akan di kirim ke ruangan mu? Tapi kenapa sekarang kau yang keluar?"
"Kau sendiri yang memintanya."
Ashana tambah di buat bingung. Kapan ia mengajak Achazia makan di luar? Orang ini aneh-aneh saja.
"Terserah kau saja lah." Gumam Ashana pelan. Beruntung tidak terdengar oleh Achazia.
"Pak anda yakin? Meeting kali ini sangat penting dan akan menguntungkan perusahaan kita." Ucap sekretaris baru yang Ashana kenal bernama Arkan itu.
Achazia menggeleng. "Peruntungan tidak hanya di dalam kerja sama dengan perusahaan properti itu."
"Tapi peluangnya sangat besar Tuan."
Achazia menatap Arkan dengan tatapan tajam. Membuat Arkan meneguk salivanya dan langsung masuk ke dalam mobil. "Baik Tuan."
Ashana masih mencerna percakapan Achazia dan Arkan. Memang Achazia mau kemana sampai membatalkan meeting dengan CEO perusahaan properti yang di maksud Arkan? Ashana ingin bertanya tapi ia takut karena baru saja Arkan membuat Achazia seperti itu. Takutnya kemarahan Achazia malah berpindah padanya.
Ashana makin di tambah bingung saat mobil yang di tumpangi nya dengan Achazia berhenti di depan sebuah hotel. Tanpa mengucapkan apapun Achazia turun dan ada yang membukakan pintu untuk Ashana. Ashana langsung keluar dan berjalan menghampiri Achazia yang sedang menunggunya.
"Kita mau kemana?" Setelah sekian lama memendam pertanyaan itu akhirnya Ashana bisa menanyakannya pada Achazia.
Achazia tersenyum sambil mengusap surai panjang Ashana. "Aku sudah bilang aku akan melakukan apa pun yang kau mau."
Mereka berdua di ajak menuju rooftop hotel ini. Saat masuk, banyak orang yang menyambut. Tidak aneh karena ini adalah hotel milik Achazia sendiri. Ashana bisa melihatnya dari nama yang terpampang di depan tadi. Comman Hotel.
"Silahkan Tuan." Arkan yang tiba-tiba saja sudah ada di pintu menuju rooftop membukakan pintunya.
Ashana langsung di buat terkejut saat melihat apa yang sudah ada di rooftop. Helikopter dengan label Comman terparkir di sana. Ia menatap Achazia yang malah menggenggam tangannya lalu membawanya ke sana.
"Kita akan makan sesuatu yang aneh." Ucap Achazia saat sudah dekat dengan helikopter.
"Hah?!" Ashana tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara Achazia terendam dengan suara baling-baling helikopter yang berputar.
"Ayo masuk." Achazia menarik tangan Ashana untuk masuk. Setelah masuk, Achazia menatap Ashana yang masih bingung. Ia mengarahkan wajah Ashana untuk menatapnya.
"Kau ingin makan makanan yang aneh kan?"
"Kapan?"
"Saat di ruangan ku. Jadi aku akan mengabulkan permintaan mu. Kita akan makan sesuatu yang aneh."
Ashana melebarkan kedua matanya. Kapan ia mengatakan itu? Ashana mencoba mengingat-ingat dan akhirnya ia ingat. Ia memang mengatakan ingin makan yang aneh-aneh. Tapi ia tidak menyangka kalau Achazia akan mengajaknya naik helikopter.
"Terus bakal ke tempat makanan aneh itu?"
Achazia mengangguk. "Aku menyuruh bawahan ku untuk mencari makanan paling aneh di dunia. Dan makanan itu ada di restoran yang berada di German."
"Terus kita bakal ke German?"
Achazia mengangguk lagi.
Ashana menyenderkan tubuhnya. Ia memijat keningnya. Helikopter sudah berangkat dan ia juga tidak bisa menghentikan perbuatan Achazia. "Lalu kita di German akan makan saja?"
"Kau mau melakukan hal lain? Aku akan melakukannya."
"Tidak, tidak. Lebih baik kita makan saja lalu pulang." Kenapa Achazia menganggap serius perkataannya? Iya, memang benar kalau Ashana ingin makan makanan yang aneh. Tapi tidak dengan cara ke luar negeri. Di kantin kantor juga bisa.
"Berapa jam perjalanannya?"
"Kalau memakai pesawat biasa akan memakan waktu sekitar 15 jam. Kita akan lebih cepat dari itu?"
Ashana benar-benar tidak habis pikir. Walaupun lebih cepat dari 15 jam, tetap saja itu akan terasa lama.
"Kau senang?" Achazia menatap Ashana.
"Achazia, kenapa kau menganggap serius perkataanku?" Ucap Ashana.
"Maksudmu?"
"Aku hanya bercanda tadi." Ucap Ashana yang tidak sepenuhnya benar.
"Bercanda? Jadi kau hanya bercanda?" Ucap Achazia tidak percaya dan langsung memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.
"Ya aku tidak tahu kalau kau sampai seperti ini."
"Hey," Achazia memanggil orang yang mengemudikan helikopter.
"Iya Tuan?"
"Putar balik. Kita tidak jadi ke German nya?"
"Tidak jadi?!" Pekik Ashana. Lihat, bagaimana gilanya seorang Achazia Barra Comman.
*****