Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
TENTANG AILEE DAN ADRIAN


Ashana menatap sekitarnya yang sudah berantakan. Ia menghela napas kemudian melempar tubuhnya ke atas sofa. "Siapa yang akan membereskan ini semua?" Ucap Ashana.


Ailee menatap sekitarnya juga. Ia yang sedang duduk bangkit berdiri. "Aku saja, sebe---"


Alice menarik tangan Ailee agar kembali duduk. "Kak, kakak sudah masak daritadi. Memang kakak tidak lelah? Biar nanti orang suruhan Kak Achazia saja yang membereskannya."


"Tapi---"


"Sudahlah, kak. Kakak tidak usah membereskannya. Ya?"


Ailee mengangguk ragu. "Baiklah."


"Lalu kita mau apa?" Tanya Andini. "Kapan mereka akan pulang?" Lanjut wanita itu.


"Tadi aku menanyakannya pada Achazia. Mereka akan pulang dua jam lagi." Ucap Ashana yang tadi barusaja menelepon Achazia.


"Dua jam lagi?!" Alice membelalakan matanya. "Lama sekali."


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan hingga selama itu?" Ucap Ailee.


Andini mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu, Abercio tidak memberi tahuku. Apakah Achazia tidak memberitahumu?" Tanya Andini pada Ashana.


Ashana menggeleng. "Tidak."


"Kak Achazia juga tidak memberitahuku."


"Kau menanyakannya pada Achazia?" Tanya Andini.


Alice menggeleng. "Tidak,"


"Coba Ailee, kau tanyakan pada Adrian dan kau Alice, tanyakan pada Abercio. Mungkin mereka akan menjawabnya."


"Kenapa harus aku?" Balas Ailee keberatan.


"Ya, kenapa harus kita?" Alice ikut-ikutam bicara.


Andini menghela napasnya. "Abercio tidak menjawabku. Achazia juga tidak menjawab Ashana. Jadi coba kalian tanyakan. Mungkin saja kalau kalian, mereka akan menjawabnya."


"Tidak mau." Ucap Ailee.


Alice mengangguk. "Ya, aku juga tidak mau."


"Yasudah kalau begitu." Ucap Andini.


"Tapi aku penasaran." Alice berbicara.


"Kalau kau penasaran tanyakan pada Abqari. Mungkin dia akan menjawabnya." Ucap Ashana.


"Tidak mau! Ah, lupakan. Kita cerita saja." Ucap Alice yang mencoba untuk tidak memikirkan itu lagi.


"Cerita apa?" Timpal Ashana.


"Bagaimana kakak bisa bertemu Kak Achazia?" Alice memangku wajahnya di kedua tangan.


Ailee menganggukkan kepalanya. "Ya, ceritakan."


"Kan kami sekantor."


"Maksudku, bagaimana bisa kak Achazia kenal dengan kak Ashana?" Ucap Alice.


"Mmm.... Awalnya dari Adrian."


"Adrian?" Suara Ailee membuat yang lain langsung menatap ke arahnya.


Andini tersenyum jahil. "Kenapa kau begitu terkejut?"


Ailee menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak. Lanjutkan."


Ashana yang juga tersenyum, menatap ke arah Ailee. "Bagaimana jika kau yang cerita saat pertama kau bertemu dengan Adrian?"


Alice yang paling semangat di antara mereka langsung menimpali. "Iya! Aku sangat penasaran dengan kisah kalian! Ayolah kak, ceritakan!"


"Awalnya dari Tuan Achazia."


"Wow." Alice tersenyum. Ia menatap Ailee dan Ashana bergantian. "Kak Ashana kenal Kak Achazia dari Adrian, lalu Kak Ailee kenal Adrian dari kakakku. Benar-benar kebetulan."


Ashana tersenyum. Benar juga ya. "Lanjutkan,"


"Aku bekerja di apartemen Tuan Achazia. Kalian juga tahu itu. Adrian sering datang. Tidak sebenarnya yang lain juga sering datang, tapi Adrian lebih dari sering. Dia sering datang. Hampir setiap hari. Lalu suatu hari aku sakit dan aku tidak bisa bekerja. Aku meminta cuti dan Tuan Achazia memberikannya. Saat itulah, Adrian menanyakanku. Kemana aku? Kenapa saat dia berkunjung aku tidak ada? Lalu dia menanyakannya, dan ternyata aku sakit, dia langsung datang ke kontrakanku."


Semua yang ada disana membelalakan matanya. Adrian seperhatian itu?


Andini memajukan tubuhnya. Ia jadi semangat mendengarkannya. "Lalu lalu?"


"Dia menjengukku, menanyakan aku sakit apa. Aku yang terkejut karena kedatangannya langsung mempersilahkannya masuk. Dia mengajakku berobat tapi aku tolak. Aku bilang aku sudah minum obat. Dia memaksaku untuk ke dokter karena aku membeli obat warung. Jadi dia mengantarkanku ke dokter."


"Dia yang membayarnya?" Tanya Ashana.


Ailee mengangguk. "Iya, dia juga membelikanku makan. Aku yang masih bingung dengan perlakuannya padaku tambah bingung karena dia tidak mau menjelaskannya. Setelah itu dia pulang. Dan setelah kejadian itu kami dekat. Adrian adalah orang yang seru. Aku sering mengobrol dengannya jika dia sedang bermain ke apartemen Tuan Achazia. Aku sebenarnya tidak enak oleh Tuan Achazia, tapi Tuan Achazia tidak apa-apa katanya. Tuan Achazia memang sangat baik. Makanya aku betah bekerja dengannya."


"Dia berbeda sekali dengan di kantor." Ucap Andini dan Ashana menganggukkan kepalanya. Mengiyakan ucapan Andini.


Ailee terkekeh. "Iya, dia sangat berbeda. Aku dengar juga dia adalah orang yang tegas jika di kantor."


Ashana menganggukkan kepalanya. "Benar sekali. Bahkan sangat tegas. Aku juga masih tidak percaya ternyata direktur yang menyebalkan itu sekarang adalah pacarku." Ucapnya kemudian terkekeh. Sedangkan yang lain menatapnya.


"Kenapa kalian semua menatapku?" Tanya Ashana.


"Ah, tidak. Lanjutkan lanjutkan." Ucap Andini.


"Saat itu aku mulai menaruh perasaan pada Adrian, tapi aku tidak berani mengungkapkannya. Aku juga takut."


"Kenapa takut?" Tanya Alice yang tidak mengerti. Menurutnya, kalau Ailee suka kenapa tidak mengungkapkannya saja?


"Karena keluarganya itu kaya Alice. Aku takut keluarganya tidak menyukaiku. Dan benar saja, mereka tidak menyukaiku."


"Astaga, memang dasar keluarga kaya. Aku paling benci itu. Padahal kau manis." Ucap Andini.


"Lalu bagaimana?" Tanya Alice.


"Ternyata dia juga menyukaiku. Dan dia mengutarakan perasaannya padaku. Aku juga yang menyukainya menyetujui itu. Dan kami akhirnya berpacaran. Tapi tidak berlangsung lama karena keluarganya tahu."


"Lalu keluarga Adrian menyuruhmu menjauhi Adrian, jika tidak keluarganya akan melakukan sesuatu pada Adrian?" Tebak Andini.


Ailee mengangguk. "Iya, jadi aku memilih untuk menjauh dari Adrian. Lagipula keluarganya bilang aku tidak pantas untuknya.


Ashana terdiam. Cerita Ailee dengan saat dia menceritakan padanya berbeda. Walaupun sama mengarah kesana. Apakah Ailee tidak mau mereka tahu tentang mimpi Achazia dan Adrian yang tidak akan menjadi presdir jika dia masih bersamanya? Mungkin saja. Karena itu terlalu privasi.


" Apakah keluarga kaya semuanya seperti itu?" Tanya Ashana. Ia sudah tahu ceritanya dari Ailee. Ia takut kisahnya juga akan seperti itu.


Ashana menatap Alice dan Andini bergantian. "Kenapa kalian tidak menjawabku?" Tanya Ashana.


"Kau bertanya padaku?" Balik tanya Andini dan Ashana mengangguk.


"Bukannya kau bertanya pada orang kaya?"


"Memang kau tidak kaya?"


"Aku tidak kaya." Timpal Andini yang membuat Ashana menghembuskan napasnya. Andini selalu seperti ini jika di tanyakan itu.


"Alice, bagaimana? Kau berasal dari keluarga kaya." Ashana menatap Alice.


Alice berdecak. "Kakak tidak usah berpikir kesana. Aku akan mendukung kakak walaupun keluargaku tidak suka. Ada aku dan Mommy." Ucap Alice yang membuat Ashana sedikit lega.


Ailee tersenyum. "Kau pasti akan menang Ashana. Aku yakin. Jika keluarga Tuan Achazia menentangnya, aku yakin kau bisa melewatinya."


Ashana balas tersenyum. "Terima kasih Ailee. Kau juga sama. Adrian mencintaimu, jadi berjuanglah kembali."


Ailee hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.


*****