
Ashana jadi uring-uringan sekarang karena Achazia benar-benar mendiamkannya. Dia sendiri yang meminta Ashana untuk menjadi kekasihnya. Tapi dia sendiri yang kini mendiamkannya. Ashana rindu pria itu. Ia rindu semua tentang Achazia. Tapi pria itu seperti acuh dan benar-benar tidak pernah menyapa walaupun itu berada di kantor.
Ashana ikut bangkit saat melihat Achazia berjalan melewati para pegawai. Ia menatap Achazia dari pria itu keluar lift sampai masuk ke dalam ruangannya. Lalu ia menghela napas karena Achazia benar-benar tidak menatapnya.
"Ayolah, berani memulai. Jika kau seperti ini saja, bagaimana Achazia akan kembali psdamu?" Ucap Andini yang mengerti tatapan Ashana.
"Aku malu,"
Andini menghembuskan napasnya. "Coba aku tanya sekarang, apa kau bahagia seperti ini sekarang?"
Ashana menggeleng.
"Apa kau senang Achazia jauh darimu?"
Ashana kembali menggeleng.
"Ya sudah, ini juga demi kebahagiaanmu. Ashana, aku yakin Achazia juga pasti akan memaafkan mu jika kau meminta maaf. Aku bisa melihat Achazia juga sepertinya merindukanmu."
Ashana menghela napas. "Baiklah, akan aku coba."
*****
Achazia menaruh berkas yang baru saja ia baca ke atas meja. Lalu menandatangani berkas itu. Ia mendongak menatap sekretarisnya yang sedang berdiri di hadapannya. Menunggu berkas-berkas itu di tanda tangani.
"Apa jadwalku hari ini?" Ucap Achazia dan sekretarisnya itu langsung melihat ipad yang di bawanya.
"Jam 09:30 ada jadwal rapat dengan para pemegang saham Comman Grup, jam 12:45 makan siang bersama Alice, jam 15:00 pergi ke acara peresmian Bramantyo Hospital. Dan jam 19:15 pulang ke mansion keluarga Comman karena Nyonya Besar menyuruh untuk makan malam di rumah."
Achazia menghela napas berat. Jadwalnya semakin padat. Itu memang sengaja ia lakukan. Ia ingin menyibukkan dirinya sendiri. Entah kenapa, ia ingin seperti itu.
"Siapkan yang di perlukan untuk rapat. Aku akan datang ke ruang rapat jam 09:27." Ucap Achazia yang di angguki sekretarisnya. Setelah tugasnya selesai, sekretaris itu membawa berkas yang sudah di tandatangani oleh Achazia.
"Rencananya benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahan." Gumam Achazia. Ya, ini semua rencana Adrian, pria itu yang meminta Achazia untuk pura-pura marah. Saat Achazia bertanya apa untungnya untuk dirinya? Adrian malah menjawab kalau ini akan bagus untuk hubungannya. Awalnya Achazia menolak. Apa yang bagus dari marah? Tapi Adrian menolak untuk menjelaskan dan menyuruh Achazia untuk melakukannya. Katanya, Achazia sendiri yang meminta bantuannya. Saat bantuannya sudah keluar jadi Achazia harus melakukannya. Katanya ini akan membuatnya sangat bahagia. Achazia menurut saja, karena Adrian kan lebih berpengalaman.
"Harus berapa lama? Aku tidak tahan ingin memeluknya." Ucap Achazia. Ia menatap foto Ashana yang ada di ponselnya.
"Adrian, jika ini tidak menguntungkan untukku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti." Gumam Achazia sebelum kembali melihat berkas-berkas yang harus dia periksa dan tanda tangan.
*****
"Sekarang Achazia sedang rapat dengan para pemegang saham Comman Grup." Ucap Andini yang membuat Ashana lesu. Ia sudah merencanakan semuanya. Tapi sepertinya rapat itu akan lama. Seperti biasa. Jadi ia tidak bisa melakukannya sekarang. Lebih tepatnya acara minta maafnya. Lagipula itu tidak masuk ke dalam jadwal Achazia.
"Pasti itu akan lama." Gumam Ashana.
"Setelah rapat dia akan kemana?"
Andini mengangkat kedua bahunya. "Aku bukan sekretarisnya. Jadi aku tidak tahu. Kau buat janji dulu sana dengan Achazia."
Ashana melebarkan kedua matanya. "Lucu sekali! Hanya karena ingin minta maaf harus membuat janji?"
"Ya, biar kau tahu kan..." Balas Andini.
Ashana menatap pintu ruangan Achazia dengan perasaan rindu. Apakah kesalahannya benar-benar fatal sampai Achazia seperti ini? Mungkin Achazia sedang sensitif saat itu. Tapi kenapa sensitif nya sampai sekarang.
"Aku merindukanmu Achazia, aku merindukan semua tentangmu." Gumam Ashana sebelum Andini menepuk bahunya dan memperingati Ashana untuk jangan melamun. Ashana mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.
Ashana terkejut saat ada yang meneriakkan namanya. Ia mencari orang itu dan menemukan Alice yang sedang berlari kecil ke arahnya sambil tersenyum lebar.
"Alice?" Ashana bangkit berdiri. Ia berjalan menghampiri Alice yang langsung memeluknya.
"Aku merindukan kakak."
Ashana tersenyum canggung. Ia mengedarkan pandangannya melihat para karyawan yang kini sedang menatapnya. Bahkan ada yang melemparkan tatapan tidak suka. Siapa yang tidak kenal Alice? Adik kesayangan presdir perusahaan ini.
"Alice..." Ashana mencoba melepaskan pelukan Alice yang terlalu kencang.
Setelah puas memeluk Ashana, Alice melepaskan pelukannya. Senyuman masih terbit di wajahnya. "Kak Ashana apa kabar?" Tanya Alice.
Ashana tersenyum. "Baik. Baik sekali."
"Apakah kakakku memperlakukan kakak dengan baik?" Tanya Alice. Ia sudah tahu kalau Achazia dan Ashana sudah menjadi sepasang kekasih. Achazia yang menceritakannya.
"Ba-baik. Alice, bisakah kau mengecilkan volume suaramu?" Ucap Ashana karena Alice terlalu semangat sampai semua orang bisa mendengar apa yang gadis itu katakan.
"Kenapa memang? Aku tuh rindu kakak tahu!" Ucap Alice yang malah memperbesar volume suaranya. Membuat Ashana bingung harus bagaimana.
"Bagaimana kalau kita mengobrol?" Ucap Alice yang langsung mendapat gelengan kepala dari Ashana. Membuat Alice mengernyit.
"Kenapa memang?" Tanya Alice.
"Ini masih jam kerja. Aku tidak bisa pergi." Ucap Ashana.
"Ya sudah, bagaimana kalau nanti jam makan siang, kakak bersamaku?" Ucap Alice.
Ashana tampak berpikir. Jika ia menolak, pasti Alice akan memaksa. Jadi percuma. Lebih baik ia mengangguk saja.
"Yes, aku akan menunggu kakak. Ya sudah, sampai jumpa." Setelah memeluk Ashana singkat, Alice berjalan menuju ruangan Achazia.
"Alice----" Terlambat. Alice sudah masuk ke dalam ruangan Achazia. Membuat Ashana menghembuskan napas. Ashana memilih untuk duduk kembali ke tempatnya.
"Kau juga dekat dengan adiknya?" Tanya Andini kagum. Melihat bagaimana akrabnya Ashana dengan Alice tadi sudah menjelaskan kalau Ashana dan Alice sangat dekat. Sampai Alice mengajaknya untuk mengobrol.
"Ya begitulah." Ucap Ashana di sertai dengan senyuman kecil.
"Harusnya kau sadar diri. Kau hanya pegawai kantoran biasa. Mau bersanding dengan Pak Achazia? Hey, bangun. Bahkan hanya sekedar mimpi pun sepertinya kau tidak pantas." Ashana dan Andini menoleh ke sumber suara. Walaupun orang itu tidak mengeraskan suaranya, tapi keduanya bisa mendengar sangat jelas karena orang itu duduk di samping kiri Ashana.
"Maaf? Anda siapa ya? Tidak perlu ikut campur urusan orang lain." Ucap Andini.
Orang itu tersenyum miring. "Bukannya aku ikut campur. Aku hanya ingin menyadarkan dia dari mimpinya." Orang itu menatap Ashana dengan tatapan meremehkan.
"Terima kasih telah mengingatkanku, tapi maaf, Pak Achazia juga merespon. Bahkan dia sendiri yang menginginkanku. Terus aku harus gimana?" Ucap Ashana yang langsung mendapat decakan kesal oleh orang itu. Orang itu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Andini mengusap bahu Ashana. Ia tersenyum. "Bagus, buang rasa tidak percaya dirimu itu. Kau juga layak bersanding dengan Achazia." Ucap wanita itu.
Benar, benar apa yang di katakan oleh Andini. Ia tidak bisa terus-terusan merasa tidak percaya diri. Ia juga pantas bahagia. Dan kebahagiannya terletak pada Achazia.
*****