Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
ALASAN SEBENARNYA


Setelah selesai menunjukkan semua yang ada di apartemen, Achazia menyuruh Ashana untuk memasakkan sesuatu untuknya. Ashana yang sebenarnya ingin protes, hanya bisa menurut. Pikir Ashana, untuk apa ada Andriyani kalau dirinya yang harus memasak? Bukankah Andriyani yang mengurus apartemen ini?


"Ini tuan," Ashana menyajikan makanan untuk Achazia. Pria itu tidak menjawab. Ia hanya diam sambil memainkan ponselnya.


Ashana yang bingung harus duduk dimana hanya berdiri di samping Achazia. Wanita itu tahu sopan santun pada majikan seperti apa.


Achazia menaruh ponselnya di atas meja. Pria itu mulai melahap makanan yang di sajikan oleh Ashana. Beruntung Ashana pandai dalam hal memasak.


"Adrian ingin bertemu denganmu," Ucap Achazia.


Ashana melirik sisi kanan dan kiri. Barangkali ada orang lain selain mereka berdua. Ternyata tidak ada. Berarti Achazia berbicara padanya.


"Aku?"


"Ya,"


"Apakah aku pernah melakukan sesuatu yang salah padanya?" Tanya Ashana. Aneh saja mendengar kalau Adrian ingin bertemu dengannya.


"Tidak, dia hanya ingin bertemu denganmu. Berbincang sebentar katanya," Balas Achazia.


"Oh, oke." Balas Ashana sekenanya.


"Bersiap-siaplah. 30 menit lagi Adrian akan datang," Ucap Achazia.


Ashana hanya diam. Memangnya ia harus bersiap-siap seperti apa? Wanita itu tidak mengerti. Ingin menanyakan tapi takut malah membuat Achazia marah.


"Mm, baiklah. Kalau begitu, aku ke kamar dulu," Ucap Ashana yang sebenarnya tidak tahu harus apa.


Achazia tidak menjawab. Pria itu menatap kepergian Ashana sampai punggung wanita itu menghilang dari pandangannya.


"Kenapa dia aneh sekali? Adrian akan bertemu denganku dan aku disuruh untuk bersiap-siap? Memangnya sepenting apa? Lagipula kalau bersiap-siap, aku harus bagaimana? Memakai baju yang bagus? Ah, aku tidak mengerti." Ashana terus saja bicara sampai ia masuk ke dalam kamar.


Ashana melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Hanya mengelilingi apartemen Achazia saja lelahnya seperti ini. Atau memang ia yang bertambah tua?


Ashana menghela napas. "Setidaknya aku tidak boleh terlihat seperti ini saat bertemu Adrian." Gumam Ashana. Wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Rambutnya yang tadinya rapi mulai acak-acakan. Dan wajahnya terlihat lelah.


Ashana berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah agar terlihat lebih segar. Tidak menghabiskan waktu lama, wanita itu keluar lalu kembali berdiri di depan cermin meja rias. Ia tersenyum. "Tidak terlalu buruk," Gumam Ashana.


Ashana kembali menata rambutnya dan menambahkan sedikit riasan agar terlihat segar. Sampai Ailee datang ke kamarnya dan memberitahukan kalau Adrian sudah sampai.


"Terima kasih Ailee, aku akan segera kesana."


Ailee tersenyum. "Aku akan menunggumu," Ucap Ailee.


Setelah dirasa sempurna, Ashana keluar kamar untuk menemui Adrian di antar oleh Ailee.


"Senang bertemu denganmu," Sapa Adrian saat melihat Ashana datang dengan Ailee.


"Kalau begitu saya pamit," Ucap Ailee dengan membungkukkan tubuh lalu pergi meninggalkan Ashana dan Adrian.


"Ada apa?" Tanya Ashana, masih dengan posisi yang sama.


Adrian terkekeh. Pria itu menepuk sofa di sampingnya. "Duduk dulu."


Ashana menurut. Wanita itu duduk dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Ia baru sadar kalau tidak ada Achazia disini. "Maaf sebelumnya, apa yang ingin dibicarakan denganku?" Tanya Ashana lagi.


Adrian menghela napas. Pria itu menatap Ashana. "Bagaimana hari pertamamu tinggal disini?" Tanya Adrian.


"Baik," Balas Ashana.


"Bagaimana Achazia terhadapmu?" Tanya Adrian lagi.


Ashana mengernyit. "Maksudmu?"


"Bagaimana sikap Achazia terhadapmu?"


"Seperti biasa. Sebagai Tuan dan bawahan," Jawab Ashana yang bingung dengan pertanyaan Adrian.


"Jadi begini, kau tahu alasan Achazia memperkejakanmu?" Tanya Adrian lagi.


"Kau mau tahu?" Tawar Adrian disertai senyuman.


Ashana menatap Adrian. Matanya berbinar. "Kau akan memberitahuku?"


Adrian menyenderkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan yang di lipat. "Mm.. iya,"


"Beritahu aku!" Pinta Ashana kelewat antusias.


Adrian terkekeh. Pria itu menatap Ashana. "Baiklah, dengarkan baik-baik," Ucapnya.


Ashana mengangguk patuh. Wanita itu memasang telinga untuk mendengarkan apa yang aka dikatakan oleh Adrian.


"Achazia dijodohkan," Ucap Adrian.


Ashana mengerutkan dahinya. "Lalu? Apa hubungannya denganku?"


"Achazia tidak mau dijodohkan dengan wanita itu," Lanjut Adrian.


"Kenapa? Apakah dia kurang cantik? Atau kurang kaya?" Tanya Ashana lagi.


Adrian mengangkat kedua bahunya. "Bahkan Achazia tidak tahu wujudnya seperti apa. Latar belakang keluarganya pun dia tidak tahu. Ibunya merahasiakan itu darinya. Tapi dia sudah tahu itu. Hanya belum tahu siapa wanitanya saja." Ucap Adrian.


"Lalu aku?" Tanya Ashana sambil menunjuk dirinya.


"Kau?"


"Apa alasan aku sampai dia memperkejakanku disini?"


Adrian terkekeh. Ashana ini lucu juga. Pria itu menatap Ashana yang terlihat sangat penasaran.


"Sebenarnya Ibu Achazia tidak memaksa Achazia untuk menerima perjodohan. Tapi dia tetap menjodohkan Achazia. Dan kau, kau dijadikan sebagai alat untuk Achazia. Agar ibunya berhenti untuk menjodohkannya dengan wanita itu, kau tahu? Achazia tidak pernah mempunyai pacar. Alasan itulah yang membuat Ibunya menjodohkannya."


"Ashana yang mendengarnya langsung tercengang. "A-aku? Mengapa dia memilihku?" Tanya Ashana tak percaya.


"Sebenarnya Achazia yang menyuruhku untuk mencarikan wanita yang pantas menjadi alat untuk memberhentikan ibunya. Dan, aku menemukanmu," Ucap Adrian santai.


"Kenapa harus aku?" Ashana menatap Adrian tidak percaya. Dari sekian banyaknya wanita di dunia kenapa harus ia?


Adrian mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu. Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin memilihmu. Hati-hati saja, jangan bawa perasaan. Karena aku tidak yakin perasaanmu akan terbalas atau tidak," Ucap pria itu tenang tapi membuat Ashana panas dingin. Bukan, bukan karena Ashana takut jatuh cinta pada Achazia. Sebelumnya pun ia sudah sadari diri. Tapi yang ia takutkan adalah ibunya Achazia.


"Kalau aku jadi terseret ke dalam lingkaran keluarga Achazia bagaimana?" Tanya Ashana. Ini yang wanita itu khawatirkan. Pasalnya ia adalah tipe orang yang tidak mau ikut campur.


Adrian tersenyum. "Tidak akan. Achazia akan mengurus semuanya,"


Ashana mengangguk. Walaupun wanita itu tidak yakin.


"Oh iya, satu lagi." Ucap Adrian.


"Apa?"


"Ashana." Adrian menatap Ashana serius. Membuat Ashana merasa akan diinterogasi oleh pria di hadapannya ini.


"Cobalah menjadi wanita yang bisa masuk ke dalam kehidupan Achazia,"


Ashana mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?"


"Achazia adalah pria yang kaku juga irit bicara. Dia di besarkan di keluarga yang selalu serius. Hanya Ibu dan adiknya saja yang memang bisa mencairkan suasana. Dia tidak pernah merasakan jatuh cinta. Wanita yang ada di hidupnya hanya wanita yang ada di keluarganya. Mungkin dengan kedatanganmu hidupnya sedikit berubah?"


Ashana mengedipkan matanya beberapa kali. Sekian detik kemudian wanita itu terkekeh. "Kau bicara apa Adrian? Aku tidak pernah ada rencana akan seperti itu. Lagipula tugasku hanya sebagai alat untuk menolak perjodohan yang Ibunya buat kan? Setelah itu selesai, aku tidak akan ada urusan lagi dengannya." Ucapnya. Ashana tidak mengerti mengapa Adrian menyuruhnya untuk melakukan itu.


Adrian tersenyum. "Aku tahu. Tapi sebagai seorang sahabat, aku tidak tega melihatnya hidup dengan siklus yang itu-itu saja. Aku juga ingin melihatnya jatuh cinta. Lagipula aku tidak yakin selama kau tinggal disini kau tidak akan jatuh cinta pada Achazia. Secara, di antara kami berempat Achazia lah yang paling menarik," Ucap pria itu menggoda Ashana.


Ashana berdecak. "Terserah kau saja."


*****