Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
LEBIH DARI EGO


Ashana langsung memeluk Andini saat sahabatnya itu merentangkan kedua tangannya. Tangis Ashana pecah di pelukan Andini. Sedangkan Andini, wanita itu sedang menunggu momen yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Ashana.


"Kenapa? Kenapa dia melakukan ini?" Isak Ashana.


"Dia siapa? Melakukan apa?"


"Kau sendiri melihatnya. Jangan pura-pura tidak tahu." Ucap Ashana.


Andini mengusap surai Ashana lembut. "Kau yakin itu Achazia?"


Ashana langsung mengangkat wajahnya. Ia menatap Andini dengan wajah yang sudah banjir air mata. "Lalu kalau bukan Achazia siapa lagi? Abercio?"


Senyum yang tadi tercetak di wajah Andini langsung memudar. "Jangan mengalihkan pembicaraan."


Ashana berdecak. "Andini aku yakin penglihatan mu masih normal. Kau tidak mungkin tidak mengenali Achazia. Achazia memeluk wanita itu. Achazia memeluknya----"


"Hei, tenang. Jangan gegabah. Kau yakin itu keinginan Achazia?"


"Lalu kalau bukan keinginan Achazia keinginan siapa lagi?"


"Kau yakin itu bukan keinginan wanita itu?"


Ashana mengerutkan keningnya. "Maksudmu Ariana?" Siapa yang tidak kenal Ariana? Artis yang sedang ramai di perbincangkan karena sudah banyak memerankan film. Tahun ini adalah tahun kejayaan Ariana.


Andini mengangguk. "Kau yakin ini keinginan Achazia? Bukan keinginan wanita itu?"


"Tidak mungkin Ariana. Dia gadis yang baik. Aku sering melihatnya di televisi dan dia---"


"Hey, Ashana. Itu di televisi. Semua artis juga akan selalu berpenampilan baik jika di depan media. Jika di belakangnya, kita tidak tahu."


Ashana terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Andini. Ia hanya mengenal Ariana saat wanita itu di televisi. Di kehidupan asli Ashana tidak tahu tentang Ashana.


"Apa kemungkinan yang tepat?" Ashana menghapus air matanya. Ia mencoba menenangkan diri. Ashana mencoba menurunkan egonya agar mempercayai Achazia.


"Achazia tidak melakukan itu. Mungkin Ariana yang menyukai Achazia."


"Tapi aku belum pernah melihat media yang memberitakan kalau mereka dekat."


"Mungkin Ariana baru menyukai Achazia sekarang-sekarang ini?" Andini mencoba berpikir kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkan Achazia.


"Turunkan egomu. Tanyakan pada Achazia kenapa dia melakukan itu dan dengarkan penjelasannya. Kau tidak akan menerima penjelasan yang di berikan Achazia kalau kau masih berpikir Achazia adalah pihak yang salah."


Ashana kembali mengiyakan perkataan Andini. "Lalu sekarang aku harus bagaimana?"


"Kau sudah tenang?" Andini menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Ashana ke belakang telinga.


Ashana mengangguk. "Lumayan."


Andini tersenyum. "Tenangkan dirimu dulu dan bicarakan baik-baik. Sebentar lagi jam makan siang akan berakhir. Kau mau lanjut bekerja atau pulang saja?" Tanya Andini.


"Aku lanjut bekerja saja."


"Memangnya tidak apa-apa?" Tanya Andini dengan raut wajah khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa fokus."


"Baiklah kalau begitu." Mereka berdua berjalan menuju tempat kerja. Walaupun perasaan Ashana masih kacau, setidaknya perasaannya sedikit membaik karena hiburan Andini yang mengatakan kalau mungkin saja itu bukan kemauan Achazia. Ya, mungkin saja.


Ashana mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik. Setelah lama menunggu, ia melirik jam lalu tersenyum. Ini sudah waktunya untuk pulang. Andini sudah pulang lebih dulu. Andini bilang kalau kakaknya ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu yang penting.


"Ashana,"


"Ya? Ada apa?"


"Pulang denganku ya?"


Ashana mengernyitkan dahinya. Achazia memintanya? Ini bukan perintah seperti biasanya? Ia menatap Achazia yang menunggu jawaban. Tanpa membuka mulut Ashana menjawabnya dengan anggukan.


Hanya anggukan dari Ashana bisa membuat Achazia langsung tersenyum lebar. "Ayo,"


Ashana mempersilahkan Achazia untuk berjalan lebih dulu dengan diamnya Ashana. Tapi Achazia tidak peka, membuat Ashana berdecak lalu berjalan lebih dulu dan berakhir Achazia yang berjalan mengekorinya.


"Kau akan makan siang di rumah?" Tanya Achazia dan Ashana mengangguk.


"Apakah kau mau hari ini makan siang denganku?" Tanya Achazia lagi saat keduanya sudah berada di dalam lift.


Ashana terdiam. Ia tahu Achazia sedang mencoba mendekatinya dengan cara yang tidak membuatnya marah. Dalam hati Ashana percaya, jika Achazia melakukan ini, pasti Achazia tidak melakukan hal itu. Kalau Achazia yang menginginkannya, pasti Achazia lebih memilih Ariana daripada membujuk Achazia. Memikirkannya membuat Ashana tersenyum kecil.


"Apa yang lucu?"


"Hah?" Ashana menatap Achazia yang baru saja bersuara.


"Kau baru saja tersenyum. Apakah ada yang lucu?" Tanya Achazia.


"Tidak ada," Tapi Ashana kembali tersenyum. Membuat Achazia melirik ke segala arah sedangkan di dalam lift hanya ada mereka berdua.


Sesampainya di parkiran Achazia langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk pria itu mempersilahkan Ashana masuk dengan membukakan pintu mobil untuk Ashana. Ashana yang menerimanya dengan raut datar tidak membuat Achazia berkecil hati. Masih untung Ashana mau di antarkan pulang.


"Kau mau makan apa?" Tanya Achazia saat sudah melakukan mobilnya.


"Terserah kau saja."


Achazia menghela napas. Ashana selalu seperti ini. Saat di tanya ingin apa jawabnya terserah. Tapi saat ia bawa ke restoran, Ashana akan langsung berkomentar kalau makanannya terlalu mahal. Tadi bilangnya terserah, tapi saat sudah dipilihkan malah berkomentar. Sebenarnya Achazia ingin mengatakan itu. Tapi ia sadar keadaan. Yang ada Ashana akan tambah marah padanya. Kejadian tadi saja ia belum menjelaskannya pada Ashana.


Perjalanan menuju salah satu restoran berjalan sunyi karena keduanya hanya diam. Achazia yang takut salah bicara dan Ashana yang tidak akan bicara sebelum Achazia menjelaskan. Sebenarnya Ashana ingin menanyakan duluan kenapa, tapi ia terlalu gengsi untuk itu. Ia juga mengatakan itu pada Andini dan Andini bilang, Achazia pasti akan menjelaskannya. Andini yakin itu, makanya Ashana percaya.


"Kita sudah sampai."


Ashana hanya mengangguk. Ia membuka sabuk pengamannya. Tangan Ashana terulur untuk membuka pintu mobil tapi berakhir tangannya yang mengambang di udara karena Achazia lebih dulu membukakan pintu mobil untuknya.


"Kau tidak perlu melakukan itu." Ashana keluar dari mobil. Ia membenarkan letak tasnya.


Achazia tersenyum. "Tidak apa, ayo." Achazia mengulurkan tangannya.


Ashana mengerti dengan apa yang di maksud Achazia. "Aku akan berjalan di sisimu." Ucap Ashana yang menolak Achazia.


Achazia menghela napas. Kali ini ia tidak boleh memaksa. Ia tidak boleh membuat Ashana tambah kesal padanya.


"Ayo," Achazia memasukkan kedua tangannya ke saku celana lalu mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam restoran.


Dalam hati Ashana ingin tertawa. Pasti Achazia berpikir kalau ia masih kesal karena kejadian tadi. Padahal tidak seperti itu. Ashana hanya ingin melihat bagaimana perjuangan Achazia meminta maaf padanya terlepas itu kesalahannya atau bukan.


Setelah duduk, Achazia memesan makanan. Ia sempat menanyakan Ashana ingin makan apa, dan Ashana bilang apa saja. Jadi Achazia memesankan makanan kesukaan Ashana. Dan tidak makanan yang tidak Ashana suka.


"Ashana," Panggil Achazia saat pria itu sudah memesan makanan.


Ashana mendongak. Ia merespon dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Maafkan aku,"


*****