
Achazia mengedipkan matanya beberapa kali saat merasakan sinar matahari masuk melalu ventilasi. Ia duduk lalu menatap ke segala arah. Pria itu baru ingat kalau ia menginap di sini.
Achazia menyibak selimut yang setengah tubuhnya. Malam tadi memang dingin. Bahkan Achazia sampai menurunkan suhu pendingin ruangan.
"Kau sudah bangun?" Achazia menatap Adrian yang kini sedang sibuk berkutat di dapur. Ia menyunggingkan senyum saat melihat pria itu memakai celemek.
"Menurutmu kalau aku tidak bangun pagi kalian akan makan apa?" Balas Adrian.
"Kita bisa memesan makanan." Achazia berjalan menghampiri Adrian lalu duduk di meja pantry.
"Sarapan itu bagusnya buatan tangan sendiri. Lebih sehat."
"Memang pikirmu makanan di restoran seperti itu tidak sehat?"
"Aku tidak mengatakan kalau makanan itu tidak sehat. Hanya saja kalau kita yang buat, lebih terjamin kesehatannya."
"Kau masak apa?" Achazia berjalan menghampiri Adrian lalu merangkul bahu pria itu.
"Nasi goreng. Kau ingin sarapan yang lain?"
Achazia menggeleng. "Tidak, aku makan apa saja."
"Kalau begitu kau sarapan rumput di luar saja."
Achazia melayangkan tatapan tajam sedangkan Adrian santai mengaduk nasi goreng buatannya. Achazia berjalan kembali lalu duduk di kursi.
"Aku kira aku adalah orang pertama yang bangun."
Achazia dan Adrian menoleh ke arah sumber suara. Abqari berjalan menghampiri mereka.
"Abercio belum bangun?"
"Kau seperti yang tidak tahu dia saja. Daya ketidaksadaran nya saat tidur sangat kuat. Bahkan alarm pun tidak akan mempan." Ucap Abqari. Memang benar, di antara mereka, Abercio adalah yang paling menyukai tidur.
"Kalian lebih baik mandi dulu. Setelah itu kalian baru sarapan." Ucap Adrian.
"Memangnya kau tidak mandi?" Balas Abqari.
"Kau tidak lihat aku? Aku sudah siap dengan setelan jas kantor." Mereka berempat memang menyimpan beberapa barang disini dan salah satunya adalah baju. Bahkan baju mereka banyak yang ada disini. Baik itu jas atau pun yang lainnya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mandi dulu." Abqari merangkul leher Achazia lalu menarik pria itu untuk kembali ke kamar dan mandi.
Baru saja Adrian merasa tenang beberapa menit, datang Abercio dengan muka bantal.
Adrian menghela napas. "Kau sudah mandi?"
"Aku baru bangun." Abercio duduk di tempat yang tadi di duduki Achazia. "Yang lain apakah belum bangun?"
"Kau adalah orang terakhir yang bangun. Yang lain sedang mandi."
Abercio melebarkan kedua matanya. "Benarkah? Padahal aku sudah berusaha untuk bangun lebih dulu."
"Kau harus mencoba lagi nanti. Sudah, sekarang kau mandi. Baru kita sarapan. Setelah itu kita pergi ke kantor masing-masing."
Dengan berat hati Abercio bangkit lalu berjalan kembali ke kamar. Padahal tadinya ia ingin sarapan dulu sebelum mandi. Tapi ya sudahlah, daripada nanti yang lain sudah siap ia belum sama sekali.
Achazia dan Abqari lebih cepat selesai mandinya karena mereka yang lebih dulu. Kini Achazia, Abqari dan Adrian sudah duduk di meja makan sambil menunggu Abercio selesai.
"Kalian menungguku?"
Ketiga pria itu menoleh ke sumber suara. Abercio berjalan mendekat sambil mengelap rambutnya yang basah.
Ke empat nya kemudian sarapan. Setelah sarapan, mereka bersiap-siap menuju kantor masing-masing. Achazia kini sudah berdiri di depan pintu mobilnya. Kalau menjemput Ashana dulu, pasti akan memakan banyak waktu. Tapi itu tak masalah untuknya. Ia akan menelpon Ashana.
"Halo Ashana, apa kau sudah siap?"
"Siap apa?"
Senyuman jahil terbit di wajah Achazia. "Memang kau pikir siap apa jika aku bertanya pagi-pagi begini? Kau mengira aku bertanya apakah kau sudah siap aku nikahi? Ashana, kapanpun itu aku siap----"
"Kau ini! Aku bertanya serius!"
Achazia terkekeh mendengar nada kesal dari wanita itu. Ia tebak pasti wajah Ashana kini sudah memerah. "Baiklah, baiklah. Kau sudah siap aku jemput? Jangan seperti kemarin, aku jemput kau masih sarapan."
Tidak ada jawaban dari Ashana. Membuat Achazia mengernyitkan dahi lalu menatap layar ponselnya. Masih tersambung. "Ashana?"
"Y-ya?"
"Ada apa? Ada sesuatu terjadi?" Tanya Achazia mulai khawatir. Dari respon Ashana saja ia sudah bisa membacanya.
"Ti-tidak. Mm.. hari ini kau tidak perlu menjumputku." Ucap Ashana gugup.
"Kenapa? Kau sudah berada di kantor?" Achazi menjempit ponselnya di antara bahu dan telinga lalu membuka pintu mobil dan masuk.
"Iya, aku sudah berada di kantor."
"Kau ke kantor di antar siapa?"
"Aku tidak di antar siapa-siapa. Aku naik transportasi umum."
Achazia berdecak. "Sudah ku bilang, kalau tidak keperluan mendesak, kau harus berangkat ke kantor bersamaku."
"Iya, aku tahu Achazia. Tapi tiba-tiba Alice menghubungiku dan ingin bertemu denganku. Dia memintaku untuk datang lebih awal ke kantor dan dia akan menemuiku di kantor."
Achazia mengernyit. Ia memakai sabuk pengaman. "Alice? Ada apa dengannya?" Seingatnya saat malam gadis itu masih baik-baik saja.
"Aku juga tidak tahu. Pagi-pagi sekali dia menelpon ku dan memintaku untuk datang lebih awal. Dari nada suaranya biasa saja. Tapi bisa saja dia sedang ada masalah. Apakah dia tidak menceritakannya padamu?"
Achazia menggeleng. "Tidak, mungkin karena aku pria dan dia lebih nyaman bercerita dengan sesama wanita."
"Mommy?"
"Mungkin Alice punya alasan kenapa dia tidak menceritakannya pada mommy. Sekarang kau sudah bertemu dengannya?"
"Belum. Aku sedang menunggunya di kantin kantor. Aku sudah menghubunginya dan dia bilang sedang dalam perjalanan."
"Kalau ada apa-apa kau langsung kabari aku."
"Oke kapten."
Achazia terkekeh. "Aku tutup ya?"
"Ya."
Setelah menutup panggilan, Achazia langsung membawa mobilnya menuju perusahaan. Lagipula mereka berempat bekerja di perusahaan yang berbeda. Jadi tidak usah saling tunggu. Tadi Achazia melihat kalau Adrian sudah berangkat lebih dulu.
"Semoga Alice tidak punya masalah yang serius." Gumam Achazia. Sebenarnya pria itu heran. Apa yang sedang Alice alami sampai gadis itu ingin menceritakannya pada Ashana? Dari kecil Alice terbiasa menceritakan semua masalahnya pada Achazia. Membaginya pada Achazia agar kakaknya itu bisa membantunya. Tanpa terkecuali, bahkan sampai sekarang Alice masih seperti itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba Alice ingin bercerita pada Ashana. Sebenarnya Achazia tidak mempermasalahkan itu. Malah bagus kalau Ashana tambah dekat dengan orang yang ia sayang. Ia hanya khawatir kalau masalah itu terlalu serius.
"Alice sudah dewasa, dia tidak akan membuat masalah yang merepotkan lagi seperti waktu kecil. Ya, Alice sudah dewasa." Achazia mengucapkan itu berkali-kali untuk meyakinkan dirinya. Entah kenapa tiba-tiba firasat buruk langsung datang membuatnya berpikiran negatif. Tapi ia berusaha untuk meyakinkan diri kalau semuanya akan baik-baik saja.
*****