
Setelah membicarakan bagaimana rencananya dengan Andini nanti saat rapat, Ashana dan Andini yakin kalau idenya akan berhasil. Setelah jam makan siang, keduanya langsung merundingkan bagaimana menyampaikan ide mereka agar di terima manager. Bagaimana caranya agar semua orang setuju dengan idenya.
"Sudah waktunya," Ashana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ayo," Keduanya bangkit berdiri lalu berjalan ke ruang rapat. Ternyata belum terlalu banyak orang. Hanya ada satu dua orang yang sudah berada di ruangan. Memang sih, mereka berdua terlalu cepat.
"Hai," Ashana menyapa dua orang yang sudah berada di sini terlebih dahulu. Dua orang itu tersenyum membalas sapaan Ashana.
Setelah keduanya duduk, tidak ada yang bersuara. Andini maupun Ashana sama sekali tidak ada yang memulai pembicaraan. Walaupun masih sepi, mereka canggung jika harus mengobrol di sini. Jadi mereka lebih memilih untuk fokus pada kegiatan masing-masing.
Satu persatu mulai berdatangan. Ashana melirik jam tangan. Lima menit lagi rapat akan di mulai. Semua orang berdiri menyambut manager saat orang itu masuk ke dalam ruang rapat. Setelah manager duduk, barulah yang lain ikut duduk.
Rapat dimulai. Satu persatu orang mempresentasikan ide mereka. Manager hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali. Belum memutuskan bagaimana ke depannya. Mungkin nanti saat di akhir. Setelah tidak ada lagi orang yang akan mempresentasikan idenya, manager menatap satu persatu wajah mereka. "Tidak ada yang mau presentasi lagi?"
Andini menatap Ashana yang juga menatapnya. Ashana tersenyum lalu mengacungkan satu tangannya. "Saya Pak."
"Silahkan."
Ashana maju ke depan. Setelah memasukkan flashdisk nya, ia mulai menjelaskan bagaimana idenya untuk perusahaan ini ke depannya.
"Berhubung sekarang banyak makanan dengan gaya luar yang di sajikan di banyak restoran, saya lebih memilih untuk restoran kita hanya menyediakan makanan lokal. Kenapa? Bukankah yang sedang tren itu makanan dengan gaya luar? Ya, memang benar. Saya bukannya bermaksud ingin restoran kita kalah saing, tapi menurut saya, kita harus mengambil kesempatan ini walaupun sedikit peluang. Jika kita berhasil menarik minat masyarakat, maka banyak keuntungan yang kita peroleh karena kita tidak memiliki banyak pesaing. Masalahnya ada di kita yang harus menarik minat masyarakat untuk menyukai makanan lokal. Menurutku tidak semua masyarakat menyukai makanan gaya barat, ada sebagian masyarakat yang masih menyukai makanan khas negara sendiri. Dan juga-----"
"Bagaimana kau bisa menjamin kalau rencanamu ini akan berjalan dengan lancar? Peluang nya hanya sedikit dan kau berani untuk mengambil keputusan ini?" Anya mengangkat tangan karena tidak setuju dengan ide yang Ashana lontarkan. Lagipula setiap Ashana presentasi, Anya selalu berkomentar tidak setuju. Sepertinya wanita ini begitu tidak menyukai Ashana ya.
"Peluangnya memang sedikit tapi ini akan banyak menguntungkan kita kalau kita berhasil."
"Bagaimana kalau tidak berhasil? Kau akan menanggung kerugian dari kegagalan itu?"
"Bagaimana kita bisa tahu kalau kita tidak mencoba? Tidak ada perusahaan yang selalu di atas. Kadang mereka harus mengambil resiko jika ingin menarik pelanggannya. Begitu juga perusahaan kita."
"Ya, kau memang benar. Tapi kenapa kita tidak mengambil jalan dengan kemungkinan kegagalan yang kecil?"
"Bukan masalah gagal atau tidak. Jika kita memang benar-benar dan berusaha, aku yakin tidak akan ada kegagalan dalam semua ini."
"Kau tidak bisa mengklaim----"
"Anya, kau ini banyak komen sekali. Coba aku tanya padamu. Memangnya kau punya ide apa hah? Kau tidak punya ide kan, untuk menjalankan perusahaan agar lebih maju? Lalu untuk apa kau begitu memprotes ide orang lain? Memprotes saja bisa, membuat ide tidak bisa." Ucap Andini menyela Anya yang akan kembali memberikan komen pada Ashana.
"Aku setuju dengan ide Ashana." Manager mulai angkat bicara. Semua orang yang ada di dalam ruang rapat menatap Pak Ardhan.
"Idemu sangat bagus. Kita harus mencobanya."
Ashana tersenyum lebar. Ia menatap Andini yang juga tersenyum. Dengan cepat ia langsung menyerahkan proposal yang sudah ia siapkan pada Pak Ardhan.
"Kau kira kau sudah menang? Jangan bangga dulu." Ucap Anya saat dirinya melewati Ashana.
"Aku tidak merasa bangga. Kau merasa kalau aku bangga dengan pencapaian ku? Kau salah besar. Aku belum puas." Ucap Ashana dan langsung keluar dengan Andini yang berjalan di sebelahnya.
"Kenapa dia begitu menyebalkan?" Kesal Ashana saat dirinya sudah jauh dari ruang rapat. Ia menoleh ke belakang, untung tidak ada orang yang berjalan di belakang mereka berdua.
"Beginilah ujian orang baik." Ucap Andini. Ia sudah sangat terbiasa dengan mulut nyinyir Anya. Dulu, Anya selalu seperti itu pada Andini. Andini juga heran, kenapa Anya jadi seperti itu pada Ashana? Mungkin karena Ashana menjadi pacar seorang Presdir. Dan dia merasa iri Ya, mungkin karena itu. Atu mungkin-----Andini melebarkan kedua matanya.
"Ashana!" Andini langsung menghentikan langkahnya dan mencegah Ashana untuk jalan lagi.
"Ada apa?"
"Kemari."
Andini membawa Ashana ke tempat sepi. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa. "Kau tahu alasan kenapa Anya seperti itu padamu?"
Ashana menggeleng. "Kau tahu?"
"Tidak. Tapi sepertinya alasan ini sangat cocok. Ini pemikiran ku sendiri."
"Apa itu?" Ashana kepo ingin tahu apa yang ada di pikiran Andini.
"Sepertinya dia menyukai Achazia."
"Apa?!"
Andini mengangguk. Ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan berisik. Coba kau pikir. Dia seperti ini padamu setelah kau berpacaran dengan Achazia. Apa itu bisa di jadikan alasan kenapa dia seperti itu padamu? Apalagi kalau bukan Anya mencintai Achazia? Dia tidak mau kau bersanding dengannya. Makanya dia seperti itu." Ucap Andini yang di iyakan juga oleh Ashana.
"Tapi kalau alasan sebenarnya aku tidak tahu. Itu hanya kemungkinan."
"Kalau dia benar menyukai Achazia bagaimana?" Ashana yang sudah berpikiran ke mana-mana menjadi khawatir. Anya cantik. Ia takut kalau Achazia malah memilih Anya.
"Ya sudah. Lagipula Achazia menyukaimu. Achazia mencintaimu."
"Tapi Anya cantik. Bagaimana kalau----"
"Ashana, berhenti berpikiran seperti itu Kau juga cantik. Memang kau pikir Achazia mencintaimu karena wajahmu? Jika Achazia menginginkan yang cantik, kenapa tidak dia pacari saja artis? Dia bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Tidak terkecuali wanita. Tapi buktinya dia lebih memilihmu. Ini adalah bukti kalau dia mencintaimu."
Ashana menatap Andini ragu. Benarkah Achazia tidak akan berpaling? Benarkah jika Achazia menemukan wanita yang lebih cantik, yang mencintainya, Achazia tetap tidak berpaling?
*****