
Ashana menghembuskan napasnya. Ia mendorong pelan pintu ruangan Achazia saat sudah menanyakan pada sekretaris pria itu kalau Achazia ada di dalam. Dengan pelan ia membukanya dan langsung menemukan Achazia yang sedang duduk sambil membaca buku.
Adrian yang menyadari kehadiran Ashana langsung bangkit berdiri. Pria itu tersenyum. "Sepertinya aku harus pergi."
Achazia menoleh pada Adrian yang menatap Ashana sambil tersenyum. Ia berdecak lalu bangkit dan berjalan menghampiri Ashana. Melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu.
"Lihat apa kau?" Ucap Achazia ketus. Perlakuannya itu mendapat keterkejutan Ashana.
'Dia ini kenapa sih? Aku juga kenapa? Kenapa jadi jantungku yang berdetak lebih cepat begini?' Batin Ashana berucap.
"Tidak ada. Lagipula aku akan keluar." Ucap Adrian lalu berlalu meninggalkan Achazia dan Ashana. Sebelumnya pria itu sempat mengedipkan matanya ke arah Ashana. Membuat Achazia naik pitam.
Achazia memutar kepala Ashana yang mengikuti langkah Adrian. "Kenapa kau jadi menatapnya?" Kesal pria itu.
"Aku hanya----tidak, bukan apa-apa." Ucap Ashana yang tidak tahu harus mengatakan apa.
Achazia menarik tangan Ashana untuk mengikutinya. Dan Ashana mengikuti langkah Achazia. Ternyata pria itu membawanya duduk di kursi yang sering ia duduki. Membuat Ashana melebarkan kedua matanya.
"Kenapa kau---"
"Jangan membantah." Ucap Achazia datar dan Ashana langsung diam.
Achazia menelpon seseorang yang Ashana tidak tahu siapa. Pria itu memilih menjauh dari sana untuk bicara dengan orang yang ada di seberang telepon.
"Sepertinya aku benar-benar mencintainya. Ya Tuhan bagaimana ini..." Ashana mengusap dahinya. Ia mulai mengerti dengan semua ini. Mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan jika berada di dekat Achazia. Mengapa hatinya tiba-tiba merasa senang jika Achazia sudah tersenyum ke arahnya.
"Aku jatuh cinta pada orang yang salah." Gumamnya lagi.
Tidak lama setelah itu Achazia berjalan menghampiri Ashana dengan senyum kecil yang terukir. "Tunggu sebentar. Mereka akan datang." Ucap Achazia yang membuat Ashana mengerutkan keningnya.
"Mereka siapa?"
"Nanti juga kau akan tahu." Ucap Achazia. Tanpa persetujuan Ashana, pria itu mengangkat tubuh Ashana lalu duduk di kursi yang tadi Ashana duduki dan menaruh Ashana di atas pangkuannya. Hal itu tak luput dari keterkejutan Ashana.
"Achazia kau---"
"Apa ada yang salah? Aku ini pacarmu?" Ucap Achazia sambil mengambil laptop yang ada di atas meja lalu menaruhnya di atas pangkuan Ashana. Dengan santai pria itu melanjutkan pekerjaannya sambil menaruh dagunya di atas bahu Ashana.
Ashana yang diam saja, ternyata diam-diam nyaman juga dengan apa yang di lakukan Achazia. Wanita itu tetap diam dengan Achazia yang sibuk dengan pekerjaannya. Sampai suara pintu yang di ketuk terdengar.
"Aku yang buka." Saat Ashana akan bangkit, Achazia langsung menahan tangan wanita itu. Membuat Ashana kembali duduk.
"Aku saja." Achazia bangkit berdiri setelah menaruh Ashana kembali duduk di kursi. Pria itu berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu. Setelah berbicara sebentar, Achazia berbalik dengan dua orang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Dua orang itu membawa banyak sekali makanan.
"Kau harus makan Ashana. Kemari."
Ashana berjalan menghampiri Achazia yang sudah duduk di atas sofa. Setelah menaruh semua makanan di atas meja, kedua orang itu keluar dari ruangan Achazia tanpa mengatakan apa-apa.
"Kenapa sebanyak ini?" Tanya Ashana.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Achazia menatap Ashana yang membuat Ashana memundurkan kepalanya takut.
"Bukan begitu. Aku hanya takut kalau makanan ini tidak akan habis. Sayang kalau di buang." Ucap Ashana.
"Kau lebih sayang pada makanan?" Tanya Achazia tajam dan dengan polosnya Ashana mengangguk.
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena mereka mengenyangkan." Jawab Ashana.
"Lalu?"
"Lalu?"
"Ashana kembali berpikir. Tapi dengan durasi yang sedikit lebih lama. "Karena mereka penting untuk kelangsungan hidup."
"Lalu?" Achazia lebih menajamkan ucapannya. Menahan amarah karena makanan berhasil mengalahkan nya.
"Mmm...." Ashana kembali berpikir lalu menggeleng. "Sudah mungkin. Hanya segitu."
"Aku benci makanan." Gumam Achazia sambil memalingkan wajahnya. Membuat Ashana mengerutkan kening.
"Kau kenapa?"
"Kenapa dia bisa mendapat kasih sayang ku tanpa melakukan apa-apa?" Kesal Achazia yang membuat Ashana tambah bingung.
"Aku tidak mengerti."
"Makanan itu. Kenapa kau bisa menyayanginya? Padahal kan dia tidak melakukan apa-apa!"
Ashana menatap wajah Achazia dan makanan bergantian. Wanita itu tersenyum saat mengerti maksud Achazia. 'Kenapa dia bodoh sekali?' Gumam Ashana dalam hati.
"Wajar kalau aku menyayangi makanan. Karena aku membutuhkannya." Ucap Ashana.
"Apakah kau harus membutuhkan sesuatu itu dulu baru kau akan menyayangi sesuatu itu?" Tanya Achazia dan Ashana mengangguk.
"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan agar kau membutuhkanku?"
Ashana menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Kenapa jadi serumit ini? Ia jadi bingung harus mengatakan apa. "Bagaimana ya?"
Achazia menunggu kelanjutan ucapan Ashana. Sedangkan Ashana bingung harus mengatakan apa. Otaknya berputar memikirkan jawaban yang tepat.
"Kau kan beda. Kau tidak bisa di samakan dengan makanan." Ucap Ashana.
"Apa bedanya aku dengan makanan?"
"Kalau makanan kan bisa di makan, maka dari itu aku membutuhkannya."
"Kalau aku?"
"Kalau kamu----" Ashana kehilangan kata-kata. Bagaimana mengatakannya yang tidak akan membuatnya dalam masalah. Ia bingung harus menjawab apa. Lagi pula kenapa Achazia serumit ini? Hanya perkara makanan saja bisa serumit ini.
Achazia berdecak. "Kau tidak menjawabnya. Ya aku mengerti. Kau memang tidak menyayangiku." Ucap pria itu lalu bangkit berdiri. Ia berjalan menuju kursi kekuasaannya.
Ashana menatap kepergian Achazia. Kenapa jadinya pria itu yang marah? Bukankah ia yang meminta Ashana menjadi pacarnya? Lebih tepatnya bernegosiasi. Wajar kalau Ashana tidak menyayanginya karena ini kan hanya keputusan untuk memuaskan satu sama lain. Ashana yang bisa pulang ke rumahnya dan Achazia yang menjadikan Ashana pacarnya. Ya walaupun, dalam lubuk hati Ashana tidak menyetujui kalau ia tidak menyayangi Achazia.
Ashana berjalan menghampiri Achazia. "Achazia, bukan seperti itu. Aku hanya----"
"Keluar dari ruanganku."
Langkah Ashana terhenti sebelum sampai ke tujuan. Ia menatap Achazia yang mulai fokus pada laptopnya. Kenapa rasanya sakit?
"Kau menyuruhku keluar?" Tanya Ashana memastikan ucapan Achazia.
"Apa kau sudah mulai tuli?"
Ashana terkekeh pelan. Kenapa Achazia bisa berubah secepat ini? "Ayolah Achazia. Ini hanya perihal tentang makanan." Ucap Ashana mencoba membujuk Achazia.
"Aku tidak peduli. Aku bilang keluar, berarti keluar." Ucap Achazia menekankan dua kata terakhir.
Ashana menghembuskan napasnya. Normalnya ia akan keluar, tapi entah kenapa ia tidak ingin keluar. Walaupun begitu, ia tetap keluar dari ruangan Achazia dengan hati yang campur aduk. Ada rasa sakit, kecewa, sedih saat mendengar suara Achazia yang berubah tajam dan mengusirnya itu.
*****