
Achazia menatap satu persatu sahabatnya yang kini duduk tepat di hadapannya. Baik Abercio, Adrian atau pun Abqari, tidak ada yang tahu alasan mengapa Achazia mengumpulkan mereka di sini.
Sebenarnya saat masih duduk di bangku SMA dulu, mereka berempat membeli rumah yang tidak terlalu besar untuk tempat mereka kumpul bersama. Saat SMA mereka sering berkunjung, bahkan sering menginap di rumah ini. Tapi semenjak kuliah, mereka jadi jarang ke rumah itu, walaupun masih menyempatkan diri berkumpul. Dan sekarang, saat sudah mengelola perusahaan keluarga, mereka tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama di rumah itu seperti dulu.
"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba mengumpulkan kita ? Ada sesuatu yang membuatmu khawatir?" Abqari mempertanyakan keadaan Achazia.
Achazia menatap mereka satu persatu. "Aku butuh bantuan kalian. Kalian siap membantu?"
Adrian terkekeh. "Apa ini? Kau kira kita bersahabat baru dua bulan? Kita sudah menjalaninya selama bertahun-tahun kalau kau lupa. Jadi tidak mungkin kita tidak membantumu."
Abercio mengangguk. "Kami akan berusaha semampu kami. Ada apa denganmu? Ada masalah?"
Achazia menatap Abercio. "Ini." Pria itu menyalakan iPad yang ia bawa, lalu menggeser iPad itu sampai berhenti di hadapan Abercio. Abercio mengambil iPad lalu melihat apa yang Achazia tunjukkan padanya.
Melihat raut wajah Abercio yang berubah membuat Adrian dan Abqari melongokkan kepalanya melihat apa yang dilihat Abercio. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengerti maksud dari screenshot yang ada terpampang di layar iPad.
"Siapa? Siapa yang berani?" Abercio menaruh kembali iPad itu ke atas meja. Ia menatap Achazia dengan tatapan tajam.
"Kau pikir siapa? Kekasihku juga mendapat pesan itu." Ucap Achazia.
"Lalu bagaimana keduanya? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Adrian.
Achazia mengangguk. "Ya, mereka berdua baik-baik saja."
"Ah, kenapa mereka harus ditargetkan Ashana dan Andini?" ucap Abqari.
"Mungkin karena Ashana dan Andini adalah orang yang dicintai salah satu dari kita."
"Apakah kalau begitu Ailee dan Alice juga akan kena?"
Adrian, Abqari dan Achazia langsung melayangkan tatapan tajam pada Abercio. Abercio mengatakan itu seperti tidak ada beban apapun.
Achazia berdecak. Jika Alice sampai kena, ia tidak bisa membayangkan kalau Ashana dan Alice berada dalam bahaya.
"Apa motif ini meneror kita?" ucap Adrian tidak mengerti. Awalnya mereka berempat mendapat pesan yang sama yang dikirimkan kepada Ashana dan Andini. Bedanya, mereka mendapatkan pesan itu secara bersamaan. Di pesan itu tertera kalau Achazia harus menjauhi Ashana, Abercio harus menjauhi Andini, Adrian harus menjauhi Ailee, dan Abqari harus menjauhi Alice.
"Kau sudah menyelidiki nomor yang mengirimnya?" tanya Achazia pada Abercio. Diantara mereka berempat, Abercio adalah orang yang pandai dalam hal komputer. Jadi tidak aneh bagi pria itu untuk meretas sesuatu atau mencari informasi.
"Sudah, ternyata nomor ini langsung dihancurkan saat mengirimkan pesan pada kita. Aku tidak bisa melacaknya."
"Tapi disini perbedaan waktu orang itu mengirimkan pesan pada Ashana dan Andini lumayan lama. Apakah mungkin orang ini masih menggunakan nomor itu?" tanya Adrian saat menatap kembali iPad. Ia melihat pesan dengan pengirim yang sama.
"Coba kau periksa dulu." ucap Abqari.
Abercio langsung membuka laptop yang ada di atas meja. Ia mulai bekerja. Beberapa menit, keadaan hening. Tidak ada yang mengganggu Abercio sampai pria itu berdecak.
"Nomor ini sudah dihancurkan?"
"Apa ini?" kesal Abqari. Menurutnya, orang itu terlalu tidak mempunyai pekerjaan sampai melakukan hal seperti ini.
"Baiklah, berpikir positif saja kalau Ailee dan Alice tidak akan mendapatkan pesan itu." ucap Achazia yang lebih pada meyakinkan dirinya sendiri.
Abqari menggelengkan kepalanya. "Tidak, Achazia. Sepertinya mereka juga akan mendapatkannya. Tidak masuk akal jika orang itu hanya mengirimkannya pada Ashana dan Andini. Aku pikir begitu."
Achazia menenangkan dirinya untuk tidak memikirkan hal-hal negatif atau ia akan kehilangan kendali. "Kita harus menemukan orang itu. Bagaimana pun caranya." ucap Achazia pelan dan tegas.
"Aku masih bingung apa motif orang itu melakukan ini. Apakah kita melakukan sesuatu yang membuatnya sampai melakukan ini?" tanya Abqari.
Abqari menggeleng. "Di antara kita bertiga, hanya Achazia yang tidak berperikemanusiaan. Tapi dia tidak berperikemanusiaan jika sudah menyangkut pekerjaan. Dia tidak akan segan memecat pegawai jika memang pegawai itu tidak becus." Ucap Abqari yang diangguki Adrian dan Abercio.
Achazia berdecak. "Memangnya kalian tidak seperti itu?"
"Setidaknya kami masih lebih baik daripada kau." ucap Abercio.
"Lebih baik? Kau pikir bertindak lembut pada suatu kesalahan adalah sesuatu yang baik? Mereka harus ditegaskan kalau tidak mau hal yang sama terulang lagi." ucap Achazia.
"Sudahlah, semuanya baik dalam kategori masing-masing. Kita tidak perlu mempeributkan ini." ucap Adrian melerai.
"Jadi sekarang bagaimana?" Abercio sebenarnya khawatir Andini kenapa-napa. Ia takut Andini orang itu melakukan sesuatu pada Andini. Tapi ia mencoba tenang. Lagipula, Andini pasti bisa menghadapinya. Ya, dia wanita yang mandiri. Tapi tetap saja Abercio merasa khawatir.
"Kita harus temukan orang itu dan mengetahui apa motif dia mengancam kita. Jika motif orang itu melakukan ini karena kesalahan kita dulu, kita bisa minta maaf, tapi jika---"
"Minta maaf? Kau pikir aku bisa minta maaf padanya setelah dia membuat Ashana ketakutan?" ucap Achazia menyela ucapan Adrian. Ia bangkit berdiri.
Abqari ikut berdiri. Ia berjalan menghampiri Achazia lalu membawa pria itu kembali duduk. "Kau tenang dulu." Walaupun dengan wajah datar, Achazia mau duduk kembali.
"Achazia, dengarkan aku. Jika memang ada kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu - maka kita harus meminta maaf padanya dan berjanji untuk tidak mengulangi kekhilafan itu di masa depan. Kita tidak ingin orang yang kita sayangi menjadi korban dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Tentunya hal ini juga bergantung pada apakah kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu atau tidak," ucap Adrian memberikan pengertian pada Achazia.
"Apa tidak ada cara lain selain meminta maaf? Aku lebih memilih mematahkan tangannya saja karena berani mengirimkan pesan seperti itu," protes Achazia.
"Tidak, kita tidak boleh melakukan itu," ucap Abercio yang setuju dengan saran Adrian, meski ia juga memahami argumen Achazia. "Ini bisa berbahaya dan memberikan efek yang lebih buruk pada situasi. Kita harus menjaga kepala dingin dan menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat."
"Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk mencari orang tersebut," ucap Achazia, diikuti dengan anggukan dari Adrian dan Abercio.
"Aku juga akan mencoba mencari keberadaannya," ucap Abercio yang juga disetujui oleh yang lain.
"Bagaimana jika kita menginap di sini malam ini dan membicarakan hal ini?" saran Adrian.
*****