
Setelah menelepon Adrian, Abercio dan Abqari untuk datang ke rumahnya, Achazia memilih untuk membaca data-data yang sudah di kirim orang suruhannya untuk mencari orang yang di maksud. Awalnya para sahabatnya juga bingung kenapa Achazia tiba-tiba menelepon mereka dan menyuruh mereka untuk ke apartemennya. Saat mendengar alasannya apa, tanpa menunggu apapun lagi mereka bertiga langsung melesat menuju apartemen Achazia.
Achazia melempar ponselnya saat data-data yang diberikan orang suruhannya tidak berguna sama sekali. Sebenarnya kenapa ini? Mereka selalu bekerja dengan baik dan tidak mengecawakan. Tapi kenapa sekarang seperti ini?
Achazia teringat sesuatu. Ia tidak berharap seperti itu, tapi ia punya firasat kalau ini sudah terjadi. Pria itu keluar dari kamarnya mencari seseorang. "Ailee?" Panggil Achazia. Ia melirik jam dinding. Apakah wanita itu sudah pulang?
"Ya, Tuan." Ailee muncul menyembulkan kepalanya dari balik lemari.
Achazia menggaruk pangkal hidungnya. "Kemari,"
Ailee berjalan menghampiri Achazia. "Ada apa Tuan?" Tanya wanita itu saat sudah sampai di hadapan Achazia.
Achazia berdeham. "Maaf kalau aku lancang. Tapi apakah aku boleh bertanya?"
"Bertanya apa Tuan?"
"Apakah akhir-akhir ini kau mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenal. Isi pesannya kurang lebih begini, 'permainan baru saja di mulai', apakah kau mendapatkan pesan seperti itu?"
Ailee terdiam sambil berpikir. Ia tidak terlalu memeprdulikan pesan yang datang semalam jadinya tidak terlalu ingat. "Saya tidak tahu, Tuan. Saya cek dulu." Ailee pergi untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan lalu kembali ke hadapan Achazia.
Achazia menunggu Ailee yang sedang mencari pesan itu. Achazia berharap Ailee tidak mendapatkannya.
"Ah, ini Tuan." Ailee menyerahkan ponselnya pada Achazia.
Achazia menerima ponsel dari Ailee. Detik itu juga pria itu berdecak. Dengan cepat ia mengirimkan hasil tangkapan layar itu ke ponselnya.
"Terima kasih."
Sebenarnya Ailee ingin menanyakan ada apa. Tapi ia pikir tidak sopan menanyakan kalau Achazia tidak memberi tahu. Ia memilih untuk menahan rasa ingin tahunya.
Setelah kepergian Achazia, Alice kembali lagi pada pekerjaannya. Tadi ia sedang membersihkan meja dan lap yang di pakainya malah jatuh ke bawah.
Ailee melirik jam dinding. Setelah ini selesai, ia bisa pulang. Sebenarnya Achazia membebaskan Ailee ingin pulang ke rumah kapan saja asalkan apartemennya sudah beres.
Setelah pekerjaannya selesai, Ailee berniat akan pergi. Ia mencari keberadaan Achazia untuk pamit. Tapi pria itu tidak di temukan. Sampai Ailee melihat bayangan di depan pintu. Sayang wujudnya terhalang lemari jadi tidak terlihat itu siapa. Ailee yakin itu pasti Achazia. Ia berjalan mengampiri.
"Kau yakin?"
Ailee menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Belum sempat ia berbalik, Achazia dengan para sahabatnya yang baru datang masuk sedangkan Ailee berdiri tak jauh dari sana.
"Ailee..." Adrian langsung berjalan menghampiri Ailee. Ia memegang kedua bahu Ailee. "Kau tidak apa-apa?" Wajah pria itu terlihat khawatir.
Ailee menggeleng. Saat tersadar, ia langsung menyingkirkan tangan Adrian di bahunya dengan pelan. "Aku tidak apa-apa. Tuan, pekerjaanku sudah selesai. Apa aku boleh pulang?" Ucap Ailee. Kini wanita itu menatap Achazia.
Achazia mengangguk. "Kau boleh pulang."
"Aku antar." Ucap Adrian.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Ailee sudah malam. Tidak baik untukmu."
"Biasanya pun aku seperti ini."
"Alice, tolong biarkan Adrian pergi mengantarmu untuk kali ini saja." Ucap Achazia. Ia juga sebenarnya takut kalau terjadi apa-apa pada Ailee nantinya.
"Tapi Tuan, aku----"
"Kali ini saja." Achazia berjanji tidak akan membiarkan Ailee pulang malam lagi. Ia akan memulangkan Ailee sebelum matahari terbenam.
"Baiklah," Ailee mengangguk.
Abercio, Abqari dan Achazia memilih untuk menunggu Adrian dulu. Mereka kini sedang duduk di ruang tamu.
"Apakah maksud dari orang ini adalah membuat kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai?" Ucap Abercio.
Achazia mengangguk. "Sepertinya begitu. Dia mengirimkan pesan itu kepada orang-orang yang kita cintai."
"Untuk apa? Apa mungkin mereka mencintai kita?"
Abqari langsung memukul kepala Abercio. "Bodoh. Tidak begitu juga konsepnya."
"Tapi, coba kau pikir sendiri. Permainan baru saja di mulai. Apa maksudnya ini?"
"Apakah sang pelaku akan mengirimkan sesuatu lagi? Di pesan kita tertulis bahwa kita harus menjauhi mereka. Apakah sang pelaku akan melakukan sesuatu jika kita tidak menjauhi mereka?"
Abercio dan Abqari terdiam. Apa yang di katakan Achazia bisa mereka coba.
"Dengar, di pesan tidak ada ancaman. Jadi mungkin kalau kita tidak menjauhi mereka akan ada ancamannya."
"Bagaimana kalau mereka akan langsung menyakiti tanpa memberi ancaman terlebih dahulu?"
"Itu konsekuensinya. Jadi kita harus tetap berhati-hati. Abercio, kau harus tetap memperingati Andini. Dan aku akan terus memperingati Ashana, Alice dan Ailee. Karena aku tahu Alice tidak akan mau jika yang bicaranya Abqari dan Ailee pun tidak akan mau mendengarkan jika yang bicaranya adalah Adrian." Ucap Achazia yang membuat Abqari langsung memasang wajah sebal. Tapi memang ada benarnya juga.
Suara pintu yang di buka membuat ketiga orang itu menoleh bersamaan. Adrian sudah datang. Ia langsung duduk di sebelah Abqari lalu merangkul pria itu. "Sudah sampai mana pembicaraannya?"
"Kau sudah mengantar Ailee?" Tanya Abercio.
"Kau pikir aku sedang apa di sini jika aku belum mengantar Ailee?" Ucap Adrian yang tidak mengerti apa yang di pikirkan Abercio.
"Kan aku hanya bertanya."
Adrian berdecak. "Lupakan. Bagaimana? Bagaimana kau bisa tahu Ailee dan Alice juga dikirimkan pesan seperti itu?"
"Awalnya aku di ceritakan oleh Ashana kalau Alice mendapat pesan seperti itu. Sedangkan Ashana tahu dari Alice sendiri. Kalau Alice saja mendapatkan pesan itu, pasti Ailee pun mendapatkan pesan seperti itu. Dan benar saja."
"Pesannya seperti apa?"
"Kurang lebih seperti pesan yang di kirimkan kepada Ashana dan Andini."
"Bawahanmu sudah mendapatkan info?" Tanya Abercio karena ia sudah mencari informasi dari nomor itu tapi hasilnya nihil.
Achazia menggeleng. "Mereka mengirimkan informasi. Tapi tidak ada informasi yang aku butuhkan."
"Bisa kita lihat informasinya?"
Achazia mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam kamar lalu keluar dengan membawa laptopnya. Ia kembali duduk bersama yang lain.
"Ini," Achazia menunjukkan informasi yang di dapat orang suruhannya.
"Apa Arkan sudah mendapat informasi sesuatu?" Ya, Arkan tahu perihal ini. Hanya dia yang tahu karena memang mereka berempat butuh bantuan Arkan.
Achazia mengangguk. "Sudah, tapi ia sedang menyelidiki lagi. Dia bilang dia akan memberikan informasinya besok pagi agar tidak dua kali katanya."
Adrian menganggukkan kepalanya. Sedangkan Abercio dan Abqari sedang membaca informasi yang di kirimkan oleh orang suruhan Achazia.
"Hey kalian," Panggil Abqari saat ketiga orang yang lain sibuk mengobrol kan masalah ini.
"Apa kalian tidak menyadari kalau ada yang janggal?"
*****