Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
BERJUANG BERSAMA


Ailee memilih untuk duduk saat yang lain lebih memilih untuk foto-foto. Kebetulan ia melihat ada kursi dan ia memilih untuk duduk di sana.


Adrian yang tidak menemukan keberadaan Ailee mencari wanita itu. Senyuman langsung terukir saat menemukan Ailee sedang duduk sambil memperhatikan yang lain.


Adrian berjalan menghampiri Ailee. Sedangkan Ailee tidak menyadari Adrian yang berjalan ke arahnya.


"Sedang apa?"


Ailee menoleh dan menemukan Adrian sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu pun duduk.


"Kau tidak melihatnya?" Balik tanya Ailee yang sudah tidak menatap Adrian.


Adrian terkekeh. "Kau sangat lucu."


Ailee tidak membalas. Wanita itu tetap memperhatikan yang lain.


"Kenapa kau membohongi dirimu sendiri?"


Ailee menatap Adrian. "Maksudmu?"


"Aku tahu semuanya. Ini karena keluargaku kan?"


Ailee tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. "Kenapa kau sangat percaya diri? Kau kira aku mencintaimu?"


"Ya." Jawab Adrian yakin.


"Tidak ada sangkut pautnya dengan keluargamu. Mereka tidak menyuruhku menjauhimu. Tapi memang aku yang memanfaatkanmu. Lagipula aku tidak mencintaimu." Ucap Ailee bohong.


Adrian terkekeh. "Bohong mu sangat terlihat Ailee." Ucap Adrian.


"Terserah kau. Intinya aku tidak berbohong."


"Baiklah," Adrian menatap Ailee yang sedang menatap ke arah lain. "Katakan aku tidak mencintaimu sambil menatapku. Jika kau memang benar-benar tidak mencintaiku." Ucap Adrian.


Ailee mengepalkan kedua tangannya. Kenapa Adrian tidak pergi dari hidupnya? Kenapa pria itu membuatnya susah untuk melupakannya? Lupakan, jangan melupakan pria itu, berhenti mencintainya saja Ailee tidak bisa.


"Tidak bisa kan?" Ucap Adrian yang di akhiri dengan kekehan.


Ailee akan bangkit, tapi tangannya di tahan oleh Adrian. Wanita itu berdecak lalu menatap Adrian. "Lepaskan tanganku."


"Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu."


"Temani aku. Kalau kau memang tidak mencintaiku, maka temani aku disini."


Ailee terdiam, setelah beberapa detik wanita itu menghembuskan napasnya kemudian kembali duduk di sebelah Adrian.


"Aku mau cerita, apa kau mau mendengarkan?" Ucap Adrian.


"Tinggal cerita saja."


Adrian terkekeh. "Walaupun kau tidak melihat ke arahku, aku tahu kau akan mendengarkan ceritaku."


"Aku punya bibi. Dia adalah adik dari ayahku." Adrian menoleh ke arah Ailee. Wanita itu tidak menatapnya, tapi Adrian tahu kalau Ailee pasti mendengarkannya.


"Dia mencintai sopir nya sendiri."


Ailee langsung menatap Adrian. Adrian tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya. "Ya, bibiku bisa berkendara, tapi dia di larang untum berkendara karena takut ada kejadian yang tidak di inginkan. Jadi keluargaku mempekerjakan sopir muda untuk bibiku. Setiap bibiku pergi, sopir itu selalu ikut. Bibiku adalah orang yang pendiam. Dia tidak pernah menceritakan apapun pada orang lain. Tentang masalah hidupnya atau apapun itu." Adrian terdiam sebentar sebelum melanjutkan kisah itu. Ia menatap Ailee dan Ailee sedang menatapnya.


"Setiap hari bersama sopir itu membuat bibiku terbiasa dengan kehadirannya. Bahkan mereka mulai akrab walaupun sopir itu masih menjaga jarak karena bagaimanapum bibiku adalah majikannya. Kebetulan bibiku tidak punya teman karena kakekku sangat mengawasi pergaulannya. Dan bibiku menjadi dekat dengan sopir itu. Bibiku mulai bercerita tentang kehidupannya pada sopir itu. Respon sopir itu juga sangat membuat bibiku tenang. Membuatnya nyaman bercerita dengan sopir itu. Lama kelamaan bibiku mulai menceritakan keluh kesahnya hidup di keluarga kaya raya. Sopir itu selalu mendengarkan cerita bibiku, ia akan merespon kalau ia merasa harus. Membuat bibiku sangat nyaman. Sampai akhirnya bibiku jatuh cinta. Ya, dia jatuh cinta pada sopir nya sendiri."


"Lalu?"


Adrian menatap Ailee yang terlihat antusias. Dalam hati ia tersenyum. Keantusiasan wanita itu tidak berubah sampai sekarang. Walaupun ia mengaku sudah tidak mencintai Adrian lagi, tapi ia yakin itu hanya suruhan keluarganya agar membuatnya menyerah dan menjodohkannya dengan wanita yang keluarganya mau.


"Bibiku tidak berani mengungkapkan perasaannya, tapi setelah beberapa bulan kemudian, bibiku sudah memantapkan hatinya. Ia mengutarakan perasaannya, dan ternyata sopir itu pun mencintaiku bibiku. Bedanya dia tidak berani mengutarakannya karena merasa tidak pantas."


"Apakah mereka kemudian menjadi sepasang kekasih?"


Adrian mengangguk. "Iya, mereka berpacaran diam-diam, sampai pamanku, kakak dari ayahku mengetahuinya. Dia langsung memberitahukannya pada kakek. Kakek sangat marah, dia langsung memecat sopir itu dan langsung menjodohkan bibiku dengan pria yang sudah di pilihnya."


"Keterlaluan sekali." Gumam Ailee pelan tapi masih bisa di dengar oleh Adrian.


Adrian terkekeh. "Keterlaluan kan? Dan itu yang akan mereka lakukan pada kita."


Ailee menatap Adrian. Hanya beberapa detik, wanita itu kemudian mengalihkan tatapannya.


"Lalu apa yang terjadi pada bibimu?"


"Bibiku marah. Dia tidak mau hidupnya di atur lagi oleh keluarga. Dia juga punya hal yang di sukai. Dia juga mencintai seseorang. Tidak semua yang ada di hidupnya keluarga harus ikut campur. Dengan tabungannya yang tersisa, dia pergi. Pergi dengan sopir itu."


"Lalu bagaimana kabar bibimu?"


"Hanya aku yang masih menghubungi bibiku. Sedangkan semua keluarga sudah tidak peduli dengan hidup bibiku. Dia sekarang menjadi designer. Dia pernah sekolah di Paris. Dia memang ingin menjadi designer. Dia sekarang mempunyai butik. Tidak kecil, tapi tidak terlalu besar. Ia mulai merintis semuanya dari sana. Ia sudah menikah dengan sopir itu dan mempunyai anak laki-laki yang sangat lucu. Aku sering menghubunginya tanpa sepengetahuan keluargaku. Dia merintis dengan suaminya dari awal. Bibiku bilang, kalau kita mencintai orang itu, apa salahnya kita mengejarnya? Lagipula kita bukan robot yang bisa di pergunakan sesuka hati oleh keluarga." Ucap Adrian.


Ailee menatap Adrian. 'Apakah ini yang di rasakan Adrian sekarang?' Batin wanita itu.


"Kau pasti mengerti Ailee. Jika kau mau berjuang denganku, aku akan senang sekali. Aku juga akan berjuang denganmu. Jangan takut aku akan meninggalkanmu karena faktanya itu tidak akan terjadi. Aku mencintaimu. Akan selalu, dan akan selalu kau yang aku cintai."


Ailee membeku mendengar ucapan Adrian. Pria ini begitu mencintainya, tapi kenapa ia melakukan ini padanya? Ailee merasa menjadi orang paling jahat karena melakukan ini pada orang yang mencintainya.


"Kenapa harus aku?" Ucap Ailee lirih.


"Kenapa harus aku yang kau cintai Adrian?"


Adrian tersenyum. "Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu jawabannya apa."


Ailee menghembuskan napasnya. "Jika kau di beri kesempatan untuk melupakanku, apakah kau akan mencintai orang lain?"


"Tidak, karena aku tidak akan bisa melupakanmu. Kalaupun bisa, aku akan mencari wanita yang sepertimu. Dan tidak ada. Karena hanya kau yang seperti ini."


Ailee berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Ia menahan sebisa mungkin untuk tidak menangis di hadapan Adrian. "Kenapa? Kenapa harus aku yang mencintaimu sebegitu dalamnya?"


*****