Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MENYUSUN RENCANA


"Apa kalian tidak menyadari ada yang janggal?"


Achazia, Abercio dan Adrian langsung beralih menatap Abqari.


"Apa?" Adrian adalah yang pertama menyahut.


"Kemari."


Abqari memutar laptop Achazia untuk berhadapan dengan yang lain. "Disini hanya tertulis kalau pengirimnya beridentitas pria tanpa memberitahukan nama atau identitasnya yang lain. Lalu dia juga bekerja sama dengan tiga orang lebih tanpa menyebutkan angka pastinya. Apa kalian tidak berpikir kalau ini terlalu susah untuk di pecahkan? Orang suruhan Achazia tidak pernah gagal, apakah mungkin ada salah satu orang suruhan Achazia yang bekerja sama dengan orang itu yang membuat identitas ini terlihat abu-abu?" Ucap Abqari yang membuat keempatnya langsung terdiam.


"Apa mungkin mereka berkhianat?" Ucap Adrian. Ia melirik Achazia yang sudah mengepalkan tangannya. Kalau memang benar, orang itu akan habis di tangan Achazia.


Abqari mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu pasti. Tapi mungkin saja kan?"


"Kemungkinan besar?" Achazia menatap Abqari dengan tajam. Mungkin itu efek dari kemarahannya karena mendengar kalau mungkin saja ada salah satu orang suruhannya yang berkhianat.


Abercio mengangguk. Ia mengusap pundak Achazia. "Aku setuju dengan Abqari. Pasti ada seseorang yang kita kenal di balik ini semua."


"Bagaimana kalau kita selesaikan masalah ini tanpa melibatkan orang lain? Kita jangan ada yang memberitahukan kepada orang luar. Hanya kita berempat." Ucap Adrian.


"Aku harus menemukan orang itu."


Abqari dan Abercio saling pandang. "Siapa?"


"Orang yang berkhianat. Aku tidak bisa melepaskannya."


"Kita sekarang fokus pada mencari siapa pelakunya. Karena mungkin kita akan kewalahan kalau mencari keduanya."


Abercio dan Abqari mengangguk menyetujui ucapan Adrian. Achazia pun mengangguk setelah beberapa detik.


"Tunggu, apa kalian berpikir kalau orang yang melakukan ini adalah salah satu orang kita kenal?" Ucap Adrian.


Achazia menatap Adrian. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Tidak tahu. Aku tiba-tiba berpikiran seperti itu."


"Mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin."


Achazia tiba-tiba teringat dengan janjinya kalau akan mengajak Ashana berlibur bersama. Ia menatap ketiga sahabatnya yang sedang berbicara satu sama lain. Ia punya rencana.


"Hey,"


Ketiganya langsung menatap Achazia.


"Aku akan berlibur bersama Ashana nanti. Bagaimana kalau kalian bertiga ikut juga Andini, Ailee dan Alice?"


Ketiga saling pandang. Senyum langsung mengembang di wajah mereka bertiga. Apalagi Abqari dan Adrian. Kapan lagi kan?


"Kau ada rencana?" Tanya Adrian tanpa menghilangkan senyumannya.


Achazia mengangguk. "Kita berencana untuk tidak menjauh dari mereka kan? Dengan kita berlibur bersama itu sudah jelas."


"Bagaimana kalau Alice dan Ailee tidak mau?" Abercio menatap Adrian dan Abqari yang langsung menatap nya tajam.


"Aku akan membujuk mereka berdua."


Senyum Abqari dan Adrian kembali terbit. "Itu baru sahabatku. Jadi kapan kita akan pergi?" Ucap Abqari.


Abercio langsung menoyor kepala Abqari. "Kau ini. Kita selesaikan dulu semua ini. Baru kita liburan."


"Sekitar lima hari lagi. Sebentar lagi. Kalian bersiap saja."


"Baiklah,"


"Dan aku yakin orang itu akan mengikuti kita."


Adrian menatap Achazia. "Kenapa kau bisa seyakin itu?"


"Karena orang itu pernah menyimpan kamera tersembunyi di ruanganku."


"Apa?!" Ketiganya langsung berteriak kaget.


Achazia mengangguk. Ia menatap Adrian. "Sepertinya aku satu pemikiran denganmu. Mungkin saja orang itu adalah orang yang kita kenal. Karena tidak sembarang orang bisa masuk ke ruanganku."


"Sudah, tapi aku tidak menemukan apa-apa. Staf kantorku pun tidak ada yang menyadari kalau ada orang masuk."


"Baiklah, baiklah. Kini aku mengerti kalau orang yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan."


"Untuk apa dia menyimpan kamera tersembunyi di ruanganmu?" Tanya Abercio.


Achazia teringat sesuatu. Ia menatap Abercio. "Tunggu, tunggu. Kenapa aku tidak berpikir ke sana?"


"Maksudmu?" Tanya Abercio tidak mengerti.


"Saat orang itu sudah menaruh kamera tersembunyi, Tiba-tiba Ariana datang dan kejadiannya panjang sampai dia memelukku. Lalu tiba-tiba ada sebuah foto yang di kirimkan ke nomor Ashana. Foto itu adalah fotoku dengan Ariana saat berpelukan. Seperti yang sudah di rencanakan."


"Ariana, sepupuku yang artis itu?"


Achazia mengangguk. "Apakah orang itu bekerja sama dengan Ariana?"


"Kemungkinan iya." Ucap Abqari.


"Ariana patut kita curigai. Bukankah dia yang menyukai mu itu?" Ucap Abercio dan Achazia kembali mengangguk.


"Baiklah, baiklah. Kita harus membuat detailnya agar di mengerti." Ucap Adrian. Ia mengambil alih laptop Achazia lalu membuat sesuatu di sana. Kejadian yang berhubungan. Pasti akan ada kejadian lagi. Dan semoga saja mereka mendapatkan jawaban.


"Hanya itu saja?" Adrian menatap Achazia dan Achazia mengangguk.


"Aku yakin saat kita liburan nanti akan banyak kejadian yang tak terduga. Mungkin sekarang hanya segini saja. Kalian lapar?" Abercio menatap satu persatu teman-temannya.


Ketiganya mengangguk. Sebenarnya tadi Alice akan memasakkan makanan untuknya. Tapi dirinya menolak karena tidak lapar. Dan sekarang Achazia lapar.


"Kita pesan makanan." Abercio langsung membuka ponselnya. Setelah memesan makanan, ia kembali menaruh ponselnya.


"Apakah ada sesuatu yang kalian alami seperti Achazia? Aku sih tidak pernah." Ucap Abqari.


Adrian dan Abercio menggeleng. "Mungkin hanya Achazia. Tapi kita tidak tahu ke depannya. Kemungkinan orang ini tidak suka hubunganmu dengan Ashana."


"Bukan hanya hubungan Achazia dengan Ashana. Tapi juga hubungan kita bertiga. Kau lupa kalau dia menyuruh kita untuk menjauhi mereka?" Ucap Adrian.


Abercio mengeluarkan cengiran nya. "Aku lupa."


Saat mereka sedang asyik mengobrol, suara bel berbunyi mengalihkan perhatian mereka.


"Itu pasti makanan." Abercio bangkit berdiri untuk mengambil makanan.


Tak lama, Abercio datang sambil membawa makanan yang datang. Ia menaruhnya di atas meja. Ada pizza, cola, kentang goreng dan yang lain.


"Aku masih ingat kalau kalian sangat doyan makan. Jadi aku membeli makanan."


"Sepertinya aku tidak." Achazia mengambil burger lalu membuka bungkusnya. Ia langsung melahap burger itu. Ya, memang di antara mereka berempat, Achazia tidak terlalu doyan makan seperti ketiganya.


"Kau juga doyan makan, hanya saja baru level lima."


"Kalau aku level lima kalian level berapa?" Ucap Achazia.


"Aku level enam, Abqari level delapan dan Adrian level sepuluh."


Adrian langsung melempar bungkus burger nya pada Abercio. "Bukannya levelnya tinggian kau?"


"Tidak, aku sama seperti Achazia." Ia mengambil kentang goreng lalu memakannya.


"Terserah kau sajalah."


"Hey, kalian tidak ingat tidak saat kita sedang makan seperti ini saat waktu SMA, lalu tiba-tiba datang, siapa itu namanya? A--Ad---Ya! Adara! Mantan pacarmu!" Ucap Adrian. Ia menatap Abercio.


Abercio berdecak. "Jangan di ingatkan lagi kejadian itu."


Achazia dan Abqari mencoba mengingat-ingat. Keduanya langsung tertawa saat mengingatnya.


"Jangan tertawa!"


Larangan Abercio malah membuat ketiganya tertawa lebih kencang. Itu adalah kejadian yang tidak akan mereka lupakan.


*****