Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
CURIGA


Setelah tiga hari berada di Swiss, mereka akan pulang ke tempat asal. Ya, hari ini adalah hari dimana mereka akan pulang. Para wanita sedang membereskan barang-barang. Sedangkan yang pria sedang mengurus kepulangan mereka ke Indonesia.


Ashana menghembuskan napas lega setelah barang-barangnya masuk ke dalam koper. Ia tidak membawa terlalu banyak barang. Jadi ia tidak perlu lama-lama membereskannya.


Ashana keluar kamar dan ia menemukan Achazia yang sedang sibuk dengan ponselnya. Adrian dan Abercio sedang di luar. Entah sedang melakukan apa. Sedangkan Abqari sedang di dapur seperti membuat sesuatu.


"Achazia," Panggil Ashana.


Achazia mendongak. Pria itu tersenyum. Saat menemukan Ashana. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Duduk disini."


Ashana menurut. Ia duduk di sebelah Achazia. Tanpa di duga, Achazia menarik tangannya kemudian langsung memeluk Ashana. Ashana yang tidak berdaya di dalam pelukan Achazia hanya terdiam. Tidak mengerti dengan Achazia.


"Kau tahu tidak sebenarnya aku ini merindukanmu?" Ucap Achazia setelah mencium puncak kepala Ashana berkali-kali.


Ashana menggeleng polos. "Tidak."


Achazia menghela napas. "Kau seperti yang menghindariku."


Ashana kembali menggeleng. "Tidak."


"Bohong."


Achazia melepaskan pelukannya. Ia menatap Ashana dengan dua tangan yang menangkup wajah wanita itu.


"Kau sedang marah padaku?"


Ashana menggeleng dengan pipi yang terjepit tangan Achazia. "Tidak."


"Lalu kenapa kau menjauhiku?"


"Aku tidak menjauhimu."


Achazia memicingkan matanya. "Benarkah?"


Ashana mengangguk. "Benar."


"Tapi kenapa aku merasa kalau kau menjauhiku?"


"Setidaknya lepaskan dulu tanganmu. Aku kesulitan bicara." Ucap Ashana lalu Achazia melepaskan tangannya.


Ashana menghembuskan napasnya. "Aku tidak menjauhimu, tapi kau saja yang selalu pergi, dan bilang ada urusan."


"Benarkah?"


Ashana mengangguk lagi. "Kau selalu meninggalkan aku dan pergi dengan teman-temanmu. Kau bilang ada urusan jadi aku tidak bisa menolak apalagi mencegahmu."


Achazia terdiam. Benar yang dikatakan Ashana. Ia menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Lagipula itu memang urusan yang serius jadi Achazia tidak bisa tidak peduli.


"Maafkan aku. Apakah kau marah?"


Ashana tertawa. "Tidak, aku tidak marah. Lagipula kau ini orang yang sibuk. Jadi wajar kalau seperti itu." Ucap Ashana yang memang sebenranya tidak marah.


"Baguslah kalau kau tidak marah." Achazia tersenyum. Ia mengelus puncak kepala Ashana lembut. Ia bukannya tidak mau memberitahu, tapi ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya.


"Achazia!"


Achazia menoleh saat suara Adrian memanggilnya. Adrian melambaikan tangannya, menyuruh Achazia untuk datang kemari. Achazia mengangguk kemudian bangkit. "Aku kesana dulu."


Ashana mengangguk. "Baiklah."


Ashana memperhatikan Achazia sampai hilang di balik pintu. Ia menghela napas kemudian meluruskan kakinya.


"Hey,"


Ashana menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari samping. Ia tersenyum saat melihat kalau itu adalah Andini. "Ada apa?"


"Mereka siapa?" Balik tanya Ashana. Andini menepuk jidatnya.


"Ya siapa lagi kalau bukan empat sejoli itu." Ucap Andini yang melihat kepolosan Ashana.


"Anehnya?"


"Kau tidak memperhatikan Achazia? Kalau Abercio, aku melihat keanehan dari dirinya. Dia juga bertanya hal yang membuatku merasa tambah aneh."


"Apa itu?"


Andini mengecilkan suaranya. "Dia bertanya, jika saja aku di jodohkan, apakah aku akan memilih dia atau memilih pria yang di jodohkan padaku. Ya pasti aku akan memilihnya lah. Lagipula siapa yang berani mengatur hidupku? Tidak ada. Ini hidupku. Jadi terserah ku ingin menjalaninya seperti apa."


Ashana menganggukkan kepalanya. "Achazia juga terlihat aneh. Tapi tidak sampai membuatku curiga. Bagiku itu wajar karena dia adalah orang yang cukup sibuk. Lagipula mereka berempat hanya melakukan pekerjaan kan?"


Andini tertawa sinis. "Pekerjaan? Pekerjaan apa? Memangnya kau tahu?"


Ashana menggelengkan kepalanya. "Achazia tidak menjelaskan pekerjaan apa itu. Aku percaya karena bagiku wajar orang sepertinya ada pekerjaan walaupun sedang berlibur."


Andini menghela napas. "Kau ini terlalu percaya."


"Bukankah memang itu yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan? Selain kepercayaan apalagi yang bisa diandalkan?"


"Baiklah, kau memang benar. Tapi memang tidak ada rasa curiga sedikit pun di hatimu? Aku tidak menuduh Achazia selingkuh di belakangmu, hanya saja aku merasa mereka sedang melakukan sesuatu tapi mereka tidak mau menjelaskannya lebih detail pada kita." Ucap Andini.


"Pekerjaan apa itu aku kurang tahu. Tapi aku yakin pekerjaan itu pasti ada sangkut pautnya dengan kita atau pekerjaan itu bisa berakibat buruk jika kita mengetahuinya. Pasti. Karena biasanya Abercio akan menjelaskan detail pekerjaan apa yang sedang dia lakukan dan akan pergi kemana. Karena dia takut aku tidak percaya. Tapi sekarang tidak. Dia hanya mengatakan kalau pekerjaan ini melibatkan Achazia, Adrian dan Abqari. Hanya itu. Membuatku curiga."


"Hey, kakak sedang membicarakan apa?"


Ashana dan Andini menoleh ke samping. Ailee dan Alice baru saja datang sambil membawa gelas yang berisi cokelat. Mereka akhirnya duduk, ikut bergabung dengan Ashana dan Andini.


Ashana melirik Andini. Apakah tidak apa jika Alice dan Ailee tahu? Kurang lebih begitulah arti tatapan Ashana pada Andini.


Andini berdeham. "Alice, apakah kakakmu mengatakan sesuatu padamu?"


Alice mengerutkan keningnya. "Mengatakan apa?" Wanita itu mencoba mengingat apakah Achazia mengatakan sesuatu kemudian menggeleng. "Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa. Memangnya ada apa?" Tanya Alice.


Ailee di sebelahnya tetap tenang walaupun ia juga ingin tahu maksud dari ucapan Andini. Umur Ailee dan Alice tidak terpaut jauh. Jadi mereka lumayan dekat selama di Swiss.


"Apa kau menemukan gelagat aneh pada Achazia?" Tanya Andini.


Alice terlihat berpikir sebelum mengangguk. "Iya, kakakku dan ketiga temannya terlihat aneh."


Andini tersenyum lebar. Ternyata Alice merasakan hal yang sama dengannya. "Apa yang aneh dari Achazia dan ketiga temannya?"


"Mereka terlihat sedang melakukan suatu pekerjaan yang bahkan aku tidak tahu detailnya apa. Ya memang Kak Achazia tidak pernah menjelaskan pekerjaannya secara detail. Tapi aku biasanya menanyakan itu, jika memang aku sangat ingin tahu. Aku sempat menanyakan ini pada kakakku, tapi jawabannya hanya, ini tidak terlalu penting, hanya pekerjaan biasa. Membuatku merasa curiga, aku menanyakannya pada Abqari juga, jawabannya sama seperti kakakku. Membuatku curiga kalau mereka sedang melakukan sesuatu."


Andini, Ashana dan Alice langsung menatap Ailee yang sedang menyeruput cokelat. "Apa? Kenapa?"


"Apakah kau tidak bertanya pada Adrian?" Tanya Andini.


"Tidak, aku tidak menanyakannya." Jawab Ailee.


"Coba kau tanyakan." Sahut Ashana.


Ailee mengerutkan keningnya keberatan. "Kenapa tidak kau saja yang menanyakannya pada Pak Achazia?"


Ashana menghela napas. "Sudah pernah aku tanyakan, tapi jawabannya tidak memuaskan. Hanya kau yang belum bertanya. Barangkali Adrian akan jujur dan akan memberitahumu. Adrian sangat mencintaimu, jika dia tahu kau mengajaknya bicara bersama, maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin saja, coba dulu." Ucap Ashana.


Andini dan Alice mengangguk. "Iya, Ailee coba saja dulu." Ucap Alice.


Ailee menggangguk walaupun ia sangat keberatan. "Ba-baiklah, nanti akan aku tanyakan."


*****