
Achazia hanya tersenyum kecil saat ada keluarga yang menyapanya. Ia ingin segera pulang, tapi Mommy nya mencegah. Lagipula ia bosan di sini. Acara keluarga seperti ini memang selalu membosankan bagi Achazia. Tidak ada yang menarik. Entah kenapa ia jadi merindukan Ashana nya.
"Kakak!"
Achazia menoleh ke belakang dan menemukan Alice yang kini sudah memeluk tangannya. Gadis itu sangat cantik dengan gaun berwarna peach yang cocok dengan kulitnya.
"Kakak ke mana saja?" Tanya Alice.
"Aku ada di sini."
"Aku mencari-cari kakak tahu, dari tadi."
"Kau saja yang tidak melihat dengan benar."
Alice cemberut. Ia menarik tangan Achazia untuk duduk. Tidak enak rasanya kalau mengobrol sambil berdiri. "Kak, kenapa Kak Ashana tidak di ajak?" Tanya Alice.
Achazia mengangkat satu alisnya. "Memangnya harus?"
Alice mengangguk. "Lihat, yang lain juga banyak membawa kekasihnya untuk di perkenalkan di depan keluarga." Alice menatap sepupu-sepupunya yang membawa pacar. Ia jadi iri ingin seperti itu.
"Aku hanya takut mereka tidak menyukai Ashana."
"Kenapa takut tidak menyukai? Kak Ashana cantik."
"Mungkin bulan depan aku bisa mengajaknya. Aku belum siap Alice." Ucap Achazia yang takut kalau malah Ashana di ejek keluarganya. Ia paling tidak bisa melihat orang yang di sayanginya di sakiti.
"Ya ampun Mommy cari ke mana-mana ternyata anak Mommy ada di sini!"
Achazia dan Alice menoleh. Mereka menatap Adriyana yang berjalan menghampiri mereka.
"Anak Mommy," Adriyana memeluk Achazia. Melihat itu membuat Alice cemberut.
"Aku tidak di peluk Mommy?" Alice merentangkan kedua tangannya. Siap menerima pelukan yang akan di berikan Adriyana.
Adriyana tersenyum. "Padahal tadi kan sudah, tapi tidak apa lah." Wanita ith kembali memeluk Alice.
Setelah selesai memeluk Alice, Adriyana menatap Achazia. "Kau tidak mengajak Ashana?" Tanya Adriyana.
Achazia menggeleng sambil tersenyum. "Tidak Mom. Aku takut mereka tidak menyukai Ashana." Yang di maksud mereka oleh Achazia adalah keluarganya.
"Kenapa juga mereka tidak menyukai Ashana?" Tanya Adriyana bingung.
"Mommy tahu sendiri bagaimana keluarga kita." Ucap Alice. Gadis itu melirik kanan kiri. "Apalagi Daddy. Kalau Daddy tahu latar belakang Kak Ashana, apa yang akan dia katakan? Mungkin yang paling parah Daddy akan langsung mengusir Kak Ashana." Bisik Alice takut terdengar oleh anggota keluarga yang lain.
Adriyana mengerti itu. Ia menyentuh bahu Achazia. "Ada Mommy yang akan selalu mendukungmu."
"Aku tidak mau Mommy malah bertengkar dengan Daddy." Ucap Achazia.
"Lagipula pemikiran Daddy mu ini sangat kolot sekali. Mommy tidak suka." Ucap Adriyana. Salah satu sifat Arga yang tidak ia sukai adalah selalu menghubungkan semuanya dengan garis keturunan. Kalau tidak garis keturunan ya kekuasaan.
"Achazia."
Suara berat itu mampu membuat ketiga orang yang kini sedang berbincang itu menoleh secara bersamaan. Alice dan Adriyana yang tersenyum dan Achazia yang terlihat biasa saja.
"Semua anggota keluarga sedang mengobrol sebelum makan malam. Ayo ikut. Kau juga Alice, Adriyana." Ucap Arga lalu berjalan lebih dulu.
Alice memutar kedua bola matanya. "Lihat? Kenapa sih Daddy harus mempunyai----"
"Alice, sudah. Turuti kemauan Daddy mu." Ucap Adriyana sebelum Alice mengeluarkan semua kekesalannya yang sepanjang kereta api.
Achazia mengikuti langkah Arga dan Alice juga Adriyana mengekori Achazia dari belakang.
"Achazia, kau ke mana saja?" Ariana, saudara sepupu Achazia yang lebih muda tiga tahun dari pria itu langsung menggandeng lengan Achazia layaknya kekasih. Achazia yang sudah hafal bagaimana sifat wanita itu hanya diam saja. Kalau Achazia melepaskannya, kasihan Ariana yang akan malu di hadapan keluarga nantinya.
"Achazia, Alice, Adriyana. Ayo duduk." Ucap Arsha, nenek Achazia.
Achazia duduk di sebelah Ariana. Sedangkan Adriyana duduk di sebelah Arga dan Alice duduk di sebelah Achazia.
"Bagaimana perkembangan Comman Grup Achazia? Apakah ada masalah?" Ucap Arsha pada Achazia. Karena yang memegang Comman Grup sekarang adalah Achazia. Arga adalah anak pertama Arsha. Arga memiliki dua adik. Comman Grup di ambil alih oleh Arga saat kakek Achazia, Arya, meninggal dalam kecelakaan. Saat kejadian itu Arga baru berumur dua puluh satu tahun. Umur yang sangat muda jika harus mengurus perusahaan sebesar Comman Grup. Tapi untungnya Arga masih bisa mengurus semua itu walaupun di usianya yang masih muda. Sebenarnya Arga belum terlalu tua, tapi ia ingin Achazia menjadi seperti dirinya. Sukses di usia muda. Dan Achazia berhasil melakukan itu.
"Lancar, Nek. Tidak ada yang membuatku kerepotan."
"Comman Grup itu besar loh. Hampir semua jenis produk ada. Bergerak di segala bidang. Kau sangat hebat Achazia." Ariana yang berada di sebelah Achazia mengusap lengan Achazia yang terbalut jas. Membuat Alice yang melihatnya ingin sekali langsung melempar tangan yang menodai kakaknya itu.
"Ariana, bagaimana dengan karirmu?" Tanya Alice. Wajar dong, Alice memanggilnya Ariana, karena dia adalah anak dari adik Daddy nya.
"Aku sudah membintangi banyak iklan. Dan mereka puas dengan pekerjaanku. Oh iya, lain kali, kau bisa menjadikanku model untuk produk baru dari perusahaanmu." Ariana kembali menatap Achazia yang sedari tadi diam saja. Membuat Alice geram melihat tingkahnya.
"Mm... sebenarnya Ariana. Semua produk baru sudah ada artis yang akan mengiklankan nya. Semuanya sudah ada. Kau terlambat." Ucap Alice yang sebenarnya hanya ingin mematahkan semangat Ariana untuk mendekati kakaknya.
"Tidak apa. Aku akan menunggu produk baru. Kau bisa menghubungiku kapan saja Achazia." Tangan Ariana semakin gatal. Bahkan tangannya kini sudah sampai di bahu Achazia.
Brak!
Semua orang langsung menatap ke arah Alice. Gadis itu terlihat marah. Sadar apa yang telah ia lakukan, Alice tersenyum lalu kembali duduk. "Maafkan aku. Ada semut yang menggigit kakiku. Jadi aku merasa gatal dan tidak bisa menggaruk nya. Aku melampiaskan nya dengan cara memukul meja." Alibi Alice.
Achazia mengangkat satu sudut bibirnya melihat tingkah Alice. Adiknya ini sangat jago jika beralasan.
"Nenek, bagaimana kalau Ariana menjadi artis yang selalu mengiklankan produk Achazia. Dengan cara ini kan, mereka bisa bekerja sama. Hitung-hitung sebagai hubungan persaudaraan."
"Tidak!"
Kembali, semua orang menatap ke arah Alice. Ia menolak dengan jelas saran dari tantenya, Airana, Ibu Ariana.
"Kenapa Alice?" Arsha menanggapinya dengan lembut. Karena ia tahu bagaimana sifat cucunya yang satu ini. Berbeda dengan cucu-cucu yang lainnya.
"Karena kan, sudah ada artis yang menempatinya terlebih dahulu. Kalau kita membatalkannya kan, sangat tidak sopan."
"Tidak sekarang Alice. Mungkin produk yang lainnya. Lagipula artisnya tidak tetap kan?" Airana masih mencoba mendekatkan Ariana dengan Achazia. Dasar Ibu dan anak, sama saja.
"Haish, bilang saja kalau Ariana ingin mendekati kakakku kan?!" Ucap Alice frontal.
*****