
Setelah selesai berbelanja keduanya langsung pulang ke rumah. Tidak mampir keman-mana dulu. Takut keluarga Ashana khawatir di rumah.
"Kalian cepat sekali." Ucap Ibu Ashana saat keduanya sudah sampai di rumah. Padahal tadi mereka berdua bermain dulu di supermarket. Tapi Ibu Ashana bilang kalau mereka cepat.
"Kalau Ibu ingin lebih lama kami akan melakukannya."
Ashana menepuk dahinya. Bagaimana Achazia bisa bicara sesantai itu di depan ibunya?
"Ah, tidak. Aku hanya bicara saja. Bagus kalau kalian cepat. Kita bisa langsung menyiapkannya." Ucap Ibu Ashana.
"Lain kali jangan seperti itu." Bisik Ashana ssat Ibunya sudah melenggang pergi.
"Jangan seperti itu bagaimana?" Tanya Achazia tak mengerti.
"Ibu tadi hanya bicara saja, kenapa kau menganggapnya serius? Ah iya, kau selalu menganggap serius perkataan siapa pun itu." Ucap Ashana.
"Coba aku tanya. Dimana letak bercandanya?"
"Ibu tidak sedang bercanda. Hanya sekedar bicara. Mengerti? Lain kali kalau mau bicara perhatikan itu bicara jenis apa. Kalau bicaranya jenis tadi, kau hanya perlu membalasnya dengan biasa. Mengerti?"
Achazia menganggukkan kepalanya mengerti.
"Bagus. Sekarang ayo kesana."
Achazia mengikuti langkah Ashana menuju taman belakang. Rumah Ashana terbilang rumah yang sederhana. Tidak seperti rumahnya yang bak istana. Bahkan taman belakangnya saja selebar kamar mandinya.
"Ibu biar aku bantu!" Ucap Ashana saat melihat Ibunya sedang melakukan sesuatu. Saat ia akan berjalan menghampiri Ibunya, Achazia menahan tangan gadis itu. "Apa?" Tanya Ashana.
"Lalu aku bagaimana kalau kau sibuk dengan Ibumu?"
Ashana mencari keberadaan Andri. Wanita itu tersenyum kemudian memanggil Andri untuk menghampirinya.
"Kenapa kak?" Tanya Andri saat sudah berada di hadapan Ashana.
"Ini, ajak bicara ya. Dia tidak akan bicara duluan sebelum ada yang mendahului. Orangnya sedikit pemalu sih."
Andri mengangguk. "Siap kak. Akan aku ajak bicara dia sampai tidak jadi pemalu lagi." Ucap laki-laki itu yang membuat Ashana tertawa.
"Ya sudah, kakak titip dia." Ashana menyerahkan tangan Achazia pada Andri.
'Memangnya aku bayi yang harus di titipkan?' Batin Achazia.
Andri mengajak Achazia untuk memotong-motong daging yang tadi sudah di beli. Disana juga ada bapak.
"Ayo kak, kita potong-potong daging ini." Ucap Andri sambil menunjuk bapak yang sedang memotong-motong daging.
Bapak menoleh. "Kenapa tidak ganti baju dulu? Bajunya terlalu formal. Hey Andri, pinjamkan dia bajumu." Ucap bapak karena pakaian Achazia kali ini adalah setelan kemeja.
"Tidak perlu." Tolak Achazia sebelum Andri mengajaknya ke dalam.
"Hey, nanti bajumu kotor. Lagipula bajumu terlihat mahal. Sayang kalau terkena kotor. Coba beritahu padaku berapa harga kemejamu?"
"30 juta."
Andri dan bapak di buat melongo dengan nominal yang di sebutkan oleh Achazia. Bahkan Andri sampai mengecek ponselnya mencari apakah ada kemeja seharga 30 juta.
Bapak terkekeh. "Oh, 30 juta ya? Tuh kan mahal. Lebih baik di ganti." Ucap bapak.
"Iya kak. Kalau nanti kotor sayang, takut kotoran di bajunya tidak bisa hilang." Timpal Andri setelah mengecek dan ternyata ada. Gambarnya persis seperti kemeja yang Achazia pakai.
"Aku bisa membelinya lagi." Ucap Achazia.
Andri dan bapak saling tatap? Apakah begini kehidupan orang kaya? Selalu mengandalkan uang. Padahal kan tinggal ganti apa susahnya?
"Mungkin bagimu 30 juta itu terlihat sedikit. Tapi tidak bagi kami. 30 juta itu terlihat seperti harta karun. Bagi kamu mungkin itu hanyalah uang yang bisa di dapatkan dalam sehari. Makanya kami menyuruhmu ganti karena menurut kami kemeja mu ini sangat berharga." Ucap bapak yang membuat Achazia langsung terdiam.
"Andri," Panggil Achazia dan Andri mendongak.
"Iya kak?"
"Aku ingin ganti baju. Aku ingin meminjam bajumu." Ucap Achazia.
"Jadi ganti bajunya? Ya sudah, ayo ikut aku." Andri mengajak Achazia masuk ke dalam. Ke kamarnya. Laki-laki itu memilihkan kaos paling bagus yang ia punya.
"Sepertinya yang ini cocok untuk kakak. Lagipula ini terlihat besar jika aku yang memakai." Andri menyerahkan kaos hitam yang ia pegang pada Achazia.
"Cobalah. Oh iya, selama kau ganti aku akan mencari celananya." Selama Andri sibuk mencari celana, Achazia mengganti baju. Pria itu tersenyum. Tidak terlalu buruk pikirnya.
"Ini," Andri memberikan celana pada Achazia untuk di kenakan.
"Aku tunggu di luar," Ucap Andri memberikan ruang untuk Achazia ganti. Di rumahnya tidak ada ruang ganti. Setelah selesai Achazia keluar, berjalan menghampiri Andri yang sedang menunggunya.
"Andri," Panggil Achazia.
Andri tersenyum lebar. "Wow kak! Kau sangat tampan! Kakak pasti akan makin mencintaimu!" Ucap Andri yang membuat perubahan di wajah Achazia.
"Benarkah?"
Andri mengangguk. "Iya, kalau kau tidak percaya ayo kita ke belakang." Ucap pria itu. Kemudian mereka berdua kembali ke belakang.
"Achazia kau?" Ashana tidak percaya saat melihat Achazia yang memakai pakaian Andri. Bahkan wanita itu sampai menutup mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau lebih tampan kalau seperti ini." Gumam Ashana yang membuat Achazia tersenyum.
"Benar kan kak, apa kataku." Ucap Andri berbisik.
"Ya sudah, aku kesana dulu." Ucap Ashana saat terdengar suara Ibu memanggilnya.
"Ayo kak, kita bantu bapak lagi." Andri dan Achazia berjalan menghampiri bapak yang sedang mengiris-iris daging sendiri.
"Wow, kau terlihat tampan jika seperti ini." Ucap bapak saat melihat penampilan Achazia sekarang.
Achazia tersenyum. Tapi senyumnya bukan karena pujian dari bapak. Siapa lagi kalau bukan dari Ashana.
"Begini kak. Aku ajarkan." Andri memberikan pisau pada Achazia, tapi Achazia terlihat seperti yang tidak bisa memegangnya. Dasar orang kaya. Jadilah Andri mengajar Achazia mengiris-iris daging.
Ashana terkekeh saat melihat Achazia begitu serius mengiris-iris daging. Wajahnya sangat lucu. Bahkan Ashana mengabadikan momen itu di ponselnya.
"Hey," Ibunya menyenggol Ashana. Membuat Ashana terlonjak.
"Apa ibu?" Tanya Ashana saat ibunya itu mrnatapnya seperti itu. Menatap dengan tatapan jahil.
"Kau sedang apa? Menyimpan Achazia di ponselmu?" Goda ibunya yang membuat Ashana salah tingkah.
"Ti-tidak." Ashana menyangkalnya.
"Lalu itu apa di ponselmu?"
"Aku tidak mempotret mereka bertiga. Ya bertiga, bukan Achazia saja."
Ibunya terkekeh. Ia mengusap-usap puncak kepala Ashana. "Tidak apa kau jatuh cinta pada Achazia. Itu wajar, dan ibu akan mendukungmu apapun itu pilihanmu." Ucap Ibunya.
"Ibu...." Ashana langsung memeluk ibunya. Ibunya ini tidak tahu saja bagaimana keluarga Achazia.
"Ibu siap bertarung jika ada yang menghalangi jalan cinta kalian." Ucap Ibunya itu di sertai kekehan dan mengundang senyum Ashana.
******