
"Apa?"
Alice mengangguk pelan. Ia menaruh ponselnya di atas meja lalu mendorongnya sampai di hadapan Ashana.
"Aku takut kak. Kakak bisa lihat sendiri." Alice sudah berusaha untuk tenang sejak semalam. Tapi entah kenapa ia terus dihantui perasaan takut walaupun biasanya ia tidak pernah seperti ini.
Ashana meraih ponsel Alice lalu membaca pesan itu. Matanya beralih pada nomor yang tertera. Ia mengernyit saat menyadari kalau nomor itu berbeda dengan nomor yang mengirim pesan padanya. Walaupun Ashana tidak ingat nomor itu, tapi ia ingat dua angka paling belakang dan itu berbeda dengan nomor ini.
Ashana tersenyum. "Mungkin hanya salah sambung." Walaupun hatinya tidak yakin, ia berusaha meyakinkan Alice agar gadis itu tidak khawatir.
"Kak, bukannya aku sombong. Tapi nomor telepon keluarga Comman sangat di jaga. Tidak mungkin salah sambung." Ucap Alice yakin.
Ashana menyentuh punggung tangan Alice. "Kau tidak berniat menceritakan ini pada kakakmu?"
Alice menghela napas. "Aku takut kak. Aku takut Kak Achazia akan mengkhawatirkanku dan tidak fokus saat bekerja. Lagipula aku bercerita hanya ingin mendapatkan ketenangan. Makanya aku bercerita pada kakak. Kalau aku menceritakannya pada Kak Achazia atau mommy, bukan ketenangan yang aku dapatkan." Ucap Alice yang di benarkan Ashana. Siapa kakak yang akan tenang saja saat adiknya mendapat pesan seperti itu? Di tambah ini adalah salah satu anggota keluarga Comman. Tidak mungkin salah sambung.
"Percaya padaku, itu hanya nomor iseng. Lagipula siapa yang berani padamu hm? Tidak akan ada yang berani padamu. Kau adalah adik Achazia dan termasuk salah satu anggota keluarga Comman. Tidak akan ada yang berani mengusikmu. Lagipula kakak dan ayahmu tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu." Ucap Ashana. Tak lupa ia mengeluarkan senyuman lembut agar perasaan Alice membaik. Ia mengusap punggung tangan Alice.
Alice tersenyum. "Iya, kau benar. Terimakasih kak. Aku hanya butuh ketenangan saja."
"Kini kau sudah tenang?"
"Lebih baik dari sebelumnya."
"Bagus, kau sudah sarapan?"
Alice menggeleng. "Belum, memikirkan ini membuatku tidak nafsu makan."
"Kau ini. Ayo sarapan. Jika kakakmu tahu dia pasti akan marah."
Aluce tersenyum lalu mengangguk. "Karena hatiku sudah lebih tenang, jadi ayo sarapan."
Keduanya kemudian berjalan menuju kantin. Kebetulan Ashana juga belum sarapan. Entah kenapa saat Alice menelponnya ada sesuatu yang tidak beres yang membuatnya harus cepat sampai ke perusahaan. Dan ternyata memang tidak beres. Kenapa? Kenapa orang-orang yang ia kenal mendapatkan pesan seperti ini?
"Kau mau sarapan apa? Biar aku yang beli." Ucap Ashana.
Alice menggeleng. "Kita beli bersama."
Keduanya kemudian memesan makanan lalu kembali membawa makanan menuju tempat duduk.
"makan yang banyak. Jangan takut gendut. Diet hanya akan menyiksamu." Ucap Ashana menghibur Alice.
Alice tersenyum. "Pasti."
Keduanya kemudian makan sambil bercerita sesekali. Lebih banyak Aluce yang bercerita tentang keluarganya dan Ashana senang mendengarnya. Alice juga bercerita kalau Daddy nya sangat membenci orang yang mengobrol ketika makan. Padahal Alice tidak suka suasana sunyi saat sedang makan. Intinya sifat Alice lebih mirip sang Mommy, sedangkan Achazia memiliki keduanya. Sifat maupun perawakan Achazia adalah campuran dari Mommy dan Daddy nya.
"Beruntung Kak Achazia tidak seperti Daddy, ya walaupun seperti daddy sedikit. Tapi Kak Achazia masih mempunyai rasa kasihan padaku. Sedangkan Daddy? Big no! Daddy kalau sudah menghukum tidak kira-kira. Beruntung mommy ku tidak seperti itu. Jadi kakakku masih memeliki sifat Mommy dan aku sangat menurun dari Mommy. Siapa juga yang ingin seperti Daddy?!"
Ashana terkekeh. Suara Alice sangat mengundang perhatian tapi tidak ada seorang pun yang berani melirik nya. Karena apa? Karena dia adalah adik dari Achazia. Dan semua orang tahu itu. Dan mereka juga tahu kalau orang yang ada di hadapan Alice adalah Ashana, kekasih Achazia. Tidak ada orang yang boleh membeberkan Ashana kalau tidak mau karirnya rusak.
"Kau mau nambah?"
Alice menggeleng. "Tidak, tidak. Aku sudah kenyang."
"Makanmu hanya sepiring tapi minummu sampai tiga gelas dengan varian rasa yang berbeda. Pantas saja kau kenyang, kenyang air hm?" Keduanya kemudian tertawa tanpa memperdulikan sekitar.
"Kau tidak kuliah?" Tanya Ashana karena tahu kalau Alice masih kuliah sekarang.
Alice mengangguk. "Iya, tapi nanti." Ashana menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia melirik jam tangan, pukul 07:30. "Kau akan langsung pergi?"
Alice menggeleng. "Unversitasku dekat dari sini. Mungkin aku akan berada di ruangan kakak dulu."
"Jam segini biasanya Achazia sudah berada di kantor." Ucap Ashana.
"Kakak ini perhatian sekali. Sampai jam kakakku sudah di kantor pun Kak Ashana tahu. Beruntung sekali aku jika mendapatkan kakak ipar seperti Kak Ashana."
Ashana tersipu. "Kau ini. Sudahlah ayo," Keduanya kemudian berjalan beriringan. Lagipula tujuan mereka searah.
Semua orang yang melihat pemandangan Ashana dan Alice berjalan beriringan tak heran karena mereka berdua adalah orang penting di hidup Achazia. Bahkan tidak ada yang berani mencibir karena jika sampai terdengar oleh Alice, dia akan langsung bertindak saat itu juga.
"Kau bertemu Alice dimana?" Tanya Andini saat Ashana duduk di bangkunya. Beruntung mereka duduk bersebelahan.
"Aku bertemu dengannya di kantor. Andini, aku ingin bicara denganmu."
"Nanti saja. Ini penting, tapi tidak penting juga. Tapi mungkin penting menurutmu."
Andini jadi semakin penasaran. "Katakan sekarang saja."
"Tidak bisa, aku harus bekerja."
"Sekarang saja lah. Aku benar-benar penasaran. Kau tahu aku orang seperti apa."
"Nanti atau tidak sama sekali ku beritahu?"
Andini memajukan bibirnya beberapa senti. Ia kemudian kembali duduk.
Ashana menggelengkan kepalanya. Andini memang seperti itu dari dulu. Dan ia tahu apa ancaman yang pasa agar Andini berhenti merengek.
Ashana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengetikkan pesan pada Achazia.
Ashana
Achazia, aku ingin bicara denganmu. Tapi tidak sekarang.
Ashana menaruh ponselnya. Sambil menunggu balasan dari Achazia, wanita itu mengecek pekerjaannya.
Ting!
Ashana beralih pada ponselnya.
Achazia
Ada apa? Ada sesuatu?
Ashana diam. Ia berpikir untuk menimbang jawaban apa yang cocok.
*Ashana
Menurutku sepertinya kau jangan menanyakan apapun dulu pada Alice tentang apa yang aku bicarakan dengannya. Alice ada di ruanganmu kan?
Achazia
Iya, dia ada di ruangan ku. Tidak, aku tidak menanyakannya. Aku baru akan menanyakannya. Memangnya ada apa*?
Ashana menghembuskan napas. Beruntung Achazia belum menanyakannya.
*Ashana
Aku akan memberitahukannya padamu nanti.
Achazia
Kapan? Jam makan siang*?
Ashana menggeleng. Tidak, jam makan siang ia akan memberitahukan Andini.
*Ashana
Nanti saja, saat pulang. Kau akan mengantarku kan?
Achazia
Kenapa tidak jam makan siang?
Ashana
Aku ada perlu dengan Andini.
Achazia
Baiklah*.
Ashana menaruh ponselnya ke atas meja lalu kembali berkutat dengan komputer.
*****