
Selama perjalanan pulang di antar Achazia, Ashana terus menatap ke arah luar kaca mobil. Entahlah, jika menatap Achazia, ia tiba-tiba saja malu mengingat kejadian itu. Mengingatnya saja membuatnya langsung memejamkan kedua matanya. Malu kalau sampai Achazia mengingatnya juga.
"Ashana," Panggil Achazia.
Ashana menoleh. "Ya?" Ia langsung menatap Achazia.
Achazia tersenyum. "Bisakah kau mengulanginya lagi?"
"Mengulangi apa?"
"Kejadian yang tadi."
Blush!
Wajah Ashana langsung memerah. Ia menggigit bibir bawahnya. Melihat Ashana yang seperti itu membuat Achazia tak bisa menahan senyum.
"Kau ingat kan? Tidak mungkin kau lupa."
Ashana masih diam. Ia memilih diam dan mendengarkan apa yang Achazia katakan daripada harus menjawab ucapan pria itu.
"Oh iya, saat kau berteriak dan menangis di lorong, aku punya videonya."
"Apa?!" Pekik Ashana. Wanita itu menatap Achazia dengan mata yang membulat.
Achazia mengangguk polos. "Ya,"
"Kau ini! Hapus videonya." Ucap Ashana tak habis pikir. Kenapa Achazia bisa sempat-sempatnya mem videokan kejadian itu?
Achazia menggeleng. "Tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa."
"Memang di ponselmu tidak ada fitur menghapus?"
"Masalahnya itu bukan di ponselku. Tapi di pikiranku."
Ashana yang baru saja akan menjawab langsung mengatupkan bibirnya kembali. Apa ini? Jadi Achazia sedang mempermainkan nya?
"Ku kira ada di ponselmu."
"Jadi kau menginginkan video itu ada di ponselku?"
"Ya tidak lah!" Ashana langsung merespon dengan tidak santai. Gila saja Achazia berpikir kalau ia ingin video itu ada. Tertangkap CCTV saja ia sudah malu apalagi tertangkap kamera ponsel Achazia?
Achazia terkekeh melihat respon Ashana. Semangatnya sudah kembali. Ashana nya sudah kembali. Ia tidak perlu berpura-pura lagi karena Ashana juga mencintainya. Jadi ia tidak perlu berjuang sendiri.
"Kau ingin langsung pulang?" Ashana menganggukkan kepalanya.
"Tidak mau membeli makanan dulu?"
Ashana tampak berpikir. Sepersekian detik kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Aku ingin kebab."
"Kebab? Apa itu?"
"Kau tidak tahu kebab?" Ashana menatap Achazia aneh dan Achazia membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Karena kau tidak tahu, maka dari itu kita harus beli. Sekalian memberitahukan padamu bagaimana kebab itu."
"Baiklah. Biasanya kau membeli kebab di mana?"
"Terus lurus saja. Aku akan menghentikannya jika sudah sampai."
Achazia menuruti kemauan Ashana. Ia terus mengemudikan mobilnya. Ia menatap Ashana yang malah memainkan ponselnya. "Kau tidak merindukanku?"
"Apa?" Ashana menoleh. Tapi masih dengan ponsel yang ada di genggamannya.
"Memangnya kau tidak merindukanku? Padahal kan kita sudah lama tidak seperti ini."
Ashana tersenyum. "Aku rindu itu."
"Lalu kenapa kau malah bermain ponsel? Kenapa kau tidak mengajakku mengobrol saja?"
"Mengobrol apa?"
"Apa saja."
Ashana menggigit jari telunjuknya. Achazia ini sangat aneh. Kenapa tidak dia saja yang mengajaknya mengobrol? Kenapa harus Ashana yang mengawali? Ia jadi bingung harus membicarakan topik seperti apa.
"Oh iya Achazia. Aku sudah lama ingin menanyakan ini."
"Bagaimana jika keluargamu tahu tentang hubungan kita? Memangnya mereka tidak akan menentangnya?" Ucap Ashana ragu.
Achazia terdiam beberapa detik. Tatapannya lurus menatap jalan. "Memangnya kenapa kalau mereka menentangnya? Ini hidupku. Mereka tidak bisa mengaturnya."
"Tapi mereka adalah keluargamu. Orang yang kamu cintai."
"Memang kau bukan orang yang aku cintai?"
Ashana terdiam. Ia memundurkan wajahnya yang saat berbicara pada Achazia menjadi lebih dekat. Ashana menatap keluar jendela. "Ah, itu kebabnya!" Beruntung mereka sudah sampai, kalau tidak, sudah Ashana bayangkan pasti akan terasa canggung.
Achazia menepikan mobilnya. "Biar aku saja yang beli." Ucap pria itu. Sebelum Ashana membalas ia sudah keluar dari mobil.
"Dasar orang itu."
Ashana menatap Achazia dengan setelan jas rapi membeli kebab di pinggir jalan. Membuatnya ingin tertawa. Bagaimana bisa seorang Presdir Comman Grup membeli kebab di pinggir jalan? Kalau Ashana seorang paparazzi, pasti ia akan langsung menyebarkan berita ini.
Tidak lama, Achazia sudah masuk ke dalam mobil tapi sambil membawa plastik yang berisi kebab. Ashana tersenyum menyambut Achazia saat pria itu duduk.
"Kebab ku..." Ashana menerima kebab yang Achazia berikan. Dengan semangat ia membuka bungkus kebab lalu langsung melahap nya.
Achazia yang menatap Ashana menikmati kebabnya hampir saja tertarik. Ia menelan salivanya. Ashana terlihat sangat menyukai kebab itu.
'Kenapa sepertinya dia lebih menyukai kebab itu?!'
Achazia menahan pergelangan tangan Ashana yang baru saja akan kembali melahap kebab. Perlakuan Achazia mengundang tatapan Ashana.
"Kenapa kau begitu lahap?"
"Karena aku sangat menyukainya."
"Menyukainya ya?" Achazia mengambil kebab yang ada di tangan Ashana. Pria itu menaruh kebab itu asal tapi tidak sampai menjatuhkannya.
"Kenapa kebab punyaku di ambil? Kau mau? Kenapa tidak membelinya saja?" Ucap Ashana kesal karena kebabnya telah di jauhkan dari jangkauannya.
"Sebentar, ada mayonaise di ujung bibirmu."
Tangan Ashana terangkat untuk mengusap mayonaise yang kata Achazia ada di ujung bibirnya. Tapi tangannya kalah cepat dengan bibir Achazia yang langsung menyapu mayonaise yang ada di bibirnya tanpa sisa.
"Achazia kau---" Ashana tidak bisa berkata. Ia masih terkejut dengan perlakuan Achazia. Ia masih menatap wajah Achazia yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kenapa sayang?" Achazia tersenyum miring. Membuatnya terlihat tampan walaupun ada aura licik.
Saat Ashana tersadar, ia langsung mendorong Achazia menjauh. Dorongan itu tidak terlalu kuat sampai membuat Achazia terpental. Saat Ashana akan mendorongnya lagi, tangannya langsung di tahan oleh Achazia.
"Kenapa? Aku baru saja membantumu. Kenapa tidak bilang terima kasih?"
"Terima kasih." Ashana mengalihkan tatapannya ke arah lain. Wajahnya sudah memerah sekarang.
Achazia mendekatkan wajahnya. Ia berbisik di telinga Ashana. "Mau aku melakukannya lagi?"
"Kau gila?!" Refleks, Ashana langsung mendorong Achazia dengan kedua tangannya membuat Achazia terjatuh dan kepalanya terbentur kaca mobil. Ashana yang juga terkejut langsung membuka sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Achazia. "Apa sakit? Maafkan aku, ya ampun... Seharusnya aku tidak melakukan itu." Ashana memeriksa kepala Achazia, sedangkan Achazia yang berhasil membuat Ashana panik hanya tersenyum.
"Kenapa tersenyum? Apakah ada yang sakit? Beritahu aku..."
"Di sini."
Ashana berdecak sedangkan Achazia hanya terkekeh. Ia kembali ke tempatnya lalu kembali memasang sabuk pengamannya. "Cepat jalan."
"Tadi kau bertanya bukan bagian mana yang sakit? Aku sudah menjawabnya kenapa kini kau tidak peduli?" Ucap Achazia yang kini masih menunjuk bibirnya.
"Ya kau pikir saja, kepalamu yang terbentur lalu kenapa bibirmu yang terluka?" Ucap Ashana yang membuat Achazia terkekeh.
"Kepalaku tidak sakit. Tadi bukan suara benturan kepalaku, tapi ponselku yang jatuh." Achazia berjongkok lalu mengambil ponselnya yang jatuh. Ia mengedipkan satu matanya.
Ashana tidak tahu harus merespon apa. Ia hanya melipat kedua tangannya. "Dasar pria. Kalian selalu mengambil kesempatan----"
Cup!
"Hey! Kenapa kau menciumku lagi?!" Ashana memegang pipinya yang baru saja di cium Achazia dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa? Kau mau membalasnya? Nih." Achazia dengan senang hati menunjukkan pipinya agar Ashana bisa menciumnya.
"Tidak mau!"
*****