
"Ashana jangan melamun.."
Ashana sedikit terlonjak saat sebuah tangan menyentuh bahunya. Ia menoleh dan menemukan Ailee sudah berada di belakangnya. Ia tersenyum.
"Tidak, tidak ada." Ucap Ashana, menutup semuanya dengan senyuman.
Ailee tersenyum. Ia mengusap bahu Ashana. "Kau bisa cari aku jika kau membutuhkanku. Aku akan selalu ada untukmu." Ucapnya tulus.
"Terima kasih."
Sebenarnya akhir-akhir ini Ashana memikirkan sesuatu. Apa yang di ucapkan Achazia lima hari lalu berhasil mengganggu pikirannya. Bahkan sampai terbawa mimpi.
"Kenapa kau harus mengucapkan itu..." Gumam Ashana. Ia kini sedang membantu Ailee membuat sarapan. Harusnya Ashana menolak kan? Tapi entah kenapa ia tidak bisa mengatakan itu. Oh iya, selama itu pula Ashana tidak pernah tidur bersama Achazia. Dan Achazia pun sepertinya mengerti. Ia tidak pernah meminta Ashana untuk menemaninya. Tapi Ashana sendiri yang khawatir, takut Achazia bermimpi seperti dulu lagi dan berakhir Ashana yang selalu memantau saat sudah tengah malam.
"Ailee, apakah Achazia sudah bangun?" Tanya Ashana.
Ailee mengangguk. "Sudah, sekarang tuan sedang mandi."
Ashana menganggukkan kepalanya berkali-kali. Setelah semuanya sudah selesai, ia menaruhnya di atas meja. Ashana dan Ailee sudah sarapan tadi. Jadinya mereka hanya membuatkan untuk Achazia saja.
Achazia keluar dari kamar sambil mengenakan jam tangan. Ia menoleh menatap Ashana yang kini tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Selama lima hari itu pun Ashana selalu berangkat ke kantor menggunakan taksi.
"Aku berangkat ya Ailee.." Ucap Ashana.
Ailee tersenyum. "Iya, hati-hati di jalan."
Achazia menatap Ashana. Tidak ada pergerakan Ashana yang lepas dari pandangannya. Bahkan sampai wanita itu menghilang di balik pintu.
Achazia mendesah pelan. Sampai kapan Ashana akan seperti ini? Dengan caranya yang mendiamkan Achazia membuat Achazia hampir gila. Awalnya ia sabar menunggu karena kata Adrian mungkin Ashana butuh waktu. Tapi makin ia menunggu makin ia yang merasa sangat membutuhkan kehadiran Ashana.
Setelah selesai dengan sarapannya, Achazia berangkat pergi menuju kantor. Bahkan di kantor pun Ashana juga seperti itu. Hanya saja Achazia masih bisa bertanya kalau itu masih bersangkutan dengan pekerjaan.
Ailee menatap kepergian Achazia sambil geleng-geleng kepala. "Mereka saling mencintai. Kenapa mereka harus gengsi untuk memulai? Huh, aku tidak mengerti." Ucap Ailee saat Achazia sudah hilang dari pandangan.
*****
"Kau harus lebih berjuang! Mungkin Ashana ingin melihat perjuanganmu yang lebih dari itu!" Ucap Abercio menggebu. Achazia kini sedang menceritakan bagaimana Ashana akhir-akhir ini pada Adrian, Abercio dan Abqari.
Adrian hanya diam sambil memikirkan apa yang harus di lakukan Achazia, ia menghela napas. "Bagaimana kalau kau tanya dia sekali lagi?" Ucap Adrian mengeluarkan pendapatnya.
"Maksudmu?" Achazia mengerutkan keningnya.
"Maksudku, kau bicara dengannya. Kau sudah lama menunggu. Kau juga butuh jawaban." Ucap Adrian menjelaskan apa maksudnya.
"Kalau dia menolak bagaimana?" Kini Abqari yang menyahut.
Pandangan Achazia langsung berubah tajam. Bahkan pria itu sampai menggebrak meja. Membuat ketiga sahabatnya menoleh menatapnya. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kalau dia menolak aku akan tetap menganggapnya."
Abercio menghela napas. Sedangkan Adrian menggaruk keningnya yang tidak gatal. Abqari memilih menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Wanita tidak suka di perlakukan seperti itu." Ucap Abqari yang di angguki oleh Adrian.
"Aku tahu bagaimana caranya!"
Semuanya sekarang menatap ke arah Abercio yang memasang senyum cerah. "Apa? Bagaimana?" Tanya Achazia tidak sabaran.
Abercio memberitahukan bagaimana rencananya. Yang lainnya mendengarkan dengan serius. Sampai Abercio selesai menjelaskan, senyuman terukir di wajah mereka. Adrian menatap Achazia. "Kau bisa mencobanya."
Abqari mengangguk. Ia menatap Abercio. "Ternyata kau pintar juga."
Achazia tersenyum. "Aku yakin ini akan berhasil."
*****
Andini menatap Ashana yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan Ashana sudah terlihat tidak semangat akhir-akhir ini. Andini ingin menanyakan ada apa. Tapi ia tidak mau meminta Ashana menceritakannya. Biarkanlah Ashana yang cerita sendiri.
"Kau sakit? Lebih baik jangan ke kantor kalau sakit." Ucap Andini yang khawatir dengan keadaan Ashana.
Ashana menggeleng. "Tidak, aku tidak apa. Hanya sedikit rasa malas." Ucap Ashana yang di akhiri dengan senyuman.
"Kau mau aku belikan sesuatu di kantin?" Tanya Andini yang di balas gelengan oleh Ashana.
"Tidak perlu, kita bisa menunggu jam istirahat." Ucap Ashana.
Andini menoleh saat mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Ia langsung memeriksa ponselnya, dan ternyata ada pesan dari Adrian. Asal kalian tahu, Adrian sebenarnya adalah sepupu Andini. Ayah Adrian adalah anak dari adik mami Andini.
Tidak ada yang mengetahui di kantor. Bahkan sahabat Adrian pun tidak mengetahui ini. Karena Andini tidak mau jika sampai orang-orang tahu kalau dia sepupunya Adrian. Alasannya karena ia tidak mau di kenal atas nama orang. Ia ingin di kenal atas namanya sendiri.
Adrian : Kau ada waktu?
Andini : Kenapa? Kau ingin membicarakan sesuatu?
Adrian : Iya. Ini tentang sahabatmu Ashana. Apa kau ada waktu?
Andini melebarkan kedua matanya. Tentang Ashana? Ada apa dengan Ashana? Apakah ia punya masalah dengan Adrian sampai bisa semurung itu? Tapi yang Andini kenal Ashana bukan orang yang seperti itu.
Andini : Ada. Nanti malam aku akan ke rumahmu.
Adrian : Tidak perlu. Aku saja yang akan ke apartemen mu."
Andini menatap Ashana yang kembali murung. Ia menghela napas. Apa yang membuat Ashana menjadi seperti ini? Ia sangat khawatir.
Andini mendongakkan kepalanya saat semua orang berdiri. Ia pun ikut berdiri saat tahu apa itu. Ia menoleh ke arah Ashana yang masih betah dengan lamunannya. Bahkan Andini harus menoel Ashana agar wanita itu tersadar.
"Apa?" Tanya Ashana.
Andini memberikan kode menggunakan matanya. Refleks Ashana langsung bangkit berdiri seperti yang lain. Tapi keterlambatan nya itu sudah terlihat oleh Achazia.
"Kau." Achazia menunjuk Ashana. Membuat semua orang menatap ke arahnya.
Ashana menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Ya, kau."
Ashana meneguk salivanya. Ia berjalan menghampiri Achazia dengan kepala yang menunduk. Ia tidak mau menatap Achazia.
"Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah kau harusnya berdiri jika aku lewat?" Ucap Achazia dingin. Tidak seperti saat di apartemen.
Ashana meneguk salivanya. "Ma-maaf. Lain kali aku tidak akan mengulangi kesalahanku." Ucap wanita itu. Ia merutuki dirinya sendiri yang kenapa harus melamun saat Achazia sedang lewat.
"Kau tahu aku bukan orang yang bisa memberikan kesempatan kedua." Ucap Achazia tajam dan Ashana mengangguk. Achazia akan berubah menjadi seperti ini jika sudah berada di kantor.
'Ya ampun, bagaimana nasibku? Tuhan, tolong aku,' Ucap Ashana dalam hati.
"Setelah jam makan siang, datang ke ruanganku." Ucap Achazia sebelum pergi dan meninggalkan tatapan iba para karyawan untuk Ashana.
*****