
Saat Wahyu dan Sabrina bertemu, mereka otomatis mengobrol cukup lama.
Namun sama seperti sebelumnya, Wahyu menceritakan kembali keadaannya secara garis besar.
Saat mereka sedang asik-asiknya mengobrol, ponsel Wahyu berdering, dia segera berkata, “Kakak pertama, kakak keempat, kalian mengobrol saja dulu, aku menjawab telepon sebentar.” Kemudian dia keluar dari ruangan Direktur dan datang ke tempat dimana tidak ada orang.
Ponselnya tersambung, dari dalam telepon terdengar suara yang seperti mesin: “Bos, saya sudah memeriksa apa yang Anda perintahkan.”
Kakak pertama Monita, Presiden Direktur Monita’s Clothes Group, tidak mempunyai identitas lain, arsip 18 tahun yang lalu, kosong.
Kakak kedua Yania, anggota Kelompok Tentara Bayaran Internasional, nama panggilannya Phoenix. Keahlian: mahir dalam menggunakan berbagai macam senjata dan bahan peledak, kemampuannya hampir sama dengan Chandra, arsip 18 tahun yang lalu, kosong.
Kakak ketiga Salma, pekerjaan yang ditampilkan adalah pramugari, arsip 18 tahun yang lalu kosong.
Kakak keempat Sabrina, Direktur Rumah Sakit Siloam, tidak memiliki pekerjaan yang lain, arsip 18 tahun yang lalu kosong.
Kakak kelima Laila, bekerja di Mabes Polri sebagai kepala polisi, dia dan kakak keenam Lana adalah kembar, arsip 18 tahun yang lalu kosong…
Kakak keenam Lana, identitasnya tidak biasa, arsip 18 tahun yang lalu kosong…
Kakak ketujuh Ningrum, aktris film dan televisi, arsip 18 tahun yang lalu kosong...
Bos, bagaimana kalau meminta Wira memeriksanya lebih dalam lagi?”
Wahyu menggeleng. “Sudahlah, jika mereka bisa menghapus bersih arsip yang ada di luar, menurutku meskipun ada arsip yang di sembunyikan, belum tentu adalah arsip yang asli.”
“Bos, kenapa tidak bertanya kepada Pak Tua?”
Wajah Wahyu terlihat muram. “Mulut Si Pak Tua itu lebih rapat dibandingkan lem super, menurutmu aku tidak ingin bertanya kepadanya?”
“Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal ini, bagaimana dengan kemajuan rencana kita?”
“Bos, kita sudah mengakuisisi 2 buah pangkalan farmasi berskala kecil, selain itu juga berencana untuk membeli sebidang tanah. Pada malam ini di Balai Konferensi Kota Yogyakarta akan dijual sebidang tanah terbaik di Kota Yogyakarta, luasnya sekitar 100 hektar persegi, terletak di pusat Kota Yogyakarta, tanah itu sangat bagus untuk kemajuan kita. Namun lelang kali ini akan dihadiri oleh banyak perusahaan raksasa, menurut informan kita, Yakuza juga kemungkinan akan turut campur. Jadi lelang kali ini akan sangat sengit.”
“Mereka juga mau ikut campur?”
Sebuah niat jahat terlintas di benak Wahyu. “Yakuza sudah berani melebarkan kekuasaannya ke negara kita, kalau begitu jangan harap bisa keluar dengan tubuh yang utuh, aku akan memotong tangan mereka dan menjadikannya makanan anjing.
Lelang kali ini jam berapa, aku sendiri yang akan pergi.”
“Bos, kami semua tidak ada bersamamu, takutnya berbahaya.”
Wahyu tertawa mengejek. “Hanya beberapa Yakuza itu tidak akan bisa menyentuhku.”
“Baiklah! Jam 8 malam ini lelang akan dimulai tepat waktu, nanti aku akan menyuruh orang untuk mengirimkan kartu undangan untuk Anda.”
Wahyu kembali berkata.“Bagaimana dengan masalah surat izin usaha itu?”
Orang yang di seberang sana menjawab. “Dalam tahap aman, Negara kita dibagi menjadi 3 departemen.
Departemen peperangan, Departemen pertahanan dan Departemen keamanan.
3 markas besar disebar di setiap tempat di seluruh negara berdasarkan fungsinya masing-masing.
Ruang lingkup pengelolaan bisnis kita agak istimewa, harus ada persetujuan dan juga cap dari 3 departemen utama, selain itu juga harus ada tanda tangan departemen yang bersangkutan.
“Baiklah, kalian tidak usah mengurus masalah ini lagi, aku yang akan mengurusnya sendiri.”
Wahyu menutup telepon, kemudian kembali lagi ke kantor direktur.
Monita adalah Presiden Direktur perusahaan, Sabrina adalah Direktur Rumah Sakit, mereka berdua sangat sibuk, setelah Wahyu keluar, mereka berdua menerima panggilan telepon pada saat yang bersamaan, mereka hanya menunggu Wahyu kembali untuk berpamitan.
Yang penting Wahyu sudah kembali, nanti mereka bisa bertemu setiap hari, Wahyu juga tidak terburu-buru, dia bertanya dengan santai. “Kakak pertama, Kakak keempat, mobil siapa yang bisa aku pinjam untuk aku gunakan?”
Sabrina menjawab.“Kakak pertamamu mau kembali, aku kebetulan ada rapat, jadi untuk sementara belum membutuhkannya, kamu pakai mobilku saja.”
“Oke!”
Mobil Monita adalah sebuah Maserati merah, mobil Sabrina adalah sebuah Lamborghini merah.
Wahyu bisa menggunakan berbagai macam senjata api dan mesin, levelnya bahkan melebihi Chandra, anggota “Sang Penakluk Dunia”, tidak perduli kendaraan apa pun yang dikendarainya. Begitu dia menginjak pedal gas, mobil itu langsung melesat keluar dari garasi, tangan kirinya memegang setir mobil, tangan kanannya memegang ponsel dan menekan sebuah nomor: “Halo! Kak, apa kamu sedang sibuk, aku merindukanmu, kemarin malam tidak melihatmu, aku ingin bertemu denganmu.”
Dari dalam telepon terdengar suara tawa dan makian. “Bocah, sekarang baru merindukanku? Datang saja, kamu di mana? Aku pergi mencarimu.”
Wahyu berkata. “Tidak perlu, aku hampir sampai di kantormu, kita bertemu di depan kantormu saja.”
“Baiklah!”
20 menit kemudian, Lamborghini muncul di depan gerbang kantor Mabes Polri Yogyakarta, Laila berdiri menunggunya di sana dengan menggunakan seragam polisi, dari jauh dia sudah melambaikan tangannya kepada Wahyu: “Di sini.”
Wahyu turun dari mobil lalu menatapnya dengan seksama, dia bergumam dalam hati, dosa apa yang sudah dia lakukan di kehidupan sebelumnya, kenapa semua wanita yang ditemuinya cantik tanpa tandingannya, memangnya dia benar-benar harus menikahi semuanya?
Kecantikan Laila dengan Monita dan yang lainnya juga berbeda, dia dan Lana adalah kembar, mereka berdua sangat mirip sekali, mereka juga sangat cantik dan menawan, selain itu kecantikan mereka adalah kecantikan yang liar.
Begitu Laila melihatnya, dia langsung bertanya.“Bocah, ini adalah mobil Kakak keempat, kamu sudah bertemu dengan Kakak keempat?”
Wajah Wahyu terlihat canggung. “Sudah, aku hampir saja divasektomi oleh Kakak keempat.”
Laila penasaran. “Apa yang terjadi?”
Wahyu menceritakan kejadiannya sekali lagi, hal itu langsung membuat wajah cantik Laila bergetar karena tertawa. “Kamu masih nakal seperti dulu, kamu bahkan berani mengerjai Kakak keempat, kamu percaya tidak kalau dia benar-benar berani memotong itumu?”
Kali ini pertemuan mereka berdua tidak terlalu menguras emosi, setelah mengobrol singkat, Wahyu masuk ke percakapan inti. “Kak, aku mencarimu untuk mencari tahu sesuatu.”
“Apa, katakan saja, selama Kakak bisa melakukannya, aku akan membantumu.”
“Kak, mengenai kepemilikan surat izin usaha.”
“Kenapa? Kamu mau menjalankan usaha ini?”
Wahyu tidak menutupinya, dia mengangguk dan berkata. “Saat di luar negeri aku berkecimpung cukup lama di bidang ini, jadi aku lumayan menguasai bidang ini, aku hanya bisa menjalankan usaha ini.”
“Bocah, surat-surat yang kamu inginkan ini tidak terlalu mudah dikeluarkan.”
“Kak, Kakakku yang baik, tolong bantu aku kali ini, nanti aku akan mentraktirmu makan mewah.”
Wahyu langsung memeluk Laila.
“Bocah busuk, minggir.”
Laila kaget, mereka berada di pintu depan Mabes Polri, jika sampai dilihat oleh orang lain maka akan gawat sekali, dia segera berkata, “Aku berjanji, tapi belum tentu ada gunanya.”
Wahyu berkata dengan puas. “Janji ya?”setelah itu barulah dia melepaskan Laila.
“Aku benar-benar tidak bisa berkata tidak padamu, sebenarnya untuk masalah ini lebih baik kamu meminta bantuan Lana, meskipun aku tidak tahu apa pekerjaan Lana, tapi dikarenakan kontak batin yang kami punya sebagai anak kembar, aku bisa menebak apa pekerjaannya.
Tapi anak itu tidak bisa diandalkan, aku akan membantumu.
Besok malam jam 8, kebetulan ada sebuah jamuan bisnis, ada orang yang mengundangku datang, nanti kamu datang menemaniku, aku akan memperkenalkanmu kepada seseorang, dia mungkin bisa membantumu.”
“Terima kasih kak, terima kasih banyak, kemari, aku akan memberikan 1 ciuman.”
Wahyu mendekatkan bibirnya sambil menyeringai, kemudian dia segera mengecup bibir Laila dengan cepat.
“Kamu…”
Wajah Laila langsung memerah.
Saat masih kecil mereka berdua memang sering berciuman, tapi sekarang sudah berbeda, dia lebih tua 2 tahun dari Wahyu, memiliki wajah yang cantik dan menawan, sekarang dia dicium di tengah jalan, setelah ini bagaimana caranya dia bertemu dengan orang?
Meskipun hal ini sekarang sedang populer, tapi dia adalah seorang elit polisi di Mabes Polri!
“Bocah busuk, kamu…”
Saat Laila mengangkat tangannya, Wahyu sudah melompat masuk ke dalam mobil sambil tertawa terbahak-bahak. “Besok aku akan meneleponmu.”
“Enyahlah sana!”Laila melambaikan tangannya dengan kesal.