
Wahyu mengedipkan mata ke Yara, kemudian dia langsung menggenggam tangan Yara yang kecil dengan erat, membuat wajah wanita cantik itu memerah dan detak jantung bertambah cepat. Dia menarik tangannya keluar dengan cepat dan memarahinya, “Minum saja sampai mati.” Kemudian dia menuangkan satu gelas untuknya.
Tang tang tang!
Mereka berdua bersulang 3 kali lagi.
Setelah beberapa gelas, awal masuk masih baik-baik saja, tapi setelah beberapa kali nafas, efeknya langsung naik. Justin sudah mulai mabuk, tapi dia masih berusaha bertahan, dia meletakkan gelasnya di meja dan ingin duduk kembali.
Belum sempat dia duduk, terdengar suara tertawa Wahyu lagi, “Bro, hebat juga kamu. Jangan duduk dulu, kamu lebih tua dariku, aku harus bersulang 3 kali lagi untukmu. Sini sini sini, aku kan datang telat, jadi sebagai permohonan maaf, aku akan minum 3 gelas lagi.”
Gluk, gluk, gluk!
Wahyu seperti minum air putih, 3 gelas habis dalam sekejap.
Wajah Justin langsung berubah drastis.
Tadi dia memaksanya untuk minum, tidak disangka Wahyu akan menyerang balik secepat itu, dia tidak bisa minum lagi!
Justin langsung berkata, “Bro, kamu sungguh hebat, selanjutnya biarkan teman yang lain…”
Teman-teman lain yang melihatnya langsung membantu, “Justin, sudahlah sudahlah, sudah cukup minumnya.”
“Wahyu, kalian kan sudah kenal, gantian saja.”
“Iya Wahyu, Justin sudah minum banyak, ngak bisa minum lagi.”
Orang-orang ini terus berbicara, dan Wahyu langsung memotongnya: “Bro, berarti kamu merendahkanku. Aku sudah minum denganmu, sekarang gantian aku yang bersulang, tapi kamu malah ngak mau minum, mana bisa gitu? Gini deh, kamu cari teman wanita untuk membantumu, tapi kalau begitu, emang kamu ngak malu dibantu seorang wanita?”
Wahyu mengembalikan ucapan Justin tadi kepadanya, rasanya seperti tamparan keras.
Seketika membuat Justin bengong, di depan semua teman, terutama para teman-teman yang cantik, Justin tidak boleh dipermalukan,“Aku minum.” Dia mengangkat gelas dan menghabiskan 3 gelas.
Kemampuan minumnya sangat terbatas, setelah tiga gelas ini, tubuhnya langsung lemas dan terjatuh ke kolong meja.
Yara memelototi Wahyu dengan kesal, dia menyuruh 2 orang pelayan untuk membawa Justin keluar.
Semua orang bengong!
Kemudian, setelah Justin ditarik keluar dari kolong meja, semua teman-teman kelas desain 86 ini, termasuk keluarga mereka langsung bengong.
Mereka tidak pernah melihat seseorang yang minum seperti ini, tanpa makan, dia menghabiskan 1 liter alkohol. Tadi banyak yang menghasut, “Beri dia pelajaran, hajar dia.”
Sekarang semuanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
Wahyu tersenyum malu dan berkata, “Maaf semuanya, jadi bikin lelucon. Tidak disangka Justin tidak jago minum, aku minta maaf. Sebagai permohonan maaf, aku akan menghukum diriku 3 gelas, kemudian aku akan bersulang 3 gelas lagi untuk kalian semua.”
Gluk gluk…
Wahyu menuangkan 3 gelas alkohol dan menghabiskannya, kemudian menuangkan 3 gelas lagi dan meneguk habis.
Seluruh aula menjadi sangat sunyi.
Situasinya menjadi sangat canggung.
Kemampuan minumnya ini bukan dinamakan minum, tapi tuang. Dia sedang menuangkan alkohol ke dalam perutnya. Walaupun sudah sebanyak itu, tapi ekspresinya sama sekali tidak berubah, siapa yang berani minum dengannya?
Semua orang terdiam dan bengong di tempat. Kalau ada yang ingin bersulang, mereka harus minum atau tidak?
Kalau diminum, tidak tahan, kalau tidak minum, juga tidak sopan.
Justin oh Justin, kamu benar-benar membuat susah semua orang.
Beberapa wanita mulai marah-marah.
Melihat situasi yang canggung untuk semuanya, Yara langsung berkata, “Wahyu, jangan bikin onar. Tidaka da dari kami yang bisa dibandingkan denganmu.”
Monita juga ikut membantu, “Kalian jangan kayak dia, bocah ini sudah mabuk. Mari, kalian minum saja sebisanya.”
Mereka berdua akhirnya membantu orang-orang ini keluar dari kecanggungan. Semuanya merasa lega dan mulai menundukkan kepala untuk makan.
“Bocah, diam kamu.”
Yara menggunakan sepatu hak tingginya untuk menendang kaki Wahyu, lalu memasukkan sebuah paha ayam ke dalam mulut Wahyu.
Setelah semua kekacauan ini, dia juga jadi lapar.
Wahyu mulai makan lagi dengan lahap.
Karena fisiknya yang spesial, Wahyu mampu makan dengan banyak. Melihat makanan di meja yang sudah dihabiskan setengah olehnya, dia masih saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Yara dan Monita hanya bisa memelototinya, dan Wahyu berpura-pura tidak melihatnya.
Monita cepat-cepat mengalihkan topik, “Wahyu, ada 1 berita baik untukmu. Kakak ketiga mu sudah transit dari penerbangan internasional ke penerbangan domestik, hari ini dia akan terbang dari Jakarta ke Surabaya. Besok istirahat, kalau mungkin kita akan pulang dan berkumpu.”
Iya! Iya! Iya!
“Oke, Kak. Ngomong-ngomong, kakak ketiga cantik ngak?”
“Tentu saja cantik, di antara kami, dia lah wanita sesungguhnya.”
“Oh ya, kalau begitu besok aku harus bertemu dengannya.”
Mereka berdua melanjutkan pembicaraannya.
Namun, ada Yara di antara mereka, melihat mereka berdua ngobrol dengan asik dan sama sekali tidak menganggap dirinya, dia langsung marah.
Ketika Wahyu sedang berbicara, tiba-tiba dia merasakan rasa sakit di daerah pahanya. Lalu terdengar suara Yara yang bertanya di samping telinganya, “Kenapa baru datang sekarang?”
Wahyu yang kesakitan berkata dengan tidak jelas, “Bangun kesiangan.”
Setelah selesai bicara, rasa sakit kembali menyerangnya. Yara bertanya lagi, “Cepat kasih tahu, kenapa kamu bisa datang sama Santika?”
Wahyu berkata, “Kebetulan bertemu di pesawat terus bicara sebentar, ternyata sama-sama datang ke sini, jadi kami datang bareng.”
“Mau menipuku ya, Santika itu bongkahan es, dia tidak akan berbicara dengan orang di dalam pesawat. Beraninya kamu menipuku?”
Yara langsung mencubit paha Wahyu dengan kuat dan tidak mau melepaskannya.
“Sialan, lepaskan. Kalau ngak, aku akan menghajarmu.”
“Aku ngak mau, cepat kasih tahu dengan jujur, kok bisa datang bareng?”
“Oke! Kamu lepaskan dulu, aku akan memberitahumu, tapi aku ingin pipis dulu. Akan kuberitahu nanti pas balik.”
“Jangan lama-lama, aku kasih waktu 5 menit.”
Barulah Yara melepaskannya.
Dasar wanita! Benar-benar kejam! Lihat saja gimana aku menghukummu.
Wahyu berjalan keluar aula dengan kesal.
Dia bukan pergi ke toilet, melainkan masuk ke dapur, dia meminjam sebatang wortel dengan koki, kemudian dibungkus dengan tisu dan dimasukkan ke dalam saku. Lalu, dia berjalan kembali ke aula perjamuannya.
Baru saja kembali duduk, Yara mulai bertanya lagi, “Cepat kasih tahu, gimana kalian bisa saling kenal? Kalau ngak mau ngomong, kamu akan dihukum.”
Wahyu memutar bola mata, “Cantik, lagi cemburu ya?”
“Apa pedulimu.” kata Yara dengan wajah merona.
Perasaan ini sangat aneh.
Dia yang sudah berada di lingkungan masyarakat selama belasan tahun, dijuluki sebagai bunga sosialita yang terkenal. Seperti kata Monita, dia adalah mawar berduri.
Tidak pernah ada pria yang berhasil mengambil keuntungan darinya, juga tidak pernah ada pria yang bisa membuatnya jatuh hati. Namun, ketika melihat Wahyu, dia langsung terjatuh sangat dalam.
Terutama ketika Wahyu mengatakan, “Kedua kakinya ini sangat cantik”, Yara langsung tenggelam dalam ucapannya. Sejak saat itu, dia memiliki sebuah perasaan yang aneh, atau bisa dibilang sebuah harapan.