
“Laila, kenapa kamu menarikku? Kemarin malam aku minum terlalu banyak, biarkan aku tidur sebentar lagi.”
Monita dengan terhuyung-huyung ditarik oleh Laila ke kamar mandi, dia masih belum sadar sepenuhnya.
Sifat Laila sedikit tidak sabaran, dia mengambil gelas tempat menaruh sikat gigi kemudian mengisinya dengan air dan menyiramkannya ke depan dada Monita.
Monita gemetaran, dia benar-benar sudah sadar sekarang. “Laila, kenapa kamu datang kemari?”
Laila tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Kakakku tercinta, kamu biasanya tenang dan tidak mudah terprovokasi, kenapa bisa melakukan hal seperti itu, apakah kamu yang membunuhnya?”
“Aku membunuh orang?”
Saat seseorang mabuk, bukan berarti kehilangan kesadarannya sama sekali, kadang-kadang hanya terkunci sementara, kemudian seiring berjalannya waktu akan mengingatnya kembali.
Monita ahli bela diri sabuk hitam dan 9, fisiknya tidak bisa dibandingkan dengan orang biasa, tubuhnya sangat bugar, setelah diingatkan oleh Laila, dia akhirnya mengingatnya kembali.
“Oh, aku ingat, kemarin malam aku minum-minum dengan si bungsu Wahyu, saat kami mabuk, ada orang yang datang mencari masalah, Wahyu membunuh orang itu, eh bukan, aku yang membunuh orang itu.”
“Kak, apa yang kamu bicarakan, apa kamu mau membuatku cemas setengah mati, kita kakak beradik ada 7 orang, tidak ada si bungsu Wahyu, kak, aku tahu kalau orang itu bukan dibunuh olehmu, kamu sedang melindungi siapa?”
Laila menghentakkan kakinya kesal, dia tidak pernah melihat Monita berbicara terbata-bata seperti ini.
Tapi hal ini menyangkut nyawa orang, bukan saatnya untuk terbata-bata!
Monita tahu kalau dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. “Laila, aku ingin memberitahukanmu sesuatu, kamu tenang dulu, dengarkan aku menjelaskannya perlahan-lahan.”
“Katakan, selama bukan kamu yang membunuh orang, semuanya gampang diatur.”
Monita berkata,“Bukan aku yang membunuhnya, tapi si bungsu Wahyu.”
“Kak, kamu membawa-bawa si bungsu lagi, dari mana ada… Tunggu sebentar, kamu bilang Wahyu? Maksudmu adalah? Kak, kamu jangan menakutiku, Wahyu sudah hilang 18 tahun yang lalu, aku merasa kalau tidak mungkin dia masih hidup, jika masih hidup, dia pasti akan datang mencari kita.”
Air mata Laila mengalir, di antara ketujuh bersaudara itu, Laila lah yang karakternya paling kuat, dia tidak akan pernah mau menundukkan dirinya kepada siapa pun, selain itu rasa keadilannya sangat besar, jadi dia menjadi seorang polisi di Mabes Polri.
Akan tetapi orang yang seperti ini tidak bisa menyembunyikan perasannya, saat mengungkit soal Wahyu, sebelum bertemu orangnya, air matanya sudah mengalir duluan, kemudian ekpresinya terlihat berubah tegang.“Kak, kamu jangan sembarangan bicara, sekarang kamu adalah seorang Presdir, banyak orang yang akan mengaku-ngaku sebagai keluarga, jangan sampai salah.”
Monita tertawa pahit dan berkata.“Ikut denganku.”
Dia menarik Laila kembali ke kamar tidur.
Wahyu yang sudah minum terlalu banyak terbangun karena terganggu oleh bunyi telepon, akan tetapi dia tertidur kembali saat melihat itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Laila, kemarilah dan lihat sendiri.”
Monita menarik Laila ke balik punggung Wahyu, kemudian menggunakan tangannya untuk menyingkapkan baju olahraga Wahyu.
Cuacanya sedang sangat panas, untuk atasannya Wahyu hanya mengenakan selembar baju olahraga. Setelah menyingkapkan baju olahraganya, terlihat punggung Wahyu.
Pada saat ini, di bagian punggung Wahyu ada gambar kepala serigala berwarna merah yang sedang berangsur-angsur menghilang.
Ini bukan tato, tetapi masuk ke dalam darahnya, setiap kali Wahyu mabuk berat, kepala serigala ini akan keluar dengan jelas, biasanya tidak begitu.
Mereka bisa mengetahui rahasia Wahyu ini karena saat Wahyu berumur 3 tahun, dia pernah secara diam-diam meminum anggur Raja Pengemis, dia meminum 1 botol penuh, setelah itu dia pingsan.
Dari sejak saat itu, mereka bertujuh mengetahui rahasia Wahyu ini, mengenai kenapa bisa ada sebuah kepala serigala di dalam pembuluh darah Wahyu, saat mereka dewasa, mereka berusaha untuk memeriksa data yang ada, namun tidak ada hasil sama sekali.
“Aku benar-benar sudah tua, anak ini ternyata sudah sebesar ini, selain itu dia juga sangat tampan.”
Laila mengelus wajah Wahyu dengan lembut, kemudian mengangguk dan berkata “Aku tahu harus bagaimana, kalian tidak usah mengurus hal ini.”
Monita bertanya dengan cemas: “Laila, kakak tahu kalau kamu sangat mencintai keadilan, tapi kita hanya mempunyai 1 adik laki-laki ini saja, kamu jangan berbuat sembarangan ya.”
“Kak! Kamu tenang saja, meskipun keadilan dibutuhkan, tapi aku lebih membutuhkan adikku, siapa yang berani menyentuh Wahyu, aku akan membuat perhitungan dengannya, bahkan keadilan juga tidak boleh. Aku pergi dulu, kamu jaga Wahyu dengan baik.”
Mereka tidak tahu seberapa besar kemampuan Laila menyelesaikan hal ini.
Namun keesokan harinya pagi-pagi sekali, di tajuk utama setiap media tertulis satu berita.Kemarin malam Presiden Direktur Monita’s Clothes Group dan temannya pulang dalam keadaan mabuk, di perjalanan pulang mereka bertemu dengan sekumpulan gangster, pada saat gangster itu mau merampok dan memperkosanya, gangster itu menerima perlawanan yang sengit sehingga menyebabkan satu orang gangster terluka dan akhirnya meninggal dalam perkelahian itu.
Saat ini pihak kepolisian sudah mendalaminya dan sedang memeriksa keberadaan gangster yang lainnya, jika ada yang melihatnya, maka silahkan melapor, kami akan memberikan balasan yang sesuai.
Jurus Laila ini sangat hebat, langsung menutupi kenyataan tentang Wahyu yang membunuh orang, selain itu juga memberikan penghargaan uang kepada orang yang menemukan preman-preman itu, bagaimana mungkin mereka berani melapor ke polisi.
Sebuah kasus pembunuhan ditutup begitu saja.
Namun alasan utama masalah ini terjadi adalah karena mereka yang lebih dulu mencari masalah dengan Wahyu, jika Wahyu sembarangan membunuh orang yang tidak bersalah, dengan karakter Laila yang seperti itu, mungkin saja dia akan memasukkan Wahyu ke penjara.
……
Pagi harinya, Wahyu tidur sampai bangun dengan sendirinya.
Saat dia bangun, dia menemukan kalau Monita sudah pergi bekerja, di atas meja makan ada susu dan roti beserta sebuah catatan.
Di atas catatan itu tertulis serangkaian pesan yang ditinggalkannya.
Nomor 1: Pakaian Wahyu sudah terlalu kotor, aku sudah melemparkannya ke dalam mesin cuci.
Nomor 2: Wahyu jangan sampai lupa makan.
Nomor 3: Ini adalah nomor kontak kakak-kakak yang lain, dan juga jadwal kegiatan mereka.
Yania tidak perlu dihubungi, dia sering mengganti nomor teleponnya, tidak bisa dihubungi, hanya bisa menunggunya menghubungi orang rumah.
Salma setiap hari terbang ke sana ke mari, jika sedang beruntung, teleponnya bisa dihubungi, jika tidak beruntung, maka dia sedang ada tugas penerbangan, jadi mematikan telepon.
Sabrina adalah Direktur Rumah Sakit Siloam, biasanya ada di rumah sakit, mudah untuk dicari.
Laila adalah seorang polisi, waktu istirahatnya juga tidak menentu, namun ponselnya selalu berada dalam keadaan menyala, jika meneleponnya pasti akan bisa menemukannya.
Lana dan Yania sama, sangat susah untuk ditemui, jika sedang berada di tempat antah berantah maka teleponnya tidak bisa dihubungi.
Ningrum adalah artis di bawah naungan RAM agensi, dia adalah aktris film, sibuk syuting ke seluruh dunia, hobinya satu-satunya adalah melakukan siaran langsung, waktunya melakukan siaran langsung tidak menentu, jika ingin melihatnya, bukalah ponselmu, jika kamu sedang beruntung maka bisa melihatnya.
Wahyu bisa mengingat semuanya hanya dalam sekali lihat, begitu dia menyapu pandangannya sekilas, dia langsung bisa mengingat nomor telepon yang bisa digunakan untuk menghubungi beberapa kakaknya, kemudian dia membuka ponselnya dan memasukkan nama kakak-kakaknya menjadi sebuah tabel lalu mengirimkannya disertai dengan beberapa kata. “Aku ingin informasi lengkap orang-orang ini, terutama Lana dan Yania.”
Dikarenakan kebiasaan profesinya, catatan yang ditinggalkan Monita sudah berubah menjadi abu, kemudian Wahyu duduk dan mulai makan, selesai makan dia meletakkan piring dan sendoknya ke alat pencuci piring, setelah itu dia membuka ponselnya lalu mengunduh aplikasi tiktok, membuat sebuah akun yang diberi nama 《Akulah Yang Terhebat》, setelah itu dia membuka ruangan siaran langsung.
Sebenarnya Wahyu tidak pernah memainkan tiktok sebelumnya, untung saja pengaturan tiktok sangat user-friendly, ada penjelasannya, bagaimana cara mendaftarkan akun, bagaimana cara mengikuti host yang dia ingin lihat, bagaimana cara memberikan hadiah, bagaimana cara mendapatkan koin emas dan yang lainnya.
Karena Ningrum ingin mendapatkan followers, jadi dia menggunakan nama aslinya, Wahyu mencarinya sebentar lalu langsung menemukannya, kebetulan Ningrum hari ini tidak sedang syuting, jadi dia sedang melakukan siaran langsung, setelah Wahyu mengikutinya, dia masuk ke ruangan siaran langsung Ningrum.