Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Indonesia Pusaka


“Bagus! Juara kompetisi ternama memang sangat hebat.”


“Tommy, hebat, kamu bikin bangga kelas desain 86.”



Semua orang merasa lebih nyaman sekarang, kemudian mereka teringat kembali pada Wahyu dan menatap Wahyu dengan tatapan menantang.


Veronica merasa semakin senang, “Mon, Tommy sudah selesai nyanyi. sekarang giliran Wahyu.”


Monita agak kesal, Veronica benar-benar keterlaluan. Dia sudah tahu Wahyu tidak bisa menyanyi, eh malah menantangnya di depan semua orang.


Lagian, Monita juga mengakui suara Tommy bagus, mau gimanapun juga dia adalah juara kompetisi ternama, mana mungkin Wahyu bisa melawannya?


Namun, sekarang panah sudah berada di ujung busur, tidak mungkin tidak dilepaskan. Monita melihat Wahyu dengan tidak berdaya. Wahyu hanya tersenyum dan menggenggam tangan Monita, “Kak, percaya padaku.”


Setelah itu, dia mengambil mikrofon dan berjalan ke area KTV, “Semuanya, terima kasih atas perhatian kalian. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Lagu Indonesia Pusaka, aku persembahkan untuk kita semua, musik.”


Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya


Indonesia sejak dulu kala, slalu dipuja-puja bangsa


Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda


Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata


Tidak mungkin, ini tidak mungkin!


Tidak mungkin, ini tidak mungkin!


Termasuk Monita.


Termasuk Yara.


Termasuk Santika.


Semua teman-teman kelas desain 86, dan juga keluarga mereka.


Satu demi satu dipenuhi tanda tanya, keterkejutan, keheranan, kaget, dan benar-benar kehilangan fokus.


Penyanyi.


Wahyu membagi penyanyi ke dalam tiga ranah.


Pertama: Penyanyi dengan suara nyaring, suara merdu, suara menyenangkan, dan gema yang melekat. Ini adalah puncak kejayaan penyanyi di tahap awal.


Kedua: Penyanyi hati. Selain suaranya yang lembut dan indah, penyanyi harus bisa menghayati dan memasukkan perasaan ke dalamnya. Suara nyanyiannya membuat jantung berdetak kencang, hati bergejolak dan bisa merasakan emosi membara, sedih ataupun semangat.


Ketiga: Penyanyi jiwa. Ketika penyanyi mencapai tahap ini, maka dia telah mencapai puncak musik. Suara nyanyian seperti suara alam, dan menyatu dengan suara langit. Menyatukan suara nyanyian dan suara penggemar di bawah sehingga membuat resonansi.


Seiring dengan suara nyanyian, melodi musik, dan kekuatan jiwa, arti dari lirik dapat diceritakan dengan sempurna, membuat orang tenggelam di dalamnya.


Inilah penyanyi sebenarnya.


Jelas, Wahyu sudah mencapai tahapan ini.


Lagu selesai!


Semua orang terlena dan bengong melihat Wahyu.


Tommy adalah orang pertama yang tidak bisa menahan diri. Dia baru debut dan menjadi terkenal, tidak disangka malah dikalahkan oleh seorang sampah yang tidak terkenal, dia tidak bisa menerimanya!


Veronica juga terkejut, awalnya dia ingin menyerang Wahyu dan juga menyindir Monita, tapi tidak disangka malah dirinya yang kena sekarang. Dia ingin sekali mencari lubang untuk bersembunyi, karena itu dia ikut berteriak,“Ngak mungkin, ini ngak mungkin. Aku sepertinya pernah mendengar suara ini, pasti rekaman, ini bukan suara Wahyu.


“Wahyu, coba nyanyi satu lagu lagi kalau berani.”


Wahyu sudah tahu pasti hasilnya akan seperti ini. Saat suara musik belum sepenuhnya hilang, sebuah melodi indah mulai terdengar kembali.


Sesaat mata terpejam tirai imaji membuka


Semakin ku terlelap semakin jelas sangat senyuman


Tak ingin terjaga sampai aku pulang


Sesaat mata terpejam bintang-bintang menari indah


Iringi langkahmu rangkai mimpi yang semakin dalam


Tak ingin terjaga sampai aku pulang


Sebuah lagu lama belasan tahun lalu dari Sheila On 7 yang berjudul Ingin Pulang, lagu yang pernah menggetarkan seluruh Indonesia dan jutaan rakyatnya.


Sunyi, tak terkendali, dan banyak keengganan, perpaduan sempurna antara kerinduan, kelembutan, kesepian dan kesedihan.


Apa yang muncul di depan semua orang adalah sebuah pemandangan yang berbeda.


 Wajah berlinang air mata, membawa ransel, berjalan di jalan yang jauh dari ujung, berjalan selangkah demi selangkah, melihat ke dalam, menantikan kampung halamannya, dan merindukan keluarganya.


Setiap lirik, setiap kata yang tersirat, dengan darah, dengan air mata, dengan suara seorang pengembara, menantikan kembali untuk berkumpul dengan keluarganya.


“Wahyu…”


Air mata Monita kembali mengalir, saat ini dia mengalami semua pergolakan, semua kekecewaan, dan semua rindu yang Wahyu alami selama 20 tahun ini.


Demi kembali ke kampung halaman, bertemu dengan keluarganya sendiri, berapa kesulitan, berapa banyak penderitaan, berapa banyak hidup dan mati yang sudah Wahyu lalui. Di saat ini, semuanya muncul di hati Monita.


“Wahyu! Kamu sudah kembali sekarang, Kakak tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”


Suara musik berhenti.


Seluruh kelas desain 86 tidak ada yang mengatakan bahwa ini bukan suara aslinya lagi. Karena musik tiba-tiba berhenti di bagian akhir, dan hanya tersisa suara Wahyu yang bergema di udara, bergema di hati setiap orang.


“Mon, aku baru ingat ada urusan di rumah. Aku pergi dulu ya.”


Setelah merasa canggung, warna wajah Veronica sudah menghitam seperti terong, dia tidak bisa berada di sini lagi, kalau tidak akan dibunuh oleh tatapan semua teman-temannya.


Semua tatapan itu seperti pisau tajam yang terus menusuk jantungnya tanpa henti.


Semua karena dia, awalnya mereka bisa menyanyi bersama, minum bersama dan bernostalgia.


Namun, semuanya malah mulai menyerang Wahyu karena adu dombanya. Sekarang dia diserang balik oleh Wahyu, mana mungkin masih bisa terus di sini lagi!


Selain itu, waktu juga sudah menunjukkan pukul 17.00, ada teman yang jaraknya jauh mulai pulang duluan.


Seiring kepulangan Veronica, teman-teman lain juga mulai pamit. Acara reuni ini akhirnya berakhir.