
Jam 7 lewat 50.
Jam 8 kurang 10.
Lamborghini merah tiba di depan aula konvensi Yogyakarta tepat waktu.
Wahyu turun dari mobil memakai pakaian olahraga sederhana berwarna putih.
Di samping aula ada petugas keamanan khusus yang mendekati Wahyu untuk memeriksa tubuhnya, kemudian meminta Wahyu untuk memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang berada di samping, setelah itu mempersilakan Wahyu masuk .
Pada saat Wahyu memasuki pintu utama, seorang pelayan mendekatinya. “Bos, undangan Anda.”
Seorang pelayan yang sangat biasa, memakai seragam pelayan, kelihatannya masih muda, setelah berkata seperti itu, dia memberikan sebuah kartu undangan kepada Wahyu, kemudian pergi menjauh.
Wahyu menerima kartu undangan itu lalu langsung masuk.
Dia agak sedikit terlambat, di dalam aula sudah cukup ramai.
Aula dengan kapasitas 500 tempat duduk, sudah 50 yang terisi.
Setiap meja yang ada di depan tempat duduk tertulis sebuah angka, selain itu disediakan sebotol air mineral.
Wahyu membuka kartu undangan dan melihatnya, tempat duduknya adalah nomor 16, kemudian dia duduk setelah menemukan tempat duduknya.
Baru saja dia duduk, waktunya pas sekali, proses lelang sudah dimulai.
Beberapa anggota staf datang ke tempat pelelangan sambil membawa label harga di tangannya, kemudian dia mulai membagikannya sesuai urutan tempat duduk.
Informan Wahyu dari Sang Penakluk Dunia sudah pernah mendaftarkannya, jadi dia tidak perlu mendaftar lagi, anggota staf langsung memberikan nomor penawaran ke tangannya, di atasnya tertulis angka 6.
Kemudian anggota staf mengeluarkan selembar kode QR.
Ini adalah peraturannya, sebelum penawaran harus membayar deposit terlebih dahulu, jika penawaran berhasil namun pihak yang memenangkan penawaran mundur dari lelang, maka uangnya tidak akan dikembalikan.
Tanah nomor 1 di Yogyakarta harganya setinggi langit, uang depositnya saja 20 miliar rupiah, Wahyu mengeluarkan ponselnya lalu memindai kode QR yang diberikan, dia mentransfer 20 miliar rupiah.
Setelah membayar uang deposito dan pembawa acara selesai mengumumkan peraturan lelang, lelang resmi dimulai.
Dikarenakan ini adalah lelang tunggal, tidak ada barang lelang lainnya, jadi pembawa acara langsung mengumumkan. “Lelang tanah nomor 1 di Yogyakarta resmi dimulai, lelang dimulai dengan harga 60 triliun, setiap kenaikan tidak kurang dari 20 miliar.”
Tok!
Seiring dengan bunyi palu yang diketukkan, orang pertama memberikan penawaran.
70 triliun…
76 triliun…
84 triliun…
Ini adalah sepotong daging yang gemuk, jauh lebih bagus dari apa yang dipikirkan oleh Sabrina, harganya jauh lebih tinggi dari 60 triliun.
Lelang baru dimulai namun harganya terus merangkak naik, hanya dalam waktu 10 menit harganya sudah melonjak sampai 160 triliun.
Setelah 160 triliun, orang yang menawar semakin lama semakin sedikit.
Lebih dari 50 orang yang ada di sini berasal dari perusahaan raksasa yang ada di seluruh dunia, namun semuanya terlibat dalam bisnis real estate.
Pertimbangan pertama mereka adalah mendapatkan keuntungan, jika keuntungannya di bawah apa yang mereka harapkan, maka mereka akan menyerah.
10 menit sudah berlalu lagi, harga tanah nomor 1 yogyakarta sudah melonjak menjadi 240 triliun.
Semua perusahaan raksasa sudah menyerah, yang masih menawar adalah satu orang tua dan satu orang asing.
Mereka berdua saling tidak mau mengalah, membuat harga tanahnya terus naik.
260 triliun…
300 triliun…
360 triliun…
500 triliun…
Akhirnya orang asing yang berambut pirang itu mengeluarkan sebuah harga yang sangat tinggi, orang tua itu ragu-ragu, akhirnya dia tidak menawar lagi.
Pembawa acara yang ada di atas podium berteriak.“500 triliun 1 kali… 500 triliun 2 kali, masih ada lagi yang ingin menawar?”
600 triliun…
Dia sudah bisa menebak kalau si rambut pirang ini adalah orang dari kelompok mana, jika bukan dari Yakuza, maka dari Sindikat Capone, tidak peduli dari kelompok yang mana, yang jelas tidak boleh membiarkan mereka mendapatkan tanah ini.
Meskipun tanah ini bukan jantung dari Indonesia, namun dia menduduki tempat yang sangat penting di kota ini, begitu tanah ini dibeli oleh mereka, maka hal itu sama saja dengan menancapkan sebuah tongkat raksasa di jantung kota ini.
Sedangkan ketika tongkat ini diputar, maka pasti akan menimbulkan pertumpahan darah.
Si pirang sangat tenang.“700 triliun.”
Wahyu mengangkat label harganya lagi.“720 triliun.”
Si pirang menoleh dan menatap Wahyu lalu menaikkan alisnya, dia tidak mengerti dari mana orang Indonesia ini mempunyai kemampuan untuk bersaing dengannya, dia tersenyum mengejek.“1.000 triliun.”
Wahyu tersenyum sinis.“1.020 triliun.”
Seluruh aula lelang mendidih.
Harganya sudah beberapa atau bahkan belasan kali lipat dari nilai pasar tanah nomor 1.
Mereka tidak mengerti, untuk apa mereka menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli tanah ini.
Si pirang juga tidak bersuara lagi.
Harganya sudah jauh melebihi apa yang dia perkirakan, harga tanah nomor 1 ditambah dengan dana pengembangan lanjutan, dana kantor pusat mereka harus terus mengalir ke Indonesia, ini bukanlah niat awal mereka, mereka datang kemari untuk mencari keuntungan, bukannya untuk berkontribusi ke Indonesia.
Setelah Wahyu membuat penawaran, si pirang ragu-ragu.
Pembawa acara juga terheran-heran.“1.020 triliun 1 kali…1.020 triliun 2 kali… 1.020 triliun 3 kali, terjual.”
Tok!
Bunyi palu menandakan lelang berakhir.
Setelah lelang berakhir, selanjutnya adalah prosedur yang harus dilakukan, membeli tanah yang dananya harus dilunasi dalam waktu 7 hari, Sang Penakluk Dunia benar-benar mempunyai banyak uang.
Setelah prosedurnya selesai, Wahyu langsung membayar lunas lalu membawa dokumen yang bersangkutan dan segera pergi dari sana.
Saat dia sampai di pintu utama lagi, pelayan yang memberikan Wahyu kartu undangan berjalan mendekatinya. “Tuan, sudah malam, hati-hati di jalan.”
“Aku mengerti.” Wahyu mengangguk.
Dia tidak mengenal pemuda ini, namun dia tahu kalau dia adalah mata-mata yang ditempatkan militer di sini, mata-matanya memberi peringatan, di jalan tidak terlalu aman.
Wahyu melihat jam, kira-kira jam setengah 10, dia mendongak menatap langit, di bibirnya samar-samar terlihat senyuman mengejek, setelah itu dia masuk ke dalam Lamborghininya dan pergi dari sana.
Tidak ada orang yang berani mencari masalah di tempat yang jaraknya dekat dengan perkotaan, jadi Wahyu sama sekali tidak memperhatikan.
Lamborghininya dengan cepat keluar dari kilometer 10 lalu memasuki sebuah jalan panjang.
Di kedua sisinya penuh dengan bangunan perumahan, di sepanjang jalan setiap beberapa ratus meter dipasangi lampu jalanan, ketika Wahyu melewati lampu jalan ke 10, dia mengerem lalu keluar dari dalam mobil.
Di bawah lampu jalanan muncul sebuah batu besar yang menghalangi jalan.
Wahyu turun dari mobil, kedua tangannya memindahkan batu besar itu, kemudian dia kembali ke lamborghininya dengan santai.
Saat dia sampai di samping mobilnya dan bermaksud membuka pintu mobilnya, dari gedung di sisi kiri jalanan samar-samar terdengar sebuah suara.
Suaranya tidak besar, namun jika sampai di telinga Wahyu, itu tidak ada bedanya dengan suara deru pesawat, kedua kaki Wahyu tiba-tiba menjejak tanah lalu tubuhnya melesat terbang bagaikan meriam.
Itu adalah sebuah senjata sniper tipe 115a3, senjata ini disebut sebagai senjata sniper terbaik di dunia. Beratnya 6.8 kg, panjangnya 130 cm, kecepatan pelurunya bisa mencapai 936 meter per detik, selain itu juga dilengkapi dengan bidikan teleskopik berteknologi tinggi.
Selain itu penembak jitu ini sangat terlatih, dia tidak menembak saat Wahyu sedang memindahkan batu, melainkan saat Wahyu mengendurkan kewaspadaannya.
Hanya saja penembak jitu ini sama sekali tidak pernah menyangka kalau seseorang ternyata bisa mempunyai kecepatan secepat itu, saat peluru mencapai posisi target dengan kecepatan 936 meter per detik, target ternyata sudah menghilang.
Peluru yang sangat kuat ditembakkan ke kaca depan Lamborghini, menembus kacanya lalu masuk ke dalam tempat duduk bagian dalam.
“Fuck!”
Penembak jitu mengumpat keras, dia mendongak mencari targetnya.
Pada saat dia mendongak, sebuah bintang jatuh dari langit lalu masuk ke dalam tenggorokannya.
Itu adalah sebilah pisau, pisau yang sangat kecil dan tipis bagaikan sayap serangga, pisaunya tidak meleset sama sekali, langsung menghabisi nyawa penembak jitu.