Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 45. Kakak Akan Menghiburmu


Wahyu segera kabur dari sana.


Salma dengan pisau di tangannya. “Cepat berhenti.”


Wahyu berkata, “Aku tidak mau.”


Salma berkata, “Ke mana nyalimu itu? Bukankah kamu ingin menua denganku?”


Wahyu berkata, “Pokoknya aku tidak mau berhenti.”


Salma berkata, “Bukankah kamu tidak bisa menahan hawa nafsumu? Sini, biar kakak yang menghiburmu.”


Wahyu berkata, “Kakak, aku bersalah, aku benar-benar salah.”


Salma berkata sambil mengejar dari belakang. “Bukankah kamu tahu segala hal?”  


Wahyu baru menyadari kakak ketiganya bukan orang biasa, di dunia persilatan ada sebuah teknik bernama Terbang Di atas Rumput.


Walaupun tidak sehebat yang diceritakan novel, seolah-olah bisa terbang tanpa menyentuh tanah, karena semua itu hanya penipuan. Namun, kecepatan dari teknik ini benar-benar sangat tinggi.


Salma yang berlatih teknik ini terus mengejar Wahyu dari belakang. Wahyu yang kabur seperti kelinci segera bergegas ke arah pintu keluar.


Salma pun berteriak dari belakang. “Adik kelima, tutup pintunya.”


“Baik, kakak ketiga.”


Ketiga wanita cantik ini segera membayangkan kejadian Wahyu menggoda Salma. Laila yang berada paling dekat dengan pintu keluar segera berlari ke arah pintu dan menutupnya.


Wahyu benar-benar ingin mencari tempat untuk menangis, “Kakak, apakah kalian masih kakak kandungku?”


“Kakak pertama ….”


“Kakak keempat ….”


“Tolong!”


Monita dan Sabrina saling menatap, mereka pun berkata sambil tersenyum jahat. “Iya.”


Mereka berdua segera menangkap Wahyu dari kiri dan kanan, kemudian memukul bokongnya.


“Kakak, aku salah.”


Melihat tidak ada cara lain, Wahyu segera telungkup di lantai dan menaikkan bokongnya tinggi-tinggi seperti masa kecil. Empat orang kakak cantik ini pun segera memukulnya.


Kehidupan masa kecil mereka sangat sulit, semua tanggung jawab berada di tangan Raja Pengemis. Setiap hari, dia hanya mendapatkan beberapa perak, sehingga makanan yang dibeli juga sedikit. Dengan kondisi jumlah orang yang lebih banyak dari makanannya, siapa yang bisa benar-benar merasa kenyang?


Selain Ningrum yang sering berebut makanan dengan Wahyu karena lebih kecil, semua kakaknya sangat sayang kepada Wahyu, mereka diam-diam menyisakan bagian mereka untuknya.


Setelah belasan tahun, Wahyu yang menggemparkan dunia luar juga tidak melupakan tujuh kakaknya ini.


Walaupun mereka hanya hidup bersama selama lima tahun, hubungan di antara mereka sangat erat, kuat seperti kakak adik kandung. Wahyu tentu tidak tega melawan bali, keempat kakaknya juga tidak benar-benar memukulnya.


“Wahyu, kakak sangat merindukanmu.”


Salma menyuruh Wahyu berdiri dan menyeka air matanya.


“Kakak, aku harus minta maaf kepada kalian.”


Kedua mata Wahyu juga menjadi merah.


“Sudah sudah, jangan bersikap berlebihan lagi, kenapa kita semua harus menangis, bukan?”


Laila menyeka air matanya diam-diam, kemudian mendorong semua masuk ke dalam.


Wahyu masih memarahi Ahli Strategi dalam hati. “Dasar mulut jelek.”


Setelah berpikir sebentar, Wahyu merasa kalau Ahli Strategi telah mengetahui Wahyu menggoda Salma di dalam pesawat, sehingga Ahli Strategi pun mencari tahu informasi tentang Salma.


“Berani menjebakku, aku akan membongkar topengmu nanti.”


Hal ini terus menjadi perhatian Wahyu, Ahli Strategi selalu memakai jubah hitam yang longgar dan sebuah topeng dengan helm. Dia bahkan mengubah suaranya, sehingga sangat mirip dengan penyihir tua dari dunia barat.


Wahyu sampai sekarang tidak tahu apakah Ahli Strategi ini pria atau wanita.



Mereka berlima kembali ke ruang tamu. Setelah duduk di sofa, Monita baru berkata, “Wahyu, kamu benar-benar tidak tahu malu. Kenapa kamu berani menggoda kakak ketiga?”


Wahyu juga tidak berdaya, “Waktu itu memang sedikit mengejutkan, kalian juga tidak tahu. Kakak ketiga, kamu juga terlalu berlebihan, bukan? Ngomong-ngomong, kakak ketiga, apakah ini asli?”


Salma berkata dengan ekspresi masam, “Apa kamu ingin memeriksanya?”


Wahyu segera berkata, “Tidak berani tidak berani, apa karena kakak ipar yang mengajarimu dengan baik?”


Laila berkata, “Kepalamu itu! Kakak ketiga masih sendiri.”


“Oh! Kalau begitu, aku bisa lebih tenang,” ucap Wahyu dengan nada kecil.


Monita berkata, “Tidak usah basa basi lagi. Sekarang aku akan memberi tugas, adik kelima, kamu pergi beli beberapa kilo daging. Adik keempat, kamu beli beberapa bungkus mi, lalu aku akan membeli dua semangka besar. Adik ketiga baru pulang, kamu temani Wahyu sebentar.”


Monita jarang berada di rumah, sehingga tidak ada bahan makanan di rumah. Setelah memberikan perintah, mereka bertiga pun keluar bersama.


Ketika mereka bertiga pergi, di dalam ruangan hanya tersisa Wahyu dan Salma.


Wahyu bertanya dengan nada khawatir, “Kakak ketiga, apakah kamu sering bertemu dengan orang sepertiku?”


Salma menggelengkan kepalanya, “Walaupun jarang, tapi aku tidak pernah bertemu dengan orang yang seperti kamu. Biasanya mereka akan takut ketika aku berteriak.”


Wahyu mengulurkan tangan dan menggenggam kedua tangan Salma yang seksi, “Kakak, kamu sudah berumur 26 tahun, ‘kan? Kamu sudah saatnya pensiun.”