Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Cinta Sabrina


Wahyu melemparkan sebilah pisau lalu langsung masuk ke dalam Lamborghininya dan pergi dari sana bahkan tanpa melihat ke belakang lagi.


  Malam di musim kemarau, biasanya jam 9 masih ada cukup banyak orang berkeliaran di jalan raya, tapi hari ini sangat aneh, jalanan sangat sepi, bahkan bayangan hantu saja tidak ada.


  Tidak lama setelah Wahyu pergi, benar-benar muncul sebuah bayangan, orang itu adalah pemuda yang tadi memberikan kartu undangan kepada Wahyu, dia datang ke tempat Wahyu membunuh orang lalu mengitari rumah tempat penembak jitu bersembunyi tadi.


  Ketika dia muncul kembali, dia sudah sampai ke atap rumah sambil memegang sebuah botol di tangannya, dia membuka tutupnya lalu menyiramkan sedikit cairan ke atas mayatnya, tidak lama kemudian mayatnya meleleh sampai habis tak bersisa.


  Pemuda itu mengambil sniper lalu mengamatinya dengan bersemangat, dia memanggul sniper itu di bahunya kemudian mengambil pisau kecil yang bagaikan sayap serangga itu. Setelah itu dia melompat dari atas gedung dan masuk ke dalam bayangan.


  ……


  Di dalam rumah Sabrina.


  Waktu menunjukkan pukul 10 malam.


  Di dalam ruang tamu.


  Televisi masih menyala, namun kosong, tidak ada gambar sama sekali.


  Sabrina duduk di atas sofa di seberang televisi, matanya terus menatap ke arah televisi, kesepuluh jarinya menggenggam remot dengan erat.


  Kelihatannya sedang menonton televisi, namun jiwanya dari tadi sudah tidak ada di sana, ikut terbang bersama dengan Wahyu.


  Kelihatannya jika malam ini Wahyu tidak pulang, Sabrina akan termenung di atas sofa semalaman.


  Untung saja Wahyu meneleponnya.


  Suara telepon membuat Sabrina seolah-olah menangkap pelampung terakhirnya, dia langsung mengambil telepon yang dilemparkannya ke atas sofa.


  “Kak, aku sudah pulang.”


  Saat dia mendengar hal ini, Sabrina bagaikan bola karet yang dikempeskan, tubuhnya seketika terasa lemas.


  Karena tadi terlalu tegang lalu tiba-tiba berubah santai, hal itu menyebabkan dia hampir saja pingsan. Namun, dia menguasai dirinya dengan cepat, dia segera membuka pintu untuk Wahyu dengan wajah yang sangat bahagia.


  “Wahyu, tidak terjadi apa-apa padamu, bukan?”


  “Kak, kamu tidak perlu tegang seperti itu, semuanya lancar.”


  Wahyu masuk ke dalam sambil mengerutkan keningnya, penglihatannya melebihi orang biasa, meskipun Sabrina berpura-pura tidak terjadi apa-apa, akan tetapi kekhawatirannya sama sekali tidak bisa disembunyikan di hadapan Wahyu.


  Sabrina tetap tersenyum. “Wahyu, kamu sudah dewasa, mempunyai karirmu sendiri, kakak tidak khawatir.”


  “Kak, maaf.”


  Wahyu melangkah mendekat lalu memeluk Sabrina dengan penuh perasaan, ada beberapa hal yang awalnya tidak ingin dia katakan, tapi dia tiba-tiba merasa jika tidak diucapkan, kakak keempatnya yang lemah lembut ini tidak akan bisa menanggung tekanan yang dibawa oleh dirinya.


  “Kak, sebenarnya aku masih mempunyai 1 hal yang belum aku beritahukan kepadamu.”


  “Hal apa.”


  Sabrina memeluk Wahyu dengan sangat erat, berusaha keras untuk menenangkan dirinya.


  Wahyu berkata dengan lembut di telinga Sabrina. “Kak, sebenarnya aku tidak mempelajari seni bela diri, aku tidak mewarisi kemampuan Pak Tua, aku juga tidak berlatih taekwondo, tinju, karate dan teknik bela diri lainnya. Di hari ke 11 penjahat itu menculikku, aku digigit oleh semut berwarna emas, dari sejak saat itu, tubuhku mengalami perubahan. Kekuatanku sangat besar, meskipun Kak Monita sudah dan hitam, kekuatannya masih belum sepersepuluhnya kekuatanku. Kecepatanku sudah melebihi batas manusia biasa, kecepatan peluru biasa tidak bisa melebihi kecepatanku, mataku bisa tembus pandang. Untuk saat ini aku bisa melihat menembus barang-barang seperti kertas atau kain, tapi aku merasa kalau kekuatanku sedang terus berkembang, di kemudian hari kemungkinan besar aku bisa melihat menembus benda-benda yang lebih padat dan lebih besar. Selain itu intuisiku, aku bisa merasakan adanya bahaya apapun dalam radius seratus meter, aku bisa merasakan prinsip komposisi dan komponen dari segala hal yang ada di dunia ini. Jadi aku memulai bisnisku dengan bertaruh batu-batuan berharga, karena aku bisa merasakan di dalam batu itu mengandung giok atau tidak...  sekarang yang paling aku khawatirkan adalah kalian. Apakah identitas khususku akan membawa masalah bagi kalian, aku terus merasa ragu haruskah aku bersama dengan kalian…”


  Perkataan Wahyu ini sangat penuh dengan cinta dan perhatian yang tulus, dengan terus terang tanpa ada yang ditutupi mengeluarkan segala rahasia yang dimilikinya.


  Tapi Sabrina tidak mempercayainya sama sekali, dia merasa ini adalah pil penenang yang diberikan oleh Wahyu untuknya demi meringankan tekanan yang dirasakannya.


  Digigit semut? Kamu kira kamu spiderman? Batman atau superman?


  Sabrina tidak mempercayainya sedikitpun.


  Akan tetapi perkataan Wahyu selanjutnya membuat kaki Sabrina terhuyung.


  Wahyu berbisik di telinga Sabrina. “Kak, hari ini kamu memakai ****** ***** berwarna pink, di paha bagian dalam ada tahi lalat sebesar kuku jari.”


  Sabrina segera meloncat keluar dari dalam pelukan Wahyu.


  Hal ini bukan dikarenakan dia tidak cukup terkendali, tapi ini adalah reaksi normal dari seorang wanita pada umumnya.


  Meskipun mereka adalah kakak adik, tapi bagaimanapun juga mereka sudah dewasa, agar tidak menimbulkan kecanggungan, Sabrina sengaja memakai piyama katun hitam, jadi meskipun di bawah cahaya lampu tidak akan terjadi hal-hal yang memalukan.


  Akan tetapi…


  Sabrina merasa heran, jika bukan karena matanya bisa tembus pandang, bagaimana caranya Wahyu bisa tahu? Waktu kecil mereka memang sering bermain bersama, tapi pada saat itu Wahyu belum berumur 5 tahun, selain itu Wahyu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melihat bagian tubuhnya yang paling tersembunyi.


  “Wahyu, aku tidak percaya.”


  Sabrina menggeleng dengan sekuat tenaga, berusaha untuk mengembalikan kewarasan dirinya, sebagai seorang dokter senior, dia tahu kalau potensi seseorang tidak terbatas, tapi jika bermutasi, kemungkinannya sangat kecil.


  Setidaknya di dalam seratus tahun, manusia tidak akan bisa memecahkan belenggu ini.


  “Kak, aku mandi dulu terus tidur.”


  Wahyu tahu kalau Sabrina tidak akan percaya, selesai berbicara dia tersenyum pahit lalu berjalan ke kamar mandi.


  “Berhenti.”


  Ketujuh kakak Wahyu bukan orang yang mudah dihadapi, Sabrina kelihatannya lemah lembut dan baik hati, bersih seperti seorang perawan, tapi gerakannya secepat kelinci yang melarikan diri, selain itu dia juga menguasai taichi yang sangat langka.


  Begitu Sabrina menyerang, auranya langsung berubah, sebuah jurus burung bangau melebarkan sayap, cepat seperti angin, langsung menyerang ke belakang Wahyu.


  Wush!


  Wahyu tidak menoleh, dengan sangat mengejutkan menghilang dari hadapan Sabrina, kemudian saat Sabrina merasa sangat terguncang, dia tiba-tiba menyadari pinggangnya dipeluk dengan lembut oleh seseorang!


  “Testnya sudah selesai, orang tua seperti Anda bisa tidur dengan tenang.”


  Wahyu mencium telinga Sabrina dengan lembut, lalu berbalik ingin pergi dari sana, tapi Sabrina memanggilnya. “Wahyu, jangan pergi dulu, kemari biarkan aku menyentuhmu.”


  “Kak, menyentuh apanya?”


  Wahyu benar-benar tidak mengerti, Sabrina biasanya sangat serius, tapi saat dia menoleh dan tersenyum, bahkan selir-selir di istana saja terlihat tidak berwarna, bagaikan musim dingin yang seketika berubah menjadi musim semi dengan bunga-bunga yang bermekaran, pemandangannya benar-benar menakjubkan.


  “Kak!”


  Wahyu berjalan lurus ke arahnya.


  “Wahyu, kakak sangat mencintaimu!”


  Sabrina memeluk Wahyu dengan sangat erat, kemudian Wahyu melolong seperti serigala. “Argh… telurku!”dia langsung melompat masuk ke dalam kamarnya seperti kelinci sambil menutupi celananya dan melompat-lompat selama 3 menit.


  “Kak, kau adalah kakakku atau bukan! Di dunia ini mana ada orang yang mencintai seperti itu!”


  Wahyu ingin menangis, baru saja dikerjai oleh kakak pertamanya, sekarang dikerjai lagi oleh kakak keempatnya, jika dia tidak mempunyai bakat khusus, telurnya pasti sudah hancur.


  “Benar-benar sial.”


  Sabrina masih terpaku di tempat yang sama, dia tidak bergerak sama sekali, 5 menit kemudian, bibirnya menggumamkan sesuatu lalu kembali ke kamar tidurnya dan tidur.


  ……


  Hari berikutnya Sabrina melihat bekas tembakan peluru di kaca depan mobil Lamborghininya. Menurut analisis balistik, peluru sepertinya ditembakkan dari ketinggian, menembus kaca lalu masuk ke kursi pengemudi.


  Saat itu jika ada orang di kursi pengemudi, maka hasilnya dapat diprediksi.