Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 44. Kakak, Aku Bersalah


Hotel Long Beach.


Yara sedang berbaring di ranjang dan tidak bisa tertidur. Ketika mendengar suara dering ponsel, dia segera mengambil ponsel dan membaca pesan yang masuk. Kedua matanya pun memerah, Yara pun bergumam, “Pergi sana, tidak usah peduli denganku.”


Setelah sesaat, dia pun mengirimkan pesan. “Tidak sakit lagi.”


Ponselnya kembali berbunyi, Yara pun melihat sederet pesan. “Wanita cantik, selamat ulang tahun.”


Yara pun membalas pesannya. “Wahyu, aku cinta kamu. Aku berharap kamu bisa berada di sisiku setiap ulang tahun.”


Ini merupakan pertama kali bagi seseorang untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yara.


Karena Ibu dari Yara meninggal di hari ulang tahun Yara, sehingga dia jarang mengungkit ulang tahunnya. Bahkan, teman baiknya yang bernama Monita juga tidak pernah mengucapkannya.


Namun, informasi ini tentu saja tidak bisa dirahasiakan dari Andre. Ketika Andre mengatakan hal ini, Wahyu kebetulan juga mendengarnya.


Setelah itu, Yara yang merasa lega pun memeluk guling dan terlelap.



Di sisi lain, Wahyu yang bersiap untuk istirahat tiba-tiba mendengar dering telepon.


“Bos, kamu ingin pergi mencari adikku? Bos, kamu harus menyelamatkannya. Bos, di dunia ini hanya kamu yang bisa menyelamatkannya. Aku akan bersujud kepadamu.”


Di seberang telepon, ada seorang anak muda dengan rambut berantakan dan permen di mulutnya. Di depan anak muda ini, terdapat berbagai jenis super komputer.


Awalnya, anak muda ini duduk saling menyilangkan kaki. Tiba-tiba dia berdiri, meletakkan ponsel ke atas meja dan bersujud tiga kali ke arah ponsel itu.


Orang ini bernama Wira, dia adalah satu-satunya pengendali superkomputer Sang Penakluk Dunia. Semua rahasia Sang Penakluk Dunia berada di dalam kepalanya.


Walaupun penampilan anak muda ini terlihat berantakan, dia bisa masuk ke dalam sistem keamanan apa pun dalam 10 detik. Dia juga pernah melawan ratusan hacker dari organisasi gelap di dunia barat.


Wahyu menganggap Wira sebagai harta karun Sang Penakluk Dunia, Wira juga menganggap Wahyu sebagai kakaknya sendiri.


Wira pernah memberitahu Wahyu bahwa dia memiliki seorang adik yang genius. Adiknya ini memiliki kemampuan komputer yang lebih hebat dari dirinya, tapi karena miskin, adiknya menjadi lumpuh setelah terkena polio dan tidak ada uang untuk berobat.


Wira bekerja keras di dalam negeri, dia juga meminjam banyak pinjaman berbunga tinggi agar adiknya dapat belajar komputer. Kemudian untuk menghindari para rentenir, dia pun kabur ke luar negeri.


Wira sudah hampir lima tahun tidak pernah menghubungi adiknya. Ketika Wahyu pulang, Wira sempat meminta tolong kepadanya untuk pergi menjenguk adiknya.


Hal ini merupakan keinginan Wira.


Wahyu tersenyum dan berkata, “Tidak perlu berlebihan seperti ini. Adikmu juga merupakan adikku, cepat kirim alamatnya.”


Ting!


Wahyu menerima sebuah pesan, “Kalimantan Barat, Desa Sukajadi.” Kemudian Wira juga meninggalkan pesan di belakangnya, “Bos, setelah naik bus sejauh 200 km dari Kalimantan Barat, kamu hanya perlu memakai sepeda sejauh 300 km ke arah barat.”


Sialan! Mengayuh sepeda sejauh 300 km, apa kamu ingin membunuhku?


Wahyu menutup ponselnya.



Pagi hari.


Bel pintu berbunyi di Vila milik Monita yang berada di Kota Yogyakarta.


Laila, “Kakak ketiga, kamu sudah tua.”


Monita, “Adik, apa kamu sudah punya pacar? Jujur!”


Salma, “Pacar kepalamu itu. Aku juga ingin punya pacar, sayangnya tidak ada yang mau.”


“Oh iya, jangan membicarakanku lagi. Bagaimana dengan Wahyu? Apa dia terlihat tampan?”


Sabrina tersenyum elegan dan berkata, “Kenapa? Kamu merindukannya? Aku kasih tahu, dia bukan hanya tampan, tapi juga sangat kuat. Kami berempat tidak sanggup mengalahkannya.”


“Aku tiba-tiba teringat satu hal, aku bertemu seorang preman di dalam pesawat kemarin, dia bahkan berani mempermainkanku. Kalau ada waktu, aku akan menyuruh Wahyu untuk mengejarnya.”


Di sebuah jalan raya yang luas.


Mendaki melintas bukut, berjalan letih menahan berat beban


Bertahan di dalam dingin. Berselimut kabut Ranu Kumbolo ….


Jam 5 pagi.


Wahyu mengayuh sepeda dengan sangat cepat


Hebat!


Sialan! Benar-benar hebat!


Orang-orang yang berada di pinggir jalan terus menatapnya, mereka tidak pernah melihat orang mengayuh sepeda dengan begitu cepat. Dengan kecepatan yang begitu tinggi, sebuah keajaiban bahwa pedal sepedanya tidak rusak.


Wahyu juga tidak bisa berkata-kata.


Memikirkan perjalanan sejauh 300 km membuat Wahyu kesakitan. Dia sudah lama tidak menggunakan sepeda, walaupun bokongnya sanggup menahan gesekan, bagian ************ pasti tidak akan bertahan!


Demi ************ yang tercinta, Wahyu ingin berlatih terlebih dahulu. Waktu terbaik untuk berlatih adalah pagi hari, apalagi jika bisa bertemu dengan wanita cantik.


Selain menyapa, dia juga bisa menggodanya. Kalau bisa sarapan bersama, tentu lebih baik.


Sayangnya, harapannya tidak terwujud.


Ketika Wahyu sampai di depan vila milik Monita, dia tidak melihat satu pun wanita cantik. Namun, dia sempat bertemu beberapa nyonya tua.


Kesadaran akan kesehatan orang tua lebih tinggi dari pada anak muda di zaman sekarang.


Namun tidak apa-apa, karena Wahyu akan segera bertemu dengan kakak ketiga.


Wahyu meletakkan  sepedanya di depan vila milik Monita, kemudian berlari masuk ke dalam sambil berteriak, “Kakak, aku sudah pulang. Kakak ketiga, aku sudah pulang.”


Di dalam ruang tamu, ekspresi empat orang wanita cantik ini terlihat sangat marah.


Setelah mendengar cerita Salma, Laila langsung kesal, “Apa? Ada yang berani menindas kakak ketiga? Lancang sekali.”


Monita berkata, “Betul, suruh Wahyu temani kamu pergi kerja. Kalau bisa bertemu dengan orang itu, kita harus memberinya pelajaran.”


Sabrina juga ikut berkata, “Kakak ketiga, tenang saja. Kemampuan tempur Wahyu dapat membuat bocah itu menderita.”


Ketika mereka berempat sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Monita lalu berdiri dengan semangat. “Ayo, Wahyu sudah pulang.”


Mereka berempat pun berjalan ke arah pintu.


Ketika masuk ke dalam, Wahyu pun tertegun, “Astaga, bukankah aku hanya menggodamu sebentar saja? Kenapa kamu harus sampai datang ke sini?” Dia tertegun melihat wanita cantik di depan matanya.


Salma juga tertegun, dia menatap anak muda tampan dan tinggi di depannya ini. Beberapa ucapan Wahyu kembali muncul di benaknya. “Sialan, bocah sialan kamu. Wahyu!”


Salma ingin mencari senjata, tapi setelah melihat kiri dan kanan, dia tidak menemukannya. Setelah itu, dia segera berlari ke arah dapur, mengambil pisau dan berlari kembali.


Wahyu juga tercengang.


Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi.


Kenapa dia bisa sampai menggoda kakaknya sendiri?


“Kakak, aku salah.”  


“Kakak, kakak ketika yang cantik dan aku hormati. Kakak ketiga yang disukai semua orang, aku tahu aku salah.”