Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 43. Darah Bercipratan


Si penembak jitu menyadari Wahyu pada saat yang bersamaan dengan Yara. Melihat Wahyu berada di depan mata, dia segera menarik pelatuknya.


Pada saat yang sama ketika terdengar suara tembakan, Yara juga berteriak. Namun, mulut senjata tiba-tiba terangkat dan peluru melesat melewati kepala Wahyu.


Ketika Wahyu mengangkat mulut senjatanya, pada saat yang sama, dia segera maju ke depan dan menyerang dada si penembak jitu dengan siku kanannya.


Krak!


Di malam hari, suara tulang patah terdengar sangat jauh. Penembak jitu pun terpental dengan organ tubuh dan tulang rusuk yang telah hancur berantakan.


Pada saat yang sama, Wahyu merebut senjata si penembak jitu dan segera melepaskan tembakan tanpa melihat. Peluru yang dilepaskan terbang melewati pelipis telinga Yara.


Ah ….


Di belakang Yara, terdengar jeritan penembak jitu yang lain.


Kemudian diikuti suara lain yang berkata, “Kita sudah ketahuan, cepat bunuh dia.”


Belasan orang berbaju hitam membawa golok dan mengepung Wahyu. Mereka segera menyerang Wahyu bersamaan.


Karena malam hari yang gelap, hanya bisa terdengar suara jeritan dan tidak terlihat apa pun.


Pembantaian secara satu pihak.


Wahyu bergerak secepat kilat, setelah melesat melewati orang-orang itu, semuanya pun terjatuh ke tanah.


Ini ….


Yara bukan tidak pernah melihat pembunuhan, tapi dia tidak pernah melihat pembantaian yang begitu menyeramkan.


Setelah mendekat, dia mencoba menghitungnya. “Satu … dua … tiga ….”


Ditambah dua orang penembak jitu, total ada 13 orang yang dibunuh oleh Wahyu dalam waktu 10 detik.


Yang paling menakutkan adalah kecepatan Wahyu. Yara pernah melihat bintang jatuh dan kilatan petir, tapi kecepatan Wahyu tidak kalah dengan kecepatan kedua hal itu.


Kalau Yitno berada di sini, dia pasti akan menarik napas dalam-dalam, serta bersyukur telah membuat pilihan yang tepat. Karena Wahyu sengaja memberikan data yang sudah diperlambat kepada Yitno untuk dianalisis.


Yang artinya, Wahyu mungkin saja membunuh semua orang di dalam kediaman itu termasuk Yitno dalam waktu lima menit.


Setelah menatap Wahyu sejenak, Yara pun bertanya dengan heran. “Apa kamu sudah mengetahui semua ini? Sehingga sengaja menarik perhatian musuh denganku?”


Wahyu mengangguk dengan pelan. “Keluarga Lazuardi tidak akan tinggal diam dengan kejadian yang menimpa Andre. Tapi, semua ini hanya peringatan kepada mereka agar tidak melakukan hal lain. Kalau tidak, mereka akan menyinggung sebuah sosok yang menakutkan.”


“Kakak ketiga sudah pulang, kalau aku tidak pulang sekarang, aku pasti akan dipukul olehnya.”


“Sampai ketemu lagi, jaga baik-baik paha mulus ini, aku akan memeriksanya lain kali. Selain itu, kamu coba pelajari dalam beberapa hari ini, bagaimana untuk mengembangkan hotel ini? Aku berharap hotel kita bisa memiliki banyak cabang lainnya.”


Setelah melontarkan ucapannya, Wahyu melambaikan tangan dan berjalan pergi. Dia meninggalkan pesan, “Cari orang untuk membuang mayat-mayat ini ke laut, seharusnya tidak ada yang akan mempertanyakannya. Selain itu, simpan senjata ini dengan baik dan jangan dibuang.”


Selesai berkata, dia menghilang dari pantai ini.


Malam ini, Yara dipastikan tidak bisa tertidur dengan lelap.


Setelah Wahyu pergi, Yara diam-diam mendatangkan dua orang pelayan dan memberikan mereka uang dalam jumlah banyak. Dia menyuruh dua orang ini untuk membuang mayat-mayat ini ke dalam laut lepas, Yara lalu membawa senjata itu kembali ke kamar tidur.


Dia tidak bisa tertidur, benaknya dipenuhi oleh bayangan Wahyu.


Wahyu sudah berada di dalam pesawat rute Surabaya ke Yogyakarta, pesawat pun terbang ke atas diiringi suara mesin yang keras.



Malam ini terlihat indah dan cerah.


Lewat jendela pesawat, bintang-bintang yang terlihat lebih banyak dari pada saat di bawah.  


Beberapa penumpang di dalam pesawat sedang tertidur dengan lelap. Setelah melihat bintang dengan santai, Wahyu pun menghubungi nomor telepon yang panjang itu. Dari seberang telepon terdengar suara mesin, “Yang mulia Sang Penakluk Dunia, kalau waktu tidak berhenti berputar, seharusnya jam menunjukkan pukul dua subuh di tempat anda ….”


Sialan!


Wajah Wahyu menjadi masam, orang ini akan menggunakan nada yang aneh ketika sedang memikirkan sesuatu.


Wahyu juga hanya bisa tersenyum, dia pun berkata, “Aku ada tiga hal sederhana.”


“Pertama, suruh Lupin untuk segera menyelesaikan rancangannya. Sekarang kita sudah mendapatkan lahan, sehingga bisa segera mulai dikerjakan. Jika mereka belum mendapatkan orang-orang, kita bisa mengutus beberapa orang ke sini.”


“Kedua, beritahu Wira, besok atau lusa aku bisa mewujudkan keinginannya.”  


“Ketiga, aku belum tidur bukan karena tidak ada kerjaan, tapi terlalu senang dan tidak bisa tidur karena ingin bertemu kakak ketiga.”


Suara mesin yang dingin terdengar kembali. “Yang mulia Sang Penakluk Dunia, aku sarankan untuk jangan terlalu senang, karena akan membuat kamu semakin kecewa nantinya.”


“Sialan, kenapa kamu mengutukku? Awas kamu, aku akan memukulmu setelah pulang nanti.”


Wahyu memutuskan teleponnya. Setelah berpikir sebentar, dia mengirimkan pesan ke Yara,.“Masih sakit?”