
Orang itu melanjutkan, “Pertarungan itu membuat nama Sang Penakluk Dunia terkenal di dunia barat. Di saat yang sama, para bawahan siap mati semakin mengagumi sosok Sang Penakluk Dunia ini. 2 tahun lalu, kekuataan Sang Penakluk Dunia mulai masuk ke dalam negeri. Tapi hanyalah beberapa bawahannya, kemudian 2 bulan yang lalu, Sang Penakluk Dunia membeli 2 perusahaan obat di Indonesia.”
“Oh iya, penjualan tanah di kota Yogyakarta 2 hari lalu, Sang Penakluk Dunia yang membelinya dengan harga 1.020 Triliun. Orang yang membayar adalah dia. Walaupun kami mencurigai bahwa dia adalah Sang Penakluk Dunia, tapi setelah melalui beberapa kesimpulan dan identifikasi, banyak hal yang tidak cocok dengannya.”
“Uhm.”Pria tua mengiyakan, lalu bertanya, “Di mana 2 pria tua itu sekarang?”
Orang itu menjawab, “Di halaman timur.”
“Bawa aku ke sana.”
Selanjutnya, orang itu membawa pria tua masuk ke sebuah jalur rahasia di ruang tamu utama, saat keluar, mereka berada di sebuah halaman yang tidak besar.
Mereka berdua masuk ke sebuah kamar dan melihat 2 orang pria tua.
Satu orang biksu dengan pakaian yang sudah robek, dan satu orang pendeta Tao dengan pakaian yang robek-robek juga.
Pria tua berjalan masuk dan bertanya, “Bagaimana?”
Biksu menjawab: “Sangat kuat, kalau kami satu lawan satu dengannya, sama sekali tidak ada kemungkinan menang. Tetapi jika kami bertarung bersama, dalam seratus jurus seharusnya bisa mengalahkannya. Tetapi, di dalam tubuh orang ini mengalir Garis Keturunan Serigala Darah, selain itu juga ada sebuah kekuatan yang sangat aneh. Sampai sekarang kekuatan itu masih belum meledak, kalau sampai meledak, walaupun kita bertiga bekerja sama, juga akan dibunuh dalam hitungan detik.”
Selesai berkata, Biksu melanjutkan lagi, “Apa kita akan memberikan Kitab Legenda Gaib kepadanya? Kalau kita memberikannya, tidak ada yang bisa mengalahkannya lagi di dunia ini.”
Pria tua menggelengkan kepala dan berkata, “Sementara simpan Kitab Legenda Gaib, berikan Token Naga Hitam kepadanya.”
“Baik!” Biksu mengangguk, kemudian pendeta Tao yang berada di samping biksu berjalan kemari dan mengeluarkan sebuah token sebesar telapak tangan dari sakunya, sebuah token berwarna hitam dengan gambar naga hitam di depannya, dan di bagian belakang tertulis, “Token Naga Hitam.”
Pria tua memberikan token kepada orang yang membawanya kemari, dan berkata, “Berikan kepadanya, suruh Yitno bawa dia pulang.”
“Siap!”
Orang itu membawa token dan berjalan keluar dari halaman kecil, kemudian masuk ke halaman besar.
Yitno dan yang lain sedang mondar-mandir di depan halaman dengan panik.
Lalu ketika orang ini datang, Lesti langsung menghampirinya dan berkata, “Kak Wiliam, gimana?”
Kak Wiliam berkata,“Tenang saja, tidak ada apa-apa, hanya pengecekan seperti biasa. Kalian tunggu sebentar di sini, aku akan membawanya keluar.”
Sambil berkata, dia meninggalkan 4 bersaudara ini di luar dan masuk ke dalam. Dia mengeluarkan sebuah obat dan memberikannya kepada Wahyu, Serigala Darah di punggung Wahyu seketika menghilang.
Dia baru berteriak, “Masuklah.” Saat 4 bersaudara itu masuk, dia baru berkata, “Ini adalah Token Naga Hitam, kalau dia sudah sadar, kalian berikan kepadanya. Sekarang kalian boleh pergi.”
“Apa? Ayah memberikan Token Naga Hitam kepadanya?”
Mata mereka berempat hampir copot, tapi juga tidak berani bertanya. Setelah menerima Token Naga Hitam, mereka menyuruh seorang pelayan untuk membawa Wahyu keluar.
Lalu sangat kebetulan, saat keluar dari sana, ponsel Lesti dan Yitno sama-sama berbunyi. Mereka menerima telepon dan berkata kepada Abraham dan Budiman,“Kami ada urusan lain, bocah ini kami serahkan kepada kalian. Kalau dia sudah sadar, cari orang untuk bawa dia pulang ke Yogyakarta.”
Setelah itu mereka langsung pergi.
Budiman juga berkata, “Kak, aku juga ada urusan penting, jadi mohon bantuanmu.” Setelah itu dia juga pergi.
Abraham hanya bisa menggelengkan kepala tidak berdaya, dia membawa Token Naga Hitam dan menyuruh bawahannya memasukkan Wahyu ke dalam mobil.
Di sisi lain, Lesti dan Yitno memang ada urusan. Namun, ketika mereka masuk ke dalam mobil, mereka langsung menelpon terlebih dahulu.
Lesti berkata, “No, apa yang terjadi, kenapa Ayah bisa memberikan Token Naga Hitam kepadanya?”
Yitno merasa bingung, “Aku juga tidak tahu kenapa. Kak, apa bocah itu benar-benar punya hubungan dengan kita?”
Lesti berkata, “Tidak mungkin, walaupun umurnya cocok, tapi pasti tidak mungkin. Aku sudah melihatnya mati dengan mataku sendiri.”
Yitno berkata, “Kak, kamu jangan panik dulu. Kita pikirkan dulu, apa mungkin waktu itu saat adik kelima mati, sebenarnya ibunya melahirkan bayi kembar. Jadi 1 yang mati, terus masih ada 1 yang hidup.”
“Tidak mungkin, aku yang menemani wanita itu pergi ke rumah sakit, dokter mengatakannya dengan jelas kepadaku, hanya 1 anak saja.”
“Kalau begitu apa mungkin kalau anaknya tertukar?”
Lesti menjawab, “Ini juga tidak mungkin, waktu itu aku ada di sana, aku juga sudah melakukan pengujian paternitas dan memastikan anak yang mati adalah anaknya adik kelima. Juliusku yang malang.”
Lesti mulai menangis ketika mengungkit tentang masa lalu.
Yitno berkata, “Sudahlah, sudah lewat berapa tahun, kamu masih saja tidak bisa melepaskannya.”
Lesti berkata, “Tidak akan, aku tidak akan melupakannya. Jika waktu itu Ayah punya sedikit saja rasa kasihan, semuanya tidak akan jadi begini. Julius yang malang, kita sudah bersalah kepadanya. Kasihan sekali dia, baru lahir sudah pergi begitu saja, aku tidak akan memaafkan diriku selamanya.”
“Kak, kamu sudah berusaha, demi urusan adik kelima, kamu bahkan mengancam ayah dengan kematianmu. Kalau bukan kami datang tepat waktu, mungkin kamu juga akan berakhir. Lupakanlah, sudah 20 tahun berlalu, kenapa harus dipikirkan terus? Sebenarnya ini semua juga karena wanita kejam itu, bisa-bisanya dia membunuh seorang anak yang bahkan belum genap sebulan.”
“Tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya, keluarga Hutomo yang mengkhianatinya. Aku bisa mengerti, kalau aku yang jadi dia, mungkin akan lebih kejam lagi.”
Yitno berkata, “Jadi Kak, lupakanlah. Biarkan masa lalu berlalu, jangan diingat lagi.”
“Tidak akan, tidak akan. Setiap kali aku menutup mata, aku bisa melihat wajah yang lucu itu. 20 tahun sudah berlalu, dia seperti masih hidup di depan mataku, setiap hari menatapku dengan sepasang matanya yang bulat.”
“Aku seperti bisa mendengar dia memanggilku, tante, tante! Bagaimana mungkin aku melupakannya, dia bahkan belum sempat memanggilku tante.”
Mungkin karena terlalu emosional, selesai bicara, Lesti langsung mematikan teleponnya.
“Ei!”Yitno menghela nafas, “Aku tidak tahu apa kamu bisa melupakannya atau tidak. Namun, aku tahu, kemunculan Token Naga Hitam menandakan dunia yang sudah tenang selama 30 tahun terakhir, akan kembali terjadi pertumpahan darah.”
…
Yitno dan Lesti memang ada urusan.
Tetapi tidak dengan Budiman, dia hanya merasa tidak enak bersama Wahyu, sehingga mencari alasan untuk pergi. Setelah masuk ke dalam mobil, dia langsung menelpon Faisal, anak ketiganya, “Anak sialan, mulai sekarang kamu jangan ganggu Wahyu lagi.”
Di seberang telepon, Faisal sedang memegang kepala dan ada yang mengobatinya, dia berkata dengan wajah sedih, “Ayah, dia sudah memukulku jadi begini, kenapa dibiarkan saja? Sejak kapan keluarga Hutomo jadi penakut?”
Budiman tersenyum dingin dan berkata, “Kalau tidak takut mati, silakan saja. Tapi jangan seret Kakak pertama dan kedua-mu. Kalau tidak, aku akan mengulitimu hidup-hidup. 1 hal lagi, pria tua memberikan Token Naga Hitam kepadanya.”