
Wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk mandi.
Ketika Santika keluar dari kamar mandi, waktu telah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit.
Seperti dugaan Wahyu, Santika memilih baju tidur berwarna merah gelap. Karena warna yang lebih gelap, tingkat transparannya menjadi lebih buruk.
Namun, baju tidur seperti ini juga membuat Santika merasa tidak aman. Dia membuka pintu dan mengintip keluar, setelah itu dia langsung berjingkat ke kamar tidur.
Ternyata dia melihat Wahyu sudah tertidur di atas sofa.
Pria ini!
Santika bahkan tidak sadar bahwa pandangan dia terhadap Wahyu mulai berubah, walaupun hanya sedikit.
Melihat Wahyu sudah tertidur, dia langsung naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi badannya. Setelah 10 menit, dia mulai tertidur.
Sekitar pukul dua subuh, Santika terbangun karena kesakitan.
Santika terlalu keras kepala, dia tidak menuruti perkataan Wahyu untuk jangan mandi air dingin. Karena kondisi cuaca yang panas, walaupun ketika mandi air dingin tidak merasakan apa pun, aura dingin yang menusuk tubuh akan terasa menyakitkan di malam hari.
Ini pasti merupakan rasa sakit terburuk yang pernah dirasakan olehnya, Santika sampai tidak bisa menahannya. Keringat dingin mulai bercucuran dari kening, membasahi rambut dan tubuh yang mulus. Santika seperti orang yang baru keluar dari dalam air.
“Jangan bergerak, minum ini dulu.”
Ketika Santika dalam kondisi linglung, dia merasakan seseorang yang memaksanya minum cairan yang manis dan juga pedas.
Seketika, perutnya seperti terbakar, kemudian dia merasakan sebuah benda yang menekan perutnya dan mulai dipijat.
Santika bangun di pagi hari, rasa sakit di perutnya telah menghilang, dia mulai merasakan sebuah kehangatan di dalam perutnya. Melihat tidak ada orang di dalam kamar, dia pun bangkit dan duduk di atas ranjang.
“Sampah, preman, Wahyu sialan! Wahyu Sialan! Wahyu Sialan!”
Ketika Santika duduk di atas ranjang, dia hampir saja berteriak dengan keras.
Baju tidur yang semalam telah berubah menjadi warna merah muda dan sedikit transparan.
Yang paling krusial adalah tempat paling berharga di tubuhnya tiba-tiba bertambah sesuatu, Santika bisa merasakan bahwa itu adalah pembalut.
“Dasar binatang!” ucap Santika yang kesal.
Santika semakin kesal ketika membayangkan ekspresi Wahyu yang genit ketika sedang menggantikan baju untuk dirinya,
Setelah berteriak kesal, Santika mendengar suara yang sinis. “Siapa yang kamu sebut binatang?”
Wahyu berjalan masuk sambil membawa dua mangkok bubur, dia meletakkan bubur di atas meja dan berkata, “Siapa suruh kamu tidak sadarkan diri? Aku sudah menyuruhmu untuk tidak menggunakan air dingin, kamu sendiri yang tidak mau mendengarnya, sehingga membuat kesempatan untukku.”
“Aku juga seorang pria, mana mungkin aku tidak melihat tubuh seorang wanita yang cantik.”
“Pergi, keluar kamu!”
Santika benar-benar sangat marah, dia melemparkan bantal ke arah Wahyu.
Wahyu tertawa terbahak-bahak dan berjalan keluar.
“Licik, memalukan!”
Santika hampir meneteskan air mata, dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini walaupun sudah menjaga diri. Padahal pandangan dia terhadap Wahyu sudah membaik, tapi semuanya berubah ketika bangun.
Namun, dia tetap harus makan. Setelah menderita sepanjang malam, dia harus makan karena kondisi yang lemah. Dia langsung berdiri untuk mencari baju kemarin, setelah ganti baju, dia langsung duduk dan menyantap bubur.
Ketika sedang makan, seorang pelayan berjalan masuk sambil tersenyum. “Halo wanita cantik, pacarmu benar-benar seorang pria lembut. Aku tidak pernah bertemu dengan pria yang begitu perhatian.”
“Dia tidak hanya menyiapkan pakaian dalam, bahkan juga menyiapkan banyak pembalut wanita. Dia datang mencariku untuk menggantikan bajumu, lalu menemanimu sepanjang malam di samping ranjang.”
“Aduh! Ternyata ada pria yang begitu baik di dunia ini, suamiku tidak seperti dia, bahkan tidak pernah menelepon dalam tiga hari. Kamu benar-benar membuat orang iri dengan kebahagiaan ini.”
Pelayan itu datang untuk membersihkan kamar, sambil membersihkan dia terus bergumam sendiri. Setelah selesai, dia pun berjalan pergi.
Santika hanya bisa tertegun melihat bubur di depan mata.
Ternyata yang mengganti bajunya bukan Wahyu, dia malah menyalahkan Wahyu dan memarahinya. Santika sudah mengatakan kata-kata yang kejam, bahkan dia sendiri tidak sanggup menerima perkataannya itu.
Lalu pria itu justru tidak membela diri dan menerimanya.
“Wahyu,” gumam Santika dengan sudut mata yang sudah basah.
Karena kerasa kepala, dia langsung mengelap air mata dan melanjutkan sarapan.
Suara Wahyu terdengar dari lorong tangga. “Wanita cantik, sudah selesai makan belum? Aku sudah mau berangkat.”
“Tunggu sebentar, aku akan segera keluar.”
Setelah menjawab, Santika langsung menghabiskan bubur dengan cepat. Dia memeriksa sekujur kamar dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kemudian membawa tas dan berjalan keluar.
Di depan hotel, Wahyu sedang bernyanyi dengan santai. Ketika Santika masuk ke dalam mobil, dia langsung melaju pergi dari sini.