
Budiman berkata dengan nada dingin, “Pria tua sudah memberikan Token Naga Hitam kepadanya.”
“Apa?”
Faisal langsung bengong, “Ayah, kenapa pria tua itu memberikan Token Naga Hitam kepada orang luar?”
“Brengsek, apa yang kamu katakan tadi?”
“Ayah, aku salah ngomong. Maksudku, kenapa Kakek memberikan Token Naga Hitam kepada orang luar?”
Huh!
Budiman menghela napas, “Hal ini sangat sulit dijelaskan, tapi aku saranin kamu jangan ganggu orang itu lagi. Sekarang dia memegang kekuasaan hidup dan mati, kamu bahkan tidak tahu bagaimana kamu akan mati nanti.”
Phak!
Budiman mematikan teleponnya.
Faisal yang di seberang telepon langsung bengong!
…
Di dalam mobil BMW berwarna hitam.
Wahyu berbaring di baris belakang dan tertidur lelap.
Abraham duduk di kursi samping pengemudi dan sedang memejamkan mata untuk memikirkan sesuatu.
Sopir bernama Nanang sedang menyetir dengan tenang.
Tiba-tiba, hp Abraham berdering.
Setelah berbicara sebentar di telepon, Abraham mematikan teleponnya. Kemudian berkata, “Nang, sekarang kita di mana?”
Nanang berkata, “Ketua, kita akan segera sampai di Kompleks Citra Beringin.”
“Oh! Kompleks Citra Beringin, berarti kita sudah hampir sampai di rumah Santika?”
“Betul, Ketua.”
Abraham bertanya, “Bagaimana dengan Santika belakangan ini?”
Pak Nanang menggelengkan kepalanya, “Masih seperti biasa, terlihat dingin setiap hari. Tapi 2 hari ini dia tidak ada di rumah, dia pergi ke Kalimantan Barat. Semalam dia sudah menelpon dan bilang ada urusan, jadi 2 hari ini tidak bisa pulang, dia menyuruhku untuk membereskan rumah.”
Abraham membuka matanya, “Kamu bawa mobilnya ke tempat Santika, terus letakkan bocah ini di tempat Santika saja. Setelah itu buka semua bajunya dan cuci bersih, tinggalkan satu kertas dan Token Naga Hitam untuknya. Efek dari Dewa Mabuk sangat kuat, kemungkinan besar bocah ini akan bangun besok sore. Saat dia bangun, suruh dia bawa Token Naga Hitam dan pergi.”
…
5 menit kemudian, mobil BMW hitam sampai di sebuah komplek perumahan.
Kompleks Citra Beringin bukanlah milik pribadi.
Tempat ini merupakan kompleks perumahan dengan rumah tiga lantai, dekorasinya terlihat sangat mewah.
Nanang menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah, kemudian melihat ke arah Abraham. Abraham berkata, “Bawa dia masuk, aku akan membawa mobilnya sendiri.”
“Baik, Ketua.”
Nanang membuka pintu mobil dan mengangkat Wahyu ke atas bahunya, lalu membuka pintu rumah dan berjalan masuk.
Dekorasi rumahnya terlihat elegan dan juga sederhana.
Santika tinggal sendirian dan sering tidak berada di rumah. Walaupun lantai 1 dan lantai 3 sudah direnovasi, tapi masih tidak ada perabotan.
Di lantai 2 lebih lengkap, kulkas dan elektronik lainnya, termasuk ranjang mahal di kamar tidur dan sebuah lemari baju berwarna putih.
Nanang melemparkan Wahyu ke ranjang dan melihatnya dengan sinis.
Ketika Wahyu mabuk, dia berbaring di meja, sehingga bajunya terlihat sangat kotor.
Nanang mengikuti perintah Abraham dengan mengeluarkan kertas dan pena, kemudian dia menuliskan sebuah memo: Baju ada di balkon, kalau sudah bangun, bawa Token Naga Hitam dan pergi dari sini.
Dia meletakkan kertasnya di samping ranjang dan ditimpa dengan Token Naga Hitam.
Dia bergumam sendiri, “Ketua menyuruhku mencuci bajumu, kalau gitu aku akan mencucinya. Kalau tidak, dengan baju kotormu itu dan berbaring di ranjang nona, kalau sampai nona tahu, aku akan dimarahi.”
Sambil bergumam, dia melepaskan baju Wahyu, termasuk ****** ******** juga. Kemudian, dia melemparkan Wahyu ke ranjang mewah itu dan dipakaikan selimut. Setelah menyalakan AC, dia membawa pakaian Wahyu dan masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ada sebuah mesin cuci otomatis. Nanang memasukkan baju Wahyu ke dalam mesin cuci dan menyalakannya.
Ternyata saat mesin cuci baru berjalan, Abraham meneleponnya, “Nang, aku lupa. Tadi aku minum alkohol dan tidak bisa mengendarai mobil, kamu keluar sekarang.”
“Baik, Ketua.”
Nanang menatap mesin cucinya, ini mesin cuci otomatis, tidak perlu diperhatikan. Setelah dikeringkan, dia akan berhenti sendiri, walaupun tidak kering sepenuhnya, tapi sudah lebih dari cukup.
Setelah berpikir sejenak, perintah Ketua tetap yang terpenting. Nanang langsung pergi dari sini.
…
Abraham salah menilai kualitas fisik Wahyu.
Dia merasa efek Dewa Mabuk sangat hebat, kalau sampai mabuk, pasti butuh 2-3 hari untuk sadar kembali, apalagi dia minum satu guci.
Namun, dia tidak tahu kemampuan Wahyu, ketahanan Wahyu terhadap alkohol sangat luar biasa.
Wahyu sudah bangun keesokan harinya.
Dia membuka mata dan berkata, “Di mana ini? Harum sekali!”
Perabotan di kamar sangat cantik dan elegan. Dirinya berbaring di ranjang mewah yang mahal. Sekali menoleh, dia melihat ponselnya berada di samping. Dia langsung mengambilnya dan menelepon Yitno.
“Halo! Anak muda, kamu sudah sadar? Tidak disangka kamu jago minum juga ya.”
Wahyu berkata, “Paman Yitno, bagaimana dengan urusanku?”
Yitno berkata, “Urusan apa?”
Wahyu berkata, “Paman, aku sudah menemani Ayah Anda dengan mempertaruhkan nyawa, semalam aku sampai mabuk dan pingsan. Kamu tidak boleh melupakannya, urusan dokumenku gimana?”
Dari seberang terdengar suara tertawa dan makian Yitno, “Dasar anak brengsek, kamu sudah mengambil Token Naga Hitam, kenapa masih butuh sepeda, dengan benda itu, kamu sama sekali tidak memerlukan dokumen lagi!”
“Token Naga Hitam?” tanya Wahyu sambil menggaruk kepalanya.
Yitno menjelaskan, “Dengan adanya Token Naga Hitam, kamu bisa melakukan apapun sesuka hati, bahkan membunuh orang sekalipun. Jangankan transaksi seperti biasa, walaupun kamu melakukan transaksi pesawat dan senjata lain juga tidak ada yang berani mengaturnya. Bocah, jangan bersikap polos. Aku masih ada urusan lain, kalau ada waktu, temani aku ke pabrik batu dan cari beberapa batu bagus.”
Phak!
Telepon terputus.
“Sialan, apa itu Token Naga Hitam?”
Wahyu duduk di atas ranjang, kemudian mencoba mencarinya, dia menemukan sebuah token berwarna hitam di meja samping tempat tidur. Kemudian, dia juga melihat secarik kertas: Baju ada di balkon, kalau sudah bangun, bawa Token Naga Hitam dan pergi dari sini.
“Ini yang dibilang Token Naga Hitam?”
Wahyu mengambil Token Naga Hitam dan melihatnya sambil dibolak-balik, tidak ada yang spesial. Namun, kalau Yitno bilang berguna, pasti akan berguna.
Wahyu kemudian meletakkan Token Naga Hitam bersama hpnya agar bisa dibawa pergi nanti.
Saat berdiri, dia baru sadar dirinya telanjang bulat.
Sialan! Siapa yang membuka bajuku?
Wahyu menggunakan tangannya untuk menutupi area selangkangannya, kemudian berdiri untuk mencari bajunya.
Begitu berdiri, hpnya langsung berbunyi, dari seberang telepon terdengar suara panik Monita, “Wahyu, kenapa tidak angkat telepon? Kamu bikin kami panik setengah mati.”
Wahyu melihat layar ponselnya, total ada 30 lebih panggilan tak terjawab. Selain Monita, Sabrina, Laila ada juga beberapa nomor asing, dia langsung menjawab, “Kak, aku mabuk kemarin, jadi tidak mendengarnya. Tenang saja, aku tidak apa-apa, aku akan segera pulang.”
Monita berkata, “Baguslah kalau tidak apa-apa, kamu tidak perlu pulang, aku akan memberitahu yang lain. Kamu naik pesawat ke Surabaya sekarang.”
Wahyu bengong, “Ngapain ke Surabaya, bukannya kemarin baru ke sana?”
“Hari ini reuni sekolah kami, kamu harus pergi.”
“Kak, apa hubungan reuni sekolah kalian denganku?”
“Bocah, kamu jangan pura-pura bodoh. Bukannya kamu sudah berjanji pada Yara akan datang hari ini?”