
Semuanya terus berbisik, walaupun tidak menyebut namanya, tapi tatapannya mengarah kepada Wahyu, ada yang terlihat meremehkan dan juga ada yang merasa senang.
Wahyu tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Muda Keluarga Lazuardi!
Satu adalah orang miskin yang tidak sanggup membeli pakaian bermerek, satu lagi adalah tuan muda keluarga besar yang begitu mulia.
Dipikir dengan dengkul saja, semua orang juga tahu Yara akan memilih siapa.
“Sepertinya tadi memang sebuah lelucon, aku kira beberapa wanita cantik itu buta atau dihipnotis oleh bocah miskin ini.” kata seseorang.
Band perlahan memasuki aula, Andre melambaikan tangan, dan musik langsung berhenti. Aula kembali tenang, hanya terdengar suara kereta berisi kue besar yang didorong oleh 2 orang wanita, kereta pelan-pelan sampai di depan Yara.
Andre tersenyum dan berkata, “Yara, sekarang saatnya kamu menepati janjimu. Kamu bilang di hari ulang tahunmu, kamu akan menerima lamaranku. Harusnya, kamu tidak akan menolaknya kan?”
Walaupun terlihat santai, sebenarnya di dalam hati Andre sangat terburu-buru. Melihat tubuh seksi di depannya, dia diam-diam menelan ludah.
Dia sudah menginginkannya selama beberapa tahun!
Andre bahkan membayangkan dirinya sedang memegang paha yang panjang dan putih, dan juga suara teriakan dari wanita ini.
Melihat Yara tidak berbicara, Andre tersenyum dingin, “Yara, aku sedang bertanya padamu.”
Saat ini Yara terlihat sangat linglung.
Dia mengakui bahwa dirinya sudah jatuh cinta kepada Wahyu. Tidak disangka dia akan masuk ke pelukan orang yang tidak dia sukai secara langsung di depan Wahyu.
Ini adalah hal yang paling menyakitkan, dia juga tidak berharap Wahyu terseret ke dalam pertarungan 4 keluarga besar.
Empat keluarga besar di Indonesia terlalu kuat, tidak ada yang berani mengganggu mereka. Beberapa tahun ini, bahkan keluarga Hutomo juga terpaksa harus menghindarinya, apalagi orang kaya baru.
“Aku janji.”
Walaupun dirangkul oleh Wahyu, tapi tekanan batin membuat Yara membuat keputusan yang melawan isi hatinya. Dia melepaskan tangan Wahyu dengan pelan dan berjalan ke depan.
“Bagus! Bagus! Kamu masih cukup tahu diri. Yara, kamu tidak membuatku kecewa, sekarang berlutut dan lamar aku. Sebagai sesama 4 keluarga besar, aku akan memberimu kesempatan.”
Akhirnya dia berhasil menaklukkan wanita di depannya ini. Ekspresi di wajah Andre menjadi semakin sombong.
Dia bilang dia datang untuk melamarnya, tapi malah meminta Yara yang berlutut di lantai dan melamarnya, ini adalah kekuatan 4 keluarga besar yang tidak bisa dilawan.
Kekuatan yang begitu besar, selain aku masih ada siapa?
Sayangnya, teman-teman Yara tidak merasa hal ini tidak adil bagi Yara, malahan merasa bahwa ini adalah kehormatan untuk Yara.
“Yara, cepat berlutut dan lamar dia.”
“Yara, cepat berlutut, jangan kehilangan kesempatan ini.”
“Yara, bisa menikah dengan Tuan Muda Andre dari 4 keluarga besar adalah keberuntungan bagimu.”
Monita terdiam, hanya dia yang tahu kesedihan Yara.
Dan juga Wahyu!
Monita tidak ingin Wahyu berhadapan dengan keadaaan sulit setelah pulang. Di antara Yara dan Wahyu, dia pasti akan memilih Wahyu.
Yara juga mengerti kesulitan Monita, jadi dia tidak menyalahkan Monita karena tidak membantunya. Dia hanya menatap sahabatnya dengan tatapan sedih, kemudian berbalik dan perlahan menekukkan lututnya.
Di saat ini, tiba-tiba terdengar suara yang dingin, “Sebentar.”
Setelah ucapan itu dilontarkan, suhu di sekitar aula tiba-tiba menurun.
Yara yang baru ingin berlutut langsung meneteskan air mata.
Saat ini perasaannya sangat kacau, dia sangat berharap Wahyu maju, karena itu membuktikan dia tidak salah menilai pria ini.
Namun, dia juga tidak berharap Wahyu membantunya, karena jika Wahyu berbicara, dia akan menjadi target Andre.
Dan akhirnya, Wahyu benar-benar maju.
Di saat ini, Yara tidak bisa menahan emosinya lagi, dia tiba-tiba memeluk Wahyu dan berbisik di telinganya, “Sayang, masih ingat kata-kata yang aku ucapkan? Ketika bertemu lagi, aku akan memberimu hadiah.
“Sayangnya, aku mengingkarinya. Aku bermaksud untuk memberikan diriku kepadamu, tapi tidak ada kesempatan lagi. Tenang saja, aku Yara tidak akan pernah membiarkan pria lain menyentuhku, karena jika itu terjadi, aku lebih memilih…mati…”
Emosinya mengalir keluar seperti mata air, Wahyu bisa merasakan cairan yang hangat sedang mengalir di lehernya.
Itu adalah air mata Yara.
Selesai berbicara, Yara membuat keputusan terakhir, dia melepaskan diri dari pelukan Wahyu dan datang ke hadapan Andre. Kedua lututnya langsung ditekukkan ke lantai.
Namun, sebelum lututnya menyentuh lantai, badannya sudah diangkat seperti seekor anak ayam.
Wahyu menatap Yara dengan dingin, “Beritahu aku, apa kamu menyukainya?”
“Aku…menyukainya.”
Yara menggunakan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh dirinya.
Dia tidak berani bilang tidak suka, karena kalau salah bicara, dia pasti akan membuat Andre marah. Bukan hanya Wahyu, tetapi seluruh kelas desain 86 juga akan kena.
Yara tidak ingin hal itu terjadi.
Wahyu tersenyum dingin dan menarik kerah pakaian Yara. Dia mengangkat Yara dan bertanya, “Wanita bodoh, aku tanya sekali lagi, apa kamu menyukainya?”
“Aku…menyukainya.”
Phak!
Wahyu menamparnya.