
Wahyu dan Yitno berjalan berdampingan memasuki aula sambil bergandengan tangan.
Wahyu merasa canggung setengah mati, dia berpikir di dalam hatinya: Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Yitno, untuk apa mereka sedekat ini, jangan-jangan pria ini mempunyai kelainan seksual?
Jika dia melepaskan tangannya, sepertinya dia tidak menghargai niat baik seseorang, tapi jika dia tidak melepaskannya, dia merasa sedikit canggung.
Akhirnya mereka berdua memasuki aula bergandengan seperti itu.
Di tengah sebuah ballroom yang sangat besar terdapat lantai dansa, di atasnya ada lampu gantung, cahaya lampu yang berwarna-warni berbaur menjadi satu lalu menyorot ke bawah, membuat ballroom terlihat begitu indah.
Di sekelilingnya ada band musik, berbagai macam alat musik beresonansi membentuk melodi yang indah lalu perlahan-lahan mengalir di lantai dansa.
Yitno sangat terkenal di kalangan ini, semua yang diundang olehnya adalah orang-orang dari kalangan atas, pria-pria muda yang cerdas dan bersetelan mahal. Ada beberapa yang sedang berdansa, ada juga yang sedang minum anggur.
Saat mereka berdua masuk sambil bergandengan tangan, mereka langsung menarik perhatian banyak orang.
“Loh, kenapa Direktur Hutomo menggandeng tangan seorang pria muda?”
“Siapa anak muda ini, dia berani masuk dengan pakaian seperti itu?”
“Bukankah itu adalah menantu Direktur Hutomo?”
“Tidak mungkin, dengar-dengar Direktur Hutomo sudah memiliki menantu.”
Semua orang berbisik-bisik membicarakannya, tatapan yang diberikan kepada Wahyu mengandung berbagai macam spekulasi, hal ini membuat orang yang tidak tahu malu seperti Wahyu saja merasa sedikit canggung.
Ketika semua orang sedang menebak-nebak, tiba-tiba terdengar suara teriakan: “Wahyu, kamu masih berani datang kemari?”
Di depan bar minuman ada seorang pria muda bersetelan jas yang terlihat elegan dan sopan dengan kain kasa yang melilit kepalanya, tangannya memegang sebuah tongkat, dia sedang menggoda wanita cantik yang berada di balik bar.
Saat menyadari situasi di aula terasa berbeda, dia menoleh dan langsung melihat Wahyu sedang menggandeng tangan Yitno dan masuk ke dalam aula, dia benar-benar hampir meledak.
Faisal?
Saat Wahyu melihat Faisal, dia tersenyum, orang ini benar-benar muncul di waktu yang pas, dia mengambil kesempatan itu untuk melepaskan tangan Yitno lalu melangkah lebar ke arah Faisal, dia terlihat sangat bersemangat. “Wah, bukankah ini Tuan Muda Faisal, apa yang terjadi pada Tuan Muda Faisal, kepalanya dililit kain kasa, apakah kamu dihajar seseorang? Beri tahu Kakak, Kakak pasti akan membalaskan dendammu.”
Kemudian dia sampai di hadapan Faisal dan memeluknya dengan sangat erat, dia tersenyum jahat dan berkata. “Selamat, kekasih cantikmu, Si Hunna itu kembali aku beri pelajaran.”
“Wahyu, kamu, kamu, kamu…”
Faisal hampir gila selama beberapa hari ini.
Seorang Tuan Muda Hutomo dihajar secara brutal oleh bocah yang bukan siapa-siapa, setelah itu dia bahkan ditegur oleh keluarganya dan dihukum tidak boleh keluar rumah selama satu minggu.
Benar-benar membuat depresi!
Saat melihat Wahyu, dia sangat ingin mencabik-cabik, mengunyah lalu menelan dirinya, seluruh tubuh Faisal gemetar karena amarah.
“Wahyu… Wahyu…”
Faisal membuka mulutnya tapi tidak ada kata-kata yang keluar darinya.
Wahyu mendekat ke telinga Faisal lalu mengejeknya. “Jika kamu berencana untuk mempermalukan Yitno, silahkan saja, aku akan menemanimu bermain sampai selesai.”
Dia mengancam Faisal sambil memeluknya lalu tertawa terbahak-bahak. “Tuan Muda Faisal, Kak Faisal, kita sudah berapa lama tidak bertemu, benar-benar satu hari bagaikan tiga tahun, tiga hari bagaikan seribu tahun! Brother, aku sangat merindukanmu!”
Wahyu berkata sambil menangis dengan sedihnya, dia menepuk punggung Faisal dan menendang kaki Faisal dengan kakinya.
Waktu kemarin dia bertarung dengan Wahyu, tulang betis Faisal patah oleh karena tendangan Wahyu, luka di kepalanya juga tidak ringan, harus dijahit karena dihajar oleh Wahyu dengan menggunakan pistol, jahitannya bahkan belum dilepas.
Punggung dan kakinya kembali menerima serangan, lukanya kembali terasa sakit, membuat air mata Faisal keluar.
Tapi di mata orang luar mereka bagaikan dua orang teman baik yang berjumpa kembali setelah lama tidak bertemu, sangat mengharukan.
“Dua pemuda ini sangat akrab sekali!”
“Kedua pemuda ini benar-benar orang yang penuh dengan perasaan dan setia kawan, pertemanan yang seperti ini pantas untuk dipertahankan.”
Jika Faisal tahu apa yang orang-orang ini pikirkan, dia pasti akan muntah darah.
Laila yang berada tidak jauh dari mereka terlihat bingung.
Kehadiran Faisal yang tiba-tiba itu membuat Laila khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dia takut Faisal membongkar tentang Wahyu yang sudah membunuh orang di depan umum, dia tidak menduga kalau hasilnya akan seperti ini.
“Kenapa tidak bicara, Brother, saat kamu mencelakai orang lain kamu tidak seperti ini, cepat antar aku ke makam para leluhurku.”
Laila menghela napas.
Perlu usaha keras dari Faisal untuk lepas dari pelukan Wahyu, wajahnya terlihat emosi. “Bocah, aku pasti akan membunuhmu.” dia berjalan ke depan pintu lalu memanggil pelayan dengan jarinya, kemudian dia berbisik di telinga pelayan itu.
Wajah pelayan itu seketika berubah pucat. “Tuan Muda Faisal, hal ini tidak boleh dilakukan, Direktur Hutomo akan membunuhku.”
“Huh! Aku hanya ingin melihat sedikit darah di perutnya, bukan menyuruhmu untuk membunuh orang, tenang saja, jika terjadi sesuatu aku akan melindungimu, aku tahu kalau keluargamu membutuhkan uang, kamu gunakan saja dulu uang ini, jika tidak cukup bilang padaku lagi.”
Faisal mengulurkan tangannya ke dalam saku celana lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM kemudian memberikannya kepada pelayan itu.
……
Yitno melihat sendiri adegan berpelukan Wahyu dan Faisal itu, tapi ekspresinya tidak berubah sama sekali, hanya menggeleng singkat kemudian ada tamu yang datang lagi, jadi dia keluar untuk menyambut tamu.
Wahyu menoleh dan tersenyum lebar kepada Laila seperti tidak terjadi apa-apa. “Ratuku tersayang, apakah aku boleh mengundangmu untuk berdansa denganku?”
“Pintar sekali kamu merayu! Bocah, kamu sudah mencelakai Faisal dengan sangat sadis, dia pasti akan balas dendam padamu, kamu harus lebih hati-hati.”
Wahyu berkata dengan angkuh. “Aku akan menghabisi siapapun yang berani melakukannya.”
Mereka berdua meletakkan gelas anggur di atas bar minuman, kemudian memasuki lantai dansa dengan bergandengan tangan.
Sebuah lagu klasik.
Lagu yang merdu, lembut serta penuh dengan perasaan sentimental mengalir perlahan-lahan di dalam ballroom, membuat pesta dansa perlahan-lahan menuju klimaksnya…
Satu lagu selesai, semua orang tenggelam di dalamnya.
Laila juga tidak menyangka kalau Wahyu ternyata bisa menari sebaik ini, selama menari mereka seperti awan yang melayang-layang, Laila sama sekali tidak perlu mengeluarkan tenaga, Wahyulah yang membawanya terbang.
Sedangkan tarian Wahyu benar-benar mengguncang seluruh aula, beberapa wanita cantik memberikan tatapan menggoda, bahkan ada beberapa wanita yang sudah menikah langsung mengulurkan tangannya. “Kakak tampan, silakan.”
Mereka ingin mengundang Wahyu menari, Wahyu juga tidak sungkan, dia memeluk seorang wanita yang sudah menikah lalu memasuki lantai dansa sekali lagi.
Di lantai dua ballroom adalah Tea Room, ini adalah jamuan bisnis, tujuannya adalah untuk membuat semua orang dari lapisan masyarakat dengan lingkup bisnis yang berbeda-beda dapat berinteraksi satu sama lain dan menjadi partner bisnis.
Setelah lagu pertama selesai, banyak orang naik ke lantai dua, Wahyu tahu kalau Laila harus bersosialisasi dengan banyak orang, jadi dia berkata dengan suara keras kepada Laila sambil memeluk wanita cantik. “Kak, kamu pergi mengurus urusanmu saja, aku akan berkeliling sendiri.”
Laila mengangguk dan berkata, “Memang ada beberapa teman yang harus kusapa, aku akan naik ke lantai dua, setelah itu segera turun, kamu hati-hati.”
“Tenang saja, Kak, aku tahu apa yang harus kulakukan.” Wahyu mengibaskan tangannya, Laila berbalik dan naik ke lantai dua.
Dia mencemaskan Wahyu, jadi dia tidak lama-lama berada di lantai dua, saat lagu kedua sudah hampir berakhir, Laila turun dengan tergesa-gesa.
Saat ini Wahyu menolak beberapa undangan dari wanita-wanita cantik yang lain, dia sedang ingin istirahat.
Seorang pelayan membawa nampan dan berjalan mendekat ke arah Wahyu.
Kebetulan Laila sedang turun dari tangga, dia adalah seorang polisi, jadi tingkat kewaspadaannya lebih tinggi dibandingkan orang biasa, tatapannya juga sangat tajam, saat melihat langkah pelayan itu agak sedikit ragu-ragu, selain itu tangannya yang memegang nampan sedikit gemetar, dia langsung merasakan sesuatu yang tidak beres, dia berteriak, “Wahyu, hati-hati…”
Hal itu terjadi hanya dalam waktu yang begitu singkat, kedua tangan pelayan sedang menopang nampan, saat Wahyu mengambil gelas anggur, tangan kanannya tiba-tiba turun lalu menusuk perut Wahyu dengan pisau.
Tangan kanan Wahyu sedang memegang gelas anggur, tangan kirinya sedang memeluk dadanya, tampak tidak siap sama sekali.
Tapi saat pelayan mau menusuknya, terlintas kilatan membunuh di sudut mata Wahyu, tangan kirinya yang sedang memeluk dadanya menyerang dengan secepat kilat.