Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Tantangan Dari Tommy


Veronica tersenyum sinis, dia memikirkan sebuah cara yang bisa memberi Wahyu pelajaran dan juga membuat Monita kehilangan harga diri. Sambil tersenyum dia melangkah ke depan,“Mon, belakangan ini kamu sibuk?”


Monita mengangguk, “Ya gitu deh!”


“Kalau gitu, kamu sering nonton tv?”


“Mana sempat, jarang nonton.”


“Oh gitu ya. Mon, kalau gitu kamu ngak tahu dong Tommy mendapatkan juara 1 di acara kompetisi nyanyi?


“Belakangan ini dia sangat terkenal. Beberapa stasiun tv, media dan juga berita, semuanya ingin tanda tangan kontrak dengannya. Tidak ada habisnya setiap hari, benar-benar menjengkelkan.”


Suara Veronica sangat kencang sampai mendatangkan perhatian beberapa teman lain dan mulai berbisik.


Ada yang ikut mengadu domba, “Mon, kamu sudah salah tuh. Ngak disangka, Tommy rupanya sangat berbakat.”


“Bener tuh. Mon, kalau kamu ngak nolak Tommy waktu itu, sekarang seharusnya sudah lebih kaya!”


“Pada akhirnya memang Veronica yang lebih hebat, dia bisa melihat bakat terpendam Tommy.”


Karena ucapan orang-orang ini, Veronica semakin merasa sombong, “Mon, jarang banget kita bisa ngumpul begini, gimana kalau Tommy bawakan 1 lagu untuk kita?”


Monita sangat santai, walaupun tahu Veronica sedang menyindirnya, tapi dia hanya tersenyum dan berkata, “Boleh.”


Veronica tersenyum, “Kak Mon, aku punya permintaan. Kita harus bersenang-senang hari ini, mungkin ngak cukup kalau Tommy sendiri yang membawakan lagu, gimana kalau Wahyu juga ikut bawakan 1 lagu?”


Melihat Veronica menatap ke arah Wahyu, Monita mengerutkan keningnya, “Maaf, Wahyu ngak bisa nyanyi.”


Wahyu juga mengangguk, “Aku benar-benar ngak bisa nyanyi, sejak kecil aku ngak bisa menyanyikan tiap nada dengan baik.”


Veronica semakin senang, semakin Wahyu tidak bisa nyanyi, dia semakin senang. Dia mengangkat gelas dan berjalan ke area KTV, “Teman-teman, aku ada saran.


“Sudah lama kita ngak kumpul bareng, hari ini kita harus minum sampai puas. Untuk hiburannya, aku akan meminta suamiku, Tommy untuk menyanyikan sebuah lagu untuk kalian. Lalu, Wahyu yang ganteng dan jago minum ini, pasti juga punya suara yang bagus. Dia juga bilang ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kita, ayo kita sambut.”


Wanita sialan, dia memaksa Wahyu ke jalan buntu. Ucapannya terdengar sangat menantang.


Bagi seluruh teman-teman kelas desain 86, Wahyu adalah orang luar.


Selain Monita, Yara, dan Santika yang tatapannya dingin dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, tidak ada yang satu hati dengan Wahyu.


Ditambah Wahyu yang terlalu memamerkan diri dan menantang keluarga Lazuardi, salah satu dari 4 keluarga besar. Di kala semua orang-orang kelas desain 86 tidak ada yang berani maju, hanya Wahyu yang maju sendiri dan juga berhasil menyelamatkan Yara.


Orang-orang ini tampaknya sangat salut dengan Wahyu, tapi dalam hati mereka pasti juga sangat benci dan iri. Wahyu telah menarik banyak perhatian dan membuat harga diri mereka jatuh.


Wahyu juga membuat Justin mabuk, Justin mewakili seluruh kelas desain 86, itu artinya Wahyu menampar muka semua orang di kelas desain 86.


Ada seorang wanita yang berkata dengan suara manja, “Wahyu, jangan bikin kami meremehkanmu ya.”


Wahyu benar-benar kesal.


Dia hanya tidak ingin memamerkan diri, bukan karena tidak bisa menyanyi.


 Sebagai seorang pembunuh profesional, yang diperlukan bukan hanya ketepatan tembakan ataupun kecepatan.


Seorang raja pembunuh yang sebenarnya, harus bisa beradaptasi di semua tempat.


Jika berada di dapur, kamu adalah seorang koki handal.


Jika berada di karaoke, kamu adalah seorang raja atau ratu penyanyi.


Kalau berada di bar, kamu adalah seorang yang jago minum.


Hanya dengan begini, maka tidak akan menarik perhatian orang-orang, sehingga bisa membunuh dengan cepat, dan pergi dengan santai.


Tetapi jika memperlihatkan satu per satu kemampuannya dan bertemu orang yang punya niat lain, mungkin dia akan menjadi target yang mencurigakan, sehingga membuat identitasnya terancam.


Wahyu ingin merendah, tapi orang lain tidak mau membiarkannya!


Semuanya mulai berteriak, Tommy tentu mulai merasa sombong. Karena sebagai juara kompetisi ternama, dia bisa memperlihatkan kehebatannya dan juga menyindir Monita.


Dia tersenyum dengan anggun, “Wahyu, gimana? Kita masing-masing nyanyi 1 lagu. Ngak apa-apa kalau kurang bagus, yang penting ada niat saja.”


Karena sudah dipaksa sampai tahap ini, Wahyu hanya bisa mengangguk.


Melodi merdu mengalir di dalam aula, Tommy meletakkan gelas anggur, mengambil mikrofon dan melangkah ke bagian tengah aula, “Semuanya, aku persembahkan lagu Mengagumimu Dari Jauh untuk kalian semua.”


Seiring dengan mulainya musik, suara yang jernih pun mengalir perlahan dalam melodi…


Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu…


Mengagumimu dari jauh…


Aku menjagamu tanpa menjagamu…


Menyayangimu dari jauh.


Tommy memang jago dan juga berbakat. Suaranya sangat murni dan halus. Satu lagu Mengagumimu Dari Jauh langsung mendapatkan tepuk tangan yang meriah setelah itu.