
Selanjutnya, Wahyu memberitahu beberapa dokumen yang ingin dibuat.
Dokumen yang diinginkan oleh Wahyu adalah surat izin usaha operasional.
Yitno berkata sambil berpikir, “Laila sudah memberitahuku, beberapa dokumen ini tidak masalah. Tetapi ada beberapa dokumen yang berhubungan dengan beberapa peraturan, tidak berada dalam kekuasaanku. Tetapi ada satu orang yang bisa mengerjakannya, kalau kamu mau bertemu dengannya, mungkin bisa mendapatkan sesuatu.”
Wahyu mengerutkan kening dan berkata, “Bertemu siapa?”
Yitno berkata, “Seorang pria tua yang sangat merepotkan. Tetapi dia memegang kekuasaan besar di tangannya, hanya dia yang bisa membantumu. Sekarang tinggal kamu yang ingin bertemu dengannya atau tidak.”
Wahyu tidak ragu, “Aku bisa bertemu dengannya.”
“Serius?” kata Yitno sambil berdiri dari sofa.
Wahyu menepuk dada dan berkata, “Pasti, kapan kita bertemu dengannya?”
“Besok. Tetapi sebelum bertemu dengannya, kita harus bertemu dengan satu orang. Sekarang kita langsung pergi, bisa?”
“Bisa.”
Demi perkembangan Sang Penakluk Dunia, jangankan bertemu satu orang, walaupun Tuhan sekalipun, Wahyu juga berani bertemu dengannya. Karena dia sangat percaya diri, orang yang bisa mengancamnya belum terlahir di dunia ini.
Mereka berdua sepakat, Yitno langsung menelepon seseorang. Setelah sesaat, terdengar suara yang menggetarkan telinga, sebuah helikopter perang no.20 mendarat di tempat.
Di saat yang sama, Wahyu mengirimkan pesan singkat kepada Laila dan memberitahunya dia akan keluar sebentar. Dia menyuruh Laila jangan khawatir, kemudian berjalan keluar dari aula bersama Yitno dan pergi dari sini dengan helikopternya.
Apakah bisa tidak khawatir?
Jangankan Wahyu yang barusan membunuh orang, walaupun dia tidak membunuh orang, dengan sifat Wahyu yang khusus itu juga membuat Laila khawatir. Setelah menerima pesannya, dia langsung berlari keluar dari aula dansa.
Tetapi sudah terlambat, suara helikopter sudah menghilang di kegelapan.
“Astaga, pasti akan terjadi terjadi sesuatu.” Laila tidak peduli dengan dansanya lagi. Dia langsung bergegas keluar dan mengendarai Lamborghini keluar dari sana.
Wahyu tidak menyangka orang yang akan ditemui ini berada di Jakarta. Ketika masuk ke dalam helikopternya, Yitno baru memberitahunya, sekarang semua sudah terlambat.
Kecepatan helikopter sangat cepat, tetapi ketika sampai di langit Jakarta, sudah jam 4 pagi.
Musim kemarau yang panas ini, membuat jam 4 subuh adalah waktu paling enak untuk tidur. Yitno menelepon seseorang, kemudian yang menjawabnya adalah sebuah makian keras: “Yitno, kamu gila ya, kenapa telepon pagi-pagi gini?”
Yitno berkata dengan panik, “Kakak kedua, tidak usah katakan apapun. Cepat bangun, aku ingin bertemu denganmu.”
Helikopternya tentu tidak bisa mendarat di daerah pemukiman, karena pasti akan dimarahi warga.
Setelah selesai telepon, Yitno menelepon orang lain lagi. Kemudian dia mengarahkan helikopter untuk mendarat di bandara ibukota, setelah itu dia dan Wahyu masuk ke dalam mobil mewah HQ dan datang ke sebuah halaman depan yang sangat biasa.
Krak!
Orang di sana mungkin mendengarkan sesuatu, ketika mobil berhenti, pintu langsung terbuka dan seorang wanita paruh baya rambut pendek berjalan keluar.
Langit musim kemarau di jam 4 pagi sudah mulai terang, Wahyu sedikit tertegun melihat kemunculan wanita di depannya.
Umur wanita ini seharusnya 50 tahun lebih, dia memiliki tubuh yang kurus dan wajah seperti umur 40 an. Tetapi bukan kecantikan seperti wanita muda, melainkan kedewasaan, memberikan sebuah perasaan ramah kepada orang.
Ketika keluar dari pintu, wanita cantik itu langsung berkata, “Yitno, apa yang kamu inginkan?” Lalu ketika mengangkat kepala dan melihat Wahyu, ekspresinya sedikit berubah: “Kamu…”
Ketika wanita ini ingin berbicara, Yitno langsung berkata, “Kakak kedua, jangan biarkan kami berdiri di luar saja. Ayo masuk ke dalam.”
“Baiklah, ayo masuk.”
Wanita ini melihat Wahyu dengan penasaran, kemudian berjalan masuk. Dia membawa Wahyu ke ruang tamu dan menyeduhkan teh untuknya. Setelah itu dia membawa Yitno ke ruangan rahasia di sebelah ruang tamu.
Yitno berkata, “Kakak kedua, apakah menurutmu hal ini ajaib atau tidak?”
Wanita itu terus menatap Wahyu di dalam tablet, “Yitno, dari mana kamu mendapatkan orang ini? Apakah dia melakukan operasi plastik?”
Yitno berkata, “Salah satu teman Yanti yang memperkenalkannya, Kelvin langsung menyadarinya ketika dia datang. Lalu Kelvin meneleponku dan memberitahunya, jujur waktu itu aku sangat kaget, tetapi seharusnya orang ini tidak melakukan operasi plastik.”
Wanita itu bergumam, “Mirip, mirip sekali. Bagaimana di dunia ini ada orang yang begitu mirip? Tetapi Yitno, menurut kamu setiap tahun kita mempersiapkan ini untuk dia, apakah orang tua itu akan merasa bosan?”
Yitno berkata dengan percaya diri, “Kalau seperti dulu, orang tua itu pasti akan bosan dan marah. Tetapi ketika melihat anak muda itu, orang tua itu pasti akan kaget. Sekarang aku sedang mempertimbangkan apakah perlu memberitahu kepada anak muda itu dengan jujur?”
Wanita cantik berkata, “Tentu tidak boleh dikatakan semua, tetapi setengah-setengah masih boleh. Begini saja, kamu pulang dulu, biar aku yang menjelaskannya nanti, lalu aku akan membawanya pulang ketika siang nanti.”
“Kalau begitu mohon bantu Kakak kedua.”
Selesai berkata, Yitno tidak menyapa Wahyu dan langsung pergi.
Lalu wanita cantik itu berpikir sebentar setelah Yitno pergi, kemudian dia berjalan keluar dari ruangan rahasia dan datang ke ruang tamu. Ketika masuk, dia langsung memperkenalkan diri tanpa menunggu Wahyu berbicara, “Halo, aku Lesti Hutomo, kakaknya Yitno. Sekarang aku ingin memberitahumu sesuatu.”
Ucapan yang begitu terus terang membuat Wahyu kaget, dia mengangguk dan berkata, “Katakanlah.”
Lesti lalu berkata, “Yitno sudah pulang, dia tidak memberitahumu alasan kedatanganmu kali ini.
Begini, orang yang ingin kami temukan adalah ayah kami. Awalnya kami lima bersaudara, tetapi adik kelima kami meninggal karena kecelakaan, Ayah sampai sekarang masih merindukannya.
Sekarang kerinduannya menjadi penyakit, jadi setiap tahun kami selalu mencari cara dan mendatangkan seseorang yang memiliki tampang mirip dengan adik kelima di ulang tahunnya, kemudian menemaninya makan dan minum bersama.
Setelah beberapa tahun ini, kami sudah mengganti puluhan orang. Karena kamu memiliki tampang yang mirip dengan adik kelima, jadi kamu terpilih.
Tugasmu sangat sederhana, temani ayahku dengan baik dan buat dia bahagia di hari ulang tahunnya.
Lalu dokumen yang kamu butuhkan, kami akan membantumu semampu kami, bagaimana menurutmu?”
Ternyata begitu!
Wahyu walaupun sering membunuh, dingin, tetapi bukan tidak berperasaan. Sebenarnya dia memiliki perasaan cinta kasih yang dalam, jangan melihat sikapnya yang tidak sopan kepada Raja Pengemis, dia sudah menganggap Raja Pengemis seperti ayah kandung di dalam hatinya.
Kalau demi membahagiakan orang tua, tentu bukan hal yang sulit.
Wahyu mengangguk dan berkata, “Kalau begitu, aku akan berusaha semampuku. Terkait dokumennya, kalian juga tidak perlu khawatir, kalau bisa dikerjakan juga bagus, kalau tidak, aku akan memikirkan cara lain.
“Baik, kamu memang anak yang pengertian. Hari ini adalah ulang tahun ayahku, siang nanti kami ada acara makan bersama, aku akan membawamu pergi ke sana.
Kamu sudah lelah sepanjang malam, begini saja, aku carikan kamar untukmu dan istirahat. Aku akan memanggilmu nanti.”
“Baik!”
Wahyu mengangguk dan mengikuti Lesti pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Kemudian mereka melanjutkan tidurnya.
Karena ada urusan, Lesti bangun pagi-pagi dan pergi keluar.
Wahyu baru bangun jam 10.30, itupun karena suara dering telepon yang membangunkannya.
“Wahyu, kamu tidak apa-apa?”
“Wahyu, Yitno tidak mempersulit kamu kan?”
“Wahyu, beritahu Kakak kalau terjadi sesuatu, Kakak juga bukan orang biasa.”
Dari seberang telepon, terdengar tiga suara wanita.
Mereka adalah Monita, Sabrina dan Laila.