Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 40. Wahyu Tinggal Untuk Menemani Yara


Saat menjelang sore, semuanya mulai pulang. Yara juga menyuruh orang membawa Justin pulang.


Di aula yang besar itu hanya tersisa Wahyu, Monita, Yara dan Santika.


Santika juga berdiri, “Ra, Mon, aku juga balik dulu ya.”


Yara berkata, “Bermalam saja di sini, kita sudah lama ngak ketemu.”


Santika menggelengkan kepala dan melirik sebentar ke Wahyu, “Ngak deh, aku harus pergi ke Kal-Bar, di sana ada urusan yang harus diselesaikan. Kita bisa ketemuan lagi di lain waktu.”


Yara dan Monita sama-sama berkata, “Iya deh, lain kali ngumpul lagi ya.” Mereka berpegangan tangan dan berkata, “Saudara satu hati, menghadapi masalah apapun bersama.”


Bisa dilihat mereka bertiga memiliki hubungan yang baik selama di kampus.


Santika juga pergi.


Wahyu berdiri dan berkata, “Kak, malam ini aku ngak pulang ya. Aku akan menemani Yara, kamu pulang sendiri saja, hati-hati di jalan.”


Sambil berkata, Wahyu mendekat ke samping telinga Monita dan membisikkan sesuatu. Monita mengerutkan keningnya dan berkata dengan khawatir, “Kamu juga harus hati-hati, kalau ngak bisa, kalian cari tempat tinggal lain dulu hari ini.


“Selain itu, besok pagi pulanglah lebih awal, Kakak ketiga mu akan pulang.”


Wahyu mengangguk, “Iya kak, tenang saja.”


Monita melambaikan tangan ke Yara, “Ra, sampai ketemu lagi, jangan lupa main ke tempatku nanti. Maaf ya aku ngak membantumu hari ini.”


Yara berkata,“Eh, ngomong apa sih, aku ngerti kok.”


Monita berkata, “Makasih ya.” Setelah itu, dia berjalan keluar dari Hotel Surabaya.


Setelah semuanya pergi, Wahyu jalan-jalan sebentar di luar, Yara menyuruh pelayan untuk membersihkan semua sampah yang ada, tak lama kemudian malam pun tiba.


Di belakang hotel Surabaya.


Pantai dengan warna emas yang menawan, setelah ramai seharian, akhirnya kembali tenang.


Wahyu berbaring di atas kursi baring dengan santai sambil meluruskan kedua kakinya.


Setelah selesai beres-beres, Yara datang ke samping Wahyu dan berkata dengan lembut, “Makasih ya.”


“Buat apa? Karena tamparanku?”


“Jika ngak ada kamu, aku mungkin ngak akan melepaskan beban ini selamanya, tamparan itu sudah menyadarkanku.


“Aku bisa mengontrol nasibku sendiri. Hidup ini sangat pendek, aku ngak ingin meninggalkan penyesalan. Yu, apa aku boleh memanggilmu begitu?”


“Tentu saja, sini, duduk di bangku.”


Puft!


Yara tersenyum, “Bangku yang bagus, lembut dan juga hangat, berapa kamu beli? Aku juga ingin beli beberapa.”


“Hehe, bangku ini tidak ada duanya. Bisa duduk dengan tenang dan aman, tidak ada tempat yang menjualnya.”


Wahyu tertawa keras dan menggunakan kesempatan ini untuk mencubit bokongnya yang montok itu. Yara langsung marah, “Bocah, kalau lecet, kamu harus ganti rugi.”


 Nafas mereka saling masuk ke tubuh masing-masing melalui pakaian renang yang tipis ini, membuat detak jantung Yara semakin kencang. Dia membalikkan badannya dan menatap Wahyu dalam waktu lama tanpa berbicara.


Wahyu menutup mata, tapi dia seperti bisa merasakan tatapan Yara. Tiba-tiba dia tersenyum, “Apa di wajahku ada bunga? Kenapa terus menatapku?”


Yara tertawa, “Karena kamu sangat ganteng, sayang sekali kalau ngak dilihat.”


“Ngak usah dipuji.” kata Wahyu sambil mencubit hidung Yara, “Apa yang kamu lihat?”


“Aku tidak memujimu.” Yara menurunkan tangan Wahyu… dia menggelengkan kepala dan berkata, “Aku ingin lihat dengan jelas kamu itu orang seperti apa, tapi ngak bisa. Kasih tahu dong, kamu itu orangnya kayak gimana?”


Wahyu menangkap tangan yang terus bergerak itu agar tidak membuat gejolak yang tidak perlu di badannya. Dia lalu menjawab dengan santai, “Sebenarnya, aku orang yang sederhana. Sejak kecil dibawa pergi, kemudian berhasil kabur dari tangan penjual. Lalu bertemu dengan orang baik yang membawaku terjun ke dunia bisnis. Setelah itu, aku menjadi orang kaya…”


“Aku ngak percaya…”


Yara menggelengkan kepala, dan memainkan rambutnya sambil tersenyum manja.


Saat ini, Yara sudah tidak memiliki beban lagi, senyumannya terlihat begitu mempesona.


Namun, Yara benar-benar tidak mengerti orang seperti apa Wahyu.


Orang ini terkadang seperti anak kecil yang suka bertengkar, bercanda, tertawa, bahkan menggunakan cara paling jahat untuk mengerjai dirinya.


Terkadang seperti bajingan, berkata manis kepada wanita, menyentuh wanita. Tetapi setiap di saat ini, Yara selalu menatap Wahyu dalam-dalam, di dalam mata Wahyu sama sekali tidak terlihat tatapan seorang bajingan.


Walaupun ekspresi Wahyu segenit apapun, tapi di dalam matanya selalu sangat bersih.


Terkadang dia sangat dingin dan tidak berperasaan.


Ketika dia menamparnya, Yara bisa merasakan aura mendominasi yang dipancarkan oleh Wahyu.


Dia seperti seorang raja yang berada jauh di atas yang membuatmu harus mematuhinya. Kita harus berlutut dan mengikuti semua tekadnya.


Tetapi terkadang, dia seperti sebuah tong sampah yang bisa menampung apapun di dalamnya, membuatmu mengeluarkan semua emosi dengan puas, dan dia tidak mengeluh sedikit pun.


Yara terus menatap Wahyu, dia tetap tidak mengerti seperti apa sosok Wahyu. Tiba-tiba dia berdiri dan berkata,“Tunggu bentar.” Kemudian berlari ke arah hotel.