
“Kakak ketujuh, tidak usah syuting lagi, aku yang akan menghidupimu!”
Kekejaman Wahyu sudah terkenal di dunia mafia barat, tapi pada saat ini hatinya bergejolak lagi, dia terus menyebutkan nama Ningrum di dalam hatinya.
Dia tahu kalau Ningrum sudah mengenalinya, tapi dia tidak menelepon ataupun video call dengan Ningrum sama sekali.
Dia tidak boleh video call ataupun meneleponnya, jika tidak Ningrum tidak akan bisa mengendalikan dirinya lalu segera pulang kemari dari Flores yang jauh.
Ningrum sangat mencintai akting, Wahyu tidak ingin Ningrum melepaskan pekerjaannya demi dirinya.
Mendengar suara nyanyian Ningrum, Laila sudah menangis tersedu-sedu sejak tadi, air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pakaiannya. “Teruskan, kalian teruskan saja membuatku terharu! Biarkan saja kakak mati karena menangis.”
“Kak, jangan menangis! Aku ingin berbicara serius denganmu.”
Setelah Wahyu mematikan ponselnya, Laila mengusap air matanya lalu tertawa. “Dasar bocah, jangan mencelakai orang lain, apakah kamu tidak menyadari kalau Ningrum mencintaimu?”
Hehe!
Wahyu tersenyum culas lalu berkata. “Kakak kelima tidak mencintaiku?”
“Kamu minta ditonjok ya.” wajah Laila memerah lalu berubah datar. “Hal serius apa yang mau kamu bicarakan denganku?”
Wahyu berkata, “Apakah kamu tidak menyadari kalau tante Lina itu sedikit aneh?”
Laila menaikkan alisnya “Aku sudah menyadarinya sejak dulu, pernah suatu kali dia malah masuk ke ruang bawah tanah secara diam-diam, kebetulan bertemu denganku, tapi dia berkata kalau dia sedang mencari sesuatu jadi pergi ke tempat yang salah. Aku curiga kalau dia sedang mencari barang-barang antik Pak Tua.”
Wahyu mengangguk dan berkata, “Aku juga bisa melihatnya, wanita tua ini mempunyai maksud yang tidak baik, jika ada waktu luang aku akan memasang CCTV di dalam rumah atau kita langsung tendang dia keluar saja.”
Laila menggeleng dan berkata, “Susah untuk mengusirnya keluar, Pak Tua sudah terpesona olehnya, pasti dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi, begini saja, untuk berjaga-jaga kita cari waktu lalu pulang ke rumah dan memasang beberapa CCTV di sana.”
Wahyu berkata, “Baiklah, saat kakak ketujuh kembali dari Flores kita adakan pesta besar di rumah, saat Pak Tua tidak memperhatikan, kita pasang CCTV.” Setelah itu dia kembali berkata, “Kakak kelima, kenapa kamu tidak membeli rumah yang besar?”
Laila mengerucutkan bibirnya. “Kamu kira semua orang mempunyai banyak uang seperti kakak pertama dan keempatmu, gajiku selama sebulan hanya 10 juta, bisa membeli rumah dengan tiga kamar tidur ini saja sudah cukup lumayan, sampai sekarang aku masih mempunyai cicilan ke bank.”
“Kak.” Wahyu meletakkan kedua tangannya di pundak Laila lalu berkata, “Kak, aku belikan satu untukmu.”
Laila mendorong dahi Wahyu dengan jarinya. “Berhenti, kakak pertama dan keempat sudah pernah berkata ingin membelikannya untukku, aku tidak mau, aku punya tangan dan kaki, kenapa harus kalian yang membelikannya untukku.”
“Kak, kamu tidak perlu sungkan denganku, Pak Tua pernah berkata kalau kalian bertujuh adalah istriku, jadi sudah seharusnya aku membiayai istriku.”
“Bocah, mimpi kamu, ingin mengambil kami bertujuh sebagai istrimu, memangnya kamu bisa membiayai kami semua?”
Hehe!
Wahyu tersenyum berucap. “Bagaimana jika kamu mencobanya terlebih dahulu?”
“Minta dipukul.”
Laila langsung menyerang ************ Wahyu kemudian terkekeh dan berlari menuju ruang ganti.
Saat dia keluar kembali, dia sudah mengenakan sebuah gaun brokat seksi bercorak bunga-bunga tanpa lengan yang berbelahan tinggi, dia keluar dari ruang ganti lalu berputar mengelilingi Wahyu beberapa kali. “Bagaimana dengan gaun ini?”
“Tidak boleh.” wajah Wahyu langsung menghitam, belahannya terlalu tinggi, hampir memperlihatkan pantatnya yang seputih salju, jelas tidak boleh.
Laila menggeleng. “Baiklah, tidak boleh ya sudah, aku ganti yang lain.”
Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan mengenakan gaun panjang berbahan organza yang berbelahan dada rendah.
Bagian atasnya adalah atasan berwarna hitam yang menonjolkan dadanya, bagian bawahnya rok panjang berwarna putih.
“Kalau ini bagaimana?”
Wahyu mengerutkan hidungnya. “Lumayan, jika belahan dadanya lebih tinggi lagi maka akan lebih bagus.”
Wahyu berkata, “Jasku ada di tempat Kakak pertama, aku tidak mengenakan jas, aku memakai ini saja.”
“Baiklah, terserah kamu saja, lagipula adikku memakai apapun tetap terlihat tampan.”
Dikarenakan profesinya sebagai polisi, untuk urusan baju Laila tidak terlalu pemilih, hal ini agak sedikit mirip dengan Wahyu.
Wahyu bersikeras untuk tidak mengganti bajunya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, mereka berdua turun dari Gedung apartemen.
Karena takut nanti mereka harus minum alkohol, jadi mereka menggunakan satu mobil saja, Laila tidak mengemudikan mobil, dia duduk di dalam lamborghini Wahyu lalu keluar dari gedung apartemen.
Di tengah jalan Laila memperkenalkan kepada Wahyu. “Wahyu, tempat yang akan kita tuju bernama Garden Mansion, pemiliknya adalah orang yang ingin aku kenalkan denganmu, rumah lamanya ada di Jakarta, untuk sementara tinggal di sini selama 2 hari.
Akan tetapi sekarang ada sedikit masalah, kamu sudah memukul keponakannya, jadi aku tidak tahu apakah dia mau membantu kita atau tidak, tidak peduli dia mau membantu kita atau tidak, kamu harus ingat kalau kamu tidak boleh berbuat kasar, jika ada masalah, bicarakan baik-baik, kedudukan orang ini sangat tinggi, kita tidak boleh menyinggungnya.”
“Oke oke!”Wahyu berjanji berulang kali.
20 menit kemudian, dengan arahan dari Laila, Lamborghininya muncul di depan sebuah bangunan yang sangat megah.
Sangat besar, hanya area pekarangannya saja tidak terlihat ujungnya, di atas pintu gerbang mansionnya tertulis dua kata yang sangat menyilaukan. Garden Mansion, ada orang yang berjaga di pintu gerbang.
Wahyu dan Laila datangnya agak sedikit terlambat, acaranya sudah dimulai, di luar mereka dapat mendengar melodi yang indah.
Saat Lamborghinya berhenti, Laila keluar dari mobil terlebih dahulu, kemudian dia mengeluarkan dua buah kartu undangan dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada petugas keamanan, setelah itu dia menoleh dan mengangguk kepada Wahyu, kemudian barulah Wahyu keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
“Tunggu sebentar!”
Saat Wahyu sampai di depan pintu, dia dipanggil oleh seorang petugas keamanan.
Petugas keamanan itu seperti melihat setan, matanya menatap Wahyu dengan lekat, dia memperhatikan Wahyu dari atas ke bawah beberapa kali, membuat Wahyu merasa takut, dia berpikir di dalam hatinya “Jangan-jangan ada kelainan pada orientasi seksual bocah ini? “
Untung saja setelah petugas keamanan menatapnya sebentar, dia menggeleng sambil bergumam, “Tidak mungkin, sangat tidak mungkin.” Kemudian dia mengangkat tangannya: “Silahkan masuk.”
“Dasar gila.” setelah Wahyu berjalan menjauh, dia kembali menoleh menatap petugas keamanan itu, dia melihat kalau petugas keamanan itu sedang menelepon.
Di dalam mansion ada banyak tanaman bunga, berbagai macam bunga segar yang sedang mekar, mengeluarkan wangi bunga yang sangat pekat.
Mereka berdua berjalan ke dalam mengikuti jalan kecil yang ada di antara tanaman bunga, saat mereka hampir mendekati aula, tiba-tiba terdengar suara tawa yang menyenangkan. “Laila, paman kira kamu tidak datang, kenapa kamu datang terlambat?”
Seorang pria tua berjalan mendekati mereka dari seberang dengan langkah yang lebar dan kepala yang terangkat tinggi.
Dari posturnya yang tegap, Wahyu langsung tahu kalau orang ini pernah menjadi tentara, selain itu merupakan tentara khusus.
Orang ini sedang berjalan ke arah Wahyu, beberapa menit kemudian mereka saling bertatapan.
Wahyu merasakan sesuatu yang aneh melintas di hatinya, sulit untuk dijelaskan apa yang dirasakan olehnya, Wahyu merasa kalau dia mengenal orang yang ada di hadapannya ini, tapi itu sangat mustahil.
“Laila, siapa anak muda ini, kenalkan pada paman.”
Laila segera berjalan mendekat. “Paman Yitno, ini adalah adikku, namanya Wahyu. Wahyu, ini adalah Paman Yitno, Paman Yitno adalah orang penting, sangat sulit untuk ditemui, jika kamu mempunyai permintaan, katakan saja, Paman Yitno sangat murah hati. Selain itu Paman Yitno sangat menyukai barang-barang antik, jika kamu menemukan barang bagus, ingatlah untuk memberitahukannya kepada Paman Yitno.”
Laila sangat pintar memperkenalkan, kata-katanya membuat pria tua itu gembira, bahkan sekalian memberi petunjuk kepada Wahyu dengan perkataannya, Wahyu segera maju selangkah. “Senang berkenalan dengan Anda, Paman Yitno.”
Yitno tertawa terbahak-bahak. “Tidak perlu terlalu formal, kamu adalah adik Laila, kalau begitu kita bukan orang luar, jika ada sesuatu yang bisa aku bantu, katakan saja.”
Yitno mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian maju selangkah, dia ternyata menarik tangan Wahyu lalu berjalan ke arah aula, karena dia hanya membicarakan hal-hal yang ringan, maka itu bahkan Wahyu saja tidak menyadari saat Yitno melihat Wahyu untuk pertama kalinya, di kedalaman matanya terlintas sinar yang sangat jarang terlihat.