
Setelah setengah jam kemudian, mobil militer berhenti di depan rumah Santika.
Wahyu turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk.
Santika yang kesal berkata, “Dasar bodoh, bagaimana kamu bisa masuk tanpa kunci?”
Wahyu menoleh ke belakang dan tersenyum. “Siapa yang bilang harus pakai kunci? Aku lupa kasih tahu, sebenarnya aku bisa membuka pintu apa pun dalam tiga detik, termasuk brankas bank.”
“Kenapa kamu suka membual?”
Santika menatap Wahyu dengan kesal dan turun dari mobil.
Wahyu juga tidak mempedulikannya, dia mengeluarkan sebuah kawat, kemudian membuka gembok dengan cepat di hadapan Santika. Pintu anti maling yang sangat kuat ini pun terbuka dengan mudah.
Kamu?
Santika tidak bisa berkata-kata.
Wahyu hanya tersenyum dan berkata, “Jangan mengagumiku, aku hanyalah seorang legenda.”
“Kamu kamu kamu, kamu benar-benar berengsek.”
Santika akhirnya melontarkan ucapannya.
Ada apa dengan orang ini? Padahal Wahyu bisa membuka pintunya semalam, kenapa harus membawa dia untuk bermalam di hotel? Wahyu bahkan sengaja membuka satu kamar dan memelototi seluruh tubuhnya.
Santika yang ingin memarahinya juga tidak tahu harus menggunakan kata seperti apa.
Pria di depan ini sepertinya tidak sensitif dengan kata-kata makian, dia bahkan tidak merasa malu.
“Kamu kamu … kamu … tidak tahu malu.”
Pada akhirnya, Santika hanya bisa mengatakan tidak tahu malu, perkataan yang sama sekali tidak berguna di hadapan Wahyu. Setelah melirik Santika dengan santai, Wahyu berjalan melewati pekarangan, dia lalu membuka pintu rumah dengan mudah juga.
Interior di dalam rumah sama seperti di Jakarta, bersih dan elegan. Namun, terdapat sebuah meja antik yang berwarna coklat, lalu ada sebuah tas di atas meja itu.
Santika berjalan ke dalam kamar dengan ekspresi masam, lalu membawa sebuah tas kecil dari kamar. Sambil mengambil tas kecil di atas meja antik, dia pun berkata, “Ayo pergi.”
Wahyu meraba hidungnya dan berkata, “Santika, aku tidak menyarankan kamu untuk pergi ke Desa Sukajadi. Belakangan ini terus hujan deras di sana, dengan kondisi tubuh yang tidak baik, kamu lebih baik tidak pergi ke sana.”
“Bukan urusanmu! Pergi atau tidak, kalau tidak mau, aku akan mengunci pintunya.”
“Pergi pergi! Aku tidak bisa berdebat dengan orang bodoh.”
Wahyu tidak berdaya, dia berjalan keluar dari pekarangan dengan wajah masam.
Di bagasi terdapat dua sepeda lipat dan satu tas besar, kemudian ditambah beberapa barang yang dibeli Wahyu kemarin, lalu ada dua tas yang dibawa Santika sekarang.
Semua ini bukan masalah bagi mobil militer. Tapi berdasarkan ucapan Wira, setelah 200 km, mereka harus menggunakan sepeda untuk naik gunung, bahkan Ahli Strategi juga mengatakan bahwa akan ada hujan badai.
Bagaimana dengan semua barang bawaan ini?
Wahyu sudah bisa membayangkan situasi ketika dia sedang membawa tas-tas ini.
“Wanita ini, aku akan memberimu pelajaran nanti.”
Wahyu tersenyum dan berpura-pura tidak terjadi apa pun. Setelah memasukkan barang Santika ke dalam mobil, mereka berdua pun berangkat.
Mereka tidak membutuhkan gps karena Santika pernah datang ke sini, dia terus memandu Wahyu melewati Kalimantan Barat, kemudian mereka sampai di sebuah jalan gunung yang tidak rata.
Awalnya, jalannya masih seperti jalan desa yang biasa, walaupun tidak rata, mobil masih bisa lewat dengan aman. Mereka bisa melihat kendaraan umum yang melewati jalan sini, tapi tidak ada pejalan kaki sama sekali.
Setelah 50 km, kendaraan umum mulai jarang terlihat.
Setelah 100 km, hanya tersisa satu kendaraan umum, Wahyu pun mengikuti kendaraan umum dari belakang. Jalanan mulai terlihat menyeramkan setelah 100 km.
Wahyu hampir saja berteriak kesal melihat jalan di depan.
Kendaraan umum sudah sampai di tujuan, terlihat beberapa anak muda yang turun dari bus itu.
Para anak muda ini bukan ingin naik gunung, mereka hanya ingin merasakan sensasi jalan yang tidak rata, setelah itu mereka akan kembali. Para anak muda membawa sepeda dan berjalan ke depan dengan ekspresi penasaran.
Wahyu turun dari mobil untuk melihat kondisi jalan di depan, walaupun tidak terlalu sempit, tapi sangat susah dilewati mobil.
Seharusnya ini bukan jalan, melainkan bebatuan yang berantakan dan juga berbahaya.
Ekspresi Wahyu semakin masam melihat wanita yang duduk di sampingnya itu, orang-orang sering mengatakan bahwa kerja sama antara pria dan wanita membuat pekerjaan lebih bersemangat.
Namun, wanita cantik seperti Santika yang dingin dan susah didekati, membuat Wahyu tidak bisa senang.
“Kenapa diam saja? Cepat turun dan keluarkan barang-barang, kita tinggalkan mobil di sini saja. Paman dan yang lain bisa menemukan mobil dengan alat pelacak,” teriak Santika kepada Wahyu yang sedang bengong.
“Tunggu sebentar.”
Wahyu berteriak dengan kesal, kemudian dia menghampiri mobil militer dan berkata dengan wajah sedih, “Kawan, walaupun kita baru kenal sebentar, tapi aku harus mengandalkanmu hari ini.”
Setelah itu, Wahyu masuk ke dalam mobil. Dia langsung menancap gas tanpa menunggu Santika berbicara.
Walaupun mobil militer yang sudah dimodifikasi sangat mahal, Wahyu justru tidak merasa seperti itu. Apalagi dia membawa Santika ke sini, dia pasti akan menjadi beban Wahyu dalam waktu singkat.
Jadi Wahyu ingin menghemat waktu dengan mobil ini.
Namun, mereka bukan hanya membutuhkan kualitas mobil yang bagus, tapi juga harus teknik menyetir yang hebat.
Wahyu tentu saja sangat hebat, dia bahkan sanggup bersaing dengan pembalap internasional. Mobil bergerak seperti hewan buas dan melaju dengan kencang.
Suara-suara itu membuat Santika hampir berteriak, perjalanan ini lebih menantang daripada wahana di tempat bermain dan juga berbahaya. Kedua sisi jalan adalah pegunungan, sesekali akan terlihat jurang di sisi jalan.
Kalau terjatuh ke bawah, mereka pasti akan mati.
Para anak muda yang menggunakan sepeda terlihat sangat iri.
“Siapa anak orang kaya itu?”
“Astaga, mobilnya sudah rusak, sayang sekali!”
“Itu adalah mobil militer, apa militer memiliki uang sebanyak itu?”
Mereka membelalakkan mata melihat Wahyu melaju melewati mereka, mobilnya tidak sedang berjalan di atas tanah melainkan melompat.
Dari kejauhan, terlihat mobil militer itu melompat ke arah depan. Kalau mobil ini adalah mobil dengan atap terbuka, Santika pasti sudah terpental keluar.
Tidak bisa dipungkir, mobil ini sangat membantu!
Setelah melaju sejauh 20 km, terdengar suara ban meledak.
Pada akhirnya, Ban depan sebelah kiri pun meledak karena benturan keras yang terus menerus dan beberapa batu tajam.
Wahyu sudah menduga dengan hasil seperti ini, dia langsung membanting setir dan melanjutkan perjalanannya.
Setelah 10 km, ban kedua pun meledak.
Kemudian setelah 20 km, kedua ban belakang juga ikut meledak.
Wahyu sangat kejam, dia tidak menyerah walaupun ban mobil telah rusak. Dia terus melaju ke depan dengan kondisi ban mobil yang sudah meledak, setelah 30 km, dia akhirnya menghentikan mobil dan turun.
Karena kondisi mobil sudah tidak bisa digunakan lagi.