Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Menguras Emosi


“Stabil, presisi, dan keras, namun tenaganya agak sedikit kurang kuat.”


Wahyu menerima 2 serangan dari Monita, dia tersenyum samar, meninggalkan sebuah bayangan, kemudian muncul di belakang Monita.


Barulah Monita berbalik. “Kamu siapa? Bagian apa?” Kedua orang itu saling berhadapan.


“Cantik! Anggun, berkelas dan juga berbakat, tiada duanya.”


Ditambah dengan suaranya yang menawan barusan, dan juga auranya yang terlihat mendominasi, selain itu kecantikan wajahnya yang tidak bisa dilukiskan oleh semua kata-kata yang ada di dunia ini, dia adalah seorang ratu sejati.


Wahyu memujinya diam-diam, tapi dia merasa kalau Monita sepertinya tidak mengenalinya.


Saat Wahyu diculik, dia baru berumur 5 tahun, sedangkan Monita lebih tua 5 tahun dari Wahyu.


18 tahun sudah berlalu, Wahyu yang saat itu baru berumur 5 tahun sekarang sudah 23 tahun, dari seorang bocah ingusan sudah tumbuh menjadi pemuda yang tinggi dan tampan seperti sekarang ini.


Bagaimana mungkin Monita bisa mengenalinya?


Sedangkan saat Wahyu diculik, Monita sudah berumur 10 tahun, wajahnya secara garis besar sudah terbentuk, karena itu Wahyu dapat langsung mengenalinya.


Mereka berdua saling memandang, wajah Monita terlihat bingung, dia merasa kalau orang ini terlihat familiar, tapi dia pernah melihatnya di mana? Monita sama sekali tidak ingat.


“Kak! Ini aku, Wahyu, aku sudah kembali.”


Mereka berdua saling memandang, seketika itu juga, kenangan masa kecil mereka bagaikan air pasang yang menyerangnya, ingatan Wahyu benar-benar sudah terbuka, dia menahan rasa sakit di hatinya. “Kak, apa Kakak masih ingat anak kecil yang pernah memakai ****** ***** Kakak di atas kepala sambil memegang pistol air dan membuat seluruh tubuhmu basah?”


“Kamu... Wahyu.”


 Setelah kebisuan yang cukup lama, Monita merasa hatinya bagaikan ditusuk sesuatu.


Dia tidak tahu bagaimana cara dia bisa menyebutkan nama Wahyu, suaranya terdengar tajam dan tinggi, rasa sakit yang merobek jantungnya seketika menjalar naik ke tubuhnya.


Pada saat yang bersamaan beberapa potongan gambar muncul di pikirannya.


Itu adalah suatu kali pada saat mereka sedang makan siang, Wahyu berlarian ke sana kemari, tidak makan dengan benar, Monita mengejarnya, hasilnya Wahyu menyemprotkan pistol air yang baru saja dibeli oleh Raja Pengemis ke arah Monita dan membuatnya basah kuyup.


Ingatan ini bagaikan pisau yang menggoresnya, tercetak di kedalaman jiwanya.


Karena di hari Wahyu memakai ****** ***** Monita yang baru dibelinya itu di atas kepala, itu juga merupakan hari di mana Wahyu menghilang dari kehidupan mereka.


18 tahun kemudian, Monita masih terus mengingatnya, karena itu saat sosok yang sudah menyebabkannya sering mengalami insomnia itu muncul lagi di hadapannya, Monita langsung runtuh.


Meskipun Monita sudah menyandang sabuk hitam dan 9, pada saat ini seluruh tenaganya seolah-olah tiba-tiba terkuras habis dari tubuhnya, tubuh mungilnya yang indah terhuyung, wajahnya seketika berubah menjadi sangat pucat…


“Kak!”


Wahyu tidak menyangka kalau reaksi Monita akan sekaget ini, dia segera mendekat dan memeluk Monita.


“Wahyu, kamu benar-benar Wahyu, kakak yang salah, jika saat itu kakak pergi denganmu, kamu tidak akan dibawa oleh orang…”


Bagi Monita, menghilangnya Wahyu sama dengan sebuah batu besar yang ada di hatinya.


Beberapa tahun belakangan ini, dia menguasai pasar, dia bekerja mati-matian, semuanya dia lakukan demi mengurangi tekanan yang ada di hatinya, agar dapat membuatnya lupa akan kejadian pada waktu itu.


Sayang sekali tekanan-tekanan yang dirasakannya beberapa tahun belakangan ini bukan saja tidak berkurang, bahkan semakin lama semakin berat, menekan Monita sampai membuatnya tidak dapat bernapas, setiap kali sedang makan, dia akan selalu teringat apakah Wahyu juga sedang makan, apakah dia sudah makan.


 Setiap kali mau tidur, Monita juga akan teringat apakah Wahyu sedang tidur, apakah Wahyu mempunyai tempat untuk tidur.


Segala hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Monita, jadi saat dia melihat Wahyu, Monita tidak dapat menanggung kejutan atau bisa juga dibilang pukulan ini.


 


 


Segala penyesalannya, segala kerinduannya, segala kesakitannya, pada saat ini menyerangnya secara bersamaan.


“Kak, semuanya sudah berlalu, lihatlah, aku hidup dengan baik!”


“Kak! Sekarang aku sudah pulang.” 


Seorang anak laki-laki bukannya tidak pernah menangis tapi dia akan menangis saat mengalami hal yang sangat menyakitkan, 18 tahun yang lalu saat diculik, Wahyu menangis selama beberapa hari, namun kemudian dia bersumpah kalau dirinya tidak akan pernah menangis lagi untuk seumur hidupnya, seorang pria sejati berbicara dengan menggunakan tinjunya.  


18 tahun kemudian, pemuda yang tampan ini, Sang Penakluk Dunia ini ternyata menangis tersedu-sedu dikarenakan cinta.  


“Kak.” 


Wahyu menghapus air matanya sendiri lalu membantu Monita untuk menghapus air mata dari mata indahnya itu, kemudian dia memapah Monita perlahan-lahan untuk duduk di atas kursi.


“Wahyu, ini benar-benar kamu bukan? Kamu sudah dewasa, biarkan kakak melihat wajahmu.”


Monita memegang kedua pipi Wahyu dengan tangannya yang gemetar, mereka berdua saling berpandangan selama 5 menit penuh, setelah itu mereka baru sadar kembali dari kenangan yang menyakitkan, namun Monita tetap tidak berani melepaskan kedua tangannya.


Dia takut kalau ini hanya mimpi, jika dia melepaskannya, Wahyu akan menghilang.


Wahyu tertawa dan berkata, “Kak, kamu adalah istri pertama yang diberikan oleh Pak Tua padaku, tenang saja, aku tidak akan pergi lagi.” 


Haha! 


Perkataan yang diucapkan Wahyu membuat Monita tertawa. “Dasar bocah, kamu memang nakal, apakah kamu sudah bertemu dengan Tuan Besar?”


“Sudah, aku sudah pulang dari jam setengah 11, aku pergi bertemu Pak Tua dulu, Kesehatan Pak Tua sangat baik, kalian tidak perlu cemas, sebaliknya aku, ini sudah lewat jam makan siang, tapi aku masih belum makan, aku sudah datang ke tempatmu tapi kamu tidak menjamuku.”


“Dasar bawel, kebetulan kakak juga belum makan, ayo kita cari tempat untuk makan.” 


Monita berjalan ke luar sambil menggandeng tangan Wahyu.


Sekarang sudah lewat jam makan siang, saat Wahyu datang, hampir semua karyawan perusahaan sedang makan siang. 


Mereka berdua jalan ke luar, kebetulan bertemu dengan karyawan yang baru kembali dari makan siang, hal itu langsung mengundang bisik-bisik dari para karyawan. 


“OMG! Apa yang barusan aku lihat tadi?”


“Berita, berita yang menggemparkan, Presdir Monita menggandeng tangan seorang pria?”


“Wuaa! Tampan sekali, siapa pria tampan ini?”


  “Tapi sebentar lagi sepertinya akan ada pertunjukan yang menarik, seseorang pasti akan cemburu.” 


Penampilan Wahyu biasa saja, dia hanya memakai kaus olahraga yang dibeli di kaki lima, tapi karena sudah terbiasa berada di posisi yang tinggi, hal itu tidak dapat menutupi auranya yang tidak seperti orang biasa, membuat banyak wanita cantik yang meliriknya.


Monita adalah wanita yang cantik dan elegan, tapi biasanya dia sangat jarang menyapa karyawannya, terlihat sedikit angkuh dan membuat orang lain tidak berani mendekat, sekarang dia tiba-tiba menggandeng tangan seorang pria, ditambah dengan penampilan mereka yang terlihat mesra, hal ini tentu saja membuat orang-orang membicarakannya. 


Tapi di mata Monita semua ini bukan masalah sama sekali, bahkan dunia runtuh saja tidak bisa menutupi kebahagiaan Monita yang bisa bertemu dengan Wahyu lagi. 


Meskipun orang-orang membicarakan mereka, Monita bukan saja tidak kabur, dia bahkan mengalungkan tangannya di leher Wahyu, mereka berdua bagaikan sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan.


Pada saat mereka berdua sedang berjalan ke arah lift, ponsel Monita tiba-tiba saja berbunyi. 


“Menyebalkan.” 


Monita melihat layar ponselnya, kemudian menekan tombol reject.


Tidak sampai 2 menit kemudian, teleponnya kembali berdering, Monita menolaknya sekali lagi.


Teleponnya terus berdering seperti ini, akhirnya Monita menjawabnya dengan tidak berdaya, dari dalam telepon terdengar suara yang sangat hangat. “Monita, sudah makan belum, aku masih belum makan, ayo kita pergi makan bareng.”


“Maaf, aku sudah makan, kamu makan sendiri saja.”


  Monita menutup teleponnya lalu mereka berdua naik lift turun ke lantai 1, baru saja mereka keluar dari lift, Monita tertegun. 


Ada seseorang sedang berdiri di depan lift, mengenakan setelan jas dan dasi, terlihat terpelajar dan sopan, dia memakai kacamata, tangannya masih memegang telepon, sedang menelepon seseorang. 


Melihat Monita keluar dari lift, dia menyambutnya dengan senyuman“Monita”. Kemudian dia melihat Wahyu yang ada di samping Monita.