Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 55. Senyuman Licik Wahyu


Hujan semakin deras dan langit semakin gelap membuat perjalanan Wahyu dan Santika semakin susah.


Untungnya, Wahyu memiliki penglihatan yang sangat hebat, walaupun begitu, dia juga tidak bisa melakukan semua dengan selamat.


Jalan gunung terjal, punggung bukit yang saling bersilangan akan tergenang air karena hujan, hal ini membuat Wahyu semakin sulit untuk bergerak.


Pong!


Karena tidak hati-hati, Wahyu tergelincir dan terjatuh ke kubangan air.


Santika menangis, “Lepaskan aku, aku minta tolong, lepaskan aku.”


“Diam kamu!”


Wahyu berusaha bangun dari kubangan air, dia tiba-tiba berkata sambil tersenyum, “Apa kamu tahu kenapa posisi tempat duduk sepedamu lebih tinggi?”


Santika berkata, “Tidak tahu.”


Wahyu berkata sambil tersenyum, “Aku yang sengaja menaikkannya, karena ingin memukul harga dirimu itu.”


“Aku kasih tahu, di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari nyawa itu sendiri.”


“Berapa harga dari harga dirimu itu? Berapa harga kehormatanmu itu? Kalau nyawamu melayang, semua itu hanyalah bualan belaka.”


“Orang-orang selalu mengatakan bahwa cinta lebih penting nyawa, kebebasan lebih penting dari cinta, tapi semua itu hanya bualan belaka.”


“Kehidupan ini adalah sebuah bangunan, nyawa adalah pondasi dari bangunan itu. Uang, kekuasaan, harga diri dan yang lain adalah pelengkap bangunan itu.”


“Kalau pondasinya menghilang, bangunan pasti akan runtuh. Semua pelengkap itu juga akan menjadi sampah yang tidak berguna.”


“Orang seperti kamu selalu merasa tidak aman, kamu bahkan membawa senjata saat mandi. Di wajahmu juga tertulis bahwa tidak boleh mendekat, semua hal itu tidak baik ….”


“Kamu harus melepaskan harga diri, berjalan keluar dari zona nyaman, hidup dengan berani dan menikmati setiap saat.”


“Hanya dengan begitu, kehidupan akan memiliki arti.”


“Betul, ‘kan?”


Wahyu memukul bokong Santika, lalu dia hanya mendengar Santika yang mengiyakan dengan pelan!


Sialan! Apa semua ucapanku sia-sia?


Wahyu benar-benar sangat kesal.


Hari ini terlalu capek, ditambah kondisi tubuh yang sedang sakit, Santika pun tertidur di badan Wahyu.



Ketika Santika sadar, langit sudah pagi dan hujan sudah berhenti.


Walaupun kondisi desa sangat miskin, tapi udara di sini sangat segar.


Suara kicauan burung terdengar sangat indah.


Santika dibangunkan oleh suara burung, dia menyadari dirinya sedang berbaring di bawah pohon besar dengan barang bawaan yang dijadikan bantalan. Ketika mencium aroma yang harum, baru kemudian dia menyadari bahwa tidak jauh darinya, ada tumpukan api unggun tempat seekor ayam sedang dipanggang.


Kulit ayam terlihat berkilauan, ditambah aroma yang berhembus dengan angin gunung, benar-benar sangat menggugah selera.


Wahyu tidak tahu mendapatkan sebuah mangkok rusak dari mana, semakin mendekat, bayangannya semakin besar.


Santika tiba-tiba berpikir, ‘Pria yang lembut dan baik hati.’


Setelah itu, dia berjalan ke dekat api unggun, mencabut potongan ayam dan mulai menyantapnya dengan pelan.


Mungkin karena terlalu lapar, dia menghabiskan hampir setengah ekor ayam walaupun makan dengan pelan.


Setelah melihat Wahyu, Santika berkata kepada Wahyu sambil mengunyah. “Terima kasih.”


Melihat Santika memperhatikan dirinya seperti itu, Wahyu tersenyum jahat dan berkata, “Jangan terharu dulu. Karena di sini tidak ada pelayan, aku terpaksa turun tangan sendiri.”


Awalnya Santika tidak mengerti apa maksudnya, tapi dia langsung mengerti setelah menundukkan kepala.


Hujan deras kemarin telah membasahi seluruh tubuhnya, tapi sekarang bajunya malah kering. Lalu, bagian paha dalam yang terluka kenapa tidak terasa sakit lagi?


Santika membalikkan badannya, dia mengintip ke bagian bawah. Setelah itu dia langsung berteriak.


Bukan hanya pakaian yang diganti, bahkan terlihat cairan aneh di bagian paha dalam, seharusnya itu adalah cairan dari tanaman herbal.


Setelah mengingat ucapan Wahyu, dia langsung mengerti apa yang terjadi. Wahyu bukan hanya mengganti pakaiannya, dia juga mengolesi obat. Masalahnya, tempat yang diolesi obatnya itu ….


Pada saat ini, Wahyu tiba-tiba berkata, “Tenang saja, aku menutup mata ketika mengolesi obat. Sehingga tidak melihat bunga atau rumput apa pun!”


Ah ….


Bunga dan rumput apa?!


Santika langsung merasa depresi, apanya pria lembut yang baik hati? Dia adalah seorang preman genit.


“Wahyu ….”


Santika menggertakkan gigi, dia mengangkat paha ayam dan mengejar ke arah Wahyu.


Ketika Wahyu akan dipukul olehnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Bu Santika, kamu sudah datang?”


Seorang wanita paruh baya dengan pakaian desa berjalan ke arah mereka.


Teriakan itu berhasil menyelamatkan Wahyu.


Santika langsung berhenti mengejar Wahyu, dia berkata, “Tante Uti, kenapa kamu bangun pagi-pagi?”


Wanita paruh baya itu berkata, “Aku mendengar gonggongan anjing yang sangat keras, sehingga bangun untuk memeriksanya. Ternyata ayam di kandang berkurang satu ekor, aku tidak tahu maling mana yang mencurinya. Semoga masih bisa ketemu.”


Ayamnya berkurang satu?


Santika tiba-tiba mengingat sesuatu, dia melihat paha ayam di tangan, kemudian menoleh ke arah Wahyu dan melihat Wahyu sedang tersenyum licik ke arahnya.


Lalu ketika melihat tulang ayam yang berserakan di tanah, ekspresi wajah Santika langsung menjadi masam.


Ternyata ini bukan ayam liar, melainkan ayam peliharaan. Santika malah menyantapnya dengan wangi.


“Wahyu sialan!” Santika langsung mengerti bahwa dirinya dijebak.


Namun, dia tidak bisa menjelaskan apa pun lagi. Santika segera mengeluarkan uang dari tas dan memberikan kepada wanita paruh baya itu.