Aku Dicintai 7 Kakak Cantik

Aku Dicintai 7 Kakak Cantik
Bab 41. Tiga Gelas Anggur


Setelah setengah jam, Yara berjalan keluar dari hotel.


Di malam hari, Yara terlihat semakin memesona. Dia memakai pakaian renang dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.


Yara menginjak pasir dengan kaki telanjang, kaki yang panjang dan putih terlihat semakin ramping di malam hari. Sepertinya, Yara sudah memperbaiki dandanannya, bibir yang lembut itu bertambah merah dan memancarkan aura yang menggoda.


Yara membawa sebuah nampan berisi tiga gelas anggur dengan warna yang berbeda. Dia mendekati Wahyu diam-diam, kemudian meletakkan nampan ke bawah dan mengangkat salah satu gelas. Setelah berdiri, dia menutupi mata Wahyu dengan tangannya yang lembut, sambil mendekatkan gelas ke mulut Wahyu, Yara pun berkata, “Tidak boleh lihat, apa kamu berani minum?”


Wahyu tersenyum, “Kakak adalah bartender top dunia, aku juga penasaran dengan minuman yang diolah oleh kakak.”


Wahyu menggenggam tangan Yara dan memiringkan gelas anggurnya. Cairan berwarna coklat pun masuk ke dalam tenggorokannya.


“Bagus! Apa kamu menginginkan pendapatku?”


Ketika Wahyu ingin melanjutkan, Yara menutup mulutnya dengan tangan yang lembut. “Jangan bicara dulu, masih ada dua gelas.”


Yara meletakkan gelas kosong ke bawah, kemudian mendekatkan gelas kedua ke bibir Wahyu dan mengulangi gerakan tadi. Setelah Wahyu meneguk habis gelas ketiga, Yara baru berkata, “Coba katakan pendapatmu, seperti apa rasanya?”


Wahyu merenung selama tiga menit, dia pun berkata, “Gelas pertama memiliki rasa mentah dan sedikit pahit, tapi terasa sangat murni. Efek setelahnya pelan-pelan menguat, memberikan perasaan kacau dan liar, bahkan sedikit kehilangan kendali.”


“Kalau aku tebakanku benar, pasti kamu mengolah minuman ini. Kamu seharusnya memiliki masa kecil buruk yang dipenuhi kesulitan dan penderitaan. Setelah dewasa, kamu mulai melepaskan diri dan menjadi wanita sosialita untuk melepaskan diri dari trauma masa kecil.”


Wahyu melanjutkan, “Setelah meneguk habis gelas pertama, suasana liar pelan-pelan menghilang. Hal ini membuktikan kamu tidak berhasil mengalahkan trauma masa kecilmu itu.”


“Sehingga kamu memilih untuk menyerah di hadapan tekanan dari Andre.”


“Kalau bukan karena tamparanku, hidupmu pasti akan berakhir. Seorang wanita cantik dengan tubuh indah, tapi justru kehilangan jiwa yang berani. Kakak, kamu harus berterima kasih kepadaku.”


Wahyu berkata sambil tertawa terbahak-bahak.


Wahyu mengulurkan kedua tangan, kemudian mencubit pelan paha yang putih dan mulus itu, dia pun berkata, “Aku harus mengambil sedikit keuntungan dulu.”


Yara tertegun sebentar, lalu berkata, “Dasar jahat, bagaimana kamu bisa tahu?”


Dia menatap Wahyu dengan bengong dan tidak menghindar. Seolah-olah tersambar oleh petir, pikiran Yara pun menjadi kosong.


Namun, Yara tidak pernah mempercayai perkataan yang tidak masuk akal itu. Hari ini ucapan Wahyu membuatnya tercengang, bocah misterius ini bisa menceritakan semua kehidupan Yara hanya lewat satu gelas anggur tadi?


Setelah beberapa saat, Yara lalu melanjutkan, “Bagaimana dengan gelas kedua?”


“Coba aku pikirkan dulu,” ucap Wahyu sambil merenung. “Gelas kedua … ketika pertama masuk ke dalam mulut, terasa hambar seperti air putih. Namun, rasa yang aneh membuat orang terpikat, membawa sebuah kesepian yang samar. Setelah itu, rasanya semakin pekat dan tiba-tiba menjadi sangat lembut. Sayangnya, rasa lembut itu pun pelan-pelan menghilang, pada akhirnya kembali hambar dan sampai tidak ada yang tersisa.”


“Selain rasa tadi, aku juga bisa merasakan rindu dan cinta yang mendalam di dalam gelas kedua itu, sebuah cinta dan rindu yang telah terpendam sangat lama. Sehingga aku bisa memastikan bahwa minuman ini bukan hasil olahanmu..”


“Maksudku, walaupun kamu yang mengolah minuman ini, bukan kamu yang menciptakannya.”


“Orang yang menciptakan minuman ini pasti berumur lebih dari 50 tahun, kalau aku tidak salah, orangnya pun sudah meninggal.”


Setelah melontarkan ucapannya, Wahyu bisa merasakan Yara sedang tersedak di belakangnya. Namun, dia tidak berhenti dan melanjutkan, “Gelas ketiga terasa sangat gila dan liar, seolah-olah badai besar yang masuk ke dalam tenggorokan, mengoncang organ tubuh dan membuat orang tercengang.”


“Namun, rasa setelahnya mulai terasa tenang, bahkan muncul sebuah perasaan lembut yang membuat orang tidak bisa menahan diri. Seperti sebuah lagu yang pelan-pelan terbuka, membawa pendengar naik tinggi dan berdiri di atas awan.”


“Alih-alih disebut minuman beralkohol, minuman ini lebih mirip seperti obat yang mengairahkan.”


“Nona, kalau aku tidak salah, gelas ketiga ini mencerminkan suasana hatimu sekarang, ‘kan? Apa kamu ingin memberikan dirimu padaku sebagai hadiah?”


Yara memutarkan bola mata dan berkata, “Dasar bodoh.”


Namun, dia tetap menatap Wahyu dengan tajam sambil tersenyum, sebenarnya siapa pria ini? Semakin Yara dekat dengannya, dia semakin tidak bisa menebaknya.


Hanya dengan satu gelas minuman beralkohol, dia bisa menebak rahasia seseorang. Wahyu benar-benar menakutkan.


“Wahyu, bolehkah aku bercerita padamu?”  


Wahyu tersenyum dan berkata, “Boleh, tapi kamu jangan menceritakan sesuatu yang erotis, karena suasana hatiku sudah dikendalikan oleh gelas ketiga tadi. Kalau aku tidak bisa mengendalikan diri, kamu juga mengerti, ‘kan?”  


Setelah melontarkan ucapannya, Wahyu menepuk paha dan berkata, “Sini sini sini, duduk di bangku kecil ini sambil bercerita kepadaku.”